
Esok harinya, seperti halnya dua minggu yang lalu, Darrell pergi ke mal tempat ia bertemu Cecilia waktu itu. Tujuannya masih sama dengan kedatangannya yang pertama. Ia masih ingin menuntaskan misinya yang sempat gagal, yaitu mencari oleh-oleh sebagai bahan sogokan untuk para bawahan di divisinya. Selain itu, ia juga memang ingin menemui Cecilia di butiknya.
Sesampainya di butik, Darrell menemui salah seorang karyawati yang bertugas di sana. "Bu Cecile ada?" tanyanya.
Begitu melihat Darrell, Si Karyawati langsung mengingat pria tersebut. Tidak mungkin mudah melupakan kesan dari seorang Darrell bukan? Pria asing tampan yang bisa jadi merupakan 'teman' pria dari bosnya, berbicara dengan bahasa planet yang ia tidak mengerti, dan menjadi penyelamat ketika butik mereka mengalami masalah instalasi listrik.
"Bu Cecile? Oh .... Bu Cecilia maksudnya yah?" Si Karyawati balik bertanya setelah ia lega karena pria itu mengajaknya bicara dalam Bahasa Indonesia.
"Ah .... Ya .... Bu Cecilia. Ada?" Darrell mengulangi pertanyaannya. Ia baru sadar kalau selama ini ia memanggil Cecilia dengan Cecile berdasarkan pelafalan nama itu dalam Bahasa Prancis.
"Jam seginian mah Bu Cecilia ada di rumahnya, Pak Mister .... Nanti sekitar habis makan malam, baru beliau balik lagi kemari, " jawab Si Karyawati.
"Lho? Waktu itu kok ada?" tanya Darrell.
"Waktu itu kan beliau terpaksa datang lebih awal karena kami melaporkan ada kejadian mati lampu di sini, Pak Mister ..." jawab karyawati itu lagi. Darrell manggut-manggut tanda mengerti.
"Kalo boleh tau, ada urusan apa Pak Mister mencari Bu Cecilia? Kalo penting, apa mau kami telponin aja?" usul Si Karyawati.
"Ah .... Tidak perlu! Ga penting kok!" Darrell langsung menolak. Setelah berpikir sejenak, ia menyambung kalimatnya, "Ada kertas dan pena?"
"Oh .... Ada, Pak Mister. Ini ...." kata Si Karyawati sambil menyerahkan selembar kertas kosong dan sebatang pena.
Darrell menerima kertas dan pena itu, lalu menuliskan sesuatu. Kemudian, ia melipat kertas itu menjadi dua, dan memberikannya pada Si Karyawati. "Tolong berikan ini pada Bu Cecilia kalau beliau datang nanti yah ..." katanya.
"Oke, Pak Mister!" jawab Si Karyawati.
Setelah mengucapkan terima kasih, Darrell pun permisi. Ia melanjutkan rencananya. Membeli oleh-oleh, makan malam, lalu pergi ke bandara untuk kembali ke kotanya.
Sekitar pukul 19.30, Cecilia kembali ke butiknya. Karyawati tersebut pun menyerahkan kertas yang dititipkan Darrell padanya.
Mendengar Darrell datang sampai mencarinya ke butik, sempat membuat perasaan Cecilia bergejolak. Detak jantungnya makin terpacu ketika ia membuka lipatan kertas pemberian Darrell untuk membaca isinya.
__ADS_1
Di sana hanya tertulis sebuah kalimat pendek dan deretan angka yang ternyata nomor telepon. Selon ma promesse, yang berarti 'Sesuai janjiku'.
Cecilia hanya bisa terdiam setelah membaca tulisan tersebut. Pertama, ia tak menyangka Darrell masih mengingat janji yang diucapkannya. Kedua, ia tak tahu bagaimana menyikapi hal ini sekarang, setelah ia tahu kalau Darrell adalah orang yang dijodohkan dengan Rebecca.
Tentu ia senang karena Darrell menepati perkataannya. Seperti perkataan Darrell waktu itu, pertemuan ketiga mereka sudah terjadi tanpa direncanakan. Apakah berarti mereka berjodoh?
Tetapi bagaimana kalau kenyataannya yang dijodohkan dengan pria tersebut adalah sahabatnya sendiri? Masih berlakukah kalimat itu? Masih bergunakah nomor telepon ini sekarang? Sepertinya semuanya sia-sia, sama seperti perasaannya yang terhempas begitu saja.
...****************...
Darrell sudah tiba di rumahnya. Ia sudah membersihkan diri dan siap untuk tidur. Matanya teralih pada HP yang dari tadi terletak di atas meja dalam kamarnya. Ia pun mengambil HP tersebut dan memeriksa apakah ada pesan yang belum ia baca.
Tidak ada pesan baru di sana. Darrell tersenyum menyadari kelakuannya. Sebenarnya, apa yang ia tunggu? Sebesar itukah kepalanya hingga ia percaya gadis ileran itu akan segera mengirimkan pesan begitu memperoleh nomor kontaknya? Atau jangan-jangan karyawati itu lupa menyampaikan kertas pesannya pada Cecilia?
Kembali Darrell menertawai dirinya sendiri. Sejak kapan ia jadi pria yang memusingkan hal-hal seperti ini? Memang apa yang ia harapkan dari gadis ileran itu? Ya .... Mungkin ia yakin gadis itu sebelumnya menyukainya? Lalu? Bagaimana setelah gadis itu tahu kalau ia adalah pria yang dijodohkan dengan sahabatnya sendiri?
Belum lagi kesan dirinya di mata Si Sahabat tidak begitu baik. Ia bahkan pernah disiram minuman oleh Sang Sahabatnya itu. Bisa jadi Rebecca menceritakan kejadian itu pada Cecilia, bukan? Dengan demikian, ada kemungkinan pandangan Si Gadis Ileran padanya ikut berubah mengikuti pandangan Si Gadis Kucing.
Darrell kembali meletakkan HP-nya di atas meja. Kemudian ia membantingkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Terserahlah. Buat apa ia berpikir terlalu jauh? Setidaknya ia sudah melakukan apa yang benar menurutnya. Ia sudah berjalan mengikuti arus. Bukankah selama ini ia memang menjalani hidup dengan cara seperti itu?
Pesan itu dikirim dari sebuah nomor asing yang selama ini belum pernah ada di kontaknya. Namun tanpa melihat profil picture Si Pengirim, ia sudah bisa menduga siapa yang mengirimkan pesan itu padanya.
Bermacam-macam rasa timbul di hati Darrell saat membaca pesan singkat itu. Jelas ada suatu kesenangan dan kebanggaan, karena sedikit-banyak tebakannya benar. Gadis ileran itu menghubunginya hari ini juga, walaupun saat ini sudah larut malam.
Mungkin dari tadi gadis itu sibuk dan baru pulang dari butiknya. Atau mungkin Si Karyawati baru teringat memberikan kertas itu ketika butik sudah mau tutup. Banyak hal yang bisa menjadi alasan, bukan?
Atau kemungkinan besar yang terjadi adalah dari tadi gadis itu ragu untuk menghubunginya. Perasaan gadis itu tersirat pada kalimat pesan yang ia kirimkan. Sebuah pertanyaan yang memastikan dugaan-dugaan yang berseliweran di kepala Darrell tadi. Sebuah pertanyaan yang menyiratkan harapan untuk menyangkal kenyataan.
'Apakah kamu benar pria sepupu Celine yang dijodohkan dengan Rebecca?'
Darrell menyadari bahwa ini adalah untuk pertama kalinya dalam pembicaraan pribadi mereka berdua, Cecilia menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara dengannya. Yah .... Itu hal yang wajar. Hari ini gadis itu baru menyadari kalau ia bukanlah sekedar turis yang sedang berjalan-jalan di kotanya.
__ADS_1
Namun entah mengapa, ada sedikit perasaan kehilangan yang timbul di hati Darrell. Ia menyayangkan masa-masa saat ia berkomunikasi dengan Cecilia dengan bahasa ibunya. Mungkin karena tidak terlalu banyak orang yang menguasai Bahasa Prancis di negara ini. Bagaimanapun ia tahu, Bahasa Prancis tidaklah sepopuler Bahasa Inggris.
'Ya, benar. Aku pun tidak menyangka pertemuan kita yang berikutnya akan seperti ini, Fille qui bave ....' (arti: Gadis ileran) Darrell memutuskan untuk jujur. Fakta sudah terkuak dan mereka harus belajar menerima realita.
Tanda dua centang biru tertera di aplikasi, menandakan pesan itu sudah dibuka dan dibaca oleh yang bersangkutan. Namun Si Pembaca tidak langsung membalas pesan Darrell, walaupun status gadis itu masih terlihat online. Tidak ada juga tanda-tanda kalau gadis di seberang sana sedang mengetik pesan balasan.
Darrell memutuskan untuk menunggu sebentar. Jika dalam lima menit gadis itu tidak membalas, ia memutuskan untuk meletakkan HP-nya kembali di atas meja dan pergi tidur.
Lima menit ternyata waktu yang cukup lama untuk menunggu dalam ketidakpastian. Tidak jelas apakah gadis ini berniat melanjutkan percakapan mereka atau tidak. Namun jika tidak, status online gadis tersebut sedikit mengganggu Darrell untuk menutup aplikasi tersebut. Akhirnya Darrell memilih tetap bertahan menunggu di batas waktu yang ia tentukan sendiri.
Untunglah di menit ketiga, penantiannya berbalas. Gadis itu terlihat sedang mengetik balasan. Tidak lama kemudian, pesan yang diketik itu pun muncul di layar.
'Baiklah kalau begitu. Selamat tidur, Darrell.' Sebuah pesan singkat yang mungkin tidak sepadan dengan penantian yang ia lakukan tadi. Tetapi balik lagi, memang apa yang ia harapkan?
'Selamat tidur juga, Fille qui bave ....' (arti: Gadis ileran) Setelah mengirim balasan, Darrell keluar dari aplikasi, meletakkan HP di meja, dan kembali membaringkan diri di ranjangnya.
...****************...
Esok paginya, seperti kejadian dua minggu sebelumnya, Andreas datang ke ruangan Darrell untuk menanyakan perkembangan hubungannya dengan putri temannya itu.
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian? Bagaimana acara jalan-jalan ke taman rianya? Menyenangkan?" tanyanya dengan antusiasme yang tinggi.
"Jalan-jalannya menyenangkan. Hubungan kami ... sepertinya tidak berkembang dengan baik, " jawab Darrell apa adanya.
Melihat pertanyaan dan kekecewaan di raut wajah Sang Ayah, Darrell segera menyambung kalimatnya. "Mau bagaimana lagi kalau sepertinya karakter kami tidak cocok? Hubungan ini masih tetap kuusahakan, Papa. Tapi jujur aja, jangan berharap terlalu tinggi. Namun Papa boleh tenang, sebagai gantinya aku sudah menyiapkan rencana alternatif."
"Maksudnya?" tanya Andreas tak mengerti.
"Aku sudah berkenalan dengan teman-temannya yang tentu saja memiliki latar belakang keluarga yang sama kuatnya dengan teman Papa itu. Kalaupun hubunganku dengan putri teman Papa tidak berhasil, aku tinggal berpindah ke salah satu temannya. Masa sih tidak ada satupun dari mereka yang berhasil kudekati?" terang Darrell.
Andreas tertawa. Puas dengan rencana putranya. "Bagus. Bagus. Kamu memang anak Papa. Lanjutkanlah rencanamu itu! Papa percayakan sepenuhnya padamu!" ujar Andreas sambil menepuk-nepuk bahu Sang Putra.
__ADS_1
Darrell hanya menyambut perkataan Andreas dengan senyum di wajah. Entah senyum macam apa yang berhasil ia tampilkan di hadapan Sang Ayah, Darrell tidak mau memikirkannya.
...****************...