
James memutuskan mengambil risiko dengan pergi ke RS. M untuk menemui laki-laki yang bernama Rudi. Walaupun masih ada kemungkinan hal tersebut adalah sebuah penipuan, ia lebih takut lagi kalau yang dikatakan laki-laki tersebut adalah kebenaran. Ia takut menyesal jika tidak memedulikan apa yang dikatakan Si Rudi itu.
Sesampainya di RS, dengan tergesa, ia mencari letak ruang ICU. Ia mengikuti petunjuk dari security dan sampailah ia di lorong yang memisahkan antara ruangan bangsal dengan ruangan ICU.
Dari jauh ia dapat melihat seorang laki-laki berumur sekitar 30-an, sedang duduk di kursi Ruang Tunggu ICU. Kegelisahan dan kecemasan terlihat jelas di raut wajahnya.
Setelah melihat James, laki-laki tersebut segera bangkit dari duduknya. Terlihat sedikit kelegaan terpancar di wajah tersebut.
"Apakah Anda Saudara James?" tanyanya.
"Ya, Anda Pak Rudi?" James balik bertanya yang segera diangguki oleh laki-laki tersebut.
"Mana Dion?" tanya James sambil matanya berusaha mencari sosok temannya dari balik dinding kaca yang memisahkan Ruang Tunggu tersebut dengan Ruang Rawat ICU.
Belum sempat Pak Rudi menjawab, James sudah menemukan sosok yang dicarinya tersebut terbaring lemah di dalam sana. Banyak alat medis seperti selang dan kabel yang melekat di tubuh Dion.
Melihat itu, kaki James langsung mendadak lemas. Untunglah, Pak Rudi cepat menyadari kondisi James dan segera menopangnya sebelum James terjatuh. Ia lalu segera membimbing James kembali ke tempat duduk.
"Te- ternyata benar .... Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana kondisinya sekarang?" cecar James setelah otaknya mulai bisa diajak berpikir.
"Sekarang ini Saudara Dion masih tertidur karena pengaruh obat bius pasca operasi. Tadi sempat sadar sebentar. Dari dia sendirilah saya mendapatkan nomor telepon Anda. Tak lama kemudian, ia tertidur lagi.
Mengenai kondisi ke depannya, dokter bedahnya mengatakan kalau masih dibutuhkan pemantauan intensif dalam 2-3 hari ke depan, karena resiko terjadinya komplikasi cukup tinggi, mengingat operasi yang tadi dilakukan termasuk operasi besar, " jelas Pak Rudi.
James sedikit lebih tenang mendengar setidaknya Dion sudah selesai ditangani dengan baik. Tinggal berdoa semoga tidak terjadi komplikasi dan Dion bisa segera pulih.
__ADS_1
Tetapi masih banyak pertanyaan yang ada di benak James yang belum terjawab. Maka, kembali ia melemparkan isi kepalanya itu kepada Pak Rudi.
"Memang separah apa kondisinya sampai Dion harus dioperasi? Bagaimana kejadiannya hingga bisa terjadi kecelakaan? Kapan dan di mana tepatnya kecelakaan terjadi? Lalu, Bapak ini sebenarnya siapa dan apa hubungannya dengan peristiwa ini?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, Pak Rudi tersenyum. Ia teringat bahwa beberapa jam yang lalu, ia melakukan hal yang sama kepada istrinya. Dia mengerti betul kebingungan dan kecemasan yang dirasakan James saat ini.
"Sabar, Anak Muda .... Saya akan menceritakannya dari awal. Karena memang untuk itulah saya menunggu Anda di sini."
Setelah berkata demikian, Pak Rudi memulai ceritanya.
...****************...
"Sebenarnya, yang berada di tempat kejadian dan terlibat langsung dengan peristiwa ini adalah istri dan anak saya. Cerita ini saya dapatkan dari istri saya dan beberapa orang yang ada di tempat kejadian, yang kebanyakan di antaranya sepertinya adalah teman sesama waiter dari Saudara Dion.
Pagi ini sekitar pukul 09.00, istri saya janjian dengan temannya untuk bertemu di sebuah kafe. Ia membawa anak kami yang berumur 4 tahun bersamanya, karena tidak ada orang di rumah yang bisa menjaganya.
Menurut saksi mata, Saudara Dion, yang bekerja sebagai waiter di cafe tersebut, melihat anak saya yang sudah hampir berada di tengah jalan. Ia segera keluar dari kafe untuk mengejarnya.
Tetapi naas, di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedang melaju kencang melewati jalan tersebut. Memang katanya, saat itu lampu lalu lintas sedang berwarna hijau. Tapi kita juga tidak tahu, apa penyebab Si Pengemudi tidak melihat ada orang di depannya.
Demikianlah kecelakaan itu terjadi. Saudara Dion yang tidak sempat menarik anak saya ke tepi, hanya bisa menggunakan tubuhnya untuk melindungi anak saya. Alhasil tubuhnya pun terlempar beberapa meter.
Keadaan di jalan langsung menjadi heboh. Pelaku tabrak lari langsung memacu mobilnya untuk melarikan diri sebelum ditangkap massa. Di saat itulah istri saya baru menyadari adanya kecelakaan di dekatnya dan dia sangat syok begitu mengetahui bahwa anak kami merupakan salah satu korbannya.
Saudara Dion yang sudah tidak sadar, segera dibawa ke RS dengan mobil ambulans yang sudah dihubungi entah oleh siapa. Anak saya yang ternyata masih sadar dan menangis di dalam pelukan Saudara Dion, segera diamankan istri saya. Kemudian mereka bersama-sama menyusul ke RS. Dalam perjalanan menuju RS inilah, istri saya baru menghubungi saya.
__ADS_1
Setelah saya sampai di RS, Saudara Dion dan anak saya masih diperiksa di IGD. Sambil menunggu hasil pemeriksaan, di situlah saya baru mendapatkan cerita selengkapnya tentang kecelakaan ini dari istri saya dan juga dari beberapa orang yang ikut mengantar Saudara Dion di ambulans. Dua di antaranya mengaku sebagai rekan kerja Saudara Dion di kafe tersebut.
Tidak berapa lama, dokter memanggil kami untuk memberitahukan hasil pemeriksaan. Puji Tuhan, berkat Saudara Dion, anak saya hanya mengalami luka ringan dan boleh segera pulang. Tapi sayangnya, Saudara Dion mengalami pendarahan paru akibat beberapa tulang rusuknya yang patah dan harus segera dilakukan operasi emergency untuk menyelamatkan nyawanya.
Kami berusaha mencari tahu nomor kontak keluarga atau kerabat Saudara Dion, untuk mengabarkan kejadian yang dialaminya, serta untuk meminta persetujuan dilakukannya operasi. Tapi teman-teman sekerjanya tidak ada yang tahu.
Kami juga tidak mendapati petunjuk apapun dari barang-barang yang dibawa Saudara Dion dalam saku pakaian yang dikenakannya. Karena waktu sangat mendesak, akhirnya saya memberanikan diri mewakili keluarganya untuk menandatangani surat persetujuan operasi.
Sambil menunggu jalannya operasi, beberapa teman sekerja Saudara Dion memutuskan untuk kembali ke kafe. Mereka teringat untuk mencari HP Saudara Dion di dalam loker miliknya. Tapi sayang, HP tersebut dalam keadaan terkunci, dan tak ada seorangpun yang tahu password -nya. Usaha kami untuk menghubungi keluarga/kerabat Saudara Dion, mengalami jalan buntu.
Karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, saya meminta Istri saya untuk kembali ke rumah dengan anak kami. Karena bagaimanapun, terlihat kalau mereka masih mengalami syok akibat peristiwa ini. Sedangkan saya sendiri, menunggu di sini untuk mengetahui kondisi penyelamat anak saya.
Operasi baru selesai 4 jam kemudian. Dan hasilnya, seperti yang saya sudah ceritakan sebelumnya. Setengah jam berikutnya, perawat memberi kabar bahwa Saudara Dion sudah sadar. Dan nomor Andalah yang ia berikan kepada saya ketika saya menanyakan kepadanya nomor kontak yang bisa saya hubungi, sebelum akhirnya ia tertidur lagi.
Karena itulah saya baru bisa menghubungi Anda di sore hari, meskipun kejadiannya pagi tadi. Dan karena alasan ini jugalah, saya sempat mengira Anda adalah keluarga/kerabat dari Saudara Dion, karena memang biasanya nomor-nomor itulah yang diberikan seseorang bila dalam keadaan genting.
Demikianlah yang bisa saya bagikan pada Anda. Jika Anda ingin tahu lebih detail tentang kondisi Saudara Dion, Anda bisa menanyakannya pada dokter atau perawat.
Karena sudah ada Anda yang menunggu dan menjaga Saudara Dion di sini, izinkan saya pulang dulu. Bagaimanapun, sebenarnya saya juga khawatir dengan kondisi istri dan anak saya. Besok pagi saya akan ke sini lagi.
Untuk biaya perawatan Saudara Dion selama di RS, Anda tidak perlu khawatir. Kami yang akan menanggungnya. Hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai ucapan terima kasih atas pengorbanan Saudara Dion yang telah menyelamatkan anak kami.
Lalu ini, HP dan beberapa barang milik Saudara Dion yang ditemukan rekan sekerjanya di dalam lokernya. Tadi mereka menyempatkan diri membawanya kemari. Lebih baik Anda yang memegangnya. Walaupun Anda bukan keluarganya, saya rasa Anda adalah orang yang paling dipercayainya.
Saya pamit dulu. Hubungi saya jikalau Anda membutuhkan sesuatu," kata Pak Rudi mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Dan ... terima kasih," sahut James. Ia sudah tidak bisa lagi berkata-kata setelah mendengar pemaparan yang panjang dan lebar tersebut.
...****************...