
Satu persatu sahabat Rebecca akhirnya datang. Terlihat penampilan mereka tidaklah serapi dan secantik penampilan mereka dua minggu lalu waktu di taman ria. Sepertinya mereka datang dengan terburu-buru demi memenuhi panggilan Rebecca. Dan setelah berkumpul, ketiganya hanya dapat duduk dengan canggung karena tidak mengerti tujuan mereka berkumpul.
"Sudah? Puas liat buktinya sekarang?" Rebecca membuka pembicaraan. Senyumnya melebar karena kemenangan sudah di tangan.
Darrell tersenyum geli melihat sikap Rebecca. "Iya. Kalian hebat, " pujinya dengan tulus. Kembali Darrell bertepuk tangan sambil memandangi ketiga gadis yang baru datang itu.
Ketiga gadis yang dipandangi hanya bisa tersipu dan merasa canggung dengan keadaan ini. Hanya Priscillia yang masih terlihat mencoba mempertahankan sikap tenangnya. Sedangkan Sharon dan Cecilia sudah gugup dan menundukkan kepala.
"Jadi? Apa rencana kita sekarang?" tanya Darrell.
Rebecca langsung menghadap ketiga temannya. "Kalian bisa menemaniku sampai kapan? Bisa sampai waktu selesai makan malam seperti dua minggu lalu?" tanyanya dengan harap-harap cemas. Pasalnya Rebecca sedikit merasa bersalah kalau sampai mengganggu kesibukan temannya akibat keegoisannya ini.
"Bisa, " jawab ketiga temannya kompak. Mereka tahu Rebecca sedang merasa bersalah karena telah merepotkan mereka secara mendadak. Karena itu, mereka ingin menenangkan Rebecca.
Lagipula, mereka mengerti kalau gadis itu sepertinya sudah kewalahan menghadapi Darrell. Dua kali sudah Rebecca meminta tolong untuk menghadapi orang yang sama. Hal tersebut merupakan sesuatu yang jarang terjadi pada Rebecca.
Rebecca tersenyum lega. Ia sungguh bahagia memiliki sahabat-sahabat seperti ini. "Kalau begitu, karena ga ada planning sebelumnya, bagaimana kalau kita jalan-jalan di mal aja?" usulnya.
"Boleh aja. Di mal banyak tempat untuk nongkrong, " jawab Priscillia yang disetujui oleh teman-temannya.
"Terus ... kita perginya gimana?" tanya Darrell tiba-tiba, langsung ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Rebecca yang mendengar suara Darrell, kembali disadarkan bahwa cowok pengganggu itu masih ada di sini. Mukanya yang baru saja berseri-seri hilang seketika. Ia pun menghela napasnya.
Diliriknya pria itu dengan malas. Ia tahu kalau manusia satu ini pasti akan dilimpahkan kepadanya oleh teman-temannya, dengan alasan Darrell adalah tamunya. Darrell yang melihat bahwa Rebecca sedang meliriknya, segera memasang wajah tak berdosa dihiasi senyum polos, yang sebenarnya ingin disambit bakiak oleh Rebecca.
"Kalian bagaimana?" Rebecca kembali menghadap teman-temannya dan bertanya pada mereka.
"Tadi aku cuma minta di drop aja, makanya sopirku sudah balik. Biasanya kan kami bakal diantar sama kamu, Bec ..." jawab Priscillia.
"Sama. Sopirku juga uda pergi, " sambung Sharon.
"Kalo aku sih bawa mobil sendiri. Kan tadi dari butik, " jawab Cecilia.
"Ya udah. Kita bagi dua aja. Siapa yang ikut aku, siapa yang ikut Cecil?" tanya Rebecca.
Cecilia melirik Darrell. Hatinya masih berdebar melihat pria tampan itu. Entah mengapa rasa itu tidak bisa hilang, padahal ia sudah berusaha melupakannya. Namun boro-boro hilang, sempat-sempatnya tadi ia berharap Darrell akan menaiki mobilnya. Sesuatu yang mustahil dan segera ia tepis dari benaknya.
"A- aku bareng Cecilia aja yah ...." Sharon menawarkan diri. Sesungguhnya ia masih canggung di situasi yang melibatkan Darrell.
"Oke. Kalau gitu, aku yang menemani Rebecca, " simpul Priscillia.
"Kalau aku?" tanya Darrell, lebih ke sebuah pancingan.
Rebecca melirik sinis pria itu. "Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" sindirnya.
Darrell tertawa. "Hanya memastikan, kitty ..." ujarnya.
Nyut. Hati Cecilia tiba-tiba nyeri. Sudah beberapa kali ia melihat pria itu tertawa lepas dengan tingkah ujar Rebecca. Sesuatu yang jarang ia temui ketika Darrell sedang bersamanya. Mungkin Darrell memang menyukai Rebecca, batinnya.
Setelah Darrell membayar tagihan, kelima insan itu pun keluar dari kafe. Mereka membagi diri menjadi dua grup sesuai pembicaraan sebelumnya.
Di depan mobil Rebecca, Darrell bertanya pada Priscillia. "Priscill mau duduk di depan?" tawarnya.
"Boleh? Darrell gapapa?" Priscillia mengembalikan pertanyaan itu pada Rebecca dan Darrell. Masalahnya ia terjepit di antara pasangan perjodohan yang tidak jelas arahnya ini.
__ADS_1
"Gapapa. Aku tau kok, kitty-chan pasti lebih nyaman jika yang duduk di sebelahnya adalah kamu, " ujar Darrell sambil tersenyum.
Rebecca tersenyum menyindir. "Baguslah kalau kau sadar, werewolf !" (manusia serigala).
Priscillia tertawa mendengar sahut-sahutan pasangan ini. Mendengar itu, Rebecca yang sudah duduk di kursi pengemudi jadi penasaran, "Apanya yang lucu, Pris?"
"Sepertinya kalian sudah cukup akrab, sampai memiliki panggilan kesayangan segala ..." ujar Priscillia sambil tersenyum simpul.
"Yah .... Memang beginilah cara kami mengungkapkan kasih sayang, " imbuh Darrell menanggapi godaan Priscillia.
"Kasih sayang gigi kau!" semprot Rebecca mendengar ucapan Darrell, yang kembali membuat Darrell tertawa.
Sedangkan Rebecca, dengan cemberut menatap tajam pada Priscillia yang masih tersenyum geli melihat respons sahabatnya. "Kamu ini sebenarnya teman siapa sih, Pris?" katanya dengan bibir merengut.
"Cuma bercanda, Bec. Jangan diambil hati. Kita kan mau jalan-jalan, jadi lebih baik suasananya dibikin nyaman. Bukan begitu, Darrell?" Priscillia tiba-tiba menanyakan pendapat Darrell.
"Betul sekali. Priscillia memang bijak yah .... Coba kalau kamu yang dijodohkan denganku, pasti menyenangkan sekali. Bagaimana menurutmu, Pris? Apa kamu mau berpasangan denganku?" tanya Darrell iseng-iseng berhadiah.
Rebecca mendelik mendengar perkataan tidak tahu malu itu. Status perjodohan mereka saja masih belum jelas, beraninya pria ini menggoda cewek lain yang notabebe sahabatnya sendiri! Dilakukannya di depan matanya lagi! Ajaib banget memang kelakuan nih cowok! Pengen rasanya ia selepet dengan durian.
Namun Rebecca hanya bisa menelan kegeramannya. Sebaliknya, justru ia harap-harap cemas dengan jawaban Priscillia. Apa yang akan dijawab sahabatnya itu? Ia percaya, Priscillia bukan pecinta cowok tampan layaknya Cecilia. Namun dibandingkan dengan Raymond, jelas Darrell lebih baik. Bisa saja sahabatnya ini menerima Darrell, kan? Diperhatikanlah raut wajah Priscillia dengan saksama.
Mendengar pertanyaan Darrell, Priscillia hanya terdiam karena tertegun. Namun dalam beberapa detik ke depan, Priscillia memberikan senyum manisnya pada Darrell. Darrell sendiri yang tadinya bertanya hanya karena iseng, jadi berdebar betulan karena mendapat senyum semanis itu.
"Maaf yah .... Sayangnya kamu bukan tipeku, " jawab Priscillia yang membuat senyum Darrell berubah menjadi kecut.
Rebecca yang mendengar jawaban Priscillia tertawa terbahak-bahak. "Rasain kau, werewolf playboy !!"
Melihat senyum kecut dan sikap canggung Darrell, Priscillia melanjutkan kalimatnya. "Hanya bercanda, Darrell. Ga marah kan? Jangan diambil hati yah ..." ujarnya dengan senyum polos dan wajah tanpa dosa.
Kedua mobil melaju menuju mal yang sudah disepakati. Setelah mobil diparkir, kelima anak muda itu memasuki gedung. Rebecca menggiring teman-temannya ke bagian perlengkapan wanita. Sedangkan Darrell mengekori mereka dari belakang, bak ksatria yang melindungi keempat putri kerajaannya (versi Darrell) atau bak penguntit yang sedang mengintai keempat targetnya (versi Rebecca).
Yang pertama kali Geng Princess kunjungi adalah bagian busana wanita. Seolah sedang ingin memilih baju yang mau dibeli, keempat gadis itu bergerombol sambil berdiskusi panjang-lebar. Darrell berdiri agak jauh dari mereka untuk memberikan ruang agar keempat gadis itu merasa lebih leluasa.
"Bec ... Sebenarnya kamu mau beli baju untuk apa?" tanya Sharon.
Rebecca melirik ke belakang untuk memastikan jarak Darrell cukup jauh dari mereka. Setelah yakin Darrell tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, Rebecca menjawab dengan agak berbisik. "Sebenarnya aku ga mau beli baju. Aku cuma pengen bikin pria br*ngs*k itu bosan. Kan biasanya cowok paling malas nemenin cewek belanja. Betul kan, Cil?"
"Eh? Iya .... Betul ..." jawab Cecilia agak kaget karena ditanya tiba-tiba.
"Kamu kenapa sih, Cil? Kok kayak ga fokus gitu?" tanya Rebecca.
"Ngg .... Maaf .... Tadi ... aku lagi fokus sama ... model baju ini. Jadi ... tadi ... kayak lagi kepikiran ide buat desain baju gitu, " jawabnya buru-buru merancang kebohongan. Pasalnya tadi ia sedang mencuri pandang ke Darrell karena khawatir dengan pria yang kembali mereka abaikan itu.
Untunglah sepertinya teman-temannya tidak ada yang curiga. Mereka meneruskan sandiwara belanja mereka sampai ke bagian aksesoris wanita, kosmetik dan parfum.
Ternyata Rebecca salah mengambil langkah. Ia kira ia bisa mengabaikan Darrell sepenuhnya di perbelanjaan ini. Namun yang terjadi malah Darrell mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan kebolehannya dalam memberikan masukan tentang wewangian. Rebecca lupa, Darrell lahir di Paris yang juga mendapat julukan sebagai kota parfum.
Karena kesal, Rebecca mengarahkan teman-temannya ke bagian yang lebih ekstrim agar dapat membuat Darrell mati kutu. Apalagi kalau bukan bagian pakaian dalam wanita. Sesuai dugaan, Darrell hanya menunggu di bagian luar yang berbatasan dengan area busana anak.
"Mau sampai kapan kita di sini, Bec?" gantian Priscillia yang bertanya.
"Sampai dia bosan! Sekalian pengen kuliat mukanya yang salah tingkah karena berada di area yang salah! Emang nyaman ngikutin cewek belanja sampai area begini?" jawab Rebecca sambil melirik ke arah Darrell yang berjarak kira-kira 8 meter dari mereka.
Namun Rebecca kembali salah duga. Darrell ternyata cukup berbakat untuk mencari sesuatu yang menarik perhatiannya. Ketika menemukan hal tersebut, pria itu memanggil Rebecca dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Bec .... Bec .... Sini ..." seru Darrell memanggil Rebecca mengikuti cara teman-temannya memanggil gadis itu.
Rebecca kesal dengan panggilan sok akrab itu dan pura-pura tidak mendengarnya. Namun dengan tidak tahu malunya, pria itu malah memanggilnya makin kencang hingga mereka jadi pusat perhatian orang-orang.
"Udah, Bec .... Samperin aja deh. Malu diliatin orang-orang ..." ujar Sharon yang sudah menundukkan kepalanya karena menahan malu.
Dengan terpaksa, Rebecca akhirnya mendekati pria itu diikuti oleh teman-temannya. "Apaan sih?! Berisik banget!" ujarnya dengan gusar.
"Ada yang mirip kamu, " jawab Darrell sambil memamerkan sebuah celana d*lam anak bergambar hiu di tangannya.
"Dasar gila!" sembur Rebecca dengan wajah merah padam. Darrell yang melihat pemandangan langkah itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan melarikan diri ke tempat di mana ia menemukan celana hiu itu untuk mengembalikannya.
Acara sandiwara belanja dipercepat, karena Rebecca kapok mengalami kejadian seperti tadi. Lebih baik mereka segera mencari tempat makan dengan dalih sudah lapar. Dengan demikian acara jalan-jalan ini dapat segera diakhiri dan mereka dapat segera berpisah dengan Darrell.
Seperti biasa, tiap orang memesan makanan sesuai selera masing-masing. Setelah makanan tiba, setiap orang menyantap makanannya. Selesai makan, Rebecca berdiri hendak membayar. Bagaimanapun, ia merasa bertanggung jawab karena telah melibatkan teman-temannya hingga ke tempat ini.
Namun, kembali Darrell ikut berdiri dan menghalangi Rebecca. "Kali ini pun, biar aku yang bayar kencan kita, kitty ..." ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Ke- kencan gundulmu! Hati-hati kalau bicara!" protes Rebecca agak tergagap saking syoknya dengan kata yang dipilih Darrell. Sedangkan Darrell sambil tertawa, tetap berjalan menuju kasir tanpa menghiraukan protes Rebecca.
Demikianlah acara mereka kali ini diakhiri. Seperti kejadian sebelumnya, Darrell kembali ke hotelnya dengan taksi online. Cecilia bertugas mengantarkan Sharon. Sedangkan Rebecca mengantarkan Priscillia.
Di perjalanan pulang, Priscillia membuka percakapan mengenai Darrell. "Bec .... Boleh aku berkomentar? Tapi jangan marah yah ..." ujar Priscillia hati-hati.
"Ya. Kenapa?" tanya Rebecca sambil tetap fokus mengemudi.
"Ga ingin mempertimbangkan Darrell lebih lanjut, Bec? Kulihat-lihat, sepertinya kalian berdua cocok lho. Baru kali ini ada pria yang sanggup mengimbangimu, " jawab Priscillia.
"Amit! Ga salah ngomong, Pris?! Aku sama cowok br*ngs*k itu?! No no no no !! Mending nikah sama bebek daripada sama dia!!" cetus Rebecca.
Priscillia hanya bisa menghembuskan napasnya. Sepertinya Rebecca sudah antipati dengan Darrell dan keyakinannya itu sulit untuk dibengkokkan lagi. Walaupun menurutnya mereka pasangan yang cukup cocok, tetapi jika yang bersangkutan habis-habisan menolaknya, tidak ada yang bisa ia lakukan, kan?
...****************...
Darrell sudah tiba di kamar hotelnya. Ia sudah membersihkan diri dan siap untuk tidur. Dibaringkannyalah tubuhnya di kasur hotel yang empuk. Ia memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang.
Menahan perasaan itu melelahkan. Walaupun ia terlihat santai dan bisa tertawa sehingga tampak menikmati keadaan, namun pura-pura tidak masalah meskipun diabaikan, ternyata cukup menguras tenaga. Memang, tidak terlalu sulit baginya untuk menampilkan hal seperti itu. Toh itulah yang biasa ia lakukan sedari kecil agar dapat bertahan.
Pikirannya tiba-tiba mengembara kepada seseorang yang dari tadi juga terlihat seperti sedang menahan perasaan. Diambilnyalah HP-nya dan dikirimkannyalah sebuah pesan singkat ke gadis itu.
'Hari ini sepertinya dirimu tidak seceria dan sebawel biasanya. Apakah kau sakit, Fille qui bave ?' (arti: Gadis ileran)
Tidak lama kemudian, balasan dari Cecilia datang. 'Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan setelah sebelumnya menjaga butik.'
'Kalau lelah mengapa tadi memaksakan diri untuk datang? Utamakan kesehatanmu lebih dahulu, ' nasihat Darrell.
Balasan berikutnya tidak langsung datang. Darrell perlu menunggu beberapa saat.
'Akan kuperhatikan. Terima kasih atas nasihatnya. Selamat malam, Darrell.'
'Selamat malam juga, Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Selamat beristirahat ....'
'Selamat beristirahat juga, Darrell ....'
Dan percakapan pun diakhiri.
__ADS_1
...****************...