Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Terpisah


__ADS_3

James dan timnya memilih mencari Cindy ke tempat air terjun, sesuai dengan kabar terakhir di mana ia diketahui berada. Sepanjang pendakian mereka menyerukan nama Cindy, tetapi yang dipanggil tidak menjawab.


Akhirnya sampai lah mereka di air terjun. Suasana di sana sangat sepi. Hanya terdengar suara air mengalir dan bunyi burung di pepohonan yang kembali ke sarangnya. Namun di sana batang hidung Cindy tetap tidak terlihat.


Langit sudah hampir gelap seluruhnya. Dan dengan banyaknya pohon besar di sekitar air terjun, kegelapan makin terasa. Tadi pada saat pendakian saja, mereka sudah harus menggunakan senter untuk memandu mereka melihat jalan setapak.


James melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.17, sudah mendekati batas waktu pencarian yang mereka sepakati.


"Ayo kita kembali!" putus James akhirnya.


"Tapi, Pak ... Cindy ..." keluh Wendy yang masih mengkhawatirkan sahabatnya.


"Kita sudah berusaha sebisanya, Wen .... Kamu juga tadi sudah mendengar jawaban dari bagian pengawas pegunungan dan perkemahan ini, kan? Terlalu berisiko kalau kita lanjutkan pencarian di dalam kegelapan. Kita juga harus memperhatikan keselamatan diri dan teman-teman yang lain, " jelas James.


Mendengar itu, Wendy hanya bisa menundukkan kepala. Ada perasaan kecewa dan sedih dalam dirinya. Tetapi ia juga tidak bisa menyangkal kebenaran perkataan pak James.


"Besok kita cari lagi. Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan melindungi Cindy dan Cindy tetap baik-baik saja, " hibur James.


Wendy menganggukkan kepalanya tanda setuju. Saat itu, tiba-tiba turun tetesan air dari langit.


"Pak, mulai gerimis ...." seru siswi yang lain mengingatkan pak James.


"Ayo, kita kembali ke perkemahan! Percepat langkah kalian! Tapi kalian tetap harus hati-hati, jangan sampai terjatuh karena tanahnya licin!" seru James memberikan instruksi.


"Baik, Pak!" seru para siswi bersamaan.


Maka mulai lah rombongan yang terdiri dari lima orang siswi tersebut menuruni pegunungan. Dengan langkah bergegas, mereka berusaha kembali sebelum gerimis berubah menjadi hujan.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Wendy berusaha mengikuti teman-temannya. Sebetulnya, hatinya masih berat untuk kembali. Ia masih ingin mencari. Tetapi apa daya situasi dan kondisi tidak mendukungnya.


James yang berjaga di paling akhir barisan, berusaha menyemangati murid yang berada di paling belakang karena langkahnya tertinggal dengan teman-temannya itu.


"Cindy pasti selamat. Anak itu cukup tangguh. Kamu tau sendiri kekeraskepalaannya, kan?" ujar James sambil tersenyum.


Wendy memaksakan diri membalas senyuman James. Benar kata Cindy, guru ini hangat dan penuh perhatian. Pantas saja Cindy tergila-gila padanya. Bukannya memarahinya karena langkahnya yang lambat dan berisiko membuatnya kehujanan, Sang Guru malah peduli dengan perasaannya yang masih tidak karuan.


Mereka berdua kembali meneruskan perjalanan mengejar ketertinggalan mereka dengan keempat siswi yang lain. Titik-titik air makin banyak yang turun dari langit. Gerimis sudah nyaris berubah menjadi hujan. Langit sudah gelap sempurna. Dipandu dengan senter, mereka meneruskan langkah dengan penuh kehati-hatian.


Tiba-tiba cahaya senter James tanpa sengaja memantulkan sesuatu yang berkilauan di tengah semak. Hal itu menarik perhatian James. Ia pun memperlambat langkahnya dan mendekati semak tersebut untuk mencari tahu benda apa yang memantulkan cahaya senternya.


Melihat gurunya memperlambat langkahnya, Wendy jadi ikut-ikutan. Ia pun mengekori James dari belakang.


Setelah agak dekat, James baru dapat memastikan bahwa benda berkilauan itu adalah gantungan kunci yang ia berikan pada Cindy. Warna silvernya yang terkena tetesan air hujan, memantulkan sinar senter yang membuatnya terlihat berkilau.


Akhirnya, James mencoba meraih gantungan kunci tersebut. Semak tempat gantungan kunci itu tersangkut berada cukup jauh dengan tanah tempatnya berpijak sekarang. Dan tanah daerah tempat semak itu tertanam, berada di dataran yang menurun tajam.


"Hati-hati, Pak!" seru Wendy cemas.


Baru saja Wendy berkata demikian, sepatu James menginjak tanah yang licin dan membuatnya merosot menuruni dataran tajam tersebut dengan bokongnya.


Sreeekksseksek ssrttt sssrkk sstr sekk Brugh ! Suara gesekan sepatu dan rerumputan memecah kesunyian di tempat itu. Ditutup dengan suara seperti benda berat terjatuh, yang menandakan bokong James sudah menemukan tempatnya berlabuh.


"Pak!!! Pak James!!" seru Wendy dengan penuh kecemasan memanggil nama gurunya dari atas. Pasalnya batang hidung Sang Guru sudah tidak terlihat lagi olehnya.


"Saya gapapa, Wen!!" Terdengar seruan James dari bawah.

__ADS_1


Tidak sampai 1 menit, suara James terdengar lagi, "Wen .... Ternyata Cindy juga ada di sini!! Saya menemukannya!! Ia tidak sadar! Sebentar saya periksa dulu!"


Wendy menunggu dengan harap-harap cemas. Ia bersyukur Cindy sudah ditemukan. Tetapi mendengar kondisinya yang tidak sadar, tak bisa dipungkiri hal tersebut menimbulkan kecemasan baru.


James memeriksa nadi Cindy. Nadinya aman. Cindy juga terlihat masih bernapas seperti biasa. Terlihat luka di dahinya dengan darah yang sudah membeku. Mungkin Cindy sama seperti dirinya, terjatuh ketika berusaha mengambil gantungan kunci. Bedanya, Cindy mengalami benturan di dahinya yang besar kemungkinan menjadi penyebab ia tidak sadar sampai sekarang.


James menepuk-nepuk pipi Cindy berharap bisa menyadarkannya. "Cin ... Cin ... Bangun, Cin .... Sadarlah ...."


Setelah beberapa saat menerima tepukan yang makin lama agak keras, Cindy mulai mengerjapkan matanya. Hal ini membuat James lega.


Setelah Cindy membuka matanya, James mencoba mengajaknya bicara, "Kamu gapapa?"


"Gapapa, Pak, " sahut Cindy dengan wajah yang masih tampak bingung.


James langsung kembali menghadap ke atas dan berseru kepada Wendy yang tidak dilihatnya. "Cindy aman, Wen!!! Kamu segera kembalilah!! Jangan sampai terjebak hujan!!! Tetap hati-hati yah!! Kabarkan kondisi ini kepada guru-guru dan temanmu!! Malam ini gapapa kami di sini dulu demi keamanan kalian!! Cindy akan saya jaga! Besok pagi jangan lupa keluarkan kami dari sini yah!!! Bisa, kan?!!"


Mendengar itu, Wendy bersorak kegirangan. Ia pun membalas seruan James dengan bersemangat, "Bisa, Pak!!! Saya kembali sekarang!! Titip Cindy yah!!!"


"Amannnn!!! Kamu hati-hati yahhh!!" seru James.


"Siyyaapppp, Pakkk!!" balas Wendy. Ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, karena hujan turun semakin deras.


Tinggal lah James dan Cindy berada di bawah dataran yang merosot tajam seperti tebing itu. Angin bertiup semakin kencang, membuat tempat mereka sekarang mulai basah.


Beruntung tempat Cindy pingsan berada di dekat pohon besar yang cukup rindang. Pohon itu sempat menahan tetesan air hujan ketika tadi masih gerimis.


Tetapi sekarang mereka harus pindah dan mencari tempat berteduh yang baru. Tempat di mana mereka bisa melewati malam dengan cukup aman dan nyaman.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2