Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Istirahat kedua, Clarissa dan beberapa anggota OSIS lain membawa sekumpulan anak menghadap James di ruang guru.


"Ketua OSIS, ada apa ini?" tanya James tidak mengerti.


"Ini siswi-siswi yang mengerjai Bapak selama ini," kata Clarissa dengan senyum bangga.


James memperhatikan kumpulan siswi yang ada di depannya. Jumlahnya ada sekitar delapan anak. Tiga di antaranya adalah anggota OSIS, termasuk Clarissa. Lima anak yang lainnya terlihat ketakutan dan menundukkan kepala. Jelaslah kelima anak ini yang dimaksud sebagai para pelaku oleh Clarissa.


James menghela napas. "Ayo kita bicarakan lebih lanjut di ruang BK! Di sini selain menarik perhatian, kalian juga mengganggu ruang gerak para guru."


Lalu berpindahlah kumpulan siswi tersebut mengikuti James yang berjalan paling depan.


Setelah masuk ke ruang BK dan duduk di kursi kebesarannya, James memulai sidang.


"Coba tolong kamu jelaskan lebih detail lagi, bagaimana duduk perkaranya!" kata James pada Clarissa.


Clarissa lalu menceritakan kejadian di toilet dan memutar rekaman di HP-nya.


"Jadi bagaimana kalau kita panggil Priscillia dan teman-temannya sekalian, Pak? Biar semuanya jelas," usul Clarissa.


"Yah, panggillah!" kata James sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Ia memang berharap kebenaran akan terbuka. Tapi menghadapi kenyataan bahwa dirinya benar-benar ditargetkan sekian kelompok siswi, ternyata cukup membebani dirinya. Sebelumnya Geng Princess, sekarang muncul Princess Lovers. Entah berikutnya akan muncul Princess apa lagi.


Mendapat izin dari James, Clarissa segera meminta kedua anggota OSIS lainnya untuk memanggil Priscillia dan teman-temannya ke ruang BK. Dadanya berdebar karena kesempatan yang begitu lama ditunggunya tiba. Kali ini ia yakin, Priscillia tidak akan semudah itu meloloskan diri.


Tidak lama kemudian, Geng Princess memasuki ruang BK. Hampir semua memasang wajah bingung, seperti tidak mengerti apa yg menyebabkan mereka dipanggil. Hanya Priscillia yang dapat menyembunyikan kebingungannya dengan baik, walaupun itu pun masih terlihat dalam pengamatan James.


"Rebecca, sebelum kita mulai, bisakah saya minta kesediaanmu untuk bersikap tenang? Jangan bicara atau menyanggah sebelum dipersilakan berbicara! Agar pembicaraan dan urusan bisa kita selesaikan secepatnya. Bisa?" tanya James pada Rebecca.


Dengan ragu-ragu dan agak bingung, sambil melihat ke arah teman-temannya, akhirnya Rebecca menjawab, "Diusahakan sebisanya, Pak."


"Bagus! Bantu kontrol Rebecca ya, Priscillia!"

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Priscillia pendek.


"Oke, karena semua yang terlibat sudah berkumpul, ada baiknya dengarkan ini dulu. Tolong rekamannya diputar lagi, Clarissa!" pinta James.


Clarissa dengan semangat kembali memutar rekaman dari HP-nya. Kelima siswi pelaku yang mengaku sebagai Princess Lovers hanya bisa menundukkan kepala dan semakin terlihat ketakutan. Sedangkan Geng Princess mendengarkan rekaman dengan seksama. Rebecca bahkan sudah terlihat gusar sepanjang rekaman masih diputar.


Setelah rekaman selesai diperdengarkan, James bertanya, "Jadi bagaimana Geng Princess? Apa tanggapan kalian?"


Rebecca sudah mulai mau membuka mulutnya, tapi dihentikan oleh semuanya. Lalu terdengar Priscillia berkata ke teman-temannya, "Boleh aku yang mewakili kita semua? Biar jawaban kita tidak terpecah dan makin meruwetkan keadaan. Jika ada yang tidak setuju dengan jawabanku, baru kalian sanggah. Setuju?"


Terlihat Sharon, Cecilia, dan Rebecca mengangguk. Mereka mempercayai Priscillia mewakili mereka.


Lalu Priscillia kembali menghadap James dan berkata, "Tanggapan kami sederhana, kami tidak tahu-menahu soal ini."


"Kalian kenal mereka?" tanya James sambil menunjuk kelima siswi tersebut.


"Ya, mereka adik kelas kami. Mereka sering menyapa kami ketika kami berpapasan."


"Hanya sebatas itu? Bagaimana dengan istilah Princess Lovers tadi? Tak ada hubungan dengan Geng Princess kalian?" tanya James tajam.


Mendengar jawaban Priscillia, ada salah satu dari kelima siswi tersebut yang menengadahkan kepalanya dan melihat Priscillia dengan raut wajah kecewa.


James yang melihat kejadian tersebut, langsung cepat menanggapinya. Ia menunjuk siswa yang menengadahkan kepalanya tadi untuk berbicara.


"Kamu, sebutkan nama dan kelasmu! Lalu tanggapi kejadian ini!" ucap James.


Masih dengan agak ketakutan, siswi itu menjawab, "Na-nama sa-saya Vivian, ke-kelas X IPS. Sa-saya ketua Princess Lovers. Ka-kami adalah orang-orang yang mengagumi Geng Princess, terutama Lady Priscillia."


"Jadi, apakah Geng Princess atau Lady Priscillia khususnya yang meminta/memerintahkan kalian melakukan ini pada saya? Jawab dengan jujur," tanya James.


"Ti-tidak, Pak," jawab Vivian sambil melirik Geng Princess.

__ADS_1


"Jangan takut. Bicara apa adanya. Kenapa kamu harus melirik ke arah Geng Princess seperti itu? Apakah mereka mengancammu jika kamu kerkata jujur kalau mereka yang mendalangi semua ini?" James kembali bertanya dengan melembutkan suaranya.


"Tidak, Pak! Saya berkata jujur! Para senior tidak menyuruh kami! Kami melakukannya atas inisiatif kami sendiri. Saya! Saya yang memberikan ide ini kepada teman-teman saya! " jawab Vivian lurus memandang James.


James tertegun. Keempat teman lainnya juga mengangkat wajah mereka memandang ketua mereka.


"Mengapa kamu tiba-tiba jadi berubah tegas dan mengorbankan diri seperti ini? Tadi saja kamu sempat takut-takut menjawab sambil melirik ke arah Geng Princess. Segitu takutnyakah kamu mengakui bahwa mereka yang menyuruhmu, sampai kamu memaksa diri bersandiwara seperti ini?" selidik James.


"Tidak, Pak. Saya tadi takut karena saya sudah menyeret senior ke sini karena kelakuan saya. Saya takut senior jadi membenci saya. Walaupun tadi saya sempat kecewa karena sepertinya Lady Priscillia tidak terlalu memperhatikan kami, tapi saya lebih takut kalau senior disalahkan karena sesuatu yang tidak mereka lakukan. Dan sebagai ketua Princess lovers, saya siap bertanggung jawab atas perbuatan yang kami lakukan sendiri!" jawab Vivian tegas.


"Jadi, siapa di antara kalian yang menabrak saya di kantin dan menempelkan kertas di punggung saya?" tanya James pada Geng Princess Lovers.


"Sa-saya." Seorang siswi di antara keempat anggota Princess Lovers mengangkat tangannya.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya James pada siswi itu.


"T-tak ada, Pak. I-ini ide kami sendiri, sesuai yang Vivian katakan," jawab siswi itu.


"Mengapa kalian melakukannya?"


"Ini wujud dukungan kami kepada Geng Princess, Pak." Kembali Vivian mewakili kelompoknya.


"Dukungan? Maksudnya bagaimana? Apakah Geng Princess pernah menyatakan perang terhadap saya dan meminta dukungan?"


"Bukan begitu, Pak. Selama ini kami mendengar rumor ada guru-guru yang dipilih Geng Princess untuk dikerjai. Tapi kami tidak pernah melihat buktinya langsung. Karena ada kejadian Nona Sharon menyiram Bapak, itu bukti pernyataan perang terbuka, Pak! Bapak adalah guru yang sudah mengganggu Lady Priscillia kami!" jawab Vivian tegas.


Mendengar itu, semua mata langsung menuju pada Sharon. Priscillia menepuk jidatnya. Rebecca sudah mau menghardik anak tersebut, tapi kembali ia ditahan oleh anggota Geng Princess yang lain.


"Sharon, silakan tanggapi." James memberikan kesempatan kepada Sharon untuk menjelaskan.


"Kamu salah, Dek. Itu murni kecelakaan. Saya bukan melakukannya sebagai pernyataan perang terhadap Pak James," jawab Sharon.

__ADS_1


Kelima anggota Geng Princess Lovers, terutama Vivian jadi melongo.


...****************...


__ADS_2