
Tidak terasa waktu dua minggu hampir berlalu dari waktu di mana terjadi kesepakatan pemutusan perjodohan antara Darrell dan Rebecca. Sekarang sudah hari Rabu lagi. Seperti biasa, Darrell mengirimkan pesan tiap dua mingguannya. Namun kali ini bukan ditujukan pada Rebecca, melainkan Cecilia.
'Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Bolehkah menyediakan waktu untukku akhir pekan ini? Kalau boleh, aku akan membeli tiket pesawat dan mengunjungimu di butik hari Sabtu sorenya.' Demikian isi pesan yang dikirimkan.
Cecilia membaca pesan itu dengan tersipu dan hati yang berdebar. Rupanya Darrell serius ingin berhubungan dengannya, sekalipun ia belum memberi jawaban pada pria itu.
Walaupun ada sedikit kekhawatiran karena mungkin saja kedatangan Darrell untuk menagih jawaban atas penawarannya padahal ia belum memiliki keputusan yang pasti, Cecilia merasa Darrell dapat mengerti. Bukankah pria itu sendiri yang berkata akan menunggunya? Karena itu, tanpa pikir panjang Cecilia membalas pesan itu mengikuti kata hatinya. 'Boleh, ' tulisnya singkat.
Balasan Darrell datang. 'Baiklah kalau begitu. Tunggu kedatanganku yah, Fille qui bave ....' (arti: Gadis ileran)
'Iya, ' balas Cecilia sambil tersipu dan senyum-senyum sendiri. Bagaimanapun ia tak dapat menipu hatinya betapa ia mengharapkan tibanya akhir pekan.
...****************...
Di lain sisi pada hari Kamisnya, penyakit spontan Rebecca tiba-tiba kumat. Akibat berbagai kejadian menyangkut Darrell yang terjadi akhir-akhir ini, entah bagaimana ia jadi kangen untuk bertemu dengan Celine. Karena itu, ia pun menghubungi Priscillia.
'Pris .... Lagi sibuk ga?' tulisnya di sebuah pesan singkat.
Tidak sampai lima menit balasan Priscillia datang. 'Kaga. Kenapa? Mau telepon?'
Membaca balasan itu, tanpa ragu Rebecca langsung melakukan panggilan ke sahabatnya. Priscillia yang menjawab panggilan tersebut langsung tertawa. "Busettt .... Cepet banget langsung ganti channel ...."
"Ngapain juga lama-lama ..." balas Rebecca.
Priscillia tertawa mendengar jawaban khas Rebecca. Ia memang sudah terbiasa dengan sifat sahabatnya yang batas kesabarannya hanya setinggi pohon taoge.
"Jadi kenapa, Neng?" tanya Priscillia untuk mengetahui alasan temannya ini menghubunginya.
"Pris .... Hubungi pak James gih ..." rengek Rebecca.
"Lho .... Kok tiba-tiba?" Priscillia bingung dengan ketidakjelasan sikap Rebecca.
"Iya .... Aku tiba-tiba kangen Celine. Tanyain pak James, Pris .... Sabtu ini Celine ada datang ga?" jelas Rebecca.
"Kenapa ga tanya sendiri?"
"Kamu kan anak emasnya pak James dari zaman SMU!" tuduh Rebecca.
"Ey ... ey ... ey .... Gosip dari mana lagi itu? Jangan sembarangan ngomong yah, Mbak! Pak James memperlakukan semua muridnya sama rata, tau?!" protes Priscillia.
"Aish .... Kamunya aja yang ga peka, Pris! Dari SMU perlakuan Si James sama kamu tuh beda! Uda lulus aja, kamu masih ditemenin bikin tugas! Kalo ga tau ada Celine, aku pasti uda nyangkain dia naksir kamu!"
"Dari dulu kamunya aja yang mikir begitu! Kan uda jelas, kalo dari SMU aku yang lebih sering dipanggil karena aku dianggap ketua gembong huru-hara di sekolah! Masalah tugas, ranah bidang kami sekarang kan mirip! Jadi lebih nyambung kalo berdiskusi! Uda ah .... Jangan bahas ke sana lagi! Ga enak kalo kedengeran Celine! Takut bikin salah paham!" tegas Priscillia untuk menutup topik.
"Iya deh .... Tapi tetep kamu yang hubungin pak James yah?"
"Iya, iya!" jawab Priscillia yang gemas dengan sahabatnya yang satu ini. Ingin rasanya dia kuncir mulut Rebecca.
Setelah pembicaraan dengan Rebecca diakhiri, Priscillia langsung menghubungi James.
'Malam, Pak. Apa kabar?' tulisnya sebagai pembukaan di chat.
__ADS_1
Sekitar 10-15 menit, balasan James datang. 'Baik. Ada apa?' tanyanya.
'Sabtu ini Celine akan datang?' tanya Priscillia.
'Iya. Kenapa memangnya?'
'Ada yang kangen pengen ketemu. Jadi ... izin ganggu acara Bapak yah ... 😬 ' jawab Priscillia dengan emoticonnya.
'Ngg .... Gimana yah .... Maunya sih nolak. Tapi nanti ada yang tersinggung ...' goda James.
'Betul, Pak. Kalo Bapak nolak, Bapak aja tuh yang ngadepin Rebecca!'
'Ga mau ah .... Tatutttt ... 🏃♂️🏃♂️🏃♂️' balas James memasang emoticon orang lari.
Priscillia tertawa. 'Oke deh, Pak .... Kita ketemu Sabtu sore di rumah Bapak yah ...' katanya memberikan kesimpulan.
'Siap, Princess !' jawab James dan mengakhiri pembicaraan.
...****************...
Jumat malam, di mana Priscillia meyakini semua teman-temannya sudah cukup santai dan belum tidur, ia pun menghubungi mereka dengan Group Video Call. Setelah semua wajah terlihat, ia pun mengutarakan tujuannya menghubungi mereka.
"Selamat malam semua .... Aku mau laporan dan mau mengajak kita semua berkumpul bersama, " ujar Priscillia.
Rebecca yang mendengar kalimat pembuka Priscillia hanya senyum-senyum menahan rasa penasarannya. Ia tahu yang Priscillia maksud adalah laporan hasil pembicaraannya dengan pak James. Dan dari kalimat Priscillia berikutnya, kemungkinan besar ada persetujuan di sana. Buktinya ia mengajak mereka berkumpul, kan? Berarti maksudnya kemungkinan besar berkumpul dengan Celine toh?
Sebaliknya Cecilia dan Sharon hanya terbingung ria mendengar perkataan Priscillia yang menggantung.
"Laporan apa, Pris?" tanya Sharon.
"Jadi ceritanya kemarin ada yang kena sindrom Malarindu Tropikangen (noted: plesetan dari Malaria Tropika, yang merupakan salah satu jenis penyakit malaria) sama Celine. Makhluk ini pun minta aku hubungi pak James menanyakan apakah Celine akan datang Sabtu ini.
Karena jawaban pak James positif, dan ia setuju diganggu malam minggunya dengan keberadaan kita, bagaimana kalau besok sore kita berkunjung ke rumahnya pak James?" tanya Priscillia menutup penjelasannya.
"Aku sih oke-oke aja. Aku juga udah kangen sama Celine. Sudah lama juga yah, kita tidak jumpa ..." jawab Sharon.
Sedangkan Cecilia hanya bisa membatu mendengar ajakan itu. Wajahnya memucat. Waktunya bertabrakan dengan janji pertemuannya dengan Darrell.
"Kalau kamu, Cil? Bagaimana? Bisa?" tanya Rebecca yang sudah senyum-senyum karena keinginannya terkabul besok. Ia juga mencoba kembali bersikap seperti biasa kepada Cecilia, dengan memanfaatkan perasaannya yang sedang membaik saat ini. Bagaimanapun, ia merasa tidak nyaman terus-menerus bersitegang dengan salah satu sahabatnya itu.
Melihat Cecilia yang mematung dan memucat, Priscillia dan Sharon memiliki firasat buruk. Pasalnya dari laporan Sharon, Priscillia telah mengetahui bahwa Darrell sudah melakukan langkah pertamanya untuk mendekati Cecilia. Namun karena Cecilia belum memutuskan pilihannya, mereka memutuskan merahasiakan hal ini dari Rebecca demi menghindari ketegangan yang tidak diperlukan.
"Ma- maaf, Bec. Aku ga bisa ..." jawab Cecilia akhirnya.
"Kenapa ga bisa?" tanya Rebecca. Senyumnya hilang dan alisnya mulai bekernyit. Ia mulai curiga dengan alasan Cecilia.
"A- aku ... aku ... sudah ada janji dengan Darrell." Cecilia memutuskan untuk jujur.
Mendengar itu, raut wajah Rebecca berubah. Amarah jelas terlihat membayangi di sana. Priscillia dan Sharon tegang menantikan ucapan Rebecca selanjutnya.
"Oh .... Rupanya pria serigala itu sudah bergerak dan sahabatku lebih memilih dia daripada kami yang sudah lebih lama dikenalnya ..." ucap Rebecca dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Tidak! Bukan begitu! Aku belum menjawab apapun kok! Darrell hanya menanyakan kesediaanku untuk dikunjunginya dan aku mengizinkannya!" sanggah Cecilia.
"Kamu naif atau pura-pura bodoh? Penolakanmu atas ajakanku tadi sudah menunjukkan pilihanmu!" Nada Rebecca mulai meninggi.
"Bec ..." tegur Priscillia yang membuat Rebecca terdiam. Ia teringat akan janjinya pada Priscillia dalam pembicaraan mereka sebelumnya.
"Aku off duluan." Detik berikutnya, Rebecca keluar dari Group Video Call.
Melihat itu, Priscillia ikut pamit. "Aku akan menghubungi Rebecca. Kalian lanjut aja yah .... Shar ... titip Cecil ..." kata Priscillia pada teman-temannya, lalu keluar dari grup.
Tinggallah Sharon dan Cecilia yang ada di layar. Suasana murung melanda mereka.
"A- aku ... salah yah?" tanya Cecilia dengan nada sedih dan bingung.
Sharon memaksakan diri tersenyum untuk menenangkan sahabatnya. "Tidak. Tidak ada yang salah di sini. Ini hakmu. Ini hidupmu. Ini pilihanmu. Beri kami waktu untuk mengerti pilihanmu yah, Cil ...."
Karena Cecilia tetap terdiam, Sharon melanjutkan kalimatnya. "Hanya saja ... aku izin untuk tetap menemani Rebecca bertemu Celine yah, Cil .... Lagian ... ga mungkin kan aku mengganggu pertemuan pribadimu dengan Darrell."
Cecilia memaksakan diri tersenyum. "Ya .... Aku mengerti." Dan tak lama kemudian pembicaraan di grup itu berakhir sepenuhnya.
Di sisi lain setelah keluar dari grup, Priscillia buru-buru menelepon Rebecca. Untunglah gadis itu masih mau menjawab panggilan telepon tersebut dan tidak ikut menghindarinya.
"Aku kesal! Aku kesal! Aku kesal! Alasan macam apa itu?! Dikiranya kita bodoh apa?! Bilangnya aja belum memutuskan, trus pilihannya bersama Darrell itu artinya apa?!" Rebecca langsung mengeluarkan uneg-unegnya. Priscillia hanya diam mendengarkan sampai Rebecca puas memuntahkan semua kekesalannya.
Setelah gadis itu terdiam, baru Priscillia mengajaknya bicara. "Bec ..." panggilnya lembut.
"Apa?!" jawab Rebecca masih dengan nada sewot.
"Makasih yah ... kamu sudah memegang janjimu. Kamu hebat, bisa menahannya di depan Cecilia, " puji Priscillia tulus.
"Mau bagaimana lagi? Kan aku memang sudah berjanji untuk berusaha seperti itu, " jawab Rebecca. Nada suaranya menunjukkan amarahnya menurun.
"Iya .... Makanya kan kupuji. Boleh dong memuji sahabatku yang menepati janji ..." goda Priscillia.
"Apaan sih, Pris?!" Walaupun kalimat itu diucapkan Rebecca dengan nada protes, tetapi dalam hatinya ia senang dipuji Priscillia seperti itu.
"Bec ..." panggil Priscillia lagi.
"Apa?!" jawab Rebecca pura-pura ketus.
"Kasih waktu Cecilia dengan pilihannya yah .... Aku mengerti kalau kamu kecewa ataupun merasa dikhianati. Tetapi mungkin Cecilia tidak bermaksud seperti itu. Pola pikirnya hanya berbeda dengan kita. Kita belajar menghargai pilihannya yah ..." bujuk Priscillia.
Rebecca terdiam. Namun beberapa detik kemudian, dengan suara pelan nyaris bergumam ia berkata, "Iya .... Akan kucoba ...."
Priscillia tersenyum. "Ya sudah .... Kalau begitu ... bagaimana kalau kamu membantuku memikirkan buah tangan apa yang akan kita bawa saat kunjungan ke tempat pak James nanti?" tanya Priscillia mencoba mengalihkan topik.
"Bagaimana kalau kita juga ajak Sharon berdiskusi? Tadi dia kan bilang mau ikut juga. Jangan sampai dia merasa tersisihkan karena kita sudah memikirkannya duluan tanpa melibatkannya, " ujar Rebecca dengan nada masih setengah menggumam.
Senyum Priscillia makin melebar. Sisi Rebecca ini yang sangat ia suka dari gadis itu. "Ide yang bagus. Ayo kita hubungi Sharon ..." ajak Priscillia.
Ketiga gadis itu pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka untuk mempersiapkan kunjungan mereka ke tempat mantan guru mereka. Sekali lagi, Cecilia harus terpisah dari Geng Princess. Tetapi kali ini dengan suasana yang berbeda.
__ADS_1
Waktu itu, Cecilia masih dapat seru-seruan bersama teman-temannya walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh karena kuliahnya di Prancis. Ibarat kata, walaupun jarak mereka jauh, hati mereka tetap dekat. Namun yang sekarang terjadi seperti kebalikannya. Mereka memang ada di kota yang sama, namun perasaan mereka terpecah seperti layaknya persahabatan yang terluka.
...****************...