
Kebencian Joseph mencapai puncaknya ketika ia menyadari kalau Priscillia tidak pernah mengikuti praktik olahraga outdoor. Memang, gadis itu menyertakan Surat Keterangan Dokter sebagai bukti kuat yang mendukung dirinya agar diizinkan tidak mengikuti praktik olahraga.
Sesuai peraturan sekolah, sesungguhnya hal itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan izin. Masalahnya di surat dokter yang dibawanya tidak tertulis penyebab yang mendasari agar diberikannya izin tersebut.
Awalnya, Joseph masih mencoba berpikir positif seperti gadis itu mungkin memiliki penyakit kronis tertentu yang dapat kambuh jika mengikuti praktik olahraga yang melelahkan. Namun, ternyata hal itu dengan mudah terpatahkan.
Priscillia tidak pernah absen mengikuti praktik olahraga indoor. Kemampuan dan staminanya cukup baik. Bahkan dalam beberapa cabang olahraga tertentu, Priscillia dapat mengimbangi Rebecca yang mendapat julukan 'sporty girl ' di kelas. Jadi, jika bukan karena masalah penyakit kronis seperti asma atau jantung, masalah apalagi?
Joseph tidak dapat memikirkan alasan lain selain masalah kecantikan. Siapa yang tidak tahu kalau matahari sering dianggap musuh bagi kecantikan wanita? Hal itu sudah banyak dibicarakan di iklan-iklan tentang produk kosmetik, bukan?
Apalagi dugaannya itu diperkuat dengan sikap Priscillia dan cara siswi-siswi lain memperlakukannya. Sikap anggun Priscillia yang laksana seorang putri. Bagaimana gadis itu menerima begitu saja penghormatan dan kekaguman yang sedikit berlebihan dari siswi-siswi tersebut.
Joseph juga teringat di mana untuk berjalan keluar pelataran sekolah saja gadis itu harus dinaungi sebuah payung bak putri bangsawan Eropa. Dan nama geng Princess sendiri? Bukankah artinya Geng Putri? Jadi ... kalau semua ini bukan karena obsesi gadis itu bermain putri-putrian, adakah alasan lain yang lebih masuk akal?
Kesimpulan yang Joseph ambil membuat amarahnya memuncak. Baginya, Priscillia sudah melanggar kewenangannya sebagai guru. Dengan memanfaatkan status kekuasaan dan koneksi dokter pribadinya, gadis itu berkelit untuk tidak mengikuti pelajarannya demi menjaga kecantikan dan permainan putri-putriannya. Bukankah itu keterlaluan?
Padahal ia sudah sepenuh hati memikirkan yang terbaik untuk para murid. Ia bahkan ikhlas menerima luapan protes dari para siswi yang tidak menyetujui kebijakannya memperbanyak praktik olahraga outdoor daripada indoor. Sinar matahari pagi itu baik untuk kesehatan. Dan kesehatan jelas lebih penting daripada kecantikan.
Semenjak itu, Joseph berpikir keras agar dapat 'memaksa' Priscillia untuk mengikuti praktik olahraga outdoor. Bagaimana ia dapat mematahkan semua alasan yang dikemukan gadis itu, termasuk Surat Keterangan Dokter yang penuh ketidakjelasan tersebut.
Ia ingin mengajarkan pada gadis itu ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ia ingin gadis itu tahu bahwa tidak semua orang bisa tunduk begitu saja dan diinjak haknya oleh kekuasaan.
Untuk itu, ia sudah pernah mengusahakan jalan damai dengan meminta tolong Pak James agar berbicara pada Priscillia secara pribadi. Mungkin ada alasan lain yang disembunyikan gadis itu sehingga tidak dapat mengikuti praktik olahraga outdoor. Atau jika tidak ada alasan yang berarti, ia meminta guru BK itu untuk menasihati Priscillia.
__ADS_1
Namun sepertinya usahanya itu sia-sia. Tidak ada yang berubah dari Priscillia. Ia tetap menghindari praktik olahraga outdoor dengan bermodalkan Surat Keterangan Dokter saja. Pak James sendiri mengaku sudah mencoba membicarakannya dengan Priscillia dan menasihati gadis itu. Tetapi Priscillia tidak mau terbuka.
Sampai akhirnya ide itu muncul di benak Joseph. Dengan dalih belajar dari teman-temannya yang sedang mempraktikkan suatu teknik olahraga tertentu, Priscillia tidak punya alasan untuk menolak turun ke lapangan. Toh ia tidak menyuruh gadis itu berolahraga, kan? Dengan demikian, tidak melanggar anjuran dokter di surat izin tersebut dong ....
Joseph tersenyum dengan idenya yang menurutnya brilian itu. Ia tidak sabar untuk segera mempraktikkannya.
Dan kesempatan itu akhirnya tiba. Ketika kelas Priscillia akan turun ke lapangan tenis untuk mempelajari teknik servis, Joseph mengharuskan Priscillia untuk ikut turun ke lapangan. Sesuai dugaan, Priscillia tidak dapat berkutik dengan alasan yang dikemukakan Joseph. Dengan wajah pucat dan kegugupan yang terlihat jelas, gadis itu terpaksa menuruti perintah dari gurunya.
Melihat Priscillia duduk di kursi stadion, membuat Joseph sedikit-banyak bangga pada dirinya. Ia akhirnya bisa menundukkan Sang Putri.
Namun sayangnya kebanggaan itu tidak bertahan lama. Ide briliannya berbalik menjadi bumerang baginya. Pekikan salah seorang siswi yang memanggil nama Priscillia, membuat Joseph sadar telah terjadi sesuatu pada gadis itu. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat Priscillia sudah terkulai di kursi paling pojok yang berada di deretan teratas stadion dan bagaimana posisi gadis itu sudah berpindah jauh dari posisi duduknya di awal.
Joseph pun segera berlari kencang menghampiri Priscillia. Begitu ada di dekat gadis itu, kembali ia dikagetkan ketika ia melihat rupa Priscillia yang sudah sangat berubah. Wajah cantik itu sudah membengkak kemerahan dengan lentingan-lentingan yang muncul di sekujur tubuhnya seperti kulit yang melepuh.
Dengan sigap ia lalu menggendong Priscillia dengan gendongan ala bridal style dan segera menuju ke UKS. Tidak lupa ia melepas jaket olahraga yang dikenakannya, lalu menutupi tubuh Priscillia dengan jaket tersebut.
Sekali lagi ia dikejutkan ketika dokter Lusi terlihat sudah menduga apa yang terjadi ketika melihat keadaan Priscillia. Namun demi menjaga kerahasiaan pasien, dokter itu tidak dapat menjelaskan dan mengatakan penyakit yang diderita Priscillia. Yang jelas dapat dipastikan praktik olahraga outdoor menjadi penyebabnya.
Awalnya Joseph bingung dengan apa yang terjadi. Namun jelas ia sangat mengerti bahwa penyakit Priscillia bukan sesuatu yang dapat disepelekan. Dokter Lusi saja sampai mengatakan penyakit tersebut dapat membahayakan jiwa.
Dalam kebingungannya, Joseph sadar ia sudah melakukan sesuatu yang fatal. Ia tahu peristiwa ini menjadi sesuatu yang besar yang dapat membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Ibu Priscillia yang merupakan Ibu Ketua Yayasan sampai datang untuk menjemput anaknya dan membawanya ke RS.
Walaupun Joseph cemas karena ada kemungkinan kembali menjadi pengangguran di tengah pergumulan ekonomi keluarganya, perasaan bersalah yang ia rasakan lebih menyiksanya. Perasaan traumatis melihat dan mendengar kondisi Priscillia yang berpotensi membahayakan jiwa, hampir sama dengan yang ia rasakan ketika melihat ibunya yang tiba-tiba pingsan akibat gagal ginjal yang dideritanya.
__ADS_1
Di rumah, ia segera mencari tahu penyakit Priscillia dengan bantuan google. Ternyata tidak sulit menemukan bahwa penyakit yang diderita Priscillia kemungkinan besar adalah Vampire Disease. Perasaan bersalah kembali menderanya. Ia baru disadarkan bahwa ia hampir membahayakan jiwa Priscillia hanya karena kebenciannya yang tak beralasan.
Priscillia sama sekali tidak pernah mengganggunya. Gadis itu juga tidak pernah memanfaatkan status dan kekuasaan orang tuanya demi kepentingan pribadinya. Belum dapat dibuktikan juga bahwa Priscillia adalah dalang dari perpeloncoan yang selama ini terjadi pada dirinya. Semuanya baru dugaan dan prasangkanya belaka.
Untunglah Tuhan masih mengasihaninya. Keadaan Priscillia baik-baik saja. Setelah dua hari meliburkan diri, hari Seninnya ia melihat Priscillia kembali bersekolah seperti biasa. Bukan hanya itu saja, kasusnya ternyata ditutup begitu saja oleh ketua yayasan. Konon kabarnya, Priscillia sendiri yang membujuk orang tuanya untuk tidak memperpanjang masalah ini.
Dalam pembicaraan pribadi mereka ketika ia meminta maaf langsung pada gadis itu, ia menyadari bahwa gadis itu tidak sama dengan anak-anak kaya b*r*ngs*k yang selama ini ia temui. Gadis itu cukup bijak. Ia tidak melimpahkan kesalahan pada Joseph seluruhnya. Ia menyadari bahwa ketidakjujurannya tentang penyakitnya juga menjadi andil yang mengakibatkan peristiwa itu terjadi.
Di akhir pembicaraan mereka, gadis itu bahkan ikut meminta maaf dan berterima kasih padanya karena sudah menjadi guru yang baik. Hal itu membuat Joseph terkesima. Cara pandang Joseph ke Priscillia pun berubah 180°.
Semenjak peristiwa pingsannya Priscillia, Joseph sempat menjadi sedikit protektif terhadap gadis itu. Sikap dan kebijakan pelajaran olahraga yang diampunya ikut berubah. Praktik dilakukannya olahraga indoor dan outdoor jadi memiliki perbandingan yang sama.
Hal itu mendapat protes dari Priscillia. Gadis itu menghadap padanya dan menyatakan lebih menyukai kebijakannya yang dulu. Sikapnya yang seperti ini seolah mengasihani gadis itu, dan gadis itu jelas tidak terima mendapat perlakuan demikian. Priscillia ingin diperlakukan seperti biasa. Dengan senyum percaya diri yang menjadi ciri khasnya, gadis itu mengatakan dirinya tidak selemah yang gurunya duga.
Seiring dengan bertambahnya waktu mengajarnya di sekolah, hubungannya dengan geng Princess semakin membaik. Priscillia membuktikan kebenaran ucapannya. Joseph makin mengenal Priscillia dan menyadari bahwa dugaannya yang dulu sama sekali salah, baik mengenai karakter gadis itu maupun mengenai perpeloncoan yang dilakukannya.
Setelah hampir enam bulan mengajar, ia baru menyadari bahwa yang menjadi dalang perpeloncoan sebenarnya jangan-jangan adalah Rebecca. Gadis itulah otak semua keisengan yang terjadi pada guru. Ia juga yang sedikit memaksa teman-teman sekelasnya untuk mendukung rencananya. Priscillia justru menjadi pagar yang membatasi rencana gadis itu agar tidak berlebihan dan membahayakan orang lain.
Di waktu-waktu berikutnya, Joseph menjalani kehidupan belajar-mengajar dengan sangat menyenangkan. Sampai peristiwa ITU terjadi. Peristiwa yang manis di awal namun ditutup dengan kepahitan akibat kepengecutannya. Ia kembali menyakiti Priscillia.
Sampai di sini, Joseph menghentikan lamunannya. Ia tidak sanggup dan tidak mau mengingat lebih jauh. Sudahlah .... Lupakan .... Itu semua toh hanya masa lalu. Semua yang terulang di pikirannya malam ini, hanyalah sedikit percikan akibat ia melihat Priscillia tadi sore. Mungkin dalam beberapa hari ke depan semuanya akan terkubur kembali. Dengan pikiran seperti itu, akhirnya Joseph bisa mengistirahatkan pikirannya.
...****************...
__ADS_1