
Hari ini hari Rabu. Sudah tiga malam berturut-turut, James tidak mengangkat telepon Celine. Dimulai dari Minggu malam, ketika Celine ingin mengabarkan bahwa ia telah sampai di rumah. Saat itu, ia mencoba memakluminya. Mungkin Sang Kekasih masih terkapar akibat kelelahan.
Lalu, bagaimana dengan hari Senin dan Selasa malamnya? Kalau pun saat itu, James sedang berhalangan mengangkat telepon atau tidak mendengar adanya panggilan masuk, harusnya pria itu balik menghubunginya, kan? Tetapi ini tidak. James seperti menghilang ditelan bumi.
Jujur saja, semenjak ia melihat raut wajah Sang Kekasih di hari Minggu itu, ia sudah merasa ada yang aneh. Perasaannya tidak enak. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
Tetapi, firasat tetaplah firasat. Tanpa bukti, itu hanya merupakan sebuah gangguan kecemasan belaka. Karena itu Celine memutuskan untuk memastikan firasatnya tersebut. Nanti malam sepulang kerja ia akan menghubungi Mama Ratna untuk bertanya tentang kekasihnya.
Sekarang ia harus fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk. Ia masih harus mengikuti rapat direksi, pertemuan dengan kolega bisnis, dan ia juga harus pergi ke ritel tempat produk baru perusahannya akan dipasarkan.
Celine melalui kesibukannya sampai tengah hari. Saat ini ia baru saja turun dari mobil yang mengantarnya sampai di depan pelataran gedung kantor. Sebelumnya ia pergi keluar untuk makan siang bersama kolega bisnisnya.
Saat ia hendak memasuki gedung, ia melihat ada ribut-ribut di depan meja resepsionis. Seorang pria sedang berhadapan dengan satpam penjaga kantor. Karena tidak nyaman dengan hal yang terlihat di hadapannya, Celine memutuskan untuk mencari tahu.
"Tolonglah, Pak .... Tolong dimaklumkan sekali ini saja." Ia mendengar pria itu berkata demikian.
"Tidak bisa! Sudah saya katakan, tidak bisa! Bapak pulang saja!" sahut Si Satpam.
"Ada apa, Pak?" tanya Celine kepada satpam kantor.
"Ini, Bu .... Bapak ini memaksa masuk kantor untuk mengikuti wawancara dengan pakaian demikian. Saya tidak mengizinkannya masuk karena hal itu dapat merusak citra kantor." Si Satpam memberi penjelasan.
"No- Nona .... Nona kan ...." Terlihat pria itu tampak mengenalnya.
Celine tertegun melihat pria di sampingnya. Ia merasa pernah melihat pria tersebut, tetapi ia lupa di mana dan kapan. Pria tersebut memakai pakaian yang terlihat lusuh dengan warna yang sudah pudar dan sepatu yang berlubang. Entah apakah ini merupakan pakaian terbaiknya, Celine tidak tahu.
Yang jelas, untuk kantor elite seperti perusahaannya, sangat wajar penampilan seperti itu membuat ia diusir oleh satpam. Di sini, segenap karyawan diwajibkan menjunjung tinggi nama baik perusahaan. Karena itu kualitas karakter, pekerjaan, sikap, termasuk penampilan harus diperhatikan.
"Nona! Nona adiknya pak James, kan? Saya Joseph! Temannya pak James yang mengantar beliau ke rumah saat beliau mabuk. Nona ingat?" tanya Pak Joseph.
"Ah ..." jawab Celine yang baru menyadari kalau pria ini adalah pria yang sama dengan waktu itu.
Satpam tersebut merasa aneh melihat sikap atasannya. Ia sangat ragu kalau Nona Direktur Pewaris Perusahaan ini benar-benar mengenal pria lusuh yang baru saja ia usir. "Ibu sungguh kenal dengan Bapak ini?" tanyanya memastikan.
"Iya, Pak. Saya kenal, " jawab Celine.
"Jam berapa wawancaranya, Pak?" Celine bertanya pada pak Joseph.
Pak Joseph melihat jam tangannya. "Sekitar 20 menit lagi, " jawabnya.
__ADS_1
Gantian Celine yang melihat jam tangannya. "Masih keburu, " katanya lebih kepada dirinya sendiri.
Lalu Celine melanjutkan perkataannya kepada Pak Satpam, "Tolong hubungi bagian HRD untuk memindahkan wawancara calon karyawan atas nama Tuan Joseph di paling akhir. Saya akan berbincang langsung pada orangnya lebih dulu."
"Baik, Bu. Saya mengerti, " jawab Si Satpam patuh.
"Mari, Pak! Ikut saya, " kata Celine kepada Pak Joseph.
Pak Joseph hanya bisa mengikuti Celine dengan kebingungan. Awalnya ia merasa yakin gadis ini adalah gadis pemalu di rumah pak James waktu itu. Wajah cantik alami seperti ini tidak mungkin semudah itu ia lupakan. Dan walaupun sudah tiga tahun berlalu, wajah itu tidak mengalami banyak perubahan.
Hanya penampilannya yang banyak berubah dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Tetapi hal itu ia anggap wajar, karena tempat mereka bertemu kali ini berbeda jauh dibandingkan saat pertama mereka berjumpa. Waktu itu, gadis ini hanya memakai baju rumahan. Sedangkan sekarang, wajar jika gadis ini berpenampilan layaknya orang kantoran.
Yang membuatnya ragu adalah sikap dan pembawaan gadis ini. Tidak ada lagi kesan pemalu, penakut, dan gugup yang terpancar saat pertama kali mereka bertemu. Gadis di depannya sekarang bersikap tegas dan elegan. Wibawanya terpancar, membuat orang jadi sungkan jika berhadapan dengannya.
Sesaat tadi, ketika gadis itu menghampirinya di depan meja resepsionis, ia mengira gadis ini hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan elite. Tetapi melihat gaya bicaranya kepada pak satpam dan bagaimana satpam tersebut memberikan respons balik, ia sadar kalau gadis ini memiliki kedudukan tinggi di perusahaan ini. Kalau tadi gadis ini tidak mengaku mengenalnya, mungkin ia merasa ia yang salah mengenali orang.
Pak Joseph terus berjalan mengikuti Celine dengan penuh keraguan. Sampai akhirnya matanya terbelalak begitu ia memasuki ruang bertuliskan "Direktur Utama".
Celine duduk di depan meja bertuliskan "Direktur". Lalu ia mempersilakan Pak Joseph duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Setelah Pak Joseph duduk, Celine bertanya, "Bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai di sini? Bukankah harusnya Bapak mengajar bersama Bang James?"
Tetapi rasa penasaran itu ditahannya. Ia sadar, status mereka sudah sangat berubah. Gadis ini bisa jadi akan berubah menjadi atasannya di waktu ke depan. Dan saat ini, bisa jadi ia sedang diwawancarai secara eksklusif.
"Saya mengundurkan diri dari sekolah tersebut dua tahun yang lalu. Alasannya adalah kesehatan ibu saya. Ibu Ketua Yayasan memfasilitasi ibu saya untuk mendapatkan bantuan pengobatan di RS yang berada dalam naungan yayasan yang sama di kota ini. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan, karena jujur saja, biaya pengobatan untuk ibu saya cukup tinggi.
Karena itu lah, meskipun harus resign dan mengadu nasib di kota yang baru, saya memilih menjalaninya. Tetapi ternyata mengadu nasib itu tidak mudah. Saya agak kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Dua tahun ini saya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya." Pak Joseph menceritakan kisahnya dengan kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kalau boleh tau, ibu Bapak sakit apa?" tanya Celine.
"Ibu saya mengalami gagal ginjal. Ia harus menjalani cuci darah dua minggu sekali. Hal ini yang dibantu oleh ibu ketua yayasan. Beliau membebaskan biaya cuci darah di RS tersebut. Tentu saja ini sudah sangat membantu keluarga kami. Tetapi tetap saja untuk biaya obat-obatan lain, saya harus menanggungnya sendiri, " jawab Pak Joseph.
"Lalu, bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai di perusahaan ini?" Celine kembali bertanya.
"Saat saya sedang mencari pekerjaan tetap, saya melihat iklan lowongan pekerjaan di perusahaan ini. Jujur saja, hal ini membawa harapan baru untuk saya. Jika saya berhasil diterima di perusahaan elite ini, pastilah akan sangat membantu perekonomian keluarga kami.
Segera saya kirimkan semua dokumen persyaratan yang diminta. Harapan saya bertambah ketika saya mendapat pemberitahuan bahwa saya berhasil melewati proses seleksi awal dan dapat lanjut ke proses wawancara.
Hari ini saya datang untuk mengikuti wawancara tersebut. Tetapi sungguh saya tidak menduga kalau saya tidak diizinkan masuk karena penampilan saya yang seperti ini. Satpam itu mengatakan bahwa penampilan saya dapat merusak citra kantor.
__ADS_1
Kalau itu menjadi salah satu syarat masuk sebagai karyawan di perusahaan ini, sepertinya saya harus menyerah." Pak Joseph menuntaskan kalimatnya kembali dengan senyum kecut di wajah.
Celine menghela napas. "Bapak pasti sudah tahu kalau perusahaan ini bukan perusahaan sembarangan. Tentu saja citra perusahaan harus dijunjung tinggi. Salah satunya dapat terlihat dari penampilan karyawan kami. Namun pastilah kami tidak merekrut karyawan hanya berdasarkan penampilannya saja.
Saya akan membantu Bapak. Bapak akan menjadi karyawan kami. Tetapi jabatan dan tugas Bapak akan diputuskan oleh bagian HRD sesuai dengan kompetensi Bapak, karena saya tidak mungkin melangkahi tanggung jawab mereka. Bagaimana? Apakah Bapak setuju?" tanya Celine.
Mata Pak Joseph berbinar mendengar keputusan itu. "Tentu saja, Nona! Tentu saja! Perusahaan mau menempatkan di bagian apapun, akan saya terima dengan senang hati, " jawab Pak Joseph.
Celine tersenyum. Setelah itu, ia menekan beberapa tombol pada telepon yang ada di depannya.
"Iya, Bu?" Terdengar suara wanita pada speaker telepon.
"Ratih, bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya Celine.
"Baik, Bu." Dan saat itu telepon ditutup.
Tidak sampai 3 menit, seorang gadis memasuki ruangan tempat mereka berada.
"Ratih, tolong antar Bapak ini ke bagian HRD untuk ditempatkan di bagian yang sesuai dengan kompetensinya. Lalu, tolong belikan beberapa pasang pakaian kantor dan sepatu agar dapat ia kenakan besok ketika masuk kerja. Masukkan pengeluaran tersebut ke bagian kesejahteraan karyawan yah ..." ujar Celine kepada gadis itu.
"Baik, Bu. Mari, Pak, ikuti saya, " ujar gadis yang bernama Ratih itu kepada Pak Joseph.
Pak Joseph tertegun. Ia tidak menyangka akan mendapatkan fasilitas seperti ini. Bukan saja ia bisa diterima di perusahaan elite lewat jalur khusus, ia bahkan mendapat pelayanan yang memperhatikan penampilannya untuk bekerja besok.
Walaupun ia tahu bahwa hal tersebut kemungkinan besar hanya untuk menjaga citra perusahaan, tetapi perhatian kecil seperti itu tetap saja membuatnya tersentuh. Entah kapan terakhir kali ia membeli baju atau sepatu baru untuk dirinya, ia sudah tidak ingat lagi.
"Terima kasih, Nona! Terima kasih!" katanya kepada Celine sambil membungkukkan badannya.
"Sama-sama, Pak. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik, " jawab Celine sambil tersenyum.
Pak Joseph pun meninggalkan ruang direktur dengan hati yang penuh sukacita. Ia berharap dengan ini keadaan ekonomi keluarganya akan membaik. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan bekerja dengan rajin demi keluarganya dan juga demi Nona yang telah berbaik hati menerimanya bekerja di perusahaan ini tanpa syarat apapun.
Tinggal pertanyaan yang masih mengganjal di hatinya tentang Nona tersebut. Ia menduga, Nona itu adalah adik atau kerabat dari pak James yang pernah menjadi rekan kerjanya saat menjadi guru dulu. Namun bagaimana gadis itu bisa bertransformasi menjadi direktur di tempat ini, sungguh menjadi sebuah tanda tanya besar. Apalagi yang ia tahu, pak James dan keluarganya berasal dari kalangan sederhana.
Pak Joseph tersenyum sendiri memikirkan hal itu. Bagaimana nasib bisa mempermainkan kehidupan seseorang. Gadis pemalu dan gugup yang dulu memandangnya dengan penuh rasa takut dan curiga, kini bisa beralih menjadi atasannya.
Tetapi yah sudahlah. Ia yakin cepat atau lambat, pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Ia juga dapat mencari tahu jawabannya di waktu-waktu mendatang.
Yang jelas, ia bersyukur pertemuannya kembali dengan gadis itu membawa secercah harapan dalam hidupnya. Ia percaya tidak ada kebetulan yang terjadi di dalam dunia ini. Ia percaya bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi karena izin dari Penciptanya.
__ADS_1
...****************...