Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Mimpi dan Ambisi (1)


__ADS_3

Andreas Adipratama, putra kedua dari pemimpin keluarga Adipratama sebelumnya, Bramantara Adipratama. Sejak kecil dididik hanya untuk menjadi pendukung Sang Kakak, yang dipilih sebagai ahli waris perusahaan keluarga.


Segala kehidupannya sudah diatur oleh Sang Ayah, dari pendidikan sampai pasangan hidup. Ia menikah dengan Rosita hanya demi kemajuan perusahaan mereka, di mana akan ada perjanjian dagang antara kedua pemilik perusahaan tersebut. Hal itu ia anggap wajar, karena semua saudaranya juga bernasib demikian.


Sampai akhirnya kakaknya dikaruniai seorang anak laki-laki. Cucu pertama calon pewaris berikutnya sudah muncul. Tentu saja kabar itu disambut oleh ayah dan kakaknya. Sebenarnya ia juga ingin ikut serta merayakan kebahagiaan itu dengan tulus. Namun dasar hati rupanya tidak bisa ia bohongi. Dirinya kembali merasa tertinggal, karena dalam pernikahannya ia tidak dikaruniai seorang anak.


Sesungguhnya ia dan istrinya sudah memeriksakan diri ke dokter. Tidak ada yang salah pada diri masing-masing. Dokter mengatakan bahwa penyebabnya bisa jadi karena faktor stres, sehingga kerja hormon reproduksi terganggu.


Ia memang merasa istrinya tidak bahagia karena terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini. Begitu pula dirinya. Hubungan mereka datar. Tidak ada sapaan manis atau belaian kasih yang membumbui pernikahan mereka. Semuanya berjalan hanya karena harus berjalan. Hubungan suami istri pun hanya didasari kebutuhan dan kewajiban.


Ia pernah mencoba memaksakan diri untuk mencoba mencintai wanita itu, namun sulit. Baik fisik maupun kepribadian Rosita, tidak ada yang membuatnya tertarik. Wajahnya biasa saja dan sikapnya cenderung datar. Rosita tidak pernah tersenyum manis atau bersikap manja padanya. Ia tidak pernah tahu apa yang wanita itu pikirkan. Alasan demi alasan bermunculan, yang membuat dirinya tidak bersemangat mendekati istrinya tersebut.


Rosita sendiri juga terlihat acuh tak acuh dengan pernikahan mereka. Tidak terlihat usahanya untuk berjuang lebih demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang suaminya.


Ia bahkan menolak untuk ikut program hamil. Ia berkata ikut program tersebut malah akan menambah tingkat stresnya. Ia memilih mengurangi stres dengan menghabiskan uang di kumpulan sosialitanya ataupun berbelanja.


Jalan keluar yang diusung istrinya itu makin membuat Andreas kecewa. Harga dirinya terluka. Ia merasa bahwa istrinya lebih membutuhkan uangnya daripada menghabiskan waktu dengan dirinya. Ia memang sudah pernah menduga hal itu sebelumnya. Namun kejadian kali ini memperkuat dugaannya itu.


Ketika ia harus pergi ke Paris untuk suatu keperluan bisnis, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita itu bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran kecil.


Dari sebuah tegur sapa iseng-iseng berhadiah, intensitas pertemuan mereka pun bertambah selama Andreas ada di kota mode itu. Rupanya sinyal ketertarikan yang dikirim Andreas, mendapat balasan dari Si Wanita. Dan tak ayal lagi, cinta pun menyapa keduanya.


Dalam perkenalan mereka, Andreas tidak mau mengakui statusnya sebagai pria beristri. Ia takut wanita itu akan meninggalkannya. Tetapi ketika Sang Kekasih mulai menanyakan kepastian arah hubungan mereka, ia tidak bisa membohongi hati nuraninya. Perasaan bersalah menderanya. Akhirnya ia pun mengakui statusnya tersebut.


Dugaannya terbukti. Wanita itu meninggalkannya dan memilih berpisah. Wanita itu bahkan berkata kepadanya agar ia tidak lagi menemuinya di tempat kerjanya. Alasannya karena ia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang.


Awalnya Andreas merasa bisa menerima keputusan Sang Wanita. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu adalah hubungan cinta sesaat. Mungkin jiwanya haus karena tidak mendapat kasih sayang dari Sang Istri dan membutuhkan pelarian. Apalagi urusan bisnis di Paris tidak termasuk agenda penting perusahaan yang membutuhkan pemantauan ketat.

__ADS_1


Maka jadilah seperti yang diputuskan. Bersamaan dengan kembalinya Andreas ke tanah air, ia pun bertekad untuk melupakan wanita itu dan kembali ke ritme hidupnya yang semula.


Namun rencana tinggallah rencana. Semakin ia berhadapan dengan sikap istrinya, semakin ia teringat dengan wanita Paris mantan kekasihnya. Kenangan itu terlalu manis untuk ia lupakan, meskipun hanya dibentuk dalam rentang waktu yang sangat singkat. Bagaimanapun suka tidak suka harus ia akui, inilah pertama kalinya ia merasakan indahnya mencintai dan dicintai.


Setelah tiga tahun berjuang untuk menjaga ketetapan hatinya, akhirnya Andreas memilih menyerah. Terserahlah bagaimana Sang Mantan Kekasih akan mencapnya sebagai pria br*ngs*k atau apa, ia berniat kembali menemuinya.


Ia sedikit terkejut melihat perubahan pada wanita yang sudah lama tidak dijumpainya itu. Tubuhnya terlihat lebih kurus dan mukanya tidak bersinar seperti yang di ingatannya ketika mereka terakhir kali bertemu. Namun hal itu pun tidak dapat menutupi pesona yang dipancarkan Sang Wanita.


Entah apa yang terjadi dengannya, Andreas tidak tahu. Namun Andreas sudah berketetapan untuk tidak melepaskannya begitu saja, seperti keputusannya dahulu.


Sang Wanita yang masih bekerja di restoran yang sama, terkejut ketika melihat Andreas kembali menemuinya. Tetapi hanya sampai di situ saja, karena ia tidak menyambut hangat kedatangan pria itu. Wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa terganggu. Ia melayani Andreas hanya karena kewajibannya sebagai pelayan restoran yang tidak punya hak untuk mengusir tamu yang masih bersikap dalam batas kewajaran.


Tentu saja Andreas memanfaatkan peraturan tak tertulis tersebut. Setiap hari Andreas mendatangi wanita itu dan mencari cara untuk menarik perhatiannya. Jika dalam kesempatan kali ini tidak berhasil, maka Andreas akan mengulangi perjuangannya di kesempatan berikutnya ketika ia kembali mengunjungi kota itu.


Begitu seterusnya sampai akhirnya wanita itu luluh di perjuangan tahun keduanya. Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi, wanita itu membawa Andreas ke rumahnya dan memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari bocah laki-laki berumur lima tahun yang ditemuinya di sana.


Namun akhirnya pertahanannya luluh melihat Andreas yang kembali dan tak kenal lelah memperjuangkan cintanya. Ditambah dengan Sang Anak yang mulai menanyakan perihal ayahnya. Ia sadar, anak tercintanya membutuhkan kehadiran dan figur seorang ayah. Rahasia lima tahun yang selama ini dijaganya kini ia bongkar.


Andreas langsung jatuh hati begitu melihat Darrell. Naluri kebapakannya langsung muncul. Di dalam keterkejutannya, ia menyadari kalau dirinya begitu berbahagia ketika ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang putra. Tanpa ragu, ia langsung memeluk bocah yang masih menatapnya dengan canggung itu.


Demikianlah akhirnya Andreas mulai menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah. Setiap enam bulan atau paling lambat setahun sekali, ia pasti akan kembali ke Paris untuk mengunjungi keluarga kecilnya. Ia juga mengirimkan uang secara rutin untuk membiayai hidup mereka.


Hanya satu hal yang menjadi penyesalannya. Ia tidak berani menceraikan istri sahnya dan membawa keluarga kecilnya ke hadapan Sang Ayah. Ia tahu Sang Ayah tidak akan bisa menerima wanita yang dicintainya itu. Untunglah ibu Darrell mengerti. Wanita itu mengikhlaskan dirinya hanya menjadi sebatas selingkuhan demi kebahagiaan putranya.


Selama dua tahun Andreas menikmati kebahagiaan bersama keluarga Parisnya. Namun hidup memang tidak bisa ditebak. Di kunjungan berikutnya, ia mendapati kenyataan pahit bahwa wanita yang ia cintai sudah tidak ada di dunia. Bahkan faktanya Sang Kekasih Hati sudah pergi dari dua bulan yang lalu. Yang ia temui dalam kunjungan kali ini hanya nisan yang dingin.


Rupanya wanita itu merahasiakan penyakitnya selama ini. Ia juga melarang keluarganya memberitahukan keadaan itu pada Andreas karena tidak ingin membuatnya khawatir. Ia sudah melakukan pengobatan, namun rupanya hal itu tidak menolong. Maut pun akhirnya datang menjemput.

__ADS_1


Peristiwa itu mendatangkan babak baru. Nenek Darrell menyerahkan perawatan Darrell padanya. Andreas juga sadar, tidak mungkin ia mengandalkan wanita tua dan sakit-sakitan itu untuk mengurus cucunya. Dengan membulatkan tekad, ia memberanikan diri untuk membawa Darrell pulang ke Indonesia dan menemui keluarga besarnya.


Kepulangannya bersama Darrell membawa kehebohan di keluarga Adipratama. Memang tidak ada yang dapat menentang keputusannya secara langsung, karena faktanya Andreas selama ini tidak memiliki keturunan untuk mewarisi hasil kerja kerasnya selama ini. Tuan Bramantara Adipratama juga terpaksa menerima Darrell karena ia membutuhkan cucu laki-laki Adipratama lain yang harus mendampingi Dion menjadi pewaris kelak.


Namun sebuah penerimaan yang dipaksakan, tentu tidak akan berakhir mulus. Hubungan Andreas dan Rosita makin mendingin kalau tidak bisa dibilang membeku.


Andreas tidak memaksa Rosita untuk menerima Darrell dan menganggapnya seperti anak sendiri. Ia hanya meminta Rosita untuk tidak menyakiti anak itu dan tetap memperhatikan kebutuhan pokok anaknya ketika ia tidak ada di rumah. Andreas sadar, bagaimanapun ia membutuhkan bantuan tangan orang lain untuk menjaga dan membesarkan Darrell.


Hubungan mereka sudah seperti perjanjian bisnis. Rosita bebas menggunakan uangnya untuk berfoya-foya dan memperlengkapi keperluan sosialitanya. Selama ia masih sehat dan masih sanggup bekerja, ia akan mengusahakan membiayai keperluan istrinya itu.


Andreas juga menyadari sikap ayahnya yang terang-terangan membedakan Dion dan Darrell. Kedua bocah itu kerap dibanding-bandingkan. Di mata Sang Kakek, Dion adalah cucu tersayangnya yang sempurna. Sedangkan Darrell, ada saja kesalahannya yang bisa lelaki tua itu sebutkan.


Memang, Dion merupakan anak lelaki yang cerdas, bersemangat, ceria, dan peka dengan perasaan orang lain. Kelebihannya itu memudahkannya untuk menerima kasih sayang dari setiap orang yang melihatnya.


Darrell sebenarnya juga merupakan anak yang cerdas. Namun kendala bahasa mempersulit dirinya untuk beradaptasi di awal kehidupannya dalam keluarga Adipratama. Belum lagi penolakan terselubung yang ia rasakan dari sikap orang-orang di sekelilingnya.


Hal itu membuat Darrell menjadi anak yang tertutup. Ia terbiasa menyimpan isi hatinya dan sulit mempercayai orang lain. Dan hal itu akhirnya membentuk karakternya yang sekarang.


Andreas tidak dapat memperjuangkan hak Darrell lebih lagi di tengah keluarganya. Darrell diterima sebagai bagian dari keluarga Adipratama saja, ia sudah bersyukur. Setidaknya ia bisa melihat anaknya masih dianggap berpotensi untuk masa depan perusahaan jika dibandingkan Celine, putri dari Sang Kakak.


Namun rupanya manusia memang tidak pernah puas. Sesuatu yang awalnya disyukuri, tidak lagi disyukuri jika sudah dihadapkan dengan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.


Seperti yang sudah digariskan ketika ayahnya meninggal, posisi kepala keluarga jatuh ke tangan kakaknya. Posisi pewaris pun bergeser. Dion akan menjadi calon kepala keluarga berikutnya menggantikan Adrian Adipratama kelak.


Tetapi rupanya seiring dengan kedewasaannya, Dion menolak menjalani hidup yang ditakdirkan. Ia memilih untuk membentuk masa depannya sendiri sebagai seorang pelukis. Tentu saja hal itu menjadi kehebohan tersendiri di dalam keluarga Adipratama, terkhusus di dalam kubu Sang Kakak. Dan hal itu dilihat Andreas sebagai suatu kesempatan untuk mengubah nasibnya yang selalu menjadi nomor dua.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2