JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
CAPE SALAH PAHAM TERUS


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Putra juga datang sehabis dari kantor. Walau Fajri mulai berkantor di kantor Putra, tetap saja Putra masih turun tangan sendiri.



"Mommy nggak bawa mobil?" tanya Fajri.



"Enggak lah makanya tadi Mommy minta jemput kamu karena Mommy kan janjian sama Daddy," balas Ririen.



"Kirain tadi Mommy tuh bawa mobil."



"Dari pagi tadi pulang naik taxi sama mbak Dwi, lalu berangkat ya naik taksi lagi."



"Ibu nanti pulang bareng saya aja," kata Fajri.



"Enggak usah Mas saya *dipetuk* ( di jemput ) sama keponakan udah meluncur kok," Ratna menolak ajakan Fajri.



"Harusnya tadi nggak usah janjian biar saya yang antar," kata Fajri.



"Kan nggak tahu di sini ada siapa aja Mas," jawab Ratna. Enggak peduli Fajri di panggilnya abang, pokoknya dia sebut Mas aja lah.



"Tuh ada yankkung. Mau gendong sama yankkung?" Garo menawarkan Jingga untuk digendong Putra.



"A'u," kata Jingga. Dia tetap tak mau berpisah dari Garo.



"Wah Yankkung nggak laku nih. Jingga nggak mau digendong," kata Fajri.



"Iya Jingga maunya cuma sama ayah," Ratna mengomentari kelakuan cucunya itu.



"Iya Jingga anak ayah ya," ucap Garo pada Jingga.



"Yah, yayah," ucap Jingga sambil mengangguk. Dia bilang iya dia anak Garo. 



Alesha tercenung melihat bagaimana Garo dan Jingga bereaksi.



"Terus sekarang udah gimana nih kondisi cucu Yankkung?" Tanya Putra yang baru datang.



"Sudah mulai turun panasnya  Dadd. Cuma radangnya  belum kempes tapi udah mau maem."



"Mau maem kalau sama ayahnya kan?" goda Ririen.



"Iya kalau sama ayahnya dia mau maem," jawab Alesa jujur. Karena memang seperti itulah kenyataannya.



Saat itu masuk pegawai bagian dapur yang mendorong rak makanan.



"Punya dedek Jingga ini ya maemnya,"  kata si orang dapur tersebut.



"Iya Bu, terima kasih,"  Alesha menerima ransum makan Jingga dari petugas dapur tersebut. Alesha tahu itu bukan suster karena seragamnya juga seragam bagian dapur warnanya lain.



"Maem yuk," ajak Garo. 



"A'em," Jingga menjawab sambil mengangguk artinya dia mau makan sama Garo. 



"Bismillah ya kita maem ya. Ih anget loh buburnya," kata Garo. Lelaki itu mengambil tangan Jingga lalu ditaruh di alas piringnya.



"Anget ya maemnya. Enak kan anget ya," kata Garo.



Jingga tersenyum manis. "A'et Yah,"



"Iya anget buburnya Dedek. Kita habiskan ya maemnya," terus Garo bicara agar Jingga tak terbebani HARUS makan dan merasakan sakit di tenggorokannya.



Saat sakit seperti ini Garo menyuapi dalam porsi kecil. Hanya seujung sendok tidak seperti biasa saat Jingga sehat.

__ADS_1



Saat sehat Garo bisa kasih Jingga satu sendok full tapi ini tidak. Seujung sendok aja karena tenggorokannya sakit buat nelan.



"Enak ya anget. Kita maem harus habis ya,"  begitu terus Garo mengulang-ulang kata-katanya.



"Wah hebatnya Princess Ayah. Hebat maemnya loh."



"Kita mau sayurnya ya. Eh ini ikannya belum wah lupa ya."



Jingga terus membuka mulutnya lagi. Alesha hanya menitikkan air mata melihat bagaimana putrinya hanya mau dengan Garo. Fajri mendekat adiknya dia tahu penyesalan Alesha perlihatkan dengan sikapnya. Dia sudah tahu bahwa adiknya menyesal.



Maemnya Jingga hampir habis satu mangkok nggak sampai bersih memang tapi lebih banyak dari tadi siang. 



"Bu ini banyak banget rotinya ibu bawa ya," Kata Alesha.



"Ibu mau buat siapa? Di rumah sendirian."



"Ibu bawa dua lah, buat sarapan besok pagi." Alesha  membungkuskan roti untuk Ratna.



"Seriusan Ibu nggak mau saya anter?" Tanya Fajri.



"Itu yang *methuk* ( jemput ) udah dibawah kok.  Dia nggak mau naik, nunggu di lobby katanya."



"Ibu aku enggak anter  turun ya," Alesha izin tidak mengantarkan Ratna ke lobby.



"Iya nggak usah turun," ujar Bu Ratna dia mengerti kondisi menantunya itu.



"Ayo bareng turunnya," ajak Ririen.



Akhirnya semua bersamaan meninggalkan keluarga kecil itu.



"Mas mau maem?" Tanya Alesha.




"Kalau Bunda lapar ya Bunda makan duluan aja."



"Enggak, belum lapar koq. Dedek mimi entus yok?" Alesha mengajak Jingga minum ASI. Dedek belum mimik su5u loh," bujuk Alesha.



"A'u mik. A'u," jawab Jingga sambil menyembunyikan wajahnya di leher ayahnya.



"Tuh Yah, dia belum minum ASI,";lapor Alesha.



"Masak sih dia enggak mau ASI?" Garo tak percaya.



"Sejak sakit Jingga sudah tidak mau.



"Coba nanti pas lagi bobo Bun. Dijejelin aja pu-ting kemulutnya. Biasakan tanpa sadar dia akan nyedot. Sayang lho dia belum dua tahun."



"Iya aku juga tau dan enggak pengen nyetop koq," jawab Alesha dengan suara meninggi.



"Enggak usah ngambek gitu deh. Mas bilangnya enggak marah kan?"



Alesha sadar dia barusan dia salah menggunakan intonasi tinggi.



"Sekarang Dedek bobok ya. Bobok sama Ayah apa sama Bunda?"



"Bo Yayah," jawab Jingga.



"Oke bobo sama Ayah. Kita berdoa dulu. Bismillahirohmanirrohim."



Jingga pun mengikutinya "*Yah man im*," 



Garo mengeloni putrinya sambil membacakan shalawat. 

__ADS_1



Alesha membiarkan keduanya. Dia pergi mandi sambil membuang sedikit ASI nya agar tak bengkak. 



Tak lama Jingga pun tertidur. 



"Jangan maem roti aja Bun. Maem nasi. Ini tadi mommy bawain  maem dari rumah," Garo menunjuk kotak nasi yang Ririen bawakan.



"Iya," jawab Alesha sambil menyuapi sepotong roti yang masih ada di tangannya.



"Koq jadi dilempar ke ayah?" Walau protes tetap dia kunyah juga roti lembut berisi daging sapi cincang itu.



"Mau maem nasi sekarang?" 



"Nggak ah nanti aja. Masih kenyang sama singkong tadi," jawab Alesha.



"Iya singkongnya enak." Jawab Garo.



"Selamat malam kok udah tidur ya dedeknya," saa dokter Puji malam ini.



"Sudahlah Dok udah jam segini," kata Alesha. Garo tidak mau mendekati ke  tempat tidur Jingga saat dokter datang memeriksa . Lelaki itu memunggungi Puji sambil menonton televisi.



"Panasnya sudah turun ya Bu. Kita lihat besok kalau radangnya sudah mulai kempes berarti lusa boleh pulang." Dokter memberi keterangan melihat kondisi Jingga.



"Alhamdulillah," Alesha senang mendengar berita ini.



"Saya tidak nyangka ibu adiknya dokter Aurora ya." Dokter Puji berbasa basi.



"Saya adik iparnya. Suami dokter Aurora kakak kandung saya," jawab Alesha.



"Suaminya dokter Aurora seorang pengacara?" Dokter Puji ingin memastikan info yang dia terima.



"Betul suaminya pengacara dan punya Dojo." Jawab Alesha.



"Apa itu Dojo?"



"Sekolah karate. Dan saya salah satu pelatih di sana." Alesha melihat Puji langsung pucat pasi.



"Semoga saja semakin cepat sehat ya  Bu."



"Iya terima kasih dokter," jawab Alesha.



"Permisi Mas Garo," dengan manis sang dokter pamit pada sosok yang sejak dulu dia damba itu.



"Silakan," kata Garo tanpa menengokkan. 



"Mas kenapa sih?" tanya Alesha bingung melihat kelakuan tunangannya itu.



"Aku nggak mau kamu salah sangka lagi Yank. Aku dan dia belum pernah ketemu satu kali pun sebelum tadi pagi itu. Tapi dia sok banget Kayak kenal aku sejak dulu dan akrab."



"Oke dulu kakaknya pernah jadi pacar pura-pura aku Tapi aku nggak pernah kenal dia. Enggak pernah ketemu aneh aja kalau dia sok-sokan kenal aku gitu. Sampe dia bilang *lupa ya*?"



"Orang lupa kan kalau pernah kenal atau paling enggak pernah ketemu."



"Oh gitu." kadang Alesa



"Mas nggak mau kita salah paham lagi. Mas capek kalau harus ribut atau salah paham lagi," ucap Garo.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED ya.


__ADS_1


![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1680208632648.jpg)


__ADS_2