
Saat boarding time pesawatnya tiba. Ia pun mulai memasuki pesawat dan mencari tempat duduknya sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya.
Mengikuti perintah ayahnya, akhirnya dengan terpaksa ia harus berada di pesawat yang akan menuju ke Singapura ini. Dari Singapura, ia akan melanjutkan perjalanan ke kota J, Indonesia. Mau bagaimana lagi kalau tidak ada penerbangan langsung dari Paris ke kota J.
Setelah ia memasukkan ranselnya ke bagasi kabin, ia pun mencari posisi duduk yang enak di kursinya. Hal ini wajar saja karena ia akan melewati malam di sini akibat perjalanan yang cukup panjang, yaitu hampir 13 jam.
"Excusez-moi ...." (arti: Permisi ....) Suara seorang wanita menegurnya. Sepertinya wanita itu ingin melewatinya agar bisa duduk di kursi yang berada di sebelah dalam dekat jendela.
"Oui, s'il vous plait, continuez ..." (arti: Ya, silakan ...) katanya sambil menggeser sedikit posisi duduknya, untuk memberi ruang agar wanita itu dapat melewatinya.
"Merci ..." (arti: Terima kasih ...) jawab wanita itu. Lalu ia pun melewati Sang Pemuda dan duduk di kursi sebelahnya.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika ia melihat wajah Si Wanita. Ia ingat kalau wajah itu tidak lain dan tidak bukan adalah wanita berisik yang dilihatnya di kafe waktu itu.
Wanita itu juga melihat dirinya. Lalu dengan senyum manis dan mata berbinar-binar, wanita itu memperkenalkan dirinya. "Je m'appelle Cécile. Et toi?" (arti: Namaku Cecilia. Kamu ?)
Ha ha ha .... Pemuda itu tertawa mengejek dalam hatinya. Ia ingat, wanita ini adalah pecinta cowok ganteng. Apalagi dia baru saja diputuskan pacarnya dan berkata bahwa ia akan menemukan pria yang lebih baik. Bukannya ingin menyombongkan diri, tetapi ia cukup tahu wajahnya termasuk di atas rata-rata untuk sebuah kadar kegantengan.
"Darrell, " jawabnya dengan gaya acuh tak acuh.
"Étudiant ou travailleur?" (arti: Mahasiswa atau pekerja ?) tanya Cecilia lagi.
"Étudiant, " (arti: Mahasiswa) jawab Darrell sambil memutar bola matanya. Tuh kan ... mulai berisik, tambahnya dalam hati.
"Vous partez en vacances à Singapour?" (arti: Kamu ke Singapura untuk liburan ?)
"Uniquement pour le transit." (arti: Hanya buat transit).
"Oh .... Alors où avez-vous continué votre voyage après cela?" (arti: Oh .... Jadi sehabis itu, kamu melanjutkan perjalanan ke mana ?) Cecilia mulai penasaran.
Darrell sudah menduga pertanyaan ini cepat atau lambat akan keluar. Sesungguhnya ia malas menjawabnya, karena ia sudah menduga dari negara mana Si Berisik ini berasal. Jika ia menjawab jujur, pembicaraan mereka pasti akan panjang. Tetapi ... kalau berbohong hanya untuk hal sekecil ini, kayaknya bukan sikap seorang gentleman, kan?
"Indonésie." (arti: Indonesia). Darrell memutuskan untuk menjawab dengan jujur.
Mata Cecilia tambah berbinar mendapat jawaban itu. "Pareil pour moi. Tu veux aller dans quelle ville?" (arti: Sama denganku dong .... Memangnya kamu mau ke kota apa ?) tanya Cecilia dengan bersemangat.
"Ville J." (arti: Kota J). Tuh .... Jadi panjang deh .... Darrell menggerutu dalam hatinya.
Wajah Cecilia langsung berubah menjadi murung. "Quel dommage. Notre destination est différente. Je vais à la ville B." (arti: Sayang sekali tujuan kita berbeda. Aku pergi ke kota B.)
__ADS_1
Tanpa sadar Darrell malah menghembuskan napas lega. Setidaknya mereka hanya akan bersama di pesawat ini. Setelahnya mereka akan berpisah dan tidak akan bertemu lagi.
Namun bukan Cecilia namanya kalau membiarkan pembicaraan berhenti sampai di sini. "Est-ce votre première fois en Indonésie?" (arti: Apakah ini pertama kalinya kamu ke Indonesia ?)
"Non, " (arti: tidak) jawab Darrell pendek. Ia mulai merasa sebal. Tidak sadarkah cewek ini dengan penolakan halusnya? Dengan sikap malas-malasan, acuh tak acuh, dan wajah yang menunjukkan sedikit terganggu? Apa ia harus menunjukkan penolakannya secara terang-terangan?
"Apakah berarti kamu bisa berbahasa Indonesia?" Cecilia mengganti bahasanya tiba-tiba.
"Sedikit, " jawab Darrell merendah, karena sesungguhnya ia sangat fasih berbahasa Indonesia.
Senyum Cecilia makin melebar. Namun belum sempat ia membuka mulutnya untuk melanjutkan pembicaraan, terdengar pengumuman dari pramugari yang meminta para penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman, mengamankan semua bagasi di bawah kursi, menegakkan tempat duduk dan nampan meja karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.
Pembicaraan terhenti karena para penumpang segera memeriksa kelengkapannya masing-masing. Dan terkhusus untuk Darrell, setelah memastikan dirinya sudah melakukan semua yang disarankan pramugari, ia segera menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.
Cecilia yang sudah menyelesaikan keperluannya, segera menoleh ke samping untuk kembali mengajak Darrell mengobrol. Tetapi kali ini, ia hanya dapat menahan kekecewaannya melihat posisi Darrell yang seperti itu. Ah .... Mungkin Darrell ketakutan, makanya ia sedang berdoa. Cecilia mencoba berpikir positif.
Namun sampai lampu kenakan sabuk pengaman dipadamkan pun, pria di sampingnya tetap bergeming dengan posisi yang sama. Mungkinkah Darrell tidur? Cepat sekali .... Apa mungkin dia mabuk udara ?
Sepertinya dugaan Cecilia salah. Di waktu-waktu berikutnya, terlihat bagaimana Darrell menikmati penerbangannya dengan menonton film atau mendengarkan musik. Ia juga menikmati makanan dan minuman yang disediakan seperti biasa.
Pernah Cecilia berusaha mengajaknya mengobrol ketika ia sedang makan. Tetapi dengan bahasa tubuh, pria itu menolaknya dengan halus.
Sampai akhirnya malam semakin larut. Para penumpang mulai bersiap untuk tidur. Masing-masing mengambil selimut dan bantal yang memang sudah disediakan oleh pihak maskapai.
Ketika sedang asyik menonton film, tiba-tiba ada sesuatu yang menindih bahu Darrell. Rupanya Si Wanita Berisik telah tertidur dan kepalanya tersandar di bahunya.
"Mademoiselle .... Mademoiselle ...." (arti: Nona .... Nona ....) Darrell berusaha membangunkan gadis itu. Namun usahanya sepertinya sia-sia. Tidak ada pergerakan dari Si Gadis.
"Cécile .... Cécile ...." Kali ini dia memanggil dengan namanya. Namun gadis itu tetap bergeming dengan kondisi terpejam.
Darrell menghela napasnya dan menyerah. Sebenarnya ia ingin mendorong wajah gadis itu agar kembali tersandar di kursinya atau ke jendela. Namun ia tidak cukup tega. Akhirnya ia memilih membiarkannya saja.
Di sisi lain, Cecilia yang sebenarnya hanya pura-pura tertidur, tersenyum dalam hatinya ketika ia mengetahui cowok tampan di sebelahnya akhirnya mengurungkan niatnya untuk membangunkannya. Ternyata di balik sikap dinginnya, Darrell punya hati yang lembut dalam memperlakukan wanita.
Cecilia pun melanjutkan sandiwaranya dan mengatur napasnya layaknya orang yang tidur dengan tenang. Ia ingin menikmati saat-saat yang terbilang romantis ini, di mana dirinya tertidur di bahu cowok tampan. Yang namanya kesempatan itu harus dimanfaatkan, kan?
...****************...
Cecilia terbangun. Rupanya dari pura-pura tidur, ia jadi ketiduran beneran. Entah berapa lama ia tertidur dan sudah jam berapa sekarang, ia tidak tahu.
__ADS_1
"Avez-vous bien dormi?" (arti: Apakah tidurmu nyenyak ?) Suara bariton di sebelahnya, bertanya padanya.
"Oui ..." (arti: Ya) jawab Cecilia dengan malas-malasan. Diregangkannya tubuhnya sebisanya dan dilihatnya pemandangan di luar jendela. Langit mulai terang pertanda pagi sudah tiba. Ia melihat jam tangannya, waktu di sana menunjukkan pukul 06.37.
"Bien alors. Maintenant, s'il vous plaît essuyez votre bave, " (arti: Baguslah kalau begitu. Sekarang, silakan lap ilermu) kata pria itu lagi.
Kalimat tadi membuat Cecilia tersadar penuh. "Pardon?" (arti: maaf ?) Cecilia bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.
"Essuyez votre bave." (arti: lap ilermu). Darrell mengulangi kalimatnya dengan nada yang dilambatkan, sambil menunjukkan jarinya ke sudut bibir.
BOOMMM! Muka Cecilia langsung memerah. Ia malu bukan kepalang. Refleks ia langsung mengambil selimutnya dan menariknya hingga setinggi hidung. Darrell tersenyum geli melihat tingkah canggung Cecilia.
Setelah itu Darrell mengambil sikat gigi dan pasta gigi dari tas amenity kit miliknya. Tidak lupa ia membawa sebotol air kemasan dan sebuah handuk kecil. Kemudian ia bangkit berdiri dan berkata kepada Cecilia, "Je vais d'abord me brosser les dents." (arti: Aku sikat gigi dulu).
Cecilia hanya bisa melongo memandang kepergian Darrell. Sepanjang perjalanan ini, baru sekarang ia melihat cowok dingin itu tersenyum. Dan senyumnya rupanya sangat memesona.
Si*l!! Bisa-bisanya ia ileran di depan cowok ganteng kayak gini! Bikin hancur harga dirinya aja! Cecilia memaki dirinya dalam hati.
Setelah Cecilia mencuci muka dan menyikat giginya, ia kembali ke kursinya untuk menikmati sarapan. Kecanggungan masih meliputinya, sehingga selama sarapan ia tidak berani menatap wajah Darrell.
Tetapi kecanggungan tersebut tidak bertahan lama. Beberapa saat kemudian, ia kembali mencari kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Darrell. Habis ... mau bagaimana lagi? Penerbangan masih cukup panjang.
Namun sama seperti sebelum-sebelumnya, Darrell seperti tidak memberinya kesempatan untuk mengobrol. Pria itu kembali menikmati kesendiriannya dengan menonton film, mendengarkan musik, atau tidur.
Sampai akhirnya pesawat mereka tiba di Singapura. Begitu pesawat berhenti sempurna, pria itu dengan sigap langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ranselnya yang berada di bagasi kabin.
"Je vais d'abord .... Au revoir ..." (arti: Aku duluan yah .... Sampai jumpa ...) katanya sambil tersenyum manis ke Cecilia.
Tanpa menunggu jawaban Cecilia, Darrell langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar pesawat. Tinggal Cecilia yang kembali melongo melihat punggung Darrell yang menjauh.
Apa-apaan pria itu??!! Ganteng sih ganteng, tapi kok maen meninggalkan dirinya begitu aja? Basa-basi dikit kek! Tanyain apakah ada barangnya juga ada di bagasi kabin kek! Atau nawarin bareng sambil nunggu pesawat mereka yang berikutnya juga boleh! Bagaimanapun, mereka kan sama-sama singgah di sini cuma buat transit!
Dengan gemas akhirnya Cecilia mengambil sendiri barangnya yang ada di bagasi kabin. Lalu ia pun ikut melangkahkan kakinya untuk turun dari pesawat.
Perasaannya dalam penerbangan kali ini benar-benar seperti dipermainkan. Mulai dari bahagia harap-harap cemas karena bisa duduk di sebelah cowok tampan, gelisah mencari cara untuk tebar pesona, malu karena terlihat dalam kondisi memalukan, sampai sebal karena merasa ditinggalkan begitu saja.
Yah sudahlah .... Lupakan saja! Toh belum tentu ia akan bertemu pria itu lagi. Dengan berpikir demikian, kembali Cecilia melenggang dengan santainya untuk melanjutkan perjalanannya yang belum selesai. Ia memutuskan untuk tidak membebani pikirannya dengan hal-hal yang tidak berguna.
...****************...
__ADS_1