JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
WIDDYO


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




**ALESHA POV**


Alhamdulillah Jingga enggak rewel selama perjalanan. Dan kami pun sering berhenti saat Jingga terjaga agar dia tak terlalu lelah. Jam makan siang sudah terlewat saat kami sampai di Kediri, karena saat waktu salat Jum’at kami berhenti lama. Kami makan terlebih dulu sebelum check in di hotel yang disediakan panitia. Mommy menggunakan kamar yang terpisah denganku dan mbak Dwi.



“Mbak, kamu istirahat wae, Jingga saya tinggal ya. Saya nemani mommy. Oh ya, kue basahnya dimakan, nanti basi kalau untuk besok. Saya udah keluarin water heather untuk masak air kalau mbak mau rendam botol ASI. Tapi semoga aja mommy enggak terlalu lama ngurus lapor ke panitianya” pesanku saat akan keluar kamar hotel untuk menemani mommy.



Aku dan mommy sengaja salat di mushola samping hotel, karena tadi kami habis lihat-lihat lingkungan hotel yang kami tempati. Saat selesai salat Ashar aku melihat sosok mas Garo melangkah cepat menghampiri kami. Aku tentu saja tak menyangka akan bertemu dengan sosok yang sudah hampir tiga minggu kuhindari. 



“Assalamu’alaykum Mom,” sapa mas Garo saat dia sudah didepan kami.



“Wa alaykum salam,” jawab mommy. Aku tak menjawab salamnya, karena dia sengaja menujukan salam itu untuk mommy kan, bukan untuk kami berdua.



“Kamu ada disini?” lanjut mommy bertanya pada mas Garo. Dari pertanyaaan mommy jelas mommy enggak tahu kalau dia ikut event ini.



“Kebetulan saya panitia lomba Mom” jawab mas Garo sopan sambil salim mencium tangan mommy.



“Apa khabar?” tanya mas Garo padaku sekedar basa basi, karena tak kulihat rasa rindu dimatanya.



“Alhamdulillah baik,” balasku tersendat. Ternyata kata-kata rindu yang dia kirimkan hanya sekedar chat saja.



“Maaf Mom, saya masuk dulu,” mas Garo langsung izin untuk berwudhu, tanpa meneruskan percakapan kami. Aku semakin yakin kalau dia memang bukan untukku. Pasti dia menjalin hubungan dengan perempuan yang menggesekan bukit kembar ke lengannya ketika dilesehan siang itu.



“Mommy udah tahu kan kalau mas Garo ada disini?” tanyaku curiga. Walau tadi aku tahu mommy bertanya ke mas Garo. Tapi curiga enggak salah kan?



“Kalau Mommy tau, kan mommy berangkat ama dia aja, enggak perlu ngajak kamu. Kalau ada dia, tentu daddy kasih izin berangkat berdua,” jawab mommy santai.


**ALESHA END POV**


\*\*\* 



Ririen segera berbaur dengan temannya sesama juri dan panitia 



“Mommy mau kelokasi lomba, kamu mau ikut?” tanya Ririen pada Alesha.



“Enggak ah Momm, aku mau istirahat aja di kamar. Mommy ama pak Sugeng ngga?” Alesha tak mau dia kembali bertemu Garo.



“Engga, pak Sugeng biar istirahat aja,” balas Ririen


\*\*\* 



Esoknya jam enam pagi Ririen sudah berada dikamar Alesha. Ririen sudah rapi tapi belum pakai kaos seragam juri. Pagi ini mereka berniat sarapan pagi di alun-alun sekalian menjemur Jingga. 



Saat di lobby mereka bertemu beberapa panitia yang akan sarapan di hotel karena memang semua tamu hotel mendapat jatah sarapan.



“Lho bu Dewi ditemani putri dan cucu nya?” tanya salah satu panitia yang melihat Ririen keluar lift bersama dengan Alesha yang menggendong Jingga didadanya menghadap kedepan. 



“Hallo cantik, siapa namanya?” tanya panitia perempuan sambil menoel pipi Jingga, lucu banget sih pakai bandana gitu,” lanjutnya lagi



“Silakan Bu, sarapan bareng,” sapa panitia yang lainnya



“Saya makan diluar aja, nanti sesuai jadwal saya langsung ke lokasi lomba,” Ririen pamit pada semuanya saat Garo akan masuk ke ruang makan hotel.



'*Dia tak seperti perempuan yang sudah mempunyai anak. Walau saat ini Jingga ada di depan dadanya dengan gendongan modern menghadap kedepan*.'



'*Namun siapa pun akan setuju denganku kalau Alesha belum pantas disebut seorang ibu. Karena dengan kaos dan jeans serta sneaker yang dia kenakan saat ini, tak akan ada yang percaya dia ibu satu anak*.' Itu pikiran Garo saat melihat Alesha keluar lobby hotel untuk menuju mobilnya.


\*\*\* 



Ririen langsung bergabung dengan beberapa rekannya saat sampai ke lokasi lomba sesudah mereka makan dan menjemur Jingga. Alesha melihat-lihat beberapa tanaman yang sudah masuk terdaftar. 

__ADS_1



“Mbak, kita ke pojok sana yok, aku pengen beli juice deh,” ajak Alesha pada mbak Dwi.



Saat sedang menunggu juice yang mereka pesan Garo mendatangi Alesha. Garo sengaja berdiri di lututnya untuk melihat Jingga yang sedang dipangku Alesha. 



“Assalamu’alaykum anak Ayah, kamu sehat kan?” sapanya sambil mencium kening Jingga.



Alesha tak menjawab, dia membuang muka ketika tanpa sengaja dia melihat ada air mata disudut mata Garo.



“Aku ingin bicara denganmu Yank, jangan menghindar terus,” bisik Garo.



“Maaf, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” Alesha pun menjawab dengan berbisik.



“Wah mas Garo suka ama anak kecil ya?” celetuk seorang gadis saat melihat Garo sedang mengusap-usap pipi Jingga. Garo yang tak enak lalu berdiri dan duduk di kursi depan Alesha.



“Mas Garo nginep dimana? Nginep rumah saya aja ya,” lanjut gadis itu dengan beraninya. 



Lalu gadis itu dengan santai menegur Alesha “Eh ini putrinya bu Dewi, tapi sudah punya anak kan? Ini anaknya kan? Bukan pacar mas Garo kan?" Cecar gadis itu seperti petasan cabe rawit. 



Belum juga Alesha menjawab, gadis itu kembali berceloteh “Bulan depan saya akan ikut event yang di Jogja, apa boleh main ke rumah mas Garo untuk kenalan dengan orang tua mas Garo?”



“Sudah Mbak?” tanya Alesha pada mbak Dwi yang sudah membawa bungkusan juice pesanannya.



“Sampun ( sudah )," jawab mbak Dwi.



“Yok kita balik hotel aja, disini terlalu kotor dan bising buat Jingga, tak seharusnya dia melihat hal yang tidak pantas,” Alesha sengaja bicara keras dan kasar, karena dia tak suka dilecehkan gadis yang memang dia akui cantik. Alesha langsung meninggal tempat itu tanpa pamit.



“Cha … Echa,” Garo hanya bisa memanggil, tapi Alesha tak menoleh.



“Pak Sugeng balik ke mobil ya, saya ama Jingga mau balik hotel,” pinta Gita lewat telpon.


\*\*\* 




'*Mommy sudah minum vitamin belum? Ya habis selesai kasih ASI aku kesana*,' jawab Alesha saat membaca chat mommy nya.



"Mbak Dwi, saya ke lokasi lomba ya, kayaknya kalau bolak balik ribet, jadi saya pulang bareng mommy selesai tugas aja ya. Buat makan malam nanti aku minta pak Sugeng antar kesini," kata Alesha sambil menepuk-nepuk punggung Jingga yang dia sandarkan dibahu kirinya agar bersendawa.



Alesha membawakan pashmina untuk mommy nya. Dia sudah berganti kaos, pashmina yang dia kenakan senada dengan kaosnya yaitu pink. Sedang pashmina untuk mommynya biru dongker kembang-kembang.



“Saya di drop aja Pak. Ini uang untuk beli makan malam berdua mbak Dwi ya, nanti habis makan malam baru pak Sugeng jemput kami,” Alesha menyerahkan untuk makan malam kedua pegawainya.


\*\*\* 



Dilokasi lomba para juri sedang diskusi, mereka sudah selesai memberi penilaian, tapi banyak yang harus mereka diskusikan karena banyak nilai yang sama sehingga mereka kembali mendekati tanaman yang bernilai sama untuk kembali diberi nilai baru. Sehabis memberikan pasmina pada mommynya Alesha sengaja menepi sambil melihat-lihat tanaman yang berlaga.



“Hallo Mbak,” sapa seseorang.



“Hai hallo juga,” jawab Alesha ramah.



“Putrinya bu Dewi ya?” tanya pria tampan tersebut.



“Iya Mas,” jawab Alesha.



Pria tersebut mengulurkan tangannya.



“Widdyo.”



Alesha pun menyambut jabatan pria tersebut.


__ADS_1


 “Alesha.”



“Enggak ikut lomba?” tanya Widdyo.



“Mana boleh? Kan ibu jadi juri?” tanya Alesha.



“Boleh koq, kan juri memberi nilai berdasarkan nomor pot, bukan nama pemilik,” jelas Widdyo.



“Setidaknya kan dia tau itu pohon saya,” Alesha berpendapat lugas.



“Satu juri memberi poin lebih pada tanamannya sendiri melawan tujuh juri lainnya tentu tak akan berpengaruh terhadap hasil akhir Mbak.” demikian alasan Widdyo lagi.



“Iya juga sih ya,” Alesha akhirnya pun setuju dengan pendapat Widdyo.



Lalu keduanya jalan terus mengitari arena lomba sambil berbincang akrab. Bahkan keduanya saling tukar pin BB dan nomor telepon. 



Sesekali joke yang dilemparkan Widdyo mampu membuat Alesha tersenyum atau tertawa pelan. Ternyata Widdyo adalah ketua panitia lomba kali ini.


\*\*\* 



Lomba sudah selesai. Pengumuman pemenang sudah sejak tadi di bacakan dan lagi-lagi banyak pohon milik Garo yang menjadi juara. Sudah biasa pohon juara berarti banyak yang menawar. Garo dan Ampi pun sibuk tawar menawar. Namun sejak tadi perhatian Garo tak pernah lepas dari Alesha.



Saat selesai photo bersama sesama peserta, sesama panitia, sesama juri, tanpa malu Widdyo meminta photografer acara memotretnya berdua Alesha. Tentu saja Ririen dan Garo kaget melihat moment itu. 



"Kalau sudah di copy, dan dipindah ke memory card BB kirim ke aku ya Mas,” pinta Alesha pada Widdyo.



“Siyaaaap,” jawab Widdyo sambil tersenyum manis



Garo mendekati Ririen “Mommy pulang ke Jogja kapan?” tanyanya pelan.



“Mungkin besok habis sarapan,” jawab Ririen



“Gimana kalau kita convoy?” pinta Garo



“Boleh aja,” balas Ririen “Besok mommy sarapan di hotel aja,” lanjutnya.



“Momm, masih lama?” tanya Alesha yang datang mendekati Ririen bersama dengan Widdyo.



“Kenapa, kamu mau jalan?” tanya Ririen, walau dia tak enak dengan Garo yang berdiri disebelahnya.



“Enggak mungkin lah Momm, mas Widdyo kan tuan rumah, enggak mungkin jalan ama aku ninggalin arena yang belum beres,” jawab Alesha.



“Kalau kamu mau bisa koq,” jawab Widdyo santai.



“Ya janganlah, enggak bertanggung jawab namanya” balas Ririen mencegah Garo lebih terluka. 



“Menghormati satu tamu lalu menelantarkan banyak tamu lain kan enggak bagus,” lanjutnya menohok Widdyo.



Tak lama Ririen pamit dari arena untuk kembali ke hotel.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1677087633043.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.


__ADS_2