JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
THE BEST WIFE


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




“Engga koq Mas, ganggu apanya,” balas Alesha ramah.



“Ro, buat meja pendaftaran apa enggak sebaiknya dipisah aja, jadi tiap jenis enggak tumpang tindih di satu titik,” saran Widdyo.



“Idem Mas, aku juga nih lagi kutak kutik mau bikin tiga titik biar enggak numpuk. Masalahnya SDM buat jaganya Mas. Nunggu Kang Arrie biar dia bisa nentuin siapa yang bertugas di tiap meja,” Garo memperlihatkan oret-oretannya pada Widdyo.



“Wah kita sehati ya, jadi klop,” Widdyo senang karena tak dapat bantahan melainkan memang sesuai dengan yang diinginkan ketua panitia disini.



“Iya Mas, belajar dari event yang lalu, maka saya buat oret-oretan seperti ini,” balas Garo.



“Ya wis, saya permisi dulu” Widdyo pamit karena dia masih belum terlalu kuat mengatur hatinya untuk tak terluka melihat Alesha dengan telaten menyuapi Garo, sepanjang Garo bicara dengannya.



“Mau ngopi atau air putih aja?” tanya Alesha saat sebuah burger habis dia suapi pada Garo.



“Kopinya sudah habis dari tadi koq,” jawab Garo.



“Aku pulang aja ya, Mas sama sekali enggak perhatiin aku deh,” sekarang gantian Alesha yang merajuk karena sejak tadi mata Garo hanya terpaku pada kertas-kertas yang dipegangnya.



“Jangan gitu dong, ini udah mau selesai koq sayankku, sebentar lagi ya,” balas Garo.



Alesha membuka termos gelasnya lalu menyodorkan pada Garo. Harum aroma coffee vanilla late langsung menusuk hidung Garo. “Waaaah kamu memang best wife deh, makasih ya cintakuuuuuuu,” cetus Garo agak kencang tanpa sadar, sehingga beberapa yang dekat dengan mereka pun langsung menoleh ke arah mereka.



“Mas ih, suaramu kekerasan bikin pada ngeliat kita, malu tau,” bisik Alesha sambil menyembunyikan wajahnya ke bahu kiri Garo untuk sembunyi.



“Ha ha ha , kalau dirumah langsung Mas terkam kamu Yank,” balas Garo sambil berbisik pula. 



“By the way, kenapa pakai turtle neck?” goda Garo

__ADS_1



“Awas ya, sekali lagi kamu godain soal turtle neck, enggak boleh bobo bareng lagi,” ancam Alesha santai.



“Jangan dong Yank, malam ini Mas bobo rumah ya? Ya? Ya?” rengek Garo lagi.



“Enggak ah, nanti nakal lagi” balas Alesha. 



“Masih lama enggak sih? Aku mau jalan-jalan ke supermarket, mau belanja kebutuhan Dede.”



“Janji enggak nakal deh, tapi boleh nginep ya?” pinta Garo.



“Tu kan lebih focus kesana daripada kalimat keduaku,” gerutu Alesha.



“Iya sayank, ni sudah selesai, tinggal nunggu seseorang buat duduk disini ganti’in Mas,” balas Garo.



“Tapi jawab dulu permintaan Mas tadi.”




“Kalau enggak di izinin ya mau gimana lagi? Tamu mah nurut ama tuan rumah,” keluh Garo pasrah. 



“Mas, tadi ada Rezky di pameran otomotive depan” lapor Alesha, dia tak ingin Garo tau belakangan dari orang lain.



“Kalian bicara?” tanya Garo. Saat ini mereka sedang belanja di supermarket. 



“Dia panggil aku, tapi aku langsung jalan aja ke tempatmu,” jawab Alesha.



“Kalau masih ada yang ingin diselesaikan ya silakan aja,” Garo tak ingin egois, karena memang mau dihalangi seperti apa  pun Rezky tetaplah pernah menjadi bagian masa lalu Alesha.



“Aku berupaya enggak akan bicara berdua dengannya, harus ada saksi agar tak ada fitnah yang bisa tersebar Mas.” jawab Alesha mantab. Garo senang, dia berjalan memeluk bahu Alesha.



“Pagi tadi Mas minta ibu nginep tempat pakde sampai orang Kediri pulang, jadi kalau ada yang ke rumah ya enggak akan ketemu siapa pun” jelas Garo saat mereka sedang antri di kasir.

__ADS_1



“Aku langsung pulang aja ya?” pinta Alesha.



“Maem dulu yok, baru kamu pulang,” jawab Garo.



“Ok,” jawab Alesha singkat. Lebih baik makan malam dipercepat daripada Garo tak makan malam lagi.



Saat sedang menuju restoran siap saji tanpa sengaja Alesha melihat toko pakaian yang menjual turtle neck laki-laki selain yang untuk wanita. 



Alesha memasuki toko tersebut dan membeli tiga warna untuknya. Sekedar melengkapi koleksinya, namun dia membeli enam warna turtle neck untuk Garo.



“Kenapa Mas kamu beliin, kamu mau nakal ke Mas?” goda Garo.



“Nah ngaku sendiri kan kalau Mas udah nakalin aku?” goda Alesha. 



“Yang pasti biar kita bisa pakai warna yang sama,” jawab Alesha santai. 



Saat hendak membayar Garo menahan kartu Alesha dan memberikan kartu miliknya.



“Mas, kalau ini kan aku niat beliin kamu, kalau pakai kartumu ya enggak jadi beli aja. Artinya baju itu kamu beli sendiri bukan dariku,” tolak Alesha kesal. 



“Ya wis, Mas ngalah,” Garo mengerti maksud Alesha. Bukan soal nominal, tapi soal siapa yang membelikan, dan itu tak bisa ditukar dengan uang.


\*\*\* 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1678176172455.jpg)

__ADS_1


__ADS_2