
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Malam ini Garo kembali akan tidur bersama dengan Alesha. Jangan berpikir buruk mereka benar-benar tidur tanpa aktivitas menyimpang karena mereka berpegang teguh pada agama.
"Mas aku minta maaf ya," Alesha melesakan kepalanya ke d4da Garo.
"Kenapa?" Garo mengecup puncak kepala Alesha dengan lembut. Dia gak percaya bisa sedekat ini kembali dengan perempuan yang dua minggu lalu sudah membatalkan pernikahan mereka dengan penuh emosi.
"Masalah kemarin. Aku nggak berpikir panjang. Aku langsung main putusin batalin pernikahan aja," sesal kata Alesha.
"Please Yank, nggak usah dipikir yang sudah terjadi. Kalau pun gedung itu enggak jadi kita pakai, dan kalau pun uang gedung dan uang catering hangus, Mas nggak apa apa yang penting kamu nggak trauma lagi."
"Mas cuma takut kamu trauma sayank!"
"Kalau pun Mas harus berpisah dengan kamu. Mas enggak akan pernah menikah dengan siapa pun." Janji Garo.
"Enggak boleh tahu bicara begitu, menikah kan sunnah bagi yang mampu Mas," Alesha menasihati Garo.
"Tapi kalau memang nggak ada yang cocok mau diapain? Maksain nikah cuma biar dibilang bahwa Mas melakukan sunnah gitu?"
"Bahwa Mas punya anak, punya istri punya keluarga gitu? Tapi nggak rasa sayang apalagi cinta? Kasihan kan anak sama istrinya? Apa ibadah seperti itu yang harus Mas jalani?"
"Iya sih nggak boleh asal melakukan sesuatu. Itu berarti nggak ibadah juga," kata Alesha.
"Mas aku boleh ngomong nggak?" Alesha ingin mengemukakan pendapat tapi takut Garo tak suka.
"Dari tadi bukannya kita lagi ngomong kan?"
"Eyang, nenek dan kakek kan udah pada sepuh. Mereka besok kan datang saat acara nikahannya Abang sama Mbak Liani."
"Kita juga udah ngegantung begini. Aku yakin Mas juga nggak sabar kan?"
"Sering sebelum salat Subuh Mas terpaksa mandi junub kan?" Goda Alesha.
"Namanya juga kayak gitu mana Mas tahu kalau kebawa mimpi. Yang penting itu kita nggak melakukannya. Biar aja orang ngira kita habis perang. Kita tahu batasannya koq," jawab Garo tenang. Orang hanya lihat dia mandi junub sebelum salat Subuh, tapi tak tahu pasti penyebabnya.
"Aku tahu Mas tapi kan nggak baik," jelas Alesha.
__ADS_1
"Enggak usah pikirin pandangan umum, kita nggak problem. Biarin aja mereka nggak tahu apa yang ada di belakang layar." Garo tetap tak mau peduli pandangan umum.
"Gini lho Mas. Gimana kalau kita nikah bareng, maksudku bukan barengin, tapi deketin dengan nikahannya Abang." Garo terdiam mendengar kalimat tak terduga dari Alesha.
"Bisa dua hari sebelum akadnya Abang atau dua hari sesudah resepsi."
"Paling tidak pada saat kita akad nikah, eyang dan nenek kakek nggak perlu balik ke Jakarta dulu gitu loh. Kasihan mereka kalau harus bolak balik."
"Kalau soal resepsi pernikahan kita, mereka nggak wajib datang nggak apa-apa."
"Gimana Mas?" Alesha melihat Garo hanya diam memandang matanya tanpa berkedip.
"Mas … Mas koq diem. Mas enggak suka ya sama usulku?" Alesha jadi ketakutan sendiri.
"Mas enggak percaya sama wacana yang kamu bilang Yank, Mas enggak percaya." Garo menciumi kedua mata dan kening Alesha dengan penuh cinta.
"Mas sangat setuju lah namanya dicepetin mah mana Mas mau nolak?"
"Aku nanya serius lho Mas."
"Kalau gitu besok kita bicara sama mommy dan daddy. Minta pendapat dan persetujuan mereka. Tapi kita sudah sepakat duluan. Kalau belum sepakat ya aku juga nggak berani ngomong."
"Mas enggak sepakat, tapi dua pakat atau tiga pakat deh," Garo sangat senang walau baru akad dulu yang akan mereka lakukan. Setidaknya itu menepis jurang antara dirinya dan Alesha.
"Aku serius Mas." Rajuk Alesha.
"Kan dari tadi Mas udah bilang sangat serius Yank. Mas cinta kamu sangat dalam. Kamu tahu itu. Jadi semua rencanamu pasti Mas setuju," balas Garo sambil memeluk erat calon istrinya. Setidaknya dua minggu lagi mereka akan resmi menikah.
"Aku se delapan atau se sembilan deh kalau Mas setuju," gantian Alesha yang menggoda Garo.
Garo langsung menggusel Alesha membuat perempuan itu berteriak.
"Nyerah Mas ha ha ha nyerah,"
"Ssst, nanti orang yang dengar mengira kita lagi ngapain lho Yank dengar kamu bilang nyerah gitu."
"Mas yang usil. Udah tahu aku paling enggak tahan geli malah dikelitikin pakai dagu gitu," Alesha lemas karena tertawa. Dia memeluk erat tubuh calon imamnya.
__ADS_1
"Oke besok kita bilang ke mommy dan daddy, terus bilang ke ibu kapan Mas?"
"Iya ke mommy dan daddy dulu lah baru ke ibu. Nanti Mas bisa bicara ke ibu," jawab Garo.
"Ya enggak boleh Mas sendiri. Harus kita berdua, sama seperti kita ke mommy dan daddy kan berdua," Alesha tak mau dianggap tak menghormati bu Ratna.
"Beneran dasar pemikiranmu tadi hanya karena kakek nenek dan eyang biar enggak repot mondar mandir?" Selidik Garo.
"Kenapa? Beda ya kalau hanya dasar itu atau atas dasar kemauanku juga?"
"Jujur selain aku mikirin para eyang dan kakek nenek, aku mikirin kesalahanku. Seharusnya kita yang nikah. Semua penundaan karena aku yang salah. Jadi aku harus bertanggung jawab," jelas Alesha.
"Mas enggak apa-apa akad hanya dihadiri keluarga dekat aja yang akan kita undang untuk datang ke rumah?"
"Enggak apa-apa. Mas seneng banget walau nantinya nggak usah pakai resepsi juga nggak apa-apa."
"Kalau cuma buat bikin foto foto pernikahannya bikin aja di studio nggak repot kan." ucap Garo tanpa beban.
"Ya nggak lah Mas. Kasihan Ibu! Mas anak tunggal. Biar bagaimana pun kan dia juga pengen anaknya mengadakan resepsi."
"Please jangan sampai nggak resepsi. Bukan buat aku. Aku pernah resepsi super megah koq. Tapi buat kedua orang tua kita." Alesha menyadarkan Garo makna resepsi bagi orang tua mereka.
"Ya udah oke nanti-nanti aja kita bahas resepsinya. Yang penting besok kita beneran barengan sama Abang ya. Jangan tunda apalagi dibatalin," sekarang Garo yang merajuk.
"Ya enggak bareng pas hari nya lah. Selisih dua hari sebelum akad atau sesudah reseosi. Enggak mungkin bareng." Jelas Alesha.
"Oke nanti terserah daddy sama mommy enaknya gimana. Kalau busana akad kita kan sudah siap," jawab Garo.
"Tapi Yank, kita nggak bisa loh bicara pagi. Kan Husni mau datang," Garo menyesalkan karena sudah ada janji dengan calon suami Ratmi.
"Bisalah, pagi pas sarapan. Kalau saat Husni datang kan daddy udah berangkat kerja."
"Oh iya ya, jadi sarapan di sana aja?"
"Iyalah besok kita sarapan di belakang."
"Ya sudah sekarang bobo dulu," ajak Garo.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA
__ADS_1