
Hari ini, James mendapat panggilan wawancara di sebuah SMU swasta elite khusus putri, salah satu sekolah yang ia kirimkan surat lamaran pekerjaannya. Wawancara dimulai pada pk. 14.00, menunggu kegiatan belajar mengajar di sekolah usai.
Pada saat James tiba, bel tanda usai sekolah baru saja berbunyi. Jadi suasana sekolah masih cukup hiruk-pikuk. Terlihat gadis-gadis seumuran Celine sedang bersenda gurau dengan temannya, sambil menunggu jemputan di parkiran. Melihat itu, James tersenyum. Mungkin kalau Celine bisa menikmati bangku sekolah, Celine pun akan seperti ini, pikirnya.
Tidaklah mengherankan jika sekolah ini menyandang kata "elite". Parkirannya saja luas sekali. Di kiri dan kanan jalan utama banyak berdiri pohon rindang yang membuat suasana asri. Dari tadi James memperhatikan bahwa hampir semua siswi di sini dijemput dengan mobil, dan kebanyakan di antaranya termasuk mobil mewah dengan sopir pribadi.
Begitu James masuk lebih dekat, tampak gedung-gedung tinggi dan megah dengan desain modern berdiri di depannya. James mendekati security penjaga gerbang sekolah untuk menanyakan ruang kepala sekolah. Setelah mengetahui keperluan James, security itu pun menunjukkan arahnya.
Untuk menuju ruang kepala sekolah saja, James harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Beberapa lapangan olahraga seperti tenis, basket, dan kolam renang dapat terlihat di jalan yang dilewati James. Belum lagi beberapa lorong dan tangga yang sempat membuat James tersesat dan akhirnya ia harus bertanya pada salah seorang siswi.
Siswi itu menunjukkan arah pada James sambil senyum-senyum penuh arti. Lalu ia segera pergi sambil cekikikan dengan temannya. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat James jengah. Ia seperti binatang yang berada di kandang yang salah. James baru sadar kalau ternyata dari tadi banyak siswi-siswi yang meliriknya sambil bisik-bisik dengan temannya.
Tapi James mencoba untuk cuek. Mungkin memang inilah suasana di sekolah putri ketika melihat mahluk yang berbeda jenis dengan mereka. Ia pun melanjutkan langkahnya, sampai ia menemukan ruang kepala sekolah yang ia cari.
Kepala sekolah SMU ini adalah seorang wanita yang agak tua dengan wibawa yang terpancar jelas. Ia menyambut James dengan ramah. Pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah alasan James melayangkan surat lamaran kerjanya ke sekolah ini. James menjawab dengan jujur dan apa adanya. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya ingin segera bekerja dan karenanya ia tidak terlalu memilih-milih sekolah tempatnya bekerja. Ia tahu kalau mencari pekerjaan itu tidak mudah.
Mendengar jawaban James, Sang Kepala Sekolah tersenyum dengan bijak. Lalu ia melanjutkan wawancaranya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup umum, seperti pengalaman kerjanya dan alasannya memilih jurusan Bimbingan dan Konseling.
Wawancara berlangsung dengan kondusif. James menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lancar tanpa tekanan. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh sikap Sang Kepala Sekolah yang membuat suasana wawancara santai dan menyenangkan.
Setelah kurang lebih satu jam, James dipersilakan pulang. Wawancara sudah selesai dan James akan dihubungi lagi untuk pemberitahuan lebih lanjut.
...****************...
Sebelum pukul empat sore, James sudah tiba di rumah. Celine masih berada di kamarnya dan Mama Ratna sedang menonton TV. Papa Heru dan Alex belum pulang dari tempat kerjanya.
Begitu melihat James, Mama Ratna langsung mendekati James dan menanyakan perihal wawancara. James menceritakan kejadian yang tadi dialaminya di sekolah sambil menikmati secangkir teh hangat.
__ADS_1
Di tengah-tengah pembicaraan, Celine keluar dari kamar, lalu pergi mandi. Selesai mandi, ia pun ikut bergabung dengan Mama Ratna dan James.
Sedang asyiknya mengobrol, tiba-tiba ada sebuah mobil putih parkir di depan rumah.
"Siapa tuh? " tanya Mama Ratna. James dan Celine menggeleng tanda tak tahu, lalu ikut melongok keluar.
Tak lama kemudian, tampak Alex turun dari mobil bersama dengan seorang wanita. Wanita itu! Wanita yang dilihat James bersama dengan Alex di mal!
Deg ! Jantung James mulai berdegup cepat. Kali ini ia tidak bisa lagi menghindar! Sudah pasti Mama Ratna dan Celine juga melihat pemandangan yang sama yang dilihatnya! Dengan khawatir dan cemas, ia memperhatikan raut muka Celine dengan seksama, sambil berusaha mengatur perasaannya sendiri untuk terlihat tenang.
Alex dan wanita itu memasuki rumah. Mama Ratna, James dan Celine sudah berdiri di teras.
Begitu melihat mereka bertiga sudah berdiri seperti siap menyambut mereka, Alex berkata, "Tumben, semuanya pada ngumpul di teras. Oh ya, kenalkan Ma, James, Lin, ini Sherly" sambil menunjuk ke wanita itu.
Si wanita melirik Alex seperti masih menunggu kata-kata selanjutnya. Alex yang sadar sedang ditunggu jadi salah tingkah, lalu melanjutkan kata-katanya, "Pacar Alex. "
"Salam kenal." Wanita yang bernama Sherly itu tersenyum mengucapkan salam.
"Salam kenal juga. Ayo, mampir dulu. " Mama Ratna mempersilakan Sherly masuk.
Mereka pun masuk dipimpin Mama Ratna. Lalu duduk di kursi ruang tamu. Mama Ratna meminta tolong Celine untuk menyiapkan minuman. Celine lalu beranjak ke dapur.
James hanya dapat mengikuti Celine dengan matanya. Sesungguhnya ia ingin ikut menyusul Celine ke dapur untuk memastikan perasaan Celine. Tapi keinginan itu ditekannya. Ia tidak ingin tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu. Lebih baik lihat situasi dulu, pikirnya.
"Jadi, tadi pas mau pulang dari kantor, mobil Alex mogok, Ma.. Setelah menghubungi dealer mobil tempat membeli mobil perusahaan, mobil dinas Alex dibawa ke bengkel. Nah, Sherly yang tau mobil Alex mogok, menawari tumpangan mengantarkan Alex pulang, sekalian mau kenalan dengan orang rumah" jelas Alex panjang lebar.
"Oh ya, Sher.. Sorry lupa kenalin balik. Ini Mamaku" kata Alex sambil menunjuk Mama Ratna.
__ADS_1
"Ini James, adikku. " James yang disebutkan namanya, menganggukan kepala.
"Dan yang tadi ke dapur itu Celine.. adik sepupuku" kata Alex melanjutkan perkenalannya.
"Jadi, bagaimana kalian kenal dan sejak kapan kalian jadian? Alex ga ada cerita apa-apa ke Mama sih.. " tanya Mama Ratna.
"Kami teman sekantor, Tante" jawab Sherly pendek sambil melirik Alex yang cuma nyengir-nyengir.
"Kami jadian.. ngg.. adalah hampir 4 bulan. Bukan Alex ga mau cerita, Ma.. Tapi tunggu mantap dululah. Jangan baru cerita, tau-tau putus" sambung Alex.
Saat itu, Celine kembali dari dapur, lalu menyajikan minuman untuk tamu. Setelah itu, ia duduk di samping James.
"Ayo, diminum dulu.. Maaf yah.. Celine anaknya pemalu" kata Mama Ratna.
"Oh, Gapapa, Tante" jawab Sherly.
"Jadi sekarang kalian sudah mantap? " tanya Mama Ratna lagi.
"Ya.. lumayanlah, Ma. Karena dari awal, Alex uda bilang, pacaran itu sebagai persiapan nikah. Bukan main-main. Dan Sherly juga uda tau itu" jawab Alex sambil melihat Sherly.
Obrolan itu masih terus berlangsung kira-kira 15-20 menit. Setelah itu, Sherly pamit pulang.
Sepanjang pembicaraan, James diam-diam terus memperhatikan Celine. Selama itu, Celine banyak diam dan agak menundukkan kepala. Tidak ada yang terlalu menganggapnya aneh, karena memang itu yang biasa terjadi jika Celine bertemu orang yang baru dikenalnya.
Setelah itu pun, Celine masih melanjutkan pelajarannya dengan Alex sesuai dengan jadwal yang dibuat James. Semua kegiatannya berlangsung seperti biasa.
Karena itu, James memilih diam. Ia akan memperhatikan kondisi Celine lebih lanjut. Semoga Celine baik-baik saja. Syukurlah sampai sejauh ini, tidak ada perubahan yang mencolok dari sikap Celine. Apa jangan-jangan memang dugaan Alex yang benar, bahwa Celine tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya?
__ADS_1
Jika itu yang terjadi, itu jauh lebih baik. Tapi tetap saja masih ada keresahan di dalam dirinya. Hati kecilnya masih merasa dugaannya benar.
...****************...