
Malam ini, pukul 18.30, seluruh anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama. Mereka menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka dalam diam. Hanya beberapa kali terdengar suara Mama Ratna yang mengajak Celine makan atau menawarkan sayur dan lauk pada anggota keluarga yang lain.
Sekitar 10-15 menit kemudian, satu-satu anggota keluarga mulai meninggalkan meja makan dan duduk di ruang keluarga. Sudah menjadi peraturan tak tertulis yang dibiasakan Papa Heru dan Mama Ratna, bahwa setiap habis makan malam seluruh anggota keluarga harus berkumpul di ruang keluarga, kecuali jika ada yang berhalangan karena ada hal/tugas lain yang harus lebih diprioritaskan.
Waktu bersama itu biasanya digunakan untuk sekedar ngobrol atau sharing pengalaman/kejadian yang dialami hari ini. Jika tidak ada topik yang dibahas, mereka akan menonton televisi bersama, seperti yang dilakukan malam ini. Tidak terkecuali Celine, yang juga diajak Mama Ratna untuk duduk menghadap TV di sofa ruang keluarga.
Waktu berlalu terasa lambat, James tidak benar-benar memperhatikan tayangan televisi di hadapannya. Ia tegang kapan persidangan akan dimulai.
Ia melirik Papa Heru, mencoba membaca ekspresinya untuk menebak apa yang dipikirkannya. Tapi ia tidak bisa membaca apapun karena Papa Heru nampak fokus melihat tayangan di depannya.
Kali ini ia beralih melirik Alex. Memang sudah bisa dipastikan Mama Ratna berhasil membujuk anak sulungnya berbagi kamar, terbukti dengan beberapa barang pribadi James sudah pindah tempat ke sana. Tapi James tahu, masalah belum benar-benar selesai, jika belum mendapat izin resmi dari Yang Empunya kamar.
Malang baginya karena lirikannya tertangkap basah oleh Alex. Alex lalu memelototinya dan bibirnya mengucapkan sesuatu tanpa bersuara, "SIAP-SIAP KAU", kira-kira begitu yang ditangkap James. James lalu buru-buru mengalihkan pandangannya kembali menghadap TV.
Dalam beberapa waktu ke depan, semua hening seolah asyik menonton. Padahal hampir semua orang di ruangan itu menantikan Papa Heru memulai pembicaraan, karena tidak ada seorang pun yang berani mendahului.
Sampai sekitar pukul delapan lewat, Mama Ratna melihat mata Celine sayu dan kepalanya mulai terangguk-angguk. Mungkin Celine masih merasakan efek kurang tidur akibat bermalam di kereta semalam. Mama Ratna dengan sigap langsung menggandeng Celine, mengajaknya ke kamar mandi untuk menyikat giginya, dan menuntunnya ke kamarnya.
Tidak lama kemudian, Mama Ratna keluar dari kamar sendirian, dan kembali duduk bersama mereka di ruang keluarga.
"Celine sudah tidur, Ma?" tanya James.
"Sudah, " jawab Mama Ratna pendek.
"Kalau begitu, ayo kita mulai !" kata Papa Heru tiba-tiba, sambil mematikan TV dengan remote. Dan tanpa dikomando, kursi dan sofa yang tadinya menghadap ke TV, secara otomatis berubah posisi membentuk lingkaran yang mengelilingi meja kaca. Sidang pun siap dimulai.
"Tidak enak bicara di depan orangnya, sekalipun keadaannya demikian, " kata Papa Heru mengarah ke Celine. Sedikit-banyak Papa Heru bisa menebak kondisi Celine dari perlakuan James dan Mama Ratna kepadanya.
"Jadi, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai tiba-tiba kamu bisa membawa pulang anak orang, " kata Papa Heru lagi memulai sidang.
Dengan gugup, James mulai menceritakan satu persatu kejadian tanpa ada yang ia sembunyikan. Dari perjumpaan dengan Dion, peristiwa kecelakaan, pesan terakhir, sampai perdebatannya dengan Tuan Besar Adipratama.
Selesai ia bercerita, suasana di ruangan itu hening sejenak. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak tahu bagaimana harus merespons cerita yang baru saja mereka dengar. Mereka butuh waktu untuk mencernanya, karena ceritanya cukup mengejutkan.
__ADS_1
Alex lah orang pertama yang membuka suara untuk berkomentar, " Gua kira adik gua anak yang pendiam dan cuek. Ternyata ada gila-gilanya juga. Ckckck .... Gua ga nyangka ...."
James hanya diam mendengar komentar tersebut. Dia sudah tahu tindakannya bisa dikategorikan agak gila dan nekat. Tapi, bola sudah dilempar dan ia enggan menjilat ludahnya sendiri.
Yang butuh ia ketahui sekarang adalah tanggapan dari kedua orang tuanya. Karena bagaimanapun ia sadar, ia tidak mungkin menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa dukungan dari mereka.
Beberapa lama kemudian, gantian Mama Ratna yang bersuara, "Ya sudah .... Mau gimana lagi? Walaupun usulan James tergolong ngawur dan kurang ajar, tapi papanya sendiri yang akhirnya menyerahkan anaknya untuk dibawa. Jadi, kalau Mama, Mama akan mendukung keputusan James. Mama juga tertantang untuk membuktikan kepada orang tua itu, bagaimana cara mendidik dan merawat anak yang benar."
Mama Ratna sungguh prihatin dengan keadaan yang menimpa Celine. Jiwa pendidiknya sudah meronta-ronta sepanjang mendengar cerita James tadi.
Mendengar tanggapan mamanya, James sedikit merasa lega. Memang ia sedikit-banyak sudah bisa menduga dari perlakuan mamanya ke Celine sepanjang hari ini. Tetapi mendengar pembelaan langsung dari mamanya seperti ini, sungguh memperingan hatinya.
James masih menunggu tanggapan dari papanya. Papa Heru dari tadi masih diam saja dengan tatapan tajam memandang James.
Sampai akhirnya Papa Heru membuka suaranya dan menekankan kata demi kata dengan perlahan, "Tadi kamu bilang, kamu mengatakan usul itu karena terbawa emosi. Sekarang coba tenang dan pikirkan baik-baik! Jika waktu bisa berulang, bagaimana kamu meresponi kejadian tersebut ?"
Pertanyaan itu sungguh tidak disangka James. Tetapi ia mencoba mengikuti saran papanya. Berpikir tenang .... Berpikir panjang .... Ia tahu ia tidak boleh salah menjawab, karena jawabannya ini lah yang akan diminta pertanggungjawaban oleh papanya.
Setelah berpikir cukup lama, James menatap papanya dengan yakin, "James ga menyesal, Pa. Jika waktu bisa diulang, James yakin akan mengatakan hal yang sama."
James lalu menceritakan hal-hal yang ia lakukan tadi pagi, bagaimana ia mencoba mengurai masalah Celine dan mencari akar masalahnya, baik lewat google maupun wawancaranya dengan Mbok Yani.
"Jadi James menyimpulkan, kita coba melakukan psikoterapi dulu, yaitu dengan cara meningkatkan kepercayaan diri Celine bahwa keberadaannya diterima. Kita juga harus meyakinkan Celine bahwa ia juga mempunyai orang lain/keluarga tempatnya bergantung, selain kakaknya yang sudah meninggal.
James merasa di situ lah akar permasalahan piskologis Celine. Dirinya merasa tertolak sejak kecil, sehingga menimbulkan rasa rendah diri yang berlebihan. Ditambah dengan kematian dari Dion, satu-satunya keluarga yang mencintainya dan tempatnya bergantung, hal itu memutus harapan satu-satunya dalam hidupnya.
Di sini James membutuhkan kerjasama dari Papa, Mama, dan Abang, karena James ga mungkin ngelakuinnya sendiri." James mengakhiri analisisnya.
"Jika metodemu tidak berhasil ?"
"James akan meminta izin dari Tuan Adipratama untuk membawanya ke Dokter Spesialis Jiwa, karena memang kondisi Celine sebenarnya sudah membutuhkan penanganan level spesialistik. Tapi mungkin kita akan membawanya dengan mengaku Celine sebagai keluarga kita, jadi tidak membawa-bawa nama keluarga Adipratama, " jawab James lugas.
"Kamu tidak merasa tindakanmu berarti mengakui kekalahanmu, karena bagaimanapun akhirnya kamu yang pertama kali menghubungi Tuan Adipratama lagi?" selidik Papa Heru.
__ADS_1
"Tidak. James menghubunginya toh bukan untuk minta bantuannya. Justru James merasa bangga, karena James yang memberinya solusi dengan menolong putrinya, tanpa perlu mencoreng nama keluarganya, suatu hal yang tidak bisa dilakukannya!" jawab James tegas.
Semua anggota keluarga terdiam dengan pemaparan James. Sampai akhirnya, Papa Heru memecah keheningan dan berkata, "Kalau kamu sudah siap bertanggung jawab dan sudah memikirkan sampai sejauh itu, Papa akan mendukungmu. Sudah, sekarang, ayo kita tidur! Besok masih harus bangun pagi."
Setelah berkata demikian, Papa Heru bangkit dari tempat duduknya, mengelus kepala anak bungsunya, lalu meninggalkan ruangan dan masuk ke kamarnya. Mama Ratna ikut berjalan di belakang mengekori Papa Heru, sambil diam-diam mengedipkan mata dan mengacungkan jempol pada James.
Melihat itu, James tersenyum pada mamanya dan menghembuskan napas lega. Sidang telah usai dan ia mendapatkan dukungan dari keluarganya. Semua beban seperti terangkat dari pundaknya. Sepertinya demikian. Tetapi ... sepertinya ... tidak semuanya. James nyengir kecut ketika menyadari Alex masih ada di sampingnya menatapnya sinis.
"Urusan lo emang uda kelar ama Papa-Mama. Tapi sama gua belom! Sini lo !" ajak Alex agar mereka melanjutkan sidang kedua di kamar.
James hanya bisa mengikuti Alex dengan langkah gontai. Ia harus pasrah mengikuti aturan abangnya, karena bagaimanapun ini keputusannya sendiri untuk menyerahkan kamarnya pada Celine dan berakhir menjadi penumpang di kamar abangnya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitu kan bunyi peribahasanya?
...****************...
Di kamar, Mama Ratna masih penasaran dengan sikap Papa Heru di sidang barusan. Ia pun mencoba membahasnya.
"Pa, tadi Papa lama sekali berdiam diri sebelum akhirnya bicara sama James. Sebenarnya, apa sih yang Papa pikirkan?" tanyanya.
"Mama ga sadar kalo James berubah?" Papa Heru balik bertanya.
"Sadar sih. Mama ga nyangka kalo James bisa berpikir dan menganalisis seperti itu. Uda kaya konselor sungguhan kan, Pa?" jawab Mama Ratna.
"Bukan hanya itu, Ma .... Mama sadar ga, kalo ini pertama kalinya James memutuskan sesuatu dan berjuang penuh terhadap keputusannya itu? Untuk masa depannya sendiri aja, ga ia pikirkan sampai segininya, Ma .... Ingat ?" jelas Papa Heru.
Mama Ratna terdiam. Masih jelas di ingatannya bagaimana mereka harus menggelar persidangan hanya untuk memastikan rencana hari depan anak bungsunya, karena James yang waktu itu baru lulus SMU kelewat santai dan tidak terlihat memiliki persiapan apapun.
Ia juga tahu benar kalau selama ini dalam hal memutuskan sesuatu, James lebih cenderung ikut suara terbanyak dan cari aman, daripada harus mengambil risiko memperjuangkan keputusannya sendiri.
"Melihat tekad James yang seperti itu, dan bagaimana ia sudah mempersiapkan rencananya sampai sedemikian detailnya, Papa cuma bisa mendukungnya, kan?" tambah Papa Heru.
"Iya, Pa .... Kita cuma bisa mendukungnya. Semoga peristiwa ini juga membawa pengaruh yang baik untuk James yah ..." kata Mama Ratna lagi.
"Iya. Kita doakan saja, Ma ..." jawab Papa Heru menutup pembicaraan.
__ADS_1
...****************...