
Hari ini hari Rabu, hari ketiga Priscillia menjalankan tugas belajarnya secara resmi di RS. A. Dalam kesehariannya, ia banyak mengekor Om Sofyan dalam setiap tugasnya. Mulai dari mengikuti rapat, membaca laporan, dan banyak lagi.
Priscillia menjalani pembelajarannya dengan sukacita. Orang-orang di sekelilingnya ramah-ramah dan mau mengajarinya dengan sabar. Banyak yang Priscillia pelajari di sini. Ia belajar bagaimana cara menetapkan kebijakan pelayanan RS, menyusun anggaran, mengurus karyawan, dll.
Dalam tiga hari ke depan, Om Sofyan menitipkan pembelajaran Priscillia pada dr. Ahmad Faizal, M. Kes. selaku Wakil Direktur bidang Pelayanan Medik. Hal ini dikarenakan Om Sofyan harus ke luar kota untuk mengikuti pertemuan antara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan para pimpinan RS yang ada di kota J dan sekitarnya.
Untunglah dr. Ahmad cukup ramah walaupun sedikit pendiam. Tidak terlalu berbeda ketika ia sedang didampingi Om Sofyan, keseharian Priscillia juga berkisar mengikuti rapat, membaca laporan, dll. Namun tugasnya kali ini lebih difokuskan dengan bagaimana mengoordinasikan lingkungan kerja pelayanan medis agar efektif dan efisien sehingga menghasilkan pelayanan yang profesional dan bermutu.
Pukul empat sore Priscillia sudah kembali ke hotelnya. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat Raymond sudah ada di lobi hotel tempatnya menginap. Begitu melihat Priscillia, Raymond pun segera berdiri. Dengan muka masam, ia menghampiri gadis itu.
"Sedang apa Kakak di sini?" Priscillia bertanya dengan muka yang tidak kalah masamnya.
"Menjemputmu pulang, " jawab Raymond singkat.
"Tidak bisa! Memangnya Kakak tidak tahu Priscil di sini ngapain?" tantang Priscillia.
"Jelas tahu. Tante sendiri yang memberi tahu Kakak. Mungkin kamu bisa membohongi orang tuamu, tapi tidak denganku. Aku tahu tujuan utamamu ada di sini, " jawab Raymond sinis.
Alis Priscillia bekernyit. Kembali ia kesal dengan tingkah mamanya yang seolah membeberkan apapun kegiatannya pada Raymond. Namun kali ini ia lebih terganggu dengan kalimat yang diucapkan pria ini. "Maksud Kakak apa sih?" tanyanya karena tidak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh! Kamu ingin menemui pria itu, kan?! Tante memang bilang kamu tidak tahu kalau kalian di kota yang sama. Namun Kakak tak percaya. Gadis sepintar dan selicik dirimu, pasti sudah mencari tahu hal ini lebih dulu. Makanya kamu mencari alasan agar bisa dikirim ke sini, kan?" tuduh Raymond.
Priscillia tertegun. Baru kali ini Raymond berkata sekasar ini padanya. Biasanya Raymond pasti banyak tersenyum dan bersikap penuh perhatian. Kalaupun emosinya terpicu dengan ulah Priscillia, Raymond akan berusaha memendamnya sendiri dan meredakannya seiring waktu. Begitu berjumpa lagi, pasti sikapnya sudah kembali seperti biasa. Namun sepertinya kali ini amarah Raymond ditumpahkannya keluar.
Namun Priscillia tidak mau ambil pusing dengan itu. Ia menandai kata 'pria' yang menjadi topik omongan Raymond. Sosok yang dituduh Raymond untuk ia temui di sini. Memangnya siapa?
Tetapi Priscillia sadar bahwa waktunya tidak tepat untuk mencari tahu siapa pria itu sekarang. Apalagi dengan bertanya pada Raymond. Hal tersebut hanya membuat situasi bertambah runyam. Padahal dengan kondisi sekarang saja, mereka sudah mulai menarik perhatian banyak orang di lobi hotel.
Karena itu, Priscillia memutuskan untuk segera menghentikan pembicaraan tidak berguna ini. "Priscil ga ngerti Kakak ngomong apa. Terserah Kakak mau percaya apa kaga, " katanya sambil melengos pergi.
"Tidak bisa! Kamu harus ikut Kakak pulang sekarang!" cegah Raymond sambil mencekal tangan Priscillia.
Mata Priscillia menyipit. Raymond mulai bersikap kasar padanya. Tangannya yang dicekal Raymond terasa sakit. "Lepasin tanganku, " desis Priscillia menahan amarah.
"Tidak. Selama kamu ga mau ikut Kakak pulang."
"Atas dasar apa Kakak menyuruhku pulang?"
__ADS_1
"Atas dasar tunanganmu! Aku sudah menunggu dengan sabar mengikuti kemauanmu yang ingin menunda pertunangan kita hingga kamu lulus. Dan sekarang setelah kelulusanmu di depan mata, kamu mau berdalih macam-macam dan menemui pria lain? Jangan harap!" tukas Raymond yang emosinya mulai naik.
"Apa Kakak sudah mendapat izin dari Papa-Mama untuk membawaku pulang?" selidik Priscillia. Ia masih berusaha bersikap tenang dalam menghadapi Raymond. Priscillia tahu, tidak ada gunanya ia adu tenaga dengan pria. Lebih baik ia mengandalkan akalnya untuk mencari kesempatan agar bisa keluar dari situasi ini.
Raymond mulai gelagapan. Kedatangannya ke kota ini memang atas kehendaknya sendiri. "Itu bisa diatur belakangan. Kakak akan menjelaskannya pada orang tuamu. Yang penting, kamu ikut Kakak pulang dulu sekarang, " jawabnya dengan sedikit ragu. Tanpa sadar, cekalan tangannya sedikit mengendur.
Priscillia yang menangkap kesempatan itu segera mengibaskan tangannya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya cekalan tangan Raymond terlepas darinya. Ia lalu segera melipat tangannya di depan dada agar tidak tercekal lagi.
Dengan gaya menantang, ia pun melanjutkan perkataannya. "Kakak telepon dulu lah papa atau mama. Priscil tunggu. Kalau mereka benar menyuruh Priscil pulang, Priscil akan ikut Kakak sekarang juga. Jadi kita ga usah drama-dramaan dan jadi tontonan kayak sekarang."
Raymond terdiam. Ia mati kutu. Ia tidak berani mengambil risiko menelepon langsung sekarang. Apalagi melihat sikap tenang dan rasa percaya diri Priscillia. Ia tidak yakin dapat mempengaruhi orang tua Priscillia di hadapan gadis ini langsung. Priscillia pasti dapat menyanggah perkataannya. Ia tahu persis kemampuan gadis itu dalam hal bersilat lidah.
Melihat Raymond yang ragu menerima tantangannya, senyum Priscillia mengembang. Ia tahu ia sudah menang. Karena itu, ia segera memanfaatkan kesempatan ini untuk buru-buru kabur.
"Ya sudah .... Coba Kakak bujuk mama-papa Priscil dulu yah .... Kalau sudah berhasil, baru jemput Priscil di sini. Priscil ga ke mana-mana kok. Sekarang Priscil balik ke kamar dulu. Mau istirahat. Capeee ..." katanya sambil berjalan menuju lift. Kali ini tidak ada tangan Raymond yang mencegah kepergiannya.
Namun sebelum Priscillia memasuki lift, Raymond menyempatkan diri memberi gadis itu peringatan. "Tunggu saja! Aku pasti akan membawamu pulang. Saat itu mau kau meronta pun, menangis pun, memohon pun, tidak akan kudengarkan!" ancamnya dalam geram.
Priscillia hanya tersenyum sinis mendengar kalimat tersebut. "Coba saja kalau kau memang bisa membuatku seperti itu, " balasnya dengan angkuh.
Dan setelah itu, pintu lift pun tertutup.
...****************...
Dengan menyembunyikan tangan yang sedikit gemetar, Priscillia mempercepat langkahnya begitu ia keluar dari lift. Setelah ia memasuki kamarnya dan mengunci pintunya, barulah ia merasa lega.
Ketika dirinya sudah mulai tenang, barulah ia mengajak otaknya berpikir. Kembali ia mencoba mengingat segala perkataan Raymond tadi.
Kamu ingin menemui pria itu, kan?! Tante memang bilang kamu tidak tahu kalau kalian di kota yang sama. Namun Kakak tak percaya.
Ya .... Kalimat ini yang merupakan inti masalahnya. Ia dituduh akan menemui seorang pria di kota ini. Karena itulah ia dianggap sedang mencari-cari alasan dan kesempatan.
Yang menjadi kalimat kuncinya adalah, mamanya mengetahui pria ini dan keberasaannya di kota ini. Kalimat kunci berikutnya adalah mamanya meyakini dirinya tidak tahu keberadaan pria itu.
Priscillia pun mengingat-ingat siapa saja pria yang dalam hidupnya yang sering diributkan oleh mamanya dan kak Raymond. Tidak banyak pria yang hadir dalam hidupnya. Karena itu, sepertinya teka-teki ini akan cukup mudah terjawab.
Yang paling jelas dan sering dibahas akhir-akhir ini adalah pak James. Namun, jelas sekali ia tahu keberadaan mantan gurunya itu. Rumahnya pun ia tahu. Kalau bukan pak James, pria berikutnya yang memiliki kriteria seperti itu .... DEG!
__ADS_1
Jantungnya berdebar. Nama yang sudah ia kubur lama-lama dalam hidupnya mencuat kembali seperti zombie yang bangkit dari kubur. Pak Joseph! Hanya pria itu yang terpikirkan di benaknya!
Kembali Priscillia mengatur perasaannya. Begitu ia merasa tenang, ia segera menelepon Sang Ibunda untuk memastikan kejanggalan di hatinya.
"Halo ..." sapa Priscillia begitu telepon di seberang sana diangkat.
"Hello Dear .... Gimana kesibukanmu hari ini? Menyenangkan?" tanya Mama Priscillia begitu mendengar suara anaknya.
"Ya .... Untunglah dr. Ahmad juga baik seperti Om Sofyan. Kegiatan yang dilakukan juga tidak jauh berbeda dengan kemarin-kemarin, " lapor Priscillia.
"Syukurlah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik di sana yah .... Ingat ... yang paling utama adalah keselamatan dan kesehatanmu." Kembali Sang Ibu mengingatkan putrinya.
"Iya .... Priscil tau. Mama-papa-kakak sendiri bagaimana di sana?" Priscillia balik bertanya.
"Kami baik. Tapi situasi belum banyak berubah. Papamu dan Jeremy masih sibuk memperbaiki keadaan sambil memeriksa ulang data-data laporan dari setiap RS dan sekolah yang bernaung di bawah yayasan. Di sisi lain, banyak telepon yang masuk untuk minta pertanggungjawaban papamu. Papamu masih mencoba menenangkan mereka.
Hhhh .... Semoga saja masalah ini bisa segera diselesaikan dan pelaku utamanya dapat tertangkap, " ujar mamanya sambil menghela napas.
"Yah .... Semoga ..." jawab Priscillia tidak tahu harus menjawab apalagi.
Setelah hening sejenak, Priscillia mencoba memberanikan diri untuk menanyakan hal yang mengganggunya. Walaupun ia merasa situasinya kurang mendukung, namun ia tidak dapat menahan rasa penasarannya.
"Ma .... Tadi Kak Raymond kemari." Priscillia mengawali kalimatnya.
"Ah .... Apa dia rindu padamu?" tanya mamanya. Priscillia menangkap ada kegelisahan yang disembunyikan Sang Ibunda. Respons mamanya berbeda dengan biasanya yang sering memuji-muji betapa Raymond begitu perhatian padanya.
"Tidak, Ma. Kali ini ia marah-marah pada Priscil. Tangan Priscil sampai dicekal dan ia memaksa Priscil pulang. Ia menuduh Priscil datang ke kota ini untuk menemui pak Joseph. Padahal dia sendiri mengaku kalau Mama sudah menekankan bahwa Priscil sendiri tidak tahu keberadaannya. Tapi dia ga percaya perkataan Mama. Dia malah ngatain Priscil pembohong, " pancing Priscillia.
"Aihhh .... Anak itu! Pasti dia salah dengar atau salah mengerti! Padahal Mama sudah bilang kamu ke sana untuk mempersiapkan diri melanjutkan studimu di S2. Mungkin dia tercampur dengan cerita Mama tentang Pak Asep yang buka toko kelontong itu. Kasihan .... Anaknya lagi sakit. Mama sempat bilang andaikan kamu di sini, mungkin kamu bisa bantu cari tahu penyakitnya.
Yah .... Mengertilah ya, Dear .... Raymond sedang sensitif semenjak ia tahu pertunangannya denganmu diundur lagi. Ia begitu karena mencintaimu ..." bujuk mamanya.
"Hmmm .... Jadi pak Joseph belum tentu ada di kota ini yah, Ma?" pancing Priscillia sekali lagi.
"Aduh .... Maaf yah, Honey .... Mama stop dulu teleponnya yah. Sepertinya ada tamu yang datang. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi. Love you, Dear ...." Setelah mengakhiri kalimatnya dengan kecupan, Mama Priscillia memutuskan pembicaraan mereka.
Priscillia hanya memandangi HP-nya dengan perasaan curiga. Ia tahu ada yang dirahasiakan mamanya.
__ADS_1
Di sisi lain di seberang sana, mama Priscillia sedang menahan gemuruh di dadanya. Rasa gemas dan cemas melandanya. Bagaimana mungkin Raymond bisa melakukan tindakan sebodoh ini ??!! gerutunya dalam hati.
...****************...