Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Belajar dan Belajar


__ADS_3

Hampir satu jam dihabiskan James dan Bu Reny untuk mengunjungi tiga pasien yang akan dialihkan Bu Reny kepadanya. Mereka berbincang dengan pasien dan keluarganya yang saat itu mendampingi mereka, kecuali kakek Suroto yang tidak didampingi siapapun.


Waktu sudah menunjukkan pukul 14.10 saat mereka selesai. Pasien terakhir yang mereka kunjungi adalah tuan Herman di bangsal Soka.


"Pak James habis ini mau ke mana? Masih ada waktu sekitar 50 menit sebelum kita pulang, " tanya Bu Reny.


"Saya masih ingin melihat dan mencoba mempelajari rekam medis, Bu. Bolehkah?" tanya James.


"Tentu saja boleh." Setelah berkata seperti itu, Bu Reny mengajak James menuju nurse station (ruang jaga perawat) yang ada di bangsal Soka.


"Mencari apa, Bu Reny?" tanya seorang perawat yang sedang berjaga di sana.


"Boleh saya pinjam statusnya Tuan Herman, Tis? Pak James mau lihat. Soalnya mulai besok, Pak James yang akan mendampingi Pak Herman, " jawab Bu Reny.


James yang namanya disebut hanya mengangguk pada perawat bernama Titis yang sebelum kunjungan pasien tadi diperkenalkan Bu Reny padanya.


"Oh .... Tentu saja, Bu. Ini ... silakan, Pak ..." kata Titis sambil menyerahkan sebuah map kepada James. James pun menerima map tersebut dan membukanya.


"Pak James bisa saya tinggal? Kalau bisa, saya akan kembali ke ruang konselor. Masih ada yang ingin saya kerjakan, " kata Bu Reny yang membuat James mengalihkan fokus dari berkas yang dibacanya.


"Bisa, Bu. Maaf merepotkan .... Terus, berkenaan dengan pendampingan pasien, boleh Ibu besok masih membantu saya? Rasanya tidak enak kalau baru kunjungan sekali, saya langsung ditinggal. Karena sepertinya pasien dan keluarganya masih lebih percaya dengan Ibu, " jawab James.


"Baiklah. Tidak masalah. Kalau begitu sekarang saya tinggal yah, Pak. Titip Pak James yah, Tis ...." Bu Reny pamit pada James dan Titis.


"Iya, Bu ..." kata James dan Titis hampir bersamaan.


James kembali tenggelam pada berkas yang dibacanya. Informasi-informasi penting perihal pasien dicatatnya, seperti umur, pekerjaan, diagnosis, dan perencanaan terapi. Ia merasa perlu mengetahui latar belakang pasien untuk memudahkannya berkomunikasi dan melakukan pendampingan.


James lalu kembali berkeliling mengunjungi bangsal-bangsal yang tadi untuk meminjam rekam medis. Jika ada yang tidak ia mengerti, ia tanyakan pada perawat bangsal yang bertugas. Untunglah perawat-perawat tersebut baik-baik dan ramah. Mereka menolong James mengartikan tulisan dokter yang sempat membuat James terkesima.


Membaca beberapa tulisan dokter yang aneh bin ajaib sempat membuat James mati kutu. Mau dilihat dari sudut manapun, tetap ia tidak bisa merangkai sebuah kata dari tulisan tersebut. Mungkin dibutuhkan imajinasi yang tinggi untuk membacanya.


Ada yang bentuknya seperti cacing dugem. Ada juga yang bentuknya seperti sandi Morse, yang hanya terdiri dari titik dan garis. Yah ... ditambah gelombang-gelombang sedikit lah ....


Awalnya ia pikir hanya Si Dokter dan Tuhan yang tahu apa maksud tulisan ini. Tetapi ternyata setiap perawat yang ia tanyakan bisa membacanya! Fakta itu membuat James terkagum-kagum.


Bangsal terakhir yang ia kunjungi ulang adalah bangsal Bakung, tempat kakek Suroto dirawat. Bukan ia pilih kasih, tetapi memang dibutuhkan semangat lebih untuk kembali ke tempat itu.

__ADS_1


Masih berbekas di ingatannya kesan pertama ketika ia menemui Si Kakek. Luka bernanah dan luka bekas amputasi yang masih basah di kaki kakek Suroto menimbulkan bau amis dan bau busuk yang hampir membuat James muntah. Ia benar-benar harus menahan rasa mualnya di depan Si Kakek untuk menjaga perasaan beliau.


Beberapa kali tadi pas kunjungan James melirik ke arah Bu Reny untuk melihat ekspresinya. Apakah ia tidak terganggu dengan aroma tak sedap ini? Apakah hidungnya baik-baik saja? Ingin sekali James menutup hidungnya, tetapi ia tidak berani melakukannya karena Bu Reny juga tidak melakukan hal tersebut.


Dan Bu Reny ternyata mengetahui ketidaknyamanan James. Ketika mereka sedang berjalan ke bangsal Flamboyan, Bu Reny membahas hal tersebut.


"Berat yah harus bersikap biasa saja ketika sesungguhnya kita sangat terganggu karena mencium aroma yang tidak sedap?" tanya Bu Reny sambil tersenyum kala itu.


James tertegun. Rupanya Bu Reny juga menciumnya. Hidungnya tak rusak. Namun James sama sekali tidak melihat Bu Reny terganggu dengan bau-bauan selama mengunjungi kakek Suroto tadi.


Bagaimanapun sebagai seorang konselor, ia juga dibekali ilmu untuk membaca ekspresi ataupun bahasa tubuh seseorang. Dan dari sikap Bu Reny, sama sekali tidak terlihat keengganan, kegelisahan, ataupun ketidaknyamanan. Murni BIASA SAJA.


Bu Reny sepertinya bisa membaca isi kepala James. Ia pun melanjutkan kalimatnya. "Saya juga sebenarnya terganggu lho. Tapi kita tidak boleh menunjukkannya, kan? Jangan sampai keengganan kita tersebut bisa terbaca oleh pasien. Hal itu akan mempengaruhi tingkat kepercayaan mereka pada kita. Mereka tidak akan mau terbuka jika mereka merasa tersinggung atau merasa tertolak."


James hanya bisa terdiam. Ia juga tahu idealnya memang seperti itu. Tetapi dalam prakteknya ternyata hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan.


Kembali Bu Reny tersenyum melihat respons James. "Gapapa. Nanti juga terbiasa ..." katanya sambil menepuk bahu James.


James hanya bisa memandang Bu Reny dengan penuh kekaguman. Inikah kemampuan seorang konselor senior? Padahal dari tadi ia hanya diam saja, tetapi bagi Bu Reny ia seperti buku terbuka yang mudah dibaca. Belum lagi totalitas dan pengabdiannya dalam melayani pasien. James benar-benar perlu banyak belajar dari Bu Reny.


...****************...


"Gimana hari pertama kerja, James?" tanya mamanya begitu melihat James keluar dari kamar mandi.


"Masih harus banyak belajar, Ma .... Nanti malam deh James ceritain, " jawab James.


"Ya sudah. Yang penting, kamu sudah makan siang, kan?"


"Kalau soal itu, sudah pasti aman, Ma .... James masuk kamar dulu yah ..." pamit James.


"Ya, " jawab Mama Ratna sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Ia kenal betul kebiasaan James yang satu ini. James akan mengurung diri di kamar untuk meningkatkan fokusnya jika ada yang ia pikirkan atau ada yang ingin ia pelajari.


Persis seperti yang dipikirkan Mama Ratna, itulah yang James lakukan di kamarnya. Ia mulai mengambil sebuah buku tulis dan mengkaji hal-hal yang ia catat di HP-nya tadi.


Ia mulai dari kasus kakek Suroto lebih dahulu. Ditulisnya latar belakang Si Kakek. Umur 63 tahun. Pekerjaannya pemulung. Ia mengumpulkan botol-botol plastik, kardus-kardus, atau kaleng-kaleng untuk dijual kembali. Terkadang ia menjual jasa memotong rumput di pekarangan seseorang.


Untuk menambah energi di tengah-tengah pekerjaan kasarnya, kakek Suroto gemar mengkonsumsi teh manis. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab penyakit kencing manisnya.

__ADS_1


Luka-luka kecil di kakinya yang kadang terjadi di tengah pekerjaannya, tidak ia pedulikan. Tanpa ia sadari, luka tersebut makin membesar dan mengalami infeksi akibat dari gula darahnya yang tidak terkontrol. Ia baru memeriksakan diri ke puskesmas karena nyeri yang tidak tertahankan ketika kakinya sudah membengkak dan berubah warna menjadi kehitaman.


Betapa kagetnya kakek Suroto ketika ia harus dirujuk oleh puskesmas ke RSUD karena kakinya tidak lagi bisa diobati dan memerlukan tindakan amputasi. Ternyata kondisinya tergolong berbahaya dan memerlukan penanganan segera.


Untunglah kakek Suroto memiliki Kartu Indonesia Sehat. Ia tidak perlu memikirkan biaya operasi dan perawatan di RS karena akan ditanggung pemerintah.


Operasi amputasi dan tindakan debridement sudah dilakukan dua hari yang lalu (noted: debridement adalah pengangkatan jaringan atau bagian tubuh yang mati ). Sekarang kakek Suroto sedang mendapatkan perawatan luka pascaoperasi dan pengontrolan kadar gula darah. Ia dipantau oleh dua orang dokter spesialis, yaitu spesialis bedah dan spesialis penyakit dalam.


Kakek Suroto mengalami depresi karena memikirkan masa depannya. Sebelumnya saja ia sudah bersusah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimana nasibnya sekarang setelah ia diamputasi? Pahit kata saat ini ia termasuk orang cacat.


Sampai di sini James berhenti mencatat. Ia bingung pendekatan apa yang harus ia lakukan? Ia tahu betul bagaimana sulitnya mencari pekerjaan, karena ia sendiri pernah mengalaminya. Kalau sekedar mengucapkan kata-kata dukungan yang manis dan kosong, itu cukup mudah. Tetapi ia tidak yakin hal tersebut cukup berguna untuk kakek Suroto.


James pun beralih ke kasus selanjutnya. Nenek Farida, 72 tahun, yang menderita kanker usus stadium empat. Awalnya, nenek Farida datang dengan keluhan sakit perut, diare, dan lemas yang berkepanjangan. Setelah diteliti lebih lanjut oleh dokter puskesmas, barulah disadari bahwa nenek Farida mengalami pendarahan saluran cerna berupa tinja yang berwarna kehitaman. Sang Nenek pun dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.


Dokter penanggung jawab RSUD yang merawat nenek, menuliskan diagnosa nenek sebagai Ca Colon stadium empat dengan metastasis paru. Kalimat ini pun berhasil dicatat James dengan bantuan perawat bangsal Flamboyan.


Setelah ia mencari tahu lewat google, kalimat tersebut berarti bahwa nenek Farida menderita kanker di bagian usus besar yang disebut Colon dan sudah menyebar sampai ke paru. Stadium empat dalam tahapan kanker merupakan stadium terakhir yang biasanya memiliki tingkat kesembuhan sangat kecil.


Sedangkan kemoterapi adalah salah satu cara pengobatan kanker dengan cara membunuh sel-sel kanker dengan pemberian obat-obatan. Kemoterapi ini ternyata dapat memberikan efek samping yang lumayan mengganggu pasien, dari rambut rontok, mulut kering, sampai rasa mual dan muntah yang menurunkan nafsu makan pasien.


Melihat kondisi nenek Farida yang sudah lemah inilah, yang membuat keluarganya memilih menyerah dan menolak kemoterapi yang disarankan dokter. Belum lagi persentase keberhasilan kemoterapi yang tidak terlalu tinggi.


Sampai saat ini, keluarga belum menceritakan penyakit yang diderita nenek kepada yang bersangkutan. Mereka takut kondisi nenek semakin menurun akibat tidak dapat menerima kenyataan. Perawatan yang dilakukan di RS sejauh ini hanya untuk perbaikan kondisi nenek secara umum, bukan untuk penyembuhan penyakitnya.


Kembali James termenung dan menghentikan tulisannya. Satu kondisi dilematis kembali harus ia hadapi. Apakah dibenarkan menyembunyikan kenyataan dari pasien yang bersangkutan? Apakah dibenarkan keluarganya yang memilih keputusan yang menyangkut hidup dari pasien itu sendiri? James bingung bagaimana harus menjawabnya.


James lalu meninggalkan kasus nenek Farida dan melanjutkan ke kasus terakhir, yaitu kasus tuan Herman. Dari semua kasus yang ia terima hari ini, kasus inilah yang ia rasakan paling mudah baginya. Selain penyakit stroke adalah penyakit yang paling ia pahami, ia juga sudah banyak mendapatkan masukan dari cerita Celine ketika ia merawat ayahnya. Setidaknya ia sudah tahu hal-hal apa yang bisa ia katakan pada tuan Herman untuk membangkitkan semangatnya.


Sampai di sini James menutup buku tulisnya. Masih banyak hal yang harus ia pikirkan. Tidak mudah menemukan jawaban dalam permasalahan kehidupan.


Ia kembali berkaca pada hidupnya. Ketika ia terfokus pada masalahnya, ia depresi dan merasa dirinya adalah orang paling malang dan paling tak berpengharapan sedunia. Tetapi sekarang ketika ia melihat pasien-pasiennya, ternyata masih banyak masalah lain yang jauh lebih berat daripada permasalahan yang pernah ia alami.


James menutup mata dan menghela napasnya. Mungkin ini waktunya ia menjadi bagian dari orang-orang yang diberi kesempatan untuk meringankan beban di hati mereka.


Berikan aku hikmat, God ... agar aku tahu, apa yang harus kukatakan untuk membantu pasien-pasien yang Engkau percayakan padaku ... doa James dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2