Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Pemakaman


__ADS_3

Tak lama kemudian, Pak Rudi datang ke ICU sesuai janjinya kemarin. Ia pun sangat terkejut ketika mendengar bahwa penolong anaknya baru saja meninggal dunia.


Melihat James yang masih dalam keadaan termangu, Pak Rudi segera mengambil alih komando. Ia segera menyadarkan James dan memintanya untuk memberitahukan kabar duka ini kepada keluarga Dion, pihak kampus, dan teman-teman Dion lain yang James ketahui. Sedangkan dirinya akan memberitahukan kabar ini ke atasan Dion di kafe tempat Dion bekerja serta mengurus pemakaman Dion.


Menyadari ada tugas yang menantinya, James menguatkan hatinya dan segera melangkah. Hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah kembali ke Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Seni Rupa untuk mengabarkan keadaan yang sudah berubah. Mungkin di sana ia juga bisa bertemu dengan salah satu teman seangkatan Dion dan meminta tolong untuk meneruskan kabar ini ke teman-teman seangkatannya yang lain.


Setelah dari kampus Dion, James berniat kembali ke asrama untuk memberitahukan kabar ini kepada Pak Simon, kepala asrama, dan teman-teman seasrama yang ia ketahui cukup dekat dengan Dion.


Setelah semuanya itu dilakukannya, ia kembali ke kamarnya dan terduduk di ranjangnya. James termenung sambil melihat HP Dion di tangannya. Tugas terakhir dan tugas terberat masih menunggunya, yaitu mengabari keluarga Dion.


Setelah keberaniannya terkumpul, ia pun mengaktifkan HP Dion dengan menekan dan menahan tombol daya yang terletak di sisi kanan HP. Tidak lama kemudian, HP menyala, dan terlihat perintah untuk memasukkan password pada layar HP.


Mata James terbelalak. Ia lupa untuk menanyakan nomor kontak keluarga ataupun password HP kepada Dion.


Sekarang, bagaimana ini? Tenang, James .... Tenang .... Coba kita tebak kemungkinan password yang digunakan Dion, kata James dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


James mulai berpikir. Biasanya orang menggunakan tanggal lahir sebagai password. Oke! Ulang tahun Dion ?

__ADS_1


Beberapa detik berlalu dalam keadaan hening. BUJUTTT!! GUA KAGA TAU !! TEMAN MACAM APA GUA?!! James menepuk jidatnya.


Oke .... Tenang .... Pikirkan yang lain. Ulang Tahun Celine? YA!! Tanggal ketika Celine kemari dan mereka pergi ke kebun binatang ! Dengan semangat, James memasukkan tanggal tersebut sebagai password. Dan ... ternyata salah!


James masih belum menyerah. Hmm .... Kita coba kombinasi yang lain. Waktu itu ... Celine merayakan ulang tahunnya yang ke-15. Jadi ... kalau dihitung, berarti dia lahir tahun .... Kalo dijadikan password, nomor kombinasi yang mungkin adalah ... James berpikir sambil jari-jarinya mengetikkan angka-angka pada layar HP. Dan ... voila, kunci HP-nya terbuka.


James segera membuka daftar kontak dan mengetik nama Celine di kolom pencarian. Namun, ia mendadak terhenti. Tidak .... Ia tidak bisa menyampaikan kabar ini langsung kepada Celine. Celine tidak akan sanggup menerimanya.


Kalau begitu, bagaimana dengan papanya Dion? Tidak .... Hubungannya dengan Dion tidak terlalu baik. Beliaulah yang menyebabkan Dion kabur dari rumah.


Nada sambung pun terdengar. Tidak lama kemudian terdengar suara Mbok Yani dari seberang sana, "Halo?"


"Halo .... Selamat siang, Mbok. Ini James, temannya Dion. Masih ingat?" sahut James.


"Oh ... Nak James .... Tentu Mbok ingat. Ada apa yah?" tanya Mbok Yani.


Dengan hati-hati dan susah payah, James menceritakan kabar duka itu kepada Mbok Yani. Sepanjang mendengar cerita James, Mbok Yani hanya bisa menangis.

__ADS_1


...****************...


Pemakaman Dion dihadiri cukup banyak orang. Nampak wajah-wajah yang dikenali James, seperti Pak Simon, kepala asrama, teman-teman asrama dan Pak Rudi beserta keluarganya. Banyak juga wajah-wajah yang tidak ia kenali, yang mungkin merupakan teman kampus Dion atau teman-teman sekerjanya. Bahkan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Seni Rupa pun, turut hadir dalam pemakaman tersebut.


Keluarga Dion hanya dihadiri oleh Celine dan Mbok Yani. Entah apa alasan papanya Dion tidak bisa menghadiri pemakaman putranya sendiri.


Upacara pemakaman diawali dengan Kata Sambutan Penghiburan Dukacita yang diberikan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Seni Rupa.


"Kita semua yang berkumpul di sini, pasti merasa dikejutkan dengan berpulangnya Saudara Dion Adipratama yang sangat tiba-tiba. Kita kehilangan sosok keluarga, teman, dan bagi saya pribadi, sosok anak didik yang sangat membanggakan dengan bakatnya yang luar biasa. Saudara Dion adalah pribadi yang ..."


James tidak terlalu memperhatikan kata sambutan tersebut. Perhatiannya terfokus pada Mbok Yani dan Celine yang duduk di dekat peti jenazah.


Mbok Yani tampak menangis tersedu-sedu. Tangan kanannya yang memegang tisu, kadang digerakkannya untuk menghapus air matanya. Tangan kirinya memegang erat tangan Celine yang duduk di sebelah kirinya.


Dan Celine .... Matanya memang tampak sembap seperti habis menangis. Namun pandangannya saat ini kosong. Tidak ada setetes pun air mata yang mengalir di pipinya. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya duduk diam, seperti boneka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2