
Beberapa bulan sudah berlalu, masa jabatan sebagai guru BK pengganti pun usai. Bu Yeni sudah menghabiskan cuti melahirkannya dan siap mengemban kembali tugasnya.
James kembali menjadi pengangguran. Tetapi kali ini setidaknya ia sudah memperoleh pengalaman kerja dan memiliki Surat Rekomendasi Kerja yang akan sangat membantu dalam pencarian kerja berikutnya.
Selama menunggu adanya panggilan kerja, James jadi memiliki banyak waktu untuk menemani Celine. Ia memberikan fokus penuh untuk mengatur materi belajar Celine kembali.
Tetapi, tentu saja hanya sampai di situ kontribusinya. Waktu Celine bersama Alex dan furry tidak dapat ia tembus. Ada kejengahan yang ia rasakan ketika berada di antara Alex dan Celine.
Mata Celine kerap berbinar-binar ketika Alex tiba di rumah ataupun sedang bersama dengannya. Pipi Celine sering bersemu merah ketika Alex menggodanya.
Hal-hal tersebut semakin memperkuat dugaan James tentang perasaan Celine. James hanya bisa diam memperhatikan Celine dari jauh, dengan perasaan cemas bercampur pedih.
Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah tetap dengan komitmennya menjaga Celine dan mengurus pendidikannya. Mengenai perkembangan psikososial Celine, sepertinya sudah bisa ia lepas. Celine sudah hampir seperti anak remaja pada umumnya, yang memiliki sifat pemalu tapi dalam tahap wajar.
Karena itu, ia jadi sering mampir ke toko buku atau perpustakaan kota. Terkadang, jika jam pelajaran Celine sedang kosong, Celine ikut menemani James, karena membaca memang salah satu hobi Celine.
Seperti sore ini misalnya. Karena Mama Ratna ada jadwal mengajar, dan baik Papa Heru maupun Alex belum ada yang pulang, Celine jadi memiliki jam kosong. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, James dan Celine memutuskan untuk pergi ke toko buku yang berada di dalam sebuah mal. Sekalian cuci mata maksudnya.
Sesampainya di toko buku, James segera mengarah ke area buku-buku jurusan bahasa materi kelas X dan XI sebagai rekomendasi materi belajar Celine di rumah. Sedangkan Celine, mengikutinya dari belakang sambil matanya melihat-lihat buku-buku di sekitarnya.
Ketika sedang membanding-bandingkan buku yang hendak dibeli sebagai latihan soal Celine, Celine berkata pada James, "Bang, Celine lihat-lihat sendiri, boleh?"
"Boleh. Tapi jangan sampai keluar toko buku yah .... Biar nyarinya ga susah, " jawab James.
"Iya, " jawab Celine ringan. Ia lalu segera melangkahkan kakinya melihat-lihat rak buku di sekitarnya.
Ketika sudah memutuskan buku-buku yang ingin dibeli, James memperhatikan sekeliling untuk mencari keberadaan Celine. Ternyata Celine berada di area novel. Terlihat ia sedang melihat-lihat novel sambil membaca beberapa ringkasan cerita yang terdapat di belakang buku. James pun berjalan menghampirinya.
"Menemukan sesuatu yang menarik?" tanya James setelah tiba di dekat Celine.
"Iya, " jawab Celine pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dipegangnya.
Karena penasaran, James mengintip buku yang dipegang Celine. Ternyata buku tersebut adalah novel berbahasa Inggris.
__ADS_1
James hanya bisa tersenyum kecut melihatnya. Ia memang sudah tahu kemampuan Bahasa Inggris Celine berkembang dengan sangat baik. Tetapi, kalau sudah sampai membaca novel Inggris yang tebalnya amit-amit, jelas kemampuan Inggris Celine sudah berada cukup jauh di atasnya.
"Mau beli?" tawar James.
"Boleh?" Celine balik bertanya.
"Boleh. Bang James bawa uang lebih kok. Tapi satu aja yah ..." jawab James yang agak kecut hatinya melihat harga buku yang lumayan mahal untuk sebuah novel.
Celine pun memilih-milih buku yang hendak ia beli, sampai akhirnya ia menyerahkan sebuah buku ke tangan James untuk dibayar bersamaan dengan buku yang hendak dibeli James.
Setelah membayar, James melihat jam tangannya. Pukul 17.20. Masih ada waktu sebelum pulang ke rumah. Keluarganya memang membiasakan diri selambat-lambatnya sudah berada di rumah sebelum pukul 18.00, kecuali jika memang terhalang dengan adanya kepentingan lain.
"Celine sudah mau pulang atau masih mau jalan-jalan?" tanya James.
"Jalan-jalan aja yah ..." jawab Celine.
"Mau nongkrong sambil ngemil sesuatu?"
"Gas!" jawab James sambil tersenyum.
Mereka pun membeli es di sebuah stan es krim, lalu duduk menikmati es yang sudah dibeli di kursi yang sudah disediakan di depan stan.
Setelah habis, James bertanya pada Celine, "ready to go home ?"
"Gas!" jawab Celine sambil nyengir, mengikuti gaya James sebelumnya.
"Sudah pintar bales yah ..." sahut James sambil mengacak-ngacak rambut Celine dengan gemas.
"Sudah dong .... Siapa dulu gurunya?" balas Celine.
Lalu mereka berdua pun beranjak dari tempat duduk mereka sambil tertawa.
Di tengah perjalanan menuju pintu keluar mal, tiba-tiba James melihat Alex sedang berjalan bersama dengan seorang wanita yang kemungkinan besar pacarnya, jika dilihat dari sikapnya.
__ADS_1
Refleks James segera berbalik badan menutupi arah pandangan Celine, supaya Celine tidak melihat Alex. Celine yang tidak siap dengan gerakan James, jadi menabrak James.
"Aduh! Bang James kenapa?" tanyanya sambil mengusap-usap dahinya yang menabrak dada James.
"Maaf, Lin .... Bentar yah ..." kata James sambil menggiring Celine berbelok, menjauhi arah yang kemungkinan dituju oleh Alex dan wanita itu.
Setelah berbelok, James menyandarkan badannya di tembok yang membelakangi jalan yang ditempuh Alex tadi. Ia menunggu Alex berlalu. Ia tegang. Tangannya pun bergetar. Ia hanya bisa berdoa semoga Celine tidak melihat pemandangan tersebut.
Tanpa sadar, selama menunggu Alex berlalu, tangan James merengkuh kepala Celine di dadanya. Ia menunggu detik demi detik berlalu dalam ketegangan.
Sampai entah detik atau menit yang ke berapa, ia baru disadarkan dengan posisi mereka ketika mendengar Celine berkata dari dalam pelukannya, "Bang James sakit? Jantung Abang detaknya cepat sekali lho ...."
Sontak James segera melepaskan pelukannya dan melihat wajah Sang Gadis yang masih menatapnya dengan rasa khawatir.
"Bang James dadanya sakit?" tanyanya lagi.
Secepat mungkin James segera mengatur nalar dan perasaannya kembali. Ia tersenyum untuk menenangkan gadis di depannya.
"Iya. Tadi sempat dadanya sakit bentar. Mungkin tadi kecepetan makan es nya. Tapi sekarang Bang James uda gapapa kok. Makasih ya, sudah mengkhawatirkan Bang James, " katanya sambil mengelus kepala Celine.
Sebagai jawaban, Celine hanya tersenyum dengan sedikit perasaan ragu yang masih terlihat jelas di wajahnya. Matanya terus memperhatikan raut wajah James, mencari ada kah kebohongan di sana.
"Bener kok. Udah sehat. Yuk, kita pulang yuk! " kata James mencoba bersikap seperti biasa.
Celine hanya mengangguk pelan lalu mengikuti James.
Walaupun dari luar James tampak bersikap seperti biasa, perasaannya di dalam campur aduk tidak karuan. Ia bersyukur, sepertinya usahanya menghalangi pandangan Celine berhasil.
Namun di sisi lain, ia juga menyadari satu kenyataan pahit yang harus ia terima. Sikap Celine ketika berada di pelukannya berbeda dengan sikap Celine ketika tidak sengaja berada di pelukan Alex saat kejadian di taman.
Mungkin aku lah yang hanya dianggap sebatas abang ! batinnya.
...****************...
__ADS_1