
Mobil berhenti di kediaman Adipratama. Mbok Yani sudah siap menyambut kepulangan Sang Nona.
Melihat nonanya kembali bersama James, membuat Mbok Yani sedikit gugup sekaligus bahagia. Ia tahu rencananya bersama pemuda bernama Joseph itu berhasil. Apalagi ia juga melihat Joseph tersenyum sumringah padanya.
Namun di sisi lain ia juga tahu bahwa sandiwaranya pasti sudah terbongkar. Beberapa kali ia melirik ke arah Celine, James, dan Joseph untuk mencoba membaca ekspresi mereka dalam rangka memperkirakan adegan selanjutnya.
Celine menyadari kegugupan Mbok Yani. Tadi ia juga sempat menangkap basah senyum sumringah Pak Joseph kepada Mbok Yani. Celine pun tersenyum. Dengan mudah, ia sudah dapat menyimpulkan siapa dalang yang membuat Mbok Yani bersikap aneh.
"Mbok, Papa sudah pulang?" tanya Celine membuka percakapan.
"Belum, Non ... " jawab Mbok Yani.
"Kalau begitu, kita bincang-bincang dulu yuk. Pak Joseph juga, ayo ikut ke dalam. Pasti banyak cerita yang ingin dibagikan bersama Bang James, kan?" ajak Celine dengan ramah.
"Tidak usah, Nona. Saya langsung pulang aja, " tolak Joseph.
"Sebentar aja. Mumpung Papa juga belum pulang, jadi kita bisa lebih santai. Mbok, tolong antarkan makanan dan minuman ke halaman belakang yah ..." ujar Celine tanpa menggubris penolakan Joseph.
"Baik, Non ..." jawab Mbok Yani.
Tanpa bisa menolak, Joseph terpaksa mengikuti rombongan tersebut menuju ke halaman belakang dan duduk di gazebo. Sedangkan Mbok Yani meneruskan perjalanannya ke arah dapur untuk menyiapkan permintaan Celine.
Lampu-lampu di halaman belakang sudah dinyalakan, karena matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu tersebut menambah keindahan halaman belakang yang memang sudah cantik dan asri.
Semenjak melangkahkan kaki melewati pagar, Joseph tidak berhenti membelalakkan mata. Baru kali ini ia memasuki rumah sebesar ini. Halaman belakangnya saja hampir seluas rumahnya. Atau ... jangan-jangan malah lebih besar. Belum lagi keindahannya yang memesona.
Tidak berapa lama kemudian, Mbok Yani kembali datang bersama dengan seorang pelayan yang mendorong meja kecil beroda berisi makanan dan minuman. Pelayan tersebut pun menyuguhkan makanan dan minuman itu untuk mereka.
Setelah semua makanan dan minuman disajikan, Mbok Yani berbalik hendak meninggalkan gazebo bersama dengan pelayan itu. Namun Celine menghentikannya.
"Mbok, mau ke mana? Sini .... Ikut ngobrol-ngobrol sama kami."
Mendapat ajakan seperti itu, malah membuat Mbok Yani makin gugup. Kalimat itu diartikan Mbok Yani sebagai pemberitahuan bahwa ia akan diinterogasi. Karena tidak tahan lagi, akhirnya Mbok Yani mengaku.
"Nona .... Maaf.... Saya sudah ikut campur urusan pribadi Nona. Saya juga sudah membocorkan info tentang Nona pada orang asing. Maafkan saya, Nona ... " kata Mbok Yani hampir menangis. Ia benar-benar dihantui perasaan bersalah, seolah sudah mengkhianati nonanya.
Melihat itu Celine tertegun. Tidak disangkanya Mbok Yani mengakui perbuatannya sendiri. Joseph yang melihat pemandangan yang sama, jadi ikut tidak enak hati. Tidak mungkin ia membiarkan Mbok Yani menanggung konsekuensinya seorang diri. Ia pun ikut maju untuk membela Mbok Yani.
"Jangan salahkan Mbok Yani, Nona. Saya yang ikut campur dengan urusan pribadi Nona. Saya yang meminta keterangan dari beliau tentang Nona. Ide sandiwara itu juga saya yang merencanakan. Saya mencoba meyakinkan beliau bahwa yang kami lakukan adalah untuk kebahagiaan Nona. Jadi kalau karena itu Mbok Yani mau dihukum, hukum saya saja, " ujar Joseph.
Semua yang ada di gazebo jadi terdiam. Tidak ada yang menyangka situasi pertemuan akan berkembang menjadi serius seperti ini. Terutama James. Mukanya sedikit memerah. Ia tidak menyangka kalau Pak Joseph sampai ikut campur dengan masalah pribadinya dan Celine.
__ADS_1
Celine tersenyum mencoba mengendalikan suasana. Ia memeluk Mbok Yani. "Yang sudah terjadi, ya sudah terjadilah. Disyukuri dan diambil hikmahnya saja. Lagipula kalian melakukannya karena memikirkan kebahagiaan saya, kan? Bukankah seharusnya saya mengucapkan terima kasih?"
Mendengar itu Mbok Yani dan Joseph menarik napas lega. Namun ternyata kalimat Celine belum selesai.
"Tetapi jangan sering-sering yah .... Kasian Bang James dibikin sport jantung. Untung jantungnya kuat. Coba kalo kaga? Kan bahaya. Atau misalnya Bang James panikan? Entah nanti dia bakal ngelakuin apa-apa yang malah bikin keadaan makin kacau. Kan makin berabe ..." ujar Celine dengan gaya guru SD sedang mengajar.
"Oh .... Kalau itu tenang aja, Nona. Saya berani melakukannya karena saya kenal Pak James. Hal seperti itu tidak akan terjadi pada beliau. Pak James itu orangnya cukup tenang dan berkepala dingin. Ia pasti berpikir dulu sebelum bertindak. Ya kan, Pak?" Pak Joseph bertanya pada James sambil nyengir.
Mendapat penilaian seperti itu, membuat wajah James makin memerah. Apalagi perhatian semua orang sekarang mengarah padanya. "Ya ... ga gitu juga kali, Pak .... Kasian jantung saya kalo digituin sering-sering ..." ujar James yang disambut dengan senyuman dan tawa dari mereka yang mendengarnya.
Demikianlah akhirnya suasana dapat dikembalikan seperti semula. Beberapa saat ke depannya mereka lewati dalam suasana santai penuh rasa kekeluargaan. Sampai Pak Joseph izin pamit pulang karena hari sudah semakin gelap. Pertemuan itu pun kemudian dibubarkan.
Sekarang hanya tinggal Celine dan James di gazebo. Kecanggungan kembali melanda keduanya, karena sesungguhnya mereka belum pernah mengobrol santai berdua saja semenjak kejadian tersebut.
"Jadi Celine ... masih ada yang mau dibicarakan?" tanya James mencoba membuka pembicaraan.
"Tidak ada, " jawab Celine pendek.
James terdiam. Hal seperti ini yang membuat James gemas pada Celine. Tak adakah kalimat lain yang dapat diutarakan? Perasaan yang diungkapkan? Atau mungkin pertanyaan yang terbersit di kepala? Mengapa anak ini terkesan acuh tak acuh seolah ingin mematikan pembicaraan?
"Kalau begitu, Bang James aja yang tanya. Kenapa Celine memilih merahasiakan soal perjodohan ke Bang James?" tanya James mencoba menahan perasaannya.
"Nyatanya ga bisa toh? Buktinya Celine terpaksa ikut perjodohan."
"Bukan ga bisa .... Tapi karena uda ada perjanjian sebelumnya." Celine menjawab dengan agak ragu. Matanya menghindari tatapan James.
"Perjanjian apa?" tanya James penasaran.
"Kalau ... Bang James ga lulus masa orientasi di RS ... atau kalau Bang James ga ada kabar sampai tiga bulan masa orientasi selesai, Celine ... harus siap dijodohkan, " jawab Celine dengan suara pelan seperti mencicit.
"Tapi kan faktanya Bang James diterima lho, Lin .... Kok ga bisa minta papamu sabar dikit?" protes James.
"Waktu itu Bang James ga ada kabar. Tau ga Bang James kalo Celine tiap hari deg-degan nungguin kabar semenjak hari tenggat waktu pas tiga bulan itu? Dan papa ... sudah sampe molorin waktu hampir seminggu dari deadline. Di situ papa uda sangat bertoleransi lho, karena biasanya kalo soal waktu dan janji, papa ga ada kompromi. Buat papa itu adalah hal yang harus bisa dipegang dari seorang pebisnis!" jelas Celine tegas dengan kembali menatap James.
James terdiam. Sedikit merasa frustasi. Ia mengusapkan tangan ke wajahnya. Ternyata hari-hari di mana ia berpura-pura bersikap seperti biasa untuk memberi kejutan akan kedatangannya pada Celine di akhir minggunya, malah menjadi bumerang untuknya. Kalau begini, siapa yang harus disalahkan?
"Kenapa Celine ga tanya Bang James kalo Celine nungguin?" katanya di tengah rasa frustasinya.
"Karena Celine ga mau terlihat mendesak Bang James. Celine ga mau bikin Bang James khawatir dan kepikiran, " jawab Celine.
James kembali mengusapkan tangannya ke wajahnya. "Ya tetep .... Celine jangan tanggung sendiri. Celine anggap Bang James apa?"
__ADS_1
"Maaf, Bang James .... Celine pikir, ini masih bisa Celine tanggung kok. Karena di perjanjian, walaupun papa yang mengatur perjodohan, keputusan akhir tetap di tangan Celine. Papa janji ga bakal maksa, selama alasan Celine menolaknya tepat."
"Tapi Bang James ga suka kalo Celine dijodohin. Nanti kalo papa Celine pulang, Bang James izin ngomong yah ..." pinta James.
"Mau ngomong apa?"
"Mau nyusun ulang rencana dan bikin perjanjian baru. Bagaimanapun memang harusnya dari awal Bang James yang maju. Bukan tidak berterima kasih atau tidak percaya dengan Celine lho yah .... Tapi karena dari awal ini adalah perjanjian Bang James sama papa Celine, harusnya memang Bang James yang selesaiin, " jelas James.
Celine terdiam. "Ya terserah Bang James deh, kalo menurut Bang James baiknya begitu."
Keduanya kembali terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
"Ngomong-ngomong ... sudah hampir tiga minggu ... kita ga ada jumpa atau ngobrol. Celine ... ga kangen?" tanya James kembali mencoba membuka percakapan dan menanyakan apa yang menggelisahkan hatinya.
"Kangen, " jawab gadis itu ringan.
Alis James bekernyit. Jawaban pendek dan mematikan itu lagi. "Kalo kangen, kenapa Celine ga coba hubungi Bang James? Chat kek. Telepon kek."
Gantian alis Celine yang bekernyit. "Kan Bang James yang ga kasih kesempatan biar Celine bisa jelasin. Kalo hal yang penting gitu aja Bang James ga mau denger, Celine harus gimana? Mending Celine tunggu Bang James marahnya reda, kan? Kalo uda reda dan Bang James kangen, kenapa ga Bang James yang hubungin Celine duluan?"
Kembali James mengusap wajahnya. Celine benar-benar membuatnya mati kutu. Omongannya tidak salah, hanya cara berpikir dan sifat mereka benar-benar berbeda. Masing-masing berpikir dari sudut pandangnya sendiri.
Ia banyak belajar dari kejadian ini. Celine memang sudah berubah. Sifat, cara pandang, pola pikir, cara berkomunikasi Celine tidak lagi sama dengan Celine yang dulu. Perbedaan itu masih harus dipelajari dan dijembatani lagi.
Di sisi lain ia jadi teringat dengan apa yang Celine katakan sambil menangis saat membahas peristiwa Cindy. Saat itu Celine mengatakan hal yang sama dengan dirinya saat ini. Dan sekarang, gantian dirinya yang merasakan apa yang mungkin dirasakan Celine saat itu. Perasaan diabaikan, perasaan tidak dianggap, dan perasaan tidak bisa diandalkan oleh orang yang menjadi kekasih hatinya.
James merengkuh Celine dalam pelukannya. "Maafin Bang James yah, Lin .... Harusnya Bang James bisa tahan amarah dan memberi kesempatan Celine menjelaskan lebih dulu."
Celine ikut melingkarkan lengannya sampai ke punggung James. "Maafin Celine juga ya, Bang .... Celine uda bohong."
"Iya. Lain kali jangan gitu lagi yah .... Harus jujur, cerita apa adanya. Jangan ditahan sendiri!" James memulai nasihat ala emak-emaknya.
Celine tersenyum di dalam pelukan James. "Iya ..." jawabnya singkat.
"Kita sama-sama belajar yah, Lin ..." lanjut James lagi.
"Iya ...."
Mendengar itu James tersenyum. Jawaban pendek kembali terdengar, bahkan diulang sampai dua kali. Tetapi kali ini ia memilih menerimanya karena ini bagian dari kekasihnya. Lagipula, memang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kan?
...****************...
__ADS_1