
Setelah motornya berhenti di tempat parkir, James menghela napas penuh kelegaan. Akhirnya olahraga jantung ini selesai. Ia bersyukur mereka bisa tiba di sini dengan selamat.
Diliriknya Celine yang sudah melompat turun dari boncengannya. Celine sedang membuka helmnya dan terlihat biasa saja. Tidak terlihat ia mengalami hal yang serupa dengan yang James alami. Hanya sedikit kemerahan di pipinya yang kemungkinan terjadi karena kegerahan dibekap helm.
Sedikit kekecewaan mengalir di hati James. Kembali ia teringat perbedaan sikap Celine ketika Celine ada di pelukannya dan ketika Celine tidak sengaja ada di pelukan Alex. Celine memang tidak memiliki perasaan apapun padanya, simpul James dalam hati.
Tanpa sadar, James tersenyum walaupun hatinya pilu. Ia bersyukur ia belum mengutarakan perasaannya pada Celine. Mungkin memang lebih baik ia memendamnya dan membunuhnya pelan-pelan, daripada harus mengambil resiko membuat hubungan yang sudah kembali membaik jadi hancur kembali.
"Bang James, yuk! Kita harus pergi ke arah mana?" Ucapan Celine membuyarkan lamunan James.
"Ke aula, Lin. Sini, ikut Bang James! Biar ga nyasar. Sekolahnya gede banget soalnya, " jawab James.
Tak lama kemudian, mereka berjalan beriringan meninggalkan tempat parkir, menuju aula tempat diadakannya penyuluhan.
...****************...
Acara penyuluhan akan dimulai pukul 08.00. Tetapi para siswi sudah dikumpulkan di aula dari pukul 07.30, sambil menunggu kedatangan para narasumber. Tampak juga Bu Kepala Sekolah dan beberapa guru sudah hadir di sana.
Karena James merupakan penanggung jawab penyuluhan, ia pun sudah berada di aula terlebih dahulu untuk mengecek persiapan acara. Ia mengecek ulang sound system, laptop, dan proyektor yang akan digunakan. Ia juga mendata narasumber-narasumber yang sudah hadir dan mengkonfirmasi posisi narasumber-narasumber yang belum tiba.
Celine sempat diperkenalkan kepada Kepala Sekolah. Setelah itu, ia diarahkan James untuk duduk di kursi narasumber sambil menunggu kehadiran narasumber yang lain. James meminta izin untuk tidak menemani Celine karena masih banyak hal yang harus diurusnya.
Hal itu dijawab tidak mengapa oleh Celine sambil tersenyum penuh pengertian. Melihat sikap Celine yang demikian membuat James merasa lega, walaupun masih tersisa sedikit perasaan cemas di hatinya. Dengan berat hati ia meninggalkan Celine di sana sendiri untuk menunaikan tugasnya sebagai penanggung jawab.
Gerak-gerik James tidak lepas dari pantauan Cindy. Dari semenjak ia tiba di aula, matanya sudah mencari-cari di mana Pak James berada.
Ia memang sudah sangat menantikan hari penyuluhan ini. Ia tahu bahwa guru kesayangannya lah yang menjadi penanggung jawab acara tersebut. Pikiran bahwa hari ini ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama guru gebetannya itu, membahagiakan dirinya.
Tetapi interaksi antara James dan seorang gadis yang duduk di kursi narasumber, mengganggu dirinya. Belum lagi warna baju yang mereka kenakan, yang seperti berpasangan. Mereka berdua sama-sama memilih tema abu-abu hitam. Hal tersebut makin membuatnya curiga dengan hubungan di antara keduanya.
Perasaan curiganya agak memudar ketika narasumber yang lain datang. Ia melihat Pak James menyambut mereka dengan sama hangatnya.
Mungkin masalah tema warna baju yang sama hanya merupakan kebetulan belaka, pikirnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Walaupun sesungguhnya ia belum bisa menghilangkan kegelisahan itu seutuhnya.
Pukul delapan tepat acara penyuluhan dimulai. James berperan sebagai pembawa acara dan moderator. Acara dimulai dengan Kata Sambutan dari Bu Kepala Sekolah. Dalam kesempatan tersebut beliau mengucapkan alasan dan harapan acara penyuluhan ini diadakan. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kesediaan para narasumber untuk berpartisipasi dalam acara ini.
Setelah itu, satu-persatu narasumber dipersilakan naik ke panggung dan menceritakan pengalamannya secara bergiliran. Bagaimana mereka menetapkan hati saat memilih profesi yang ingin digeluti, tahapan-tahapan yang harus dilalui, dan bagaimana mereka berjuang agar berhasil.
Setelah mereka menyampaikan kisah mereka, diadakan sesi tanya jawab. Para siswi yang berminat di bidang serupa atau yang mulai tertarik dengan profesi tersebut, dipersilakan bertanya.
__ADS_1
Celine menjadi narasumber terakhir karena profesi pengusaha sempat tercoret dari daftar acara. Tapi karena peminat profesi tersebut paling banyak peminatnya, James sempat menyelipkannya kembali di bagian akhir.
Celine menikmati keseluruhan acara dari tempat duduknya. Ia tersenyum melihat cara James menguasai panggung, cara para narasumber membagikan pengalaman dengan gayanya masing-masing, dan interaksi yang terjadi antara narasumber, James sebagai moderator dan para siswi yang bertanya.
Sampai akhirnya gilirannya tiba. James memanggil namanya dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang direktur muda. Celine berdiri dari kursinya dan segera menuju podium di panggung.
James yang sudah kembali duduk di kursi moderator hanya bisa memandang Celine dengan perasaan harap-harap cemas. Jantungnya berdegup kencang melihat Celine yang sudah berdiri di depan podium. Ini adalah pertama kalinya James melihat Celine berbicara di hadapan orang banyak sekaligus.
Ingatan terakhir James tentang kemampuan Celine bersosialisasi di depan publik adalah saat ia pertama kali membawa Celine ke sekolah ini. Masih jelas terpatri di benaknya bagaimana gugupnya dan tegangnya Celine saat itu. Bagaimana Celine masih terbata-bata ketika berbicara dengan Priscillia dan kawan-kawan.
Tetapi dalam hitungan menit ke depan, James hanya bisa tertegun memperhatikan orang yang sedang berbicara di podium. Ia merasa asing dengan orang tersebut. Gadis yang berdiri di sana kembali memperkenalkan dirinya dengan lancar dan sikap percaya diri yang jelas sekali terlihat. Kata-kata yang diucapkannya begitu lugas dan tersusun dengan sangat baik.
"Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk boleh membagikan pengalaman saya kepada kita semua yang ada di sini, " ujar Celine memulai kalimatnya setelah kembali memperkenalkan dirinya.
"Saya berdiri di sini bukan untuk membagikan tips bagaimana caranya menjadi pengusaha handal. Itu semua bisa kalian peroleh di bangku kuliah dengan berbagai jurusan ataupun bisa kalian cari sendiri di internet. Saya sendiri bukan lulusan dari jurusan bisnis seperti akuntansi dan manajemen. Saya hanya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi untuk melengkapi gelar sarjana saya.
Bagi saya, alasan saya bisa berdiri di sini sebagai seorang pengusaha yang diakui, dapat terjadi hanya karena satu hal, yaitu kehendak Tuhan. Saya meyakini kalian semua bisa menjadi seperti saya jika Tuhan menentukannya terjadi pada hidup kalian. Tetapi tentu saja hal tersebut harus dibarengi dengan usaha kita, seperti sebuah semboyan yang mengatakan Ora et Labora, yang berarti berdoa dan bekerja.
Mengapa saya mengatakan demikian? Bukan karena saya seorang yang sangat berjiwa rohani. Tetapi karena memang itu lah yang terjadi dalam hidup saya.
Tuhan lah yang menuntun hidup saya, memberkati usaha dan kerja keras saya, serta memberikan saya guru yang tepat untuk membimbing saya dalam dunia bisnis, yaitu ayah saya sendiri. Saya yakin tanpa campur tangan Tuhan, saya tidak akan berhasil. Bahkan sebaliknya, saya hanya akan menjadi orang yang terbuang dari kehidupan bermasyarakat.
Beruntung Tuhan mengasihi saya dan mempertemukan saya dengan Pak James, guru BK kalian yang berada bersama-sama kita di sini. Beliau dan keluarganya banyak menolong saya untuk bangkit. Mereka mengajarkan saya bagaimana saya harus menerima dan menghargai diri saya sendiri. Dalam kesempatan ini, secara resmi saya sekali lagi ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau dan keluarganya."
Celine mengatakan hal tersebut sambil memandang James yang duduk di kursi moderator. Karena itu, setiap mata jadi memandang ke arah James. James hanya bisa tersenyum canggung dan tersipu malu mendapat perhatian dan pujian mendadak seperti itu. Ia tidak menyangka hal itu akan disebutkan Celine dalam pembicaraannya.
"Setelah saya mulai bisa menerima diri saya dan mulai bisa memikirkan masa depan, saya dipertemukan dengan seorang gadis seumuran saya yang juga memiliki latar belakang seperti saya. Informasi awal yang saya dapatkan tentang dirinya kurang begitu baik. Tetapi setelah bertemu langsung dengannya, ternyata informasi itu salah. Gadis itu kemudian menjadi inspirasi saya." Celine melanjutkan ceritanya.
James kembali tertegun. Apakah di sini Celine sedang membicarakan Priscillia?
"Dalam pertemuan saya yang singkat dengannya, ia mengajarkan bagaimana bersikap dan bertutur kata dengan elegan, percaya diri, namun tetap disertai kecerdasan dan kelemahlembutan. Terlihat ia bukan orang yang dapat diperlakukan sembarangan. Saya ingin menjadi sepertinya. Saya tidak ingin kalah dengannya. Bukankah latar belakang kami hampir sama? Demikian pemikiran saya saat itu.
Saya rasa kita semua di sini mengenal dan masih mengingatnya. Ia adalah kakak kelas kalian yang baru saja lulus 2-3 tahun yang lalu. Namanya Priscillia. Ia bersama dengan teman-temannya membentuk geng dengan nama Geng Princess."
Setelah nama Priscillia disebutkan, sontak ada kehebohan di kalangan siswi. Siapa yang tidak kenal dengan Priscillia dan Geng Princessnya? Mereka menjadi legenda tersendiri di sekolah ini. Dan yang membuat mereka kagum, ternyata narasumber ini memiliki hubungan dengan Priscillia.
Banyak siswi-siswi yang terinspirasi dan mengagumi sepak terjang Priscillia dan teman-temannya. Mereka yang pernah melihat langsung Priscillia, akan mengakui kebenaran dari perkataan narasumber di hadapan mereka. Tidak ada yang bisa mengingkari kecantikan, kepercayaan diri, kecerdasan dan sikap elegan dari seorang Priscillia.
James baru mengerti sekarang. Hal ini lah yang dipikirkan Celine ketika ia bertemu dengan Priscillia. Pertemuannya dengan Priscillia menjadi pemantik yang memicu Celine untuk berubah. Priscillia menjadi inspirasi Celine yang mengarahkannya ke masa depan yang diinginkannya.
__ADS_1
Pantas saja Celine mengambil ilmu komunikasi. James masih mengingat alasan yang Celine utarakan ketika memilih jurusan tersebut. Celine ingin bisa lebih baik dalam berkomunikasi dan dalam menghadapi orang lain.
Rupanya ini yang ingin ditiru Celine dari Priscillia. Kemampuan Priscillia dalam menghadapi orang lain memang tidak diragukan lagi. Belum lagi kemampuannya dalam bermain kata. Masih teringat kalau ia pernah memberikan gelar putri belut kepada gadis itu saking gemasnya ia menghadapi kelihaian gadis tersebut dalam berkelit.
"Jadi, seperti sebuah cerita yang dituliskan seorang pengarang, demikian lah hidup saya dirangkai Sang Pencipta. Semuanya mengalir begitu saja dan membentuk diri saya yang sekarang.
Tentu saja saat menjalaninya tidak semudah seperti saat saya mengatakannya. Kerap kali saya juga merasa lelah dan ingin menyerah. Tapi kembali saya diingatkan pelajaran kehidupan yang saya pelajari dari Pak James, yaitu bagaimana kita harus bekerja keras dan pantang menyerah dalam meraih mimpi."
Kembali perkataan Celine membuat James tersipu-sipu sendiri. Ia sungguh tidak menyangka ini lah pandangan Celine terhadap dirinya selama ini. Ternyata Celine memperhatikan dan menilai semua sikapnya. Untunglah kesan yang ia berikan dinilai baik oleh Celine.
"Hal ini lah yang ingin saya bagikan kepada kalian semua yang ada di sini, yang mungkin memiliki pergumulan seperti saya atau yang sampai sekarang belum tahu arah masa depan yang ingin kalian tuju. Jangan menyerah! Doakan lah! Karena skenario terbaik dalam hidup hanya bisa kita peroleh dalam tuntunan Sang Khalik.
Apapun profesi yang kalian pilih, libatkan Tuhan dalam perjalanan kalian! Karena seperti para narasumber yang tadi sudah diberikan kesempatan untuk menjadi berkat bagi kalian, atau seperti guru-guru kalian yang selama ini mengajar kalian, saya percaya kalian ke depannya juga akan bisa menjadi berkat dan menolong hidup orang-orang seperti saya.
Demikian yang saya bisa bagikan dalam kesempatan ini. Kurang-lebihnya, saya mohon maaf dan saya ucapkan terima kasih." Demikianlah Celine menutup perkataannya. Tepuk tangan pun menggema di aula tersebut.
James pun kembali berdiri dan mengambil alih panggung.
"Ada yang ingin bertanya?" tanyanya.
Sebuah tangan terangkat yang kemudian dipersilakan James untuk mengutarakan pertanyaannya.
"Jadi, apakah Kakak Direktur menyukai Pak James?" tanya siswi tersebut sambil senyum-senyum.
Sontak pertanyaan tersebut membuat suasana aula menjadi riuh. Semuanya jadi penasaran untuk mendengarkan jawaban dari pertanyaan tersebut, termasuk Cindy. Hatinya cemas melihat kecurigaannya ternyata beralasan. Guru pujaannya ternyata memang memiliki hubungan khusus dengan Sang Narasumber.
Celine hanya tertegun sebentar mendengar pertanyaan itu. Tak lama kemudian ia kembali tersenyum dan siap membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, James sudah memotong kesempatan tersebut.
"Pertanyaan apa itu?! Kita di sini bukan untuk menggosipkan masalah pribadi saya yah! Tapi untuk membantu kalian menentukan masa depan kalian! Ada pertanyaan lain?" tegur James dengan nada sedikit tinggi dan wajah merah.
"Ahhhhh .... Pak James mah peliittttt.... Kita kan ingin tauuuu ..." protes para siswi yang tentu saja tidak dihiraukan James.
Setelah Celine menjawab beberapa pertanyaan yang dianggap layak oleh James, acara penyuluhan itu pun diakhiri karena keterbatasan waktu. Para siswi yang masih ingin bertanya pada narasumber dipersilakan bertanya secara pribadi setelah acara ditutup, jika narasumber masih ada waktu.
Mereka kemudian berfoto bersama. Lalu para narasumber diberikan bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak sekolah. Setelah itu acara pun dibubarkan. Para narasumber, guru, dan siswi mulai meninggalkan aula secara bergiliran.
...****************...
__ADS_1