
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mas numpang salat ya Yank,” Garo melangkah ke kamar mandi di kamar Jingga, sementara Alesha mengambilkan sajadah untuk Garo.
“Mau salat bareng?” tanya Garo.
“Mas mau nunggu? Aku mau ganti baju dulu,” beritahu Alesha, tentu dia tau salat berjamaah lebih baik daripada salat sendirian.
“Ya Mas tunggu sambil liat Jingga,” jawab Garo. Lalu dia mendekat ke box Jingga.
“Assalamu’alaykum anak Ayah, lelap ya bobonya,” bisik Garo setelah dia membuka kelambu. Walau siang memang kelambu tetap ditutup agar tak ada nyamuk yang menggigit Jingga.
\*\*\*
Jingga menangis saat Garo menyodorkan tangannya pada Alesha sehabis mereka salat berjamaah.
Alesha menyambut salam Garo tapi belum mencium tangannya, karena belum sah. Namun Garo menarik Alesha agar bisa mengecup puncak kepalanya.
Mbak Dwi langsung menggantikan celana Jingga, karena dia tahu majikannya sedang salat.
Alesha melipat mukenanya, dia melihat Jingga sudah dibawa keluar kamar oleh mbak Dwi. Mereka memang salat di kamar Jingga karena tak mungkin salat dikamar Alesha.
Alesha keluar lebih dulu, dia mengambil Jingga, sedang Garo masih meneruskan dzikirnya.
“Anak Ayah udah bangun ya,” Garo mendekati Jingga, dan meminta dari tangan Alesha. Dibawanya Jingga ke sofa depan dan dia duduk disana sambil mendekap Jingga dalam pelukannya.
Garo duduk memunggungi Alesha seakan, Alesha bukan hal penting baginya, karena tadi dia bilang kesini untuk menemui Jingga.
__ADS_1
“Sayangnya Ayah sehat terus ya, jangan rewel, Ayah sayang bangeeet ama Jingga. Walau kita jarang ketemu, kamu harus tau, Ayah sangat sayang ke Jingga,” bisik Garo.
Garo lalu menciumi pipi dan kening Jingga yang menatapnya dalam. Seakan bayi itu tau rasa cinta yanag Garo berikan untuknya. Jemari Jingga memegang pipi Garo dan akhirnya masuk ke mulut Garo.
“*Little princess* tau kan Ayah sayang kamu? Besok-besok Ayah akan atur waktu agar kita bisa serng ketemu ya. Ayah janji akan atur waktu buat kita berdua."
"Sekarang Ayah pulang dulu ya." Garo kembali menciumi putrinya. Kali ini dia sengaja menggusel perut Jingga dengan dagunya. Membuat Jingga tertawa karena geli.
“Cukup ketawanya, nanti kebawa mimpi,” kata Garo, dia menghentikan menggoda Jingga, saat dia akan berdiri dilihatnya Alesha mendatanginya membawa secangkir teh.
“Maaf, Mas mau pamit,” kata Garo lembut dan meyerahkan Jingga pada Alesha setelah Alesha meletakan cangkir teh nya.
“Minum dulu Mas,” Alesha mencoba menawarkan teh yang dibawanya.
“Makasih, tapi Mas masih kenyang,” tolak Garo.
“Mas pamit ya,” Garo hanya memegang pundak Alesha dan mencium keningnya selintas. Tanpa menunggu jawaban Alesha dia keluar dan segera ke parkiran motor di depan nursery.
**ALESHA POV**
Karena enggak jadi pertemuan, maka aku memutuskan pulang lebih cepat. Lebih baik aku bermain dengan Jingga karena kemarin aku mengurangi waktu bermainku dengan dia karena menemani Rama dan Subi hingga malam.
Saat akan melewati Gazebo kulihat daddy dan mommy sedang makan siang dengan mas Garo. Bagaimana mungkin mereka sedang bercengkerama santai disana, aduuuh aku tak mungkin langsung menuju ke rumah karena untuk sampai rumah harus lewat sisi gazebo. Terpaksa aku memberi salam pada daddy dan mommy.
“Assalamu’alaykum Mom, Dad, Mas.”
“Wa alaykum salam, lho koq pulang cepat, katanya pulang sore,” daddy yang membalas salamku. Sementara kulihat mas Garo seakan tak perduli aku hadir disana.
__ADS_1
“Makan sekalian Mbak, kami juga baru mulai koq,” ajak mommy, aku masuk ke gazebo namun tak bisa duduk disela mommy dan daddy. Jadi aku duduk dekat daddy aja.
“Daddy enggak ngantor katanya ada janjian ama orang,” protesku.
“Iya, Daddy janjian dengan Garo jam sebelas tadi, Daddy lagi naksir tanah di Jakal dan meminta Garo untuk menemani Daddy hunting lokasi, karena Daddy udah minta abangmu, dia enggak punya banyak waktu."
"Jadi waktu Mommy bilang minta tolong Garo buat nemani jalan, ya Daddy langsung setuju. Kenapa? Kamu nggak suka Mas mu Daddy pinjam menemani Daddy? Maunya nemani kamu terus aja?” tukas daddy.
Tentu saja aku kesal daddy menyebut kata mas mu sebagai kata ganti untuk mas Garo. Daddy enggak tau sih, diluaran sana laki-laki ini bukan mas ku, tapi milik banyak orang.
“Mas tolong sini’in deh sambalnya, enggak enak nih makan enggak pedas,” pinta ku pada mas Garo. Dia tadi mengambil mangkok sambal dan menjauhkan dari jangkauanku saat mas Garo melihatku akan mengambil sambal.
Bukan menyorongkan mangkok sambel sesuai dengan permintaanku, mas Garo malah hanya mengambilkan seujung sendok sambal dan meletakannya diatas udang bakar milikku.
Aaaaaaah attensi ini sudah satu bulan menghilang dari hidupku. Attensi yang sangat aku sukai. Namun bila mengingat reputasinya yang banyak pemuja, aku langsung sadar diri dan memilih mundur saja. Aku tak ingin terjatuh kedua kali.
“Cukup segitu, kasihan Jingga kalau bundanya kebanyakan sambel,” mas Garo meneruskan makan tanpa melihat padaku lagi.
Dia sungguh berbeda. Apa dia sudah mengubur rasa sukanya padaku? Apa dia sudah bosan meminta maaf karena aku tak pernah meresponnya?
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.