Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Celine yang Diam


__ADS_3

James mendekati tempat duduk Celine dengan harap-harap cemas. Ia tahu ia sudah bersalah pada gadis itu. Celine sudah diabaikannya selama dua minggu. Tetapi di sisi lain, rasa rindu dan kebebasan yang selama ini terbelenggu sudah terlalu sulit untuk ditahan. Tanpa banyak berpikir, James memilih mengikuti kata hatinya meskipun ia tidak tahu harus berkata atau bersikap bagaimana.


Setelah berada di hadapan Celine, ia memanggil nama gadis itu. "Lin ..." katanya dengan gugup sambil tersenyum bodoh.


Celine hanya menatap wajah James dengan ekspresi datar. Melihat respons Celine seperti itu, nyali James semakin ciut.


"Lin .... Maaf .... Bang James salah ..." katanya lagi.


Tetapi Celine tetap diam menatap James dengan ekspresi yang sama. Melihat aura-aura yang kurang menyenangkan, Mama Ratna memutuskan membantu anak bungsunya.


"Lin .... Maafin James yah .... Dia ga sanggup mengatakannya langsung padamu, " ujar Mama Ratna.


Celine tetap diam. Tetapi kali ini ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Mama Ratna.


Mama Ratna ikut bingung. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Baru kali ini Celine bersikap sedemikian sulit untuk dibaca.


Tiba-tiba Alex menyeruak meruntuhkan suasana yang mulai suram itu. "Ngomong-ngomong Abang laper nih! Tadi sarapannya asal. Lagian uda jam sebelas lewat, bentar lagi makan siang. Makan dulu sama-sama yuk! Celine temenin Bang Alex makan dulu yah ..." ajak Alex.


"Iya, " jawab Celine sambil tersenyum.


Melihat situasi yang mulai kondusif, Papa Heru ikut angkat bicara, "Iya, Papa juga laper! Yuk berangkat cepetan!"


Dengan diturunkannya titah dari panglima tertinggi keluarga Wijaya, perkumpulan itu bubar dan menuju mobil masing-masing. Lalu mereka berangkat bersama menuju ke sebuah restoran keluarga.


Hampir satu jam lebih mereka menghabiskan waktu untuk perjalanan, memesan makanan, dan menikmati makanan di restoran tersebut. Di dalam mobil, Celine hanya terdiam seribu bahasa. Begitu pula saat di restoran. Hanya celoteh Rico yang sedikit menceriakan suasana.


Sampai akhirnya perut tiap orang penuh dan piring makanan di hadapan mereka tandas. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Alex untuk membantu adiknya memperbaiki suasana. James harus menghadapi Celine sendiri.


"Pa, Ma, James, Lin .... Bang Alex duluan balik yah .... Rico juga uda mulai ngantuk. Tadi bangun agak pagi soalnya, " kata Alex sambil menunjuk Rico yang sudah terangguk-angguk di pelukan Sherly.


"Iya. Hati-hati ..." sahut kedua orang tuanya dan Celine hampir bersamaan.


"Iya, Bang. Thanks a lot yah ..." balas James.


"No prob. Nanti Papa-Mama langsung pulang juga yah .... Jangan kelayapan lagi. Tuh, keliatan pada kurang tidur semua ..." tambah Alex lagi.


Mama Ratna tersenyum simpul dengan tingkah anak sulungnya yang sok tua. "Iya, ngerti. Sudah! Sana pulang! Tuh, kasihan Sherly dan Rico nungguin kamu kelamaan!"


Alex mengulum senyumnya. Sebelum benar-benar pergi, ia mendekati Celine dan berbisik kepadanya. "Lin .... Jangan terlalu galak ama James yah ...."


Mendengar itu, Celine tersenyum simpul dan melihat ke Alex. "Iya, Bang ...."


Melihat itu, mereka semua penasaran dengan apa yang dibisikkan Alex sehingga dapat membuat Celine tersenyum seperti itu. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertanya. Untuk bagian menghibur Celine, mereka harus mengakui Alex lebih unggul.

__ADS_1


Alex pun pergi lebih dahulu bersama Sherly dan Rico kembali ke rumahnya. Tidak berapa lama kemudian, sisa keluarga yang lain menyusul pulang.


Setibanya di rumah, semuanya langsung sibuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian rumah yang nyaman. Setelah semuanya rapi, Mama Ratna berkata pada Celine dan James, "Kami istirahat yah .... Papa juga uda teler tuh. Kalau kalian juga mau tidur, pagar dikunci aja."


"Iya. Celine juga mau istirahat, Ma ..." jawab Celine.


"Ya. Kamu juga pasti lelah. Istirahatlah, Nak ..." kata Mama Ratna kepada Celine,


"Iya, Ma .... Celine duluan yah ..." pamit Celine.


"Ya. Silakan ..." jawab Mama Ratna.


Celine pun memasuki kamarnya dan menutup pintunya. Tinggal Mama Ratna dan James yang masih berdiri di ruang keluarga.


"Anak itu menghindar untuk berbicara denganmu, James ..." kata Mama Ratna.


"Iya. James tau ..." ujar James.


Mama Ratna menghela napasnya. "Yah .... Wajar ia seperti itu setelah apa yang ia alami. Berusahalah, Nak ..." sahut Mama Ratna memberi semangat anak bungsunya.


"Pasti!" jawab James sambil tersenyum.


"Ya sudah. Mama masuk yah .... Jangan lupa kunci pagarnya kalau kamu juga mau istirahat di kamar!"


Mama Ratna pun tersenyum, lalu meninggalkan James di ruang keluarga. Setelah mengunci pagar, James masuk ke kamarnya. Tadinya ia ingin mengetuk kamar Celine dan berharap bisa berbicara dengannya. Tetapi rencana tersebut dibatalkannya. Setelah tubuhnya menyentuh ranjang, rasa lelah langsung menghampirinya.


Sudah dua minggu ini ia memang kurang tidur. Banyak hal yang ia pikirkan dan membebaninya. Selama ini semuanya itu ia coba abaikan dan tidak ingin dirasakannya. Ia memaksa tubuh dan jiwanya berjalan mengikuti alur cerita. Baru sekarang semua kelelahan itu dirasakannya, setelah semuanya berakhir dan jiwanya mendapat kelegaan.


Aku juga butuh istirahat. Sekarang, tenanglah jiwaku .... Damailah dalam batinku ... ujarnya dalam hati sebelum ia terlelap.


...****************...


Celine keluar dari kamarnya sekitar pukul empat sore. Keadaan rumah masih sepi, sepertinya semua orang masih tertidur. Ia pun mandi sebelum ada antrian. Selesai mandi, Mama Ratna sudah ada di dapur.


"Mau masak buat makan malam, Ma?" tanyanya.


"Iya, " jawab Mama Ratna sambil tersenyum.


Celine pun membantu Mama Ratna menyiapkan makan malam.


James baru terbangun ketika waktu sudah magrib. Tidurnya pulas seperti orang mati dan tidak ada orang yang membangunkannya.


Ketika ia keluar, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka seperti sudah menyiapkan diri menikmati santap malam tanpa kehadirannya.

__ADS_1


"Sepertinya tidurmu nyenyak sekali, makanya tidak Mama bangunkan. Jadi sekarang kamu mau langsung ikut makan atau mandi dulu, Nak?" tanya Mamanya begitu melihatnya.


James nyengir. Sedikit malu karena tampangnya yang masih bau bantal dilihat Celine. Tetapi ia tidak mau ambil pusing, toh dulu pasti Celine juga pernah melihatnya seperti ini waktu mereka masih serumah.


"Langsung makan aja deh, Ma ..." jawab James.


Dengan sigap, Mama Ratna langsung mengambil sepiring nasi untuk James. Tanpa menunggu lama, mereka berdoa bersama dipimpin oleh Papa Heru. Setelah itu, dalam diam mereka menyantap hidangan yang tersedia.


Selesai makan, seperti biasa satu per satu personil meninggalkan meja makan dan duduk di ruang keluarga. Papa Heru menyalakan TV untuk menghilangkan suasana sepi di rumah itu.


Memang, semenjak pengakuan James kepada kedua orang tuanya saat itu (eps 97 - Kubersujud ), PKW belum pernah diadakan lagi. Waktu kebersamaan mereka paling hanya dihabiskan dengan menonton bersama seperti ini.


Suasana rumah masih belum pulih sepenuhnya. Walaupun masalah sepertinya sudah terselesaikan, tetapi sisa dampaknya masih mereka rasakan. Jiwa mereka masih letih untuk membahas kejadian yang baru saja terjadi. Ditambah dengan adanya Celine di tengah mereka, keengganan untuk membahasnya makin bertambah.


Sampai akhirnya waktu berlalu begitu saja. Acara TV pun mulai membosankan. Menyadari tidak ada seorang pun yang benar-benar menonton TV, Papa Heru pun mematikan TV dan mencoba membuka pembicaraan ringan.


"Celine besok ada rencana apa?" tanyanya.


"Belum ada rencana, Pa ..." jawab Celine.


"Hmm .... Kalau kamu, James?" Gantian James yang ditanya.


"Belum ada juga, Pa ..." jawab James.


"Apa ada ide, mungkin kita mau jalan-jalan ke mana atau mau melakukan apa?" Papa Heru bertanya sambil mengedarkan pandangan ke setiap orang di ruangan itu.


Tidak ada yang mengeluarkan ide. Jiwa mereka masih lelah. Belum ada semangat atau ketertarikan untuk melakukan sesuatu atau pergi ke suatu tempat.


"Ya sudah kalau belum ada. Kita pikirkan besok saja yah ...." Papa Heru memberi kesimpulan. Para pendengarnya pun manggut-manggut tanda setuju.


"Ada yang ingin menceritakan atau mengatakan sesuatu sebelum pertemuan ini ditutup?" tanya Papa Heru lagi.


Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang menjawab.


Papa Heru menghela napas menyadari situasi yang ada. "Baiklah. Kita akhiri saja pertemuan ini. Mari kita beristirahat, " katanya sambil bangkit dari tempat duduknya.


Mama Ratna dan Celine pun ikut bangkit berdiri. Celine langsung kembali ke kamarnya menunggu giliran pemakaian kamar mandi. Sedangkan Papa Heru dan Mama Ratna bergiliran bersih-bersih sebelum akhirnya mereka berdua bersama-sama memasuki kamar mereka.


James dari tadi hanya memperhatikan tingkah laku Celine. Ia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Namun sepertinya gadis itu tidak memberikannya kesempatan.


Celine yang menyadari kamar mandi sudah kosong, langsung masuk kamar mandi begitu ia keluar dari kamarnya. Demikian sebaliknya, setelah selesai bersih-bersih, ia kembali mengurung diri di kamar.


James menghela napas. Sepertinya ini tidak akan mudah. Ia pun melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebagai orang yang memiliki giliran terakhir. Setelah mandi, ia akan mencoba bicara dengan Celine.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2