
Akhir bulan sudah tiba. Waktunya bagi James untuk menghadap tuan Adipratama dan memenuhi janjinya. Walaupun jawabannya sudah jelas dan mereka sudah jadian hampir satu bulan, ia tetap merasa wajib menyampaikan sendiri hal tersebut pada papanya Celine. Untuk itu lah Sabtu ini, gantian James yang menuju kota asal Celine dengan menggunakan pesawat.
Celine menjemput James di bandara. Kemudian mereka makan siang terlebih dahulu. Setelah itu, baru lah mereka bersama-sama menuju kediaman Adipratama.
Seperti sebelumnya, kedatangan mereka sudah ditunggu tuan Adipratama. Mbok Yani mengantarkan keduanya sampai ke ruang tamu. Ketika mereka masuk, tuan Adipratama sudah duduk di sofanya. Mereka pun mengucapkan salam kepada orang tua itu.
"Silakan duduk, " kata Tuan Adipratama. James dan Celine lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan papanya Celine.
"Celine, Papa mau bicara dengan pemuda ini. Kamu bisa keluar dulu? Mungkin menemani Mbok Yani menyiapkan minuman dan makanan ringan?" ujar Papa Celine.
"Celine boleh di sini aja, Pa?" Celine balik bertanya. Bagaimanapun, ia juga ingin tahu apa yang akan papanya bicarakan pada kekasihnya.
"Silakan. Asalkan, jangan bicara sebelum diizinkan bicara! Setuju?" Tuan Adipratama mengajukan syaratnya.
"Setuju, " jawab Celine tegas.
"Baiklah. Jadi apa keputusanmu, Anak Muda?" Tanpa basa-basi Tuan Adipratama langsung bertanya pada James.
"Jujur saja, saya sudah menjalin hubungan dengan Celine sebulan ini, Om. Dengan demikian, jelas lah kalau saya tidak ingin kekasih saya ditunangkan lagi dengan orang lain, " jawab James tegas.
"Hmm .... Memang seserius apa hubunganmu dengan putri saya?"
Celine sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Namun, ia juga penasaran dengan jawaban yang akan diberikan James.
"Seserius sampai akan dibawa ke jenjang pernikahan, Om." James menjawab dengan pandangan lurus kepada Tuan Adipratama. Celine tersipu mendengar jawaban James tersebut.
"Bagus! Rencanamu apa?" tanya Tuan Adipratama lagi.
Kali ini James tertegun. Ia belum memikirkan sedetail itu. Mereka pun belum pernah membahas rencana masa depan mereka sama sekali.
"Jujur, kami belum membahas sedetail itu, Om." James menjawab sambil melirik Celine.
"Baiklah. Akan saya bantu agar rencanamu makin tertata. Kamu jawab saja sesuai pendapatmu pribadi. Celine, biarkan pemuda ini yang menjawab! Jangan disanggah meskipun kamu tidak setuju dengan pendapatnya! Mengerti?" tanya Tuan Adipratama.
"Mengerti, Pa, " jawab Celine. Ia hanya bisa melirik James dengan cemas.
"Kapan kamu berencana menikahi Celine?" tanya Tuan Adipratama pada James.
"Mungkin dua atau tiga tahun lagi, Om. Paling telat lima tahun lagi. Karena Celine pun saat ini baru berusia 21 tahun, " jawab James.
"Di mana kalian akan berdomisili setelah menikah?" tanya Tuan Adipratama lagi.
"Sebagai laki-laki, tentu saja saya inginnya Celine yang mengikuti saya tinggal di kota saya kelak. Tapi saya juga mengerti, ia akan menjadi pewaris perusahaan besar yang ada di kota ini. Jadi, nanti kami akan membicarakannya lebih lanjut."
"Hmmm .... Kalian memang harus membicarakannya dengan jelas dari awal. Karena percuma saja kalian berhubungan, kalau pada akhirnya tidak ada yang mau mengalah karena mementingkan karir masing-masing. Banyak pasangan yang putus karena masalah ini." Tuan Adipratama memberi nasihat.
James mengangguk tanda setuju. Setelah dibukakan seperti ini, ia baru sadar kalau topik tersebut nantinya akan menjadi perdebatan yang sengit antara dirinya dan Celine. Dengan posisi Celine dan perjuangannya selama ini, sulit rasanya meminta Celine mengalah untuk mengikutinya.
Tetapi, bagaimana dengan egonya sebagai laki-laki? Bagaimana dengan pekerjaannya? Haruskah ia yang mengalah dan memulai karir baru di kota ini? Jujur, ia belum siap untuk melepas semua yang ada padanya sekarang ini.
"Jadi, dalam rentang waktu kalian pacaran sampai menikah, tidak ada kah yang ingin kamu lakukan untuk memperkokoh ikatan kalian?" Kembali Tuan Adipratama mengajukan pertanyaannya.
"Maksudnya Om?" tanya James tidak mengerti.
"Kamu tidak ada rencana untuk mengadakan lamaran atau pertunangan lebih dahulu? Seperti yang saya pernah katakan sebelumnya, banyak dari antara pengusaha yang berlomba-lomba untuk mengikat Celine agar menjadi bagian dari keluarga mereka. Bagaimana dengan kamu? Masa kamu menunjukkan keseriusanmu dengan menggantung putri saya hanya di tahap pacaran saja?" sindir Tuan Adipratama.
__ADS_1
James menelan ludahnya. Topiknya makin sulit. Jujur saja, hal ini tidak bisa ia jawab sendiri. Yang ia ketahui jika sudah menyangkut masalah lamaran atau pertunangan, orang tua sudah harus ikut campur tangan. Dan ia belum membahas masalah ini dengan kedua orang tuanya.
"Sepulang dari sini, saya akan membicarakannya dengan orang tua saya, Om, " jawab James akhirnya.
"Targetmu pribadi?"
"Enam bulan sampai dengan satu tahun ke depan, Om."
"Baik. Bagaimana rencanamu setelah ini? Langsung pulang hari ini juga seperti dulu, atau mau menginap?" Tuan Adipratama mengganti topiknya.
Tanpa sadar James menghela napas lega. Topik yang sulit sudah berlalu.
"Setelah ini, saya akan mencari hotel yang dekat-dekat sini, Om. Besok baru saya akan kembali ke kota saya, " jawabnya.
"Tidak usah. Menginap di sini saja. Di sini banyak kamar kosong. Mbok Yani, tolong antarkan pemuda ini ke kamar tamu!" pinta Tuan Adipratama pada Mbok Yani yang dari tadi berdiri di belakang tuan Adipratama.
"Baik, Tuan, " jawab Mbok Yani.
"Ikutlah dengan mbok Yani ke kamarmu dan beristirahat lah! Kita bertemu nanti saat makan malam, " ujar Tuan Adipratama pada James.
"Mari, Nak James. Silakan mengikuti Mbok, " ajak Mbok Yani.
"Celine ikut mengantar Bang James ya, Papa ..." izin Celine sambil bangkit berdiri.
"Ya. Antar lah, " sahut Tuan Adipratama memberikan izinnya.
James pun ikut bangkit berdiri. "Permisi, Om ..." pamit James.
"Ya. Silakan, " jawab Tuan Adipratama.
Mereka bertiga pun keluar dari ruang tamu menuju kamar tidur tamu di mana James akan berbaring malam ini.
...****************...
Ia sedang membaringkan dirinya di kasur yang empuk, yang ia yakini memiliki harga sampai puluhan juta rupiah. Dari tadi matanya sudah mengitari kamar tidur yang luasnya hampir tiga kali luas kamarnya di rumah.
Kamar ini dilengkapi dengan kamar mandi dalam dan fasilitas interior yang cukup lengkap, seperti TV, sofa, dan sebuah kulkas kecil. Pokoknya keadaan dan desainnya sudah persis sebuah kamar hotel bintang lima.
Ia menghela napas. Dirinya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. Rasa rendah dirinya masih meronta-meronta menyita perhatian otaknya, walaupun sudah berulang kali ia usir dari dalam kepalanya.
James beranjak dari tempat tidurnya. Percuma mencoba tidur dengan pikiran seperti ini. Lebih baik ia menyiram kepalanya dan membiarkan air dingin membasuh pikirannya.
Sekitar pukul enam sore, kamarnya diketuk orang.
"Bang James ...." Terdengar suara Celine memanggil namanya dari balik pintu.
James membuka pintu kamarnya, mempersilakan Celine masuk. Tanpa ragu, Celine segera nyelonong dan duduk di sofa terdekat.
"Gimana? Bang James nyaman dengan kamar ini? Sempat tidur?" tanya Celine.
James tersenyum melihat perhatian kekasihnya.
"Nyaman kok, Lin .... Tapi tadi Bang James belum sempat tidur. Biasa .... Kalau ranjang baru, agak susah kalo mau tidur. Soalnya belum kenal. Nanti malam deh, kami kenalan lagi, " jawabnya sambil nyengir.
Celine balas tersenyum. Ia tahu James tidak ingin membuatnya khawatir. Ia pun melanjutkan tujuan pembicaraannya.
__ADS_1
"Ya sudah ... kita ke ruang makan yuk. Sudah waktunya makan malam. Papa sudah menunggu di sana, " ajak Celine.
James pun mengangguk, lalu menggandeng tangan Celine. Mereka menuruni tangga dan menuju ruang makan yang terletak di lantai satu.
Di ruang makan, nampak meja panjang seperti yang ada di rumah-rumah keluarga bangsawan dalam cerita atau TV. Tuan Adipratama duduk di kursi paling ujung meja. Di belakangnya, tampak mbok Yani berdiri dengan kondisi siap siaga.
"Sore, Om .... Sore, Mbok ..." sapa James.
"Sore, Nak James ..." balas Mbok Yani sambil tersenyum.
"Sore .... Silakan duduk." Tuan Adipratama pun membalas sapaan James.
James mengambil posisi di kursi yang berada di sebelah kanan tuan Adipratama, sedangkan Celine duduk di kursi yang ada di sebelah kiri papanya.
"Sudah boleh dihidangkan, Tuan?" tanya Mbok Yani.
"Ya. Tolong yah, Mbok, " jawab Tuan Adipratama.
Prok Prok !! Mbok Yani menepuk tangannya dua kali.
Setelah itu, datang pelayan mendorong sebuah meja kecil beroda. Di atas meja tersebut nampak beberapa hidangan yang masih tertutup dengan penutup makanan. Di belakang pelayan tersebut, mengekor seorang laki-laki yang sepertinya adalah Sang Chef, jika dilihat dari seragamnya.
Pelayan itu menghidangkan sebuah piring berisi sayur-sayuran segar di depan tuan Adipratama, Celine, dan James secara bergiliran. Setelah terhidang, Sang Chef tersebut memperkenalkan menu pilihannya.
"Appetizer yang saya pilih hari ini adalah Caesar Salad with salt and pepper calamari. Silakan dicoba .... Semoga sesuai selera, " katanya.
"Silakan disantap makanannya. Jangan malu-malu, " ujar Tuan Adipratama kepada James. Ia lalu mengambil garpu yang sudah terletak di depannya dan menyuapkan sayuran hijau tersebut ke dalam mulutnya.
"Iya, Om. Terima kasih, " jawab James canggung. Ia hanya bisa terdiam melihat makanan di depannya. Ia tahu makanan di depannya ini termasuk salad sayur. Tetapi ia baru tahu ternyata makanan ini memiliki nama panjang yang bisa bikin lidah keserimpet.
Ia melirik Celine yang ternyata juga sedang meliriknya dengan tatapan cemas. Celine hanya bisa menganggukkan kepala kepadanya sambil tersenyum canggung, memberi kode agar James menyantap makanannya. James pun akhirnya ikut mengangkat garpunya dan menyantap makanan rerumputan tersebut.
Setelah piring salad ketiga orang ini kosong, datang pelayan mengangkat piring kotor tersebut dan menggantinya dengan hidangan lain.
"Untuk Main Course, saya memilih Corn Fed Chicken Breast with Pickled Ginger Gravy and Sticky Rice." Kembali Chef tersebut memperkenalkan menu selanjutnya.
Kembali James terbengong mendengar nama ajaib seperti itu. Yang ia tahu, ini olahan daging ayam yang entah dimasak apa.
Rasa rendah dirinya kembali membuncah. Apakah setiap hari Celine menikmati makanan seperti ini? Terlihat sekali perbedaan status mereka hanya dari menu makanan yang mereka santap. James tahu tipe-tipe menu seperti ini hanya ada di restoran kelas atas. Bandingkan dengan dirinya yang selama ini hanya membeli makanan rakyat seperti seblak atau pecel lele.
Kembali James mengetatkan rahangnya. Bukankah ia sudah memilih berjuang? Mengapa ia masih merisaukan hal ini? Bukan kah Celine dan ayahnya tidak pernah menyindir perbedaan status di antara mereka? Jadi, kenapa ia harus minder? James memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Sebagai Dessert, saya memilih Glazed Lemon Tart yang tidak terlalu manis, namun tetap memberikan rasa segar di mulut." Sang Chef mempromosikan pilihan menu terakhirnya sebagai hidangan penutup.
Semua menikmati sajian tersebut dalam diam. Sampai akhirnya setelah selesai makan, tuan Adipratama menyeka mulutnya dengan serbet dan berkata, "Terima kasih atas pilihan menunya, Chef."
Sang Koki pun tersenyum puas, lalu memberi hormat dan mengundurkan diri meninggalkan ruang makan. Seorang pelayan kembali memasuki ruang makan dengan mendorong meja kecil beroda. Ia kemudian mengangkut piring-piring kotor yang ada di atas meja, lalu keluar ruangan.
"Bagaimana makanannya? Apakah cocok dengan seleramu?" tanya Tuan Adipratama kepada James.
"Ya. Makanannya enak, Om, " sahut James sambil tersenyum kecut.
"Bagus lah kalau begitu, " jawab Tuan Adipratama.
Maaf, Om. Saya berbohong. Sejujurnya, saya tidak ingat lagi rasa makanan yang tadi saya makan. Makanan itu hanya sekedar lewat saja di mulut, kata James dalam hati.
__ADS_1
Ia sungguh tidak dapat menikmati makan malam barusan. Baik dari segi suasana, maupun dari segi hidangannya. Ia terlalu asing dengan semua itu. Bisa kah dirinya mengimbangi Celine? Bisa kah suatu saat ia akan terbiasa dengan semua ini? Jujur, saat ini ia tidak percaya diri untuk menjawabnya.
...****************...