Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kedatangan Ibu Ketua Yayasan


__ADS_3

Author : Maaf yah para readers yang setia membaca novel ini. Beberapa hari ini author sedang ada masalah. Akibatnya episode ini terlambat di update dari jadwal yang biasanya. Mungkin untuk beberapa episode ke depan juga akan demikian. Doakan agar masalah author cepat selesai yah... 😞🙏


...----------------...


Berbeda dengan suasana mengharu biru yang terjadi di dalam ruang UKS, suasana hati Bu Kepsek tegang tidak karuan. Bagaimana tidak? Setelah mendengar kabar bahwa anaknya pingsan, ibu Priscillia akan segera datang ke sekolah untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawabannya.


Saat ini bu Kepsek sudah menunggu kedatangan Sang Ibu Ketua Yayasan di depan gerbang sekolah dengan perasaan gundah gulana. Ia memang sudah mendengar tentang kejadian dan kondisi terakhir Priscillia dari dokter Lusi. Tetapi tetap saja ia bingung apa yang harus ia katakan pada Orang nomor satu di sekolah ini.


Apalagi setelah ia tahu dari dokter Lusi bahwa kondisi Priscillia masih membutuhkan pemantauan untuk memastikan tidak adanya hal yang dapat mengancam jiwa. Mendengar hal itu saja sudah mendatangkan kecemasan tersendiri, bukan?


Sampai akhirnya sebuah limosin berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Dari dalamnya turun seorang wanita dengan gaya elegan, rambut disasak tinggi dan baju bling bling khas emak emak sosialita tingkat dewa.


Begitu melihat Bu Kepsek sudah menantinya, wanita tersebut segera menyerang beliau dengan rentetan pertanyaan, seperti kondisi anaknya sekarang dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Sepanjang perjalanan dari gerbang menuju ruang UKS, Bu Kepsek menjawab pertanyaan Sang Ibu sambil berusaha mengikuti langkah beliau yang cukup cepat, meskipun Si Emak mengenakan sepatu hak tinggi.


Setelah mendengar jawaban demi jawaban yang diutarakan Bu Kepsek, sepertinya hal tersebut membuat tekanan darah Sang Ibu Ketua Yayasan semakin meninggi. Hal tersebut terlihat dari nada suara beliau yang makin meninggi pula. Sampai akhirnya, mungkin karena kesabaran beliau sudah habis, terdengarlah ocehan sepanjang jalan tanpa titik koma yang terdengar seperti senapan mesin.


Tentu saja hal itu menarik perhatian murid-murid. Apalagi ketika mereka melihat Ibu Kepala Sekolah mereka hanya bisa mengikuti Si Emak tadi dengan sikap tunduk dan raut wajah ketakutan.


Ketika ibu Priscillia dan Bu Kepsek sudah mendekati ruang BK, walaupun sosok yang berbicara belum tampak, ocehan itu sudah terdengar sampai ke dalam ruang BK. Hal itu membuat suasana mengharu biru di dalam ruang BK langsung berubah.


"Mama?" Priscillia bertanya sambil melepas pelukan teman-temannya.


"Iya, Pris. Kayaknya tante sudah tiba," jawab Sharon. Cecilia dan Rebecca ikut menajamkan telinga sambil manggut-manggut.


Jika di dalam ruang BK saja sudah terdengar, jangan ditanya bagaimana dengan dokter Lusi dan Pak Joseph yang ada di luar ruangan. Dokter Lusi langsung menyiapkan hati dan diri untuk menjawab pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh Sang Ibunda. Sedangkan Pak Joseph makin pucat ketika ia tahu yang sebentar lagi muncul adalah orang tua Priscillia. Ia tahu ia akan diminta pertanggungjawabannya.


"Jadi guru olahraga itu masih menyuruh Priscillia turun ke lapangan tenis meskipun sudah ada Surat Keterangan Dokter?! Apa maunya guru itu?! Ga percaya?! Dikiranya kami main-main?! Nah ... sekarang kalo uda gini, dia bisa apa?! Kalo terjadi apa-apa sama anak saya gimana?!" Oceh Sang Ibu Ketua Yayasan yang akhirnya terlihat batang hidungnya.


Dokter Lusi dan Pak Joseph yang melihat kedatangan orang penting itu langsung menganggukkan kepala memberi salam.


"Dokter Lusi, tolong ikut saya ke dalam," kata ibu Priscillia ketika melihat dokter Lusi.


"Dan, kamu .... Jangan-jangan kamu yah, guru olahraga itu?!" tembak ibu Priscillia begitu melihat Pak Joseph.


"Sa-" Belum lagi Pak Joseph mengucapkan satu kata pun, ibu Priscillia sudah kembali melanjutkan kalimatnya.


"Ah, nanti saja kita urus pelakunya. Sekarang yang lebih penting, saya harus lihat dulu keadaan anak saya." Setelah berkata begitu, Sang Ibu segera membuka pintu ruang UKS.

__ADS_1


"Tanteee ...." Cecilia, Rebecca, dan Sharon memberi salam. Sedangkan James menganggukkan kepalanya memberi salam.


"Sharon, Cecilia, Rebecca ... dan ... ini? Apa kamu yang guru olahraga itu?" kata ibu Priscillia ketika melihat James.


Tetapi tanpa menunggu James menjawab, ibu Priscillia langsung melanjutkan kalimatnya begitu melihat sosok di atas ranjang pasien yang tertutupi selimut, "Nanti saja kita pastikan. Sekarang, gimana keadaanmu, My dear ?"


"Sudah lebih baik, Ma ..." jawab Priscillia masih di balik selimut.


"Kata dokter Lusi, tadi kamu sempat sesak?"


"Iya, Ma. Tapi sekarang uda ga lagi, kok ...."


"Terus, kenapa kamu jadi ngomong sama Mama dari balik selimut gini, Sayang? Kaga mau liat Mama?"


"Bukan gitu, Ma .... Priscil ga mau diliat orang. Priscil malu sama penampilan Priscil sekarang .... Priscil jelek banget, Ma ...."


"Oh ya ya .... It's okay, My dear. Tenang aja, habis ini kita rawat biar ga ada bekasnya yah. Pokoknya Mama akan pastikan, kamu tetap cantik seperti biasa," jawab Sang Ibu menenangkan anaknya.


"Dokter Lusi, boleh tolong pastikan sekali lagi kondisi Priscillia cukup stabil sebelum saya bawa ke RS?" tanya Ibu Ketua Yayasan pada dokter Lusi.


"Iya, Bu ..." jawab dokter Lusi. Dan tak lama kemudian, beliau menarik tirai penyekat ranjang pasien, tanda pemeriksaan akan dimulai.


"Saat ini kondisi Priscillia masih stabil, Bu. Tapi tetap saran saya lebih baik dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di RS, mengingat sebelumnya ada riwayat sesak dan kelemahan otot. Lebih baik kita memastikan kelemahan otot yang terjadi tidak sampai mengenai otot jantung atau paru yang bisa berakibat fatal," kata dokter Lusi.


"Baiklah! Karena kondisi anak saya sudah bisa dipastikan stabil sementara ini, sekarang ... yang mana guru olahraga yang membuat anak saya jadi begini?" tanya ibu Priscillia pada segenap orang di ruang UKS tersebut.


"Sudahlah, Ma .... Ga usah dibahas .... Priscil juga yang salah, karena ga jujur alasannya," ujar Priscillia berusaha menghentikan ibunya dari balik tirai.


"Tidak bisa, Dear .... Surat Keterangan Dokter itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu diizinkan tidak mengikuti praktik olahraga. Kondisi kamu juga bukan kondisi biasa yang ringan-ringan seperti pada umumnya. Dia harus tau itu! Lagipula, Mama bukan mau bahas sekarang. Mama cuma pengen tau, yang mana orangnya!" sanggah ibu Priscillia.


"Priscil ga disuruh olahraga, Ma .... Cuma disuruh liatin teman-teman yang praktik olahraga di lapangan." Priscillia masih mencoba melindungi Pak Joseph.


"Sama aja! Intinya, karena ulahnya kamu jadi seperti ini! Sudah, kamu diam saja di situ! Jangan bantah Mama lagi!" Mendengar kalimat seperti itu, Priscillia jadi terdiam.


"Jadi sekarang, yang mana di antara kalian berdua yang merupakan guru olahraga?" tanya Ibu Ketua Yayasan sambil melihat ke arah James dan Pak Joseph.


Dengan kepala tertunduk sambil menelan ludah, Pak Joseph maju ke depan. "Saya, Bu ..." katanya.

__ADS_1


"Oh ... ternyata ini orangnya. Jadi bisa Bapak beritahu saya, mengapa Bapak masih memaksa anak saya turun ke lapangan, padahal sudah ada Surat Keterangan Dokter?" tanya ibu Priscillia tajam.


"Di surat, ha- hanya tertulis permohonan izin untuk tidak mengikuti praktik olahraga, Bu. Ja- jadi, saya pikir, kalau hanya memperhatikan dari lapangan, ti- tidak akan terjadi masalah. Menurut logika saya, itu lebih baik untuk Priscillia agar tetap bisa mendapat pelajaran, daripada hanya sekedar menunggu di kelas, Bu." Pak Joseph menerangkan alasannya.


"Hmmm .... Jadi sekarang Bapak sudah tau betapa seriusnya kondisi anak saya?"


"Su- sudah, Bu. Maafkan saya!"


"Baiklah, kita sudahi percakapan kita sampai di sini. Tapi asal Bapak tau, urusan kita belum selesai! Tunggu keputusan saya selanjutnya! Sekarang saya mau membawa anak saya ke RS. Kamu kuat jalan pelan-pelan ke area parkir, Dear ?" tanya ibu Priscillia pada anaknya.


"Kalo kuat atau kaga, sepertinya kuat, Ma .... Tapi masalahnya, Priscil ga berani keluar .... Priscil ga mau diliat teman-teman lagi jelek seperti ini!" keluh Priscil.


"Mau gimana, dong? Ga mungkin kita tunggu sekolah usai atau mobilnya dibawa masuk ke dalam! Ga mungkin juga kamu Mama umpetin di balik baju Mama!" Ibu Priscillia juga mulai bingung memikirkan solusinya. Begitu pula orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Maaf ... kalau tidak keberatan, apa Priscillia tidak masalah saya gendong seperti ketika saya membawanya kemari? Kalau malu, Priscillia bisa seperti barusan, menutupi diri dengan selimut agar tidak terlihat. Bagaimana?" usul Pak Joseph.


Semua yang hadir terdiam. Mereka pikir usul Pak Joseph masuk akal. Hanya Priscillia yang merasa malu. Ia baru tahu kalau tadi ia bisa sampai di ruang UKS dengan cara digendong Pak Joseph. Dan masalahnya, kali ini ia akan digendong dalam keadaan sadar sampai ke mobil yang ada di parkiran.


"Ya, sudahlah. Begitu saja. Is that okay for you, Dear ?" tanya ibu Priscillia meminta persetujuan anaknya.


"Ya, sudah. Mau gimana lagi?" Priscillia terpaksa setuju, karena ia pun tidak terpikir solusi lain.


"Sudah mau pergi sekarang?" tanya Pak Joseph.


Priscillia mengetatkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki, mengusahakan dirinya semaksimal mungkin tidak terlihat dari luar. Setelah ia cukup yakin, ia berkata dengan malu-malu, "Sudah, Pak. Tolong yah ...."


Pak Joseph lalu membuka tirai penyekat yang dari tadi membatasi ranjang pasien dengan ruangan UKS sebelah dalam. Lalu dengan sekali ayunan tangan, ia sekali lagi membopong tubuh Priscillia dengan cara yang sama seperti ketika ia membawa Priscillia kemari.


"Tolong tuntun arah ke tempat mobil Ibu diparkir," kata Pak Joseph kepada Sang Ibu Ketua Yayasan dengan sopan.


"Ya, ikuti saya." Setelah berkata seperti itu, ibu Priscillia bergegas ke luar ruang UKS diikuti Bu Kepsek dan Pak Joseph yang menggendong Priscillia.


Tinggallah anggota Geng Princess memperhatikan punggung mereka yang menjauh dengan berbagai perasaan. James juga memperhatikan kepergian mereka dengan harapan Priscillia baik-baik saja. Sampai akhirnya terdengarlah bel tanda istirahat berakhir.


"Ayo, ayo, kalian harus kembali ke kelas! Pak James juga masih harus mengajar kan?" kata dokter Lusi mengingatkan.


Setelah diingatkan akan tugas dan aktivitasnya, Rebecca, Sharon, Cecilia, dan James undur diri dari ruang UKS. Mereka lalu kembali menjalankan urusannya masing-masing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2