Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Metodologi Penelitian


__ADS_3

Sudah beberapa bulan ini, perasaan Priscillia tidak tenang. Bayangan wajah pak James yang muram ketika ia menyampaikan kabar bahwa beliau diberhentikan secara resmi dari sekolah, masih membekas dengan jelas di ingatannya. Perasaan bersalah pada mantan gurunya itu masih menghantuinya.


Sejujurnya ia khawatir dengan nasib pak James. Sudahkah mantan gurunya itu menemukan pekerjaan yang baru? Pasalnya ia tidak berani bertanya, karena takut pak James tersinggung. Apalagi setelah tawaran pekerjaan dari Rebecca beliau tolak, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Pak James sendiri sampai detik ini tidak menghubungi salah satu pun dari mereka, untuk dimintai bantuan.


Mungkin kalau dirinya dapat memastikan kalau mantan gurunya itu sudah bekerja lagi, ia akan lebih tenang. Waktu empat bulan sepertinya cukup wajar untuk kembali bertamu dengan alasan bersilaturahmi.


Karena itu, Priscillia segera menghubungi teman-temannya dan mengajak mereka melakukan kunjungan ke tempat pak James bersama. Hal itu langsung mendapat tanggapan positif dari Rebecca dan Sharon. Mereka sepakat hari Sabtu pagi untuk pergi ke sana.


Jumat malamnya, Priscillia mengirim pesan singkat kepada James untuk melaporkan rencana kedatangan mereka. Isi pesannya sederhana, 'Pak, besok pagi Bapak ada di rumah? Kami mau main2 kesana.'


James yang membaca pesan singkat tak terduga itu hanya bisa tertegun, lalu tersenyum. 'Ada. Datang aja. Mau datang paginya jam brapa?' balas James.


'Jam 8 gimana, Pak?'


'Kepagian. Jam 10 aja.'


'Idih .... Bapak ternyata suka bangun siang!'


'Biarin! Mumpung libur kan ga masalah. Ini namanya menikmati hidup, Mbak!'


Priscillia tertawa membaca jawaban Pak James di HP-nya. Dari dulu ia memang tidak pernah bosan kalau beradu mulut dengan gurunya yang ini.


'Oke. Jam 10 ya, Pak! Jangan masih ileran lho! 😂🤣🤣 ' tulis Priscillia lengkap dengan emoticon.


'Ga ileran kok. Cuma muka bantal aja 🤭 ' balas James menggunakan emoticon juga.


Demikianlah percakapan singkat mereka di chat malam itu. Keduanya mengakhiri percakapan dengan senyum simpul yang tertinggal di wajah. Kenangan masa lalu kala SMU menyeruak ingatan mereka masing-masing. Dan hal itu ternyata menjadi kenangan manis saat diingat kembali.


...****************...


Pukul sepuluh kurang, rumah keluarga Wijaya didatangi tiga orang gadis cantik menggunakan kendaraan mobil sport putih. Sopirnya siapa lagi kalau bukan Rebecca.

__ADS_1


Sebenarnya, baik Sharon maupun Priscillia sudah menawarkan mobil keluarga mereka untuk gantian digunakan. Namun Rebecca menolak. Pasalnya kedua mobil tersebut diizinkan untuk digunakan sepaket dengan sopirnya. Ia lebih nyaman mengendarai mobilnya sendiri. Kalau ada apa-apa, bisa lebih gercep (gerak cepat), katanya.


Keluarga Wijaya menyambut mereka dengan hangat. Setelah menyuguhkan makanan dan minuman serta mengobrol sebentar, Papa Heru dan Mama Ratna undur diri agar para anak muda tersebut bisa mengobrol dengan lebih leluasa.


"Tumben sudah rapi dan cakep, Pak .... Ga jadi pasang muka bantalnya?" Priscillia memulai keisengannya, setelah kedua orang tua James pergi. Saat itu, James memang tampak segar dan rapi meskipun hanya mengenakan kaos dan celana jeans.


"Ga jadi. Takut dihina Rebecca lagi. Kemarin uda pake jas lengkap plus dandan dikit aja, masih ga keliatan ganteng sama Rebecca. Gimana kalo pasang muka bantal?" jawab James dengan gaya menyindir.


"Ih .... Pak James ternyata dendaman yah! Kan sudah saya bilang, saya ga menganggap Bapak jelek. Cuma ya emang beda banget ama abangnya Bapak!" sanggah Rebecca.


"Iya. Abangnya ganteng banget, sedangkan adiknya ...." James sengaja menggantung kalimatnya agar diteruskan Rebecca.


"Adiknya mah sebodo amat!" jawab Rebecca lugas, yang membuat James mati kutu. Cetusan Rebecca yang spontan dan mematikan tersebut disambut dengan tawa Sharon dan Priscillia.


Setelah tawa mereka reda, Sharon memulai pembicaraan yang agak serius, yang memang dinanti oleh Priscillia. "Gimana kabar Bapak sekarang? Sudah dapat pekerjaan baru?" tanya gadis pendiam itu.


James tersenyum. "Sudah. Sekarang saya bekerja sebagai konselor di RSUD, " jawab James.


"Iya .... Karena lama tidak mendapat panggilan dari sekolah, saya mencoba memperluas ruang lingkup area kerja saya. Hitung-hitung sekalian cari pengalaman baru, " jawab James sambil tertawa.


Ketiga gadis itu berdecak kagum dengan keputusan yang berani diambil mantan gurunya itu. Kadang tidak mudah bagi seseorang untuk meninggalkan zona nyaman yang selama ini digelutinya.


"Kalau begitu, kebetulan dong, Pris .... Kamu kan lagi cari ide untuk tugas metodologi penelitianmu. Coba kamu konsultasikan dengan Pak James, " usul Rebecca.


"Iya, Pris .... Apalagi fakultasmu ada kerja sama dengan RSUD, kan? Pasti kamu akan dipermudah jika ingin melakukan penelitian!" sambung Sharon.


"Wah .... Cepat sekali kalian sudah mendapatkan mata kuliah metodologi penelitian!" celetuk James.


"Jelas dong, Pak .... Kami kan sudah semester lima!" sahut ketiganya hampir bersamaan.


James hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala, menyadari bahwa waktu cepat sekali berlalu. Anak didiknya yang dulu pernah ia ajar, sekarang sudah setengah jalan menuju kelulusan sebagai mahasiswi.

__ADS_1


"Jadi .... Apa topik atau bidang kedokteran yang kamu minati?" tanya James pada Priscillia.


"Belum tau, Pak. Yang jelas, saya mau mengangkat topik yang jarang dibahas orang. Karenanya saya akan menghindari empat bagian terbesar di dunia kedokteran, yakni Penyakit Dalam, Anak, Bedah, dan Kandungan, " jawab Priscillia.


"Jadi di antara bagian yang agak kecil seperti saraf, THT, mata, kulit, dll., ada yang membuatmu tertarik?" tanya James lagi.


Priscillia agak merenung sebentar. "Saya lebih suka bagian yang dapat menonjolkan sebuah perjuangan dalam kehidupan. Jadi ... untuk THT atau kulit, rasanya kurang pas. Masih lebih mending kasus yang berkaitan dengan saraf, seperti stroke misalnya, " jelas Priscillia lagi.


"Bagian kedokteran yang tidak terlalu besar, namun memperlihatkan perjuangan hidup .... Hmm .... Jika kamu cukup tertarik dengan stroke, kamu tidak hanya bisa membahas dari perjuangan pasien terhadap penyakitnya, tetapi juga bisa dari perjuangan pasien untuk dapat kembali hidup normal atau mandiri. Kamu bisa telaah dari sisi rehabilitasi medisnya.


Atau .... kamu juga bisa membahas perjuangan pasien dalam menghadapi tekanan mental yang mereka alami. Itu juga membutuhkan semangat juang yang tinggi lho. Banyak pasien depresi yang bunuh diri akibat tidak sanggup menghadapi tekanan hidup.


Di RSUD juga ada rehabilitasi narkoba. Kamu juga bisa mengangkat perjuangan mereka yang ingin terlepas dari jerat setan itu, " kata James membuka wawasan Priscillia.


James memang sudah beberapa kali dilibatkan dalam menangani pasien jiwa ataupun pasien yang sedang menjalankan rehabilitasi narkoba. Dan ia baru tahu, kedua bagian itu membutuhkan teknik pendekatan khusus.


Awalnya ia juga takut-takut ketika pertama kali berhadapan dengan orang gila ataupun orang yang sedang ketagihan (sakau). Tetapi ia sadar, mereka juga sedang berjuang dan membutuhkan pertolongan agar bisa kembali ke masyarakat.


Priscillia tertegun melihat banyaknya topik-topik menarik yang dipaparkan mantan gurunya. Ia belum terpikir sampai sana. Ternyata sudut pandang orang yang sudah terjun langsung ke lapangan berbeda jauh dengan dirinya yang sebatas teori, sekalipun dari sisi ilmu, dirinya lah yang langsung bersinggungan dengan dunia medis.


"Akan saya pikirkan, Pak!" kata Priscillia kemudian.


James tersenyum. "Ya. Kabari saja kalau kamu membutuhkan bantuan saya."


"Pasti!" sahut Priscillia sambil tersenyum.


Untuk beberapa saat lamanya, mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap sampai akhirnya ketiga gadis ini pamit pulang. Karena sudah mendekati jam makan siang, ketiganya ditawarkan untuk makan siang bersama di rumah James. Namun dengan halus ketiganya menolak, karena sudah berjanji akan menikmati makan siang dengan keluarga mereka masing-masing.


Setelah para tamu pergi, James dan keluarganya menikmati makan siang bersama. Kemudian, mereka mulai bersiap-siap pergi ke bandara untuk menjemput Celine seperti yang biasanya terjadi di hari Sabtu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2