Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
I Love You, Sensei


__ADS_3

"Pak, jadi pacar saya yuk ...."


"Ogah pacaran sama bocah."


"Saya sudah gadis, Pak! Bentar lagi lulus nih ...."


"Tetap saja belum lulus. Tuh, masih pake baju seragam."


"Jadi nanti kalo ga pake baju seragam lagi, Bapak mau jadi pacar saya?"


"Ga janji yah .... Daripada mikirin itu, tuh... pikirin formulir masa depan kamu yang masih kosong! Mau jadi apa kamu?"


"Mau jadi istri Bapak!"


James mendadak sakit kepala mendengar jawaban seperti itu dari siswi di depannya.


Cindy Prawira, siswi kelas XII IPS yang sudah berulang kali menyatakan cinta padanya dalam setahun ini. James juga sudah menolaknya berulang kali pula. Dari cara halus, sampai cara blakblakan seperti tadi. Anehnya siswi ini tidak jera-jera juga.


Setiap ada kesempatan, ia pasti mengajak James berbicara di Ruang BK. Ada-ada saja alasannya. Dari yang dibuat-buat, sampai yang benar-benar serius. Seperti hari ini misalnya, alasan awalnya adalah ingin berkonsultasi mengenai masa depannya. Tapi, setelah sampai di ruang BK dan duduk di hadapannya, pembicaraan seperti barusan lah yang terjadi.


Tentu saja walaupun ingin, tidak semudah itu James menolak permintaan Cindy untuk berkonsultasi dengannya. Bagaimanapun sedikit-banyak memang itulah tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru BK. Topik konsultasinya juga sebenarnya masih permasalahan yang wajar dialami oleh remaja seumurannya. Topik masa depan, kesulitan belajar, percintaan remaja, dll.


Yang jadi masalah, semua topik tersebut dihubungkan dengannya. Contohnya yang barusan, masa depan yang Cindy harapkan adalah menjadi istrinya. Atau Cindy pernah mengeluh ia sulit berkonsentrasi belajar karena memikirkan dirinya. Kalau masalah percintaan, sudah tidak perlu ditanya, dirinyalah yang disebut Cindy sebagai penyebab utamanya!


James hanya bisa meladeni anak ini sekadarnya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Batas tegas sebagai guru dan murid ia tekankan. Ia tidak mau memberi Cindy harapan palsu. Ia sungguh berharap suatu saat anak ini akan lelah sendiri dan beralih ke cinta yang lain.


Ya, James masih mencintai Celine. Walaupun tiga tahun sudah berlalu, James masih belum menemukan cinta yang lain. Namun jujur harus ia akui, perasaannya tidak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Ia sudah tidak terlalu berharap bahwa Celine akan kembali. Ia cenderung pasrah. Ia hanya membiarkan perasaannya mengalir.


Kriiiinnggggg !!!


Terdengar suara bel yang menandakan waktu istirahat berakhir.


"Tuh ... bel sudah berbunyi. Kembali ke kelasmu sana!" usir James.


Untuk sesaat, Cindy memonyongkan bibirnya tanda tak suka diusir. Tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum manis pada James.


"Ya sudah, saya permisi ya, Pak ...."


"Ya. Silakan, " jawab James pendek.


Cindy lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dan ketika sudah hampir tiba di luar, kembali ia membalikkan badannya menghadap James.


"Ah, ada yang kelupaan, Pak!"


"Apalagi?" tanya James.


"Mau bilang ... I love you, Sensei ..." katanya sambil membentuk hati dengan tangannya. Dan sebelum James bisa berkata-kata, Cindy sudah pergi meninggalkan James yang kembali memijat kepalanya. (noted: Sensei diambil dari Bahasa Jepang yang artinya guru.)


...****************...


"Tadi jam istirahat, kamu menemui Pak James lagi, Cin?" tanya Wendy ketika jam pelajaran sudah berakhir.

__ADS_1


"Iya, " jawab Cindy pendek sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.


"Menyatakan cinta lagi?"


"Jelas!" jawab Cindy sambil nyengir kepada sahabatnya.


"Trus ... ditolak lagi?"


Seketika raut muka Cindy merenggut. "Jelas!"


"Emang kali ini gimana doski nolak kamu?" tanya Wendy.


"Ogah pacaran sama bocah, gitu katanya." Mulut Cindy makin mengerucut.


Mendengar jawaban Cindy, Wendy tertawa. Pasalnya ia juga kasihan dengan Pak James yang harus menghadapi kekeraskepalaan temannya ini. Ia tahu berapa cara yang sudah digunakan Pak James untuk membuat temannya ini menyerah. Tapi sayang, kemauan Cindy jauh lebih keras daripada kata-kata penolakan Pak James.


"Kok ga kapok-kapok toh, Cin? Ga sakit hati apa, ditolakin mulu kayak gitu? Lagian, apa bagusnya Pak James sih? Kan masih banyak cowok lain yang lebih oke! Cari yang sepantaran kek! Apa emang seleramu tipe bapak-bapak atau om-om yah?"


"Enak aja tipe bapak-bapak atau om-om! Pak James itu masih muda, tau! Umurnya masih kepala 2! Itu namanya selera pria dewasa. Ga napsu aku sama cowok-cowok pantaran kita yang pikirannya masih bocah!" bela Cindy.


"Gaya! Kamunya sendiri juga masih bocah!"


"Justru karena masih bocah, makanya harus dapet yang dewasa. Biar dibimbing. Tuh ... kayak Pak James. Uda pas itu! Sosok pembimbing yang baik. Aihhh ... beda banget ama guru-guru lain! Sabar banget! Bisa ngertiin orang!"


"Ya emang kerjaannya bimbing dan ngertiin masalah orang. Doski kan guru BK. Wajar aja dia gitu. Lagian, di mana baiknya? Ga kerasa apa, bahasa yang dia pake buat nolak kamu tuh cukup nuncep lho ...."


"Awalnya ga gitu, Wen .... Pertama kali dia nolak aku dengan sikap yang gentle banget. Sekarang dia pake bahasa begini pun karena kebaikannya. Aku tau dia ngelakuinnya karena terpaksa, biar aku nyerah. Dia ga mau PHP-in aku, Wen ...." Cindy kembali membela Pak James.


Cindy hanya terdiam mendengar pertanyaan Wendy. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Pak James.


Waktu itu hari pertama masuk sekolah. Ada upacara penyambutan yang harus dihadiri oleh setiap siswi baru. Malangnya, hari itu juga mobil yang dinaiki Cindy mengalami masalah di tengah jalan saat mau berangkat sekolah. Bannya bocor karena melindas paku. Alhasil, Cindy datang terlambat.


Saat itu yang bertugas menjadi guru piket pengawas gerbang sekolah adalah James. Saat Cindy datang, James baru saja selesai menutup gerbang. Cindy yang sudah berlari dari area parkir sampai ke depan gerbang, di mana napasnya juga masih memburu dan ngos-ngosan, hanya bisa terpuruk dengan mata penuh kekecewaan di depan gerbang yang tertutup.


James melihat siswi di depannya yang hanya bisa terdiam sambil mengatur napas. Ia pun menegur siswi tersebut, "Hayo ... hari pertama sekolah sudah terlambat yah ...."


"Maaf, Pak .... Tadi ada masalah .... Ban bocor .... Kena paku ..." jawab Cindy dengan napas yang masih memburu.


James hanya terdiam melihat siswi di depannya. Ia menilai murid ini berkata jujur atau berbohong dengan mencari-cari alasan yang masuk di akal. Tak lama, James memutuskan membuka kembali gerbang sekolah.


"Ayo, cepat masuk! Segera ke kelasmu sana! Semoga guru pelajaran pertamamu belum masuk kelas yah ..." ucap James.


Melihat gerbang dibuka kembali, wajah Cindy langsung ceria. Tanpa menunda-nunda ia segera melewati gerbang.


"Terima kasih, Pak!" Cindy pun langsung memacu langkahnya menuju pelataran sekolah.


Tetapi sampai di sana, ia hanya bisa bengong dan kembali terdiam. Sekolah yang begitu luas, membuat ia bingung harus menuju ke mana. Ia hanya tahu bahwa upacara penyambutan siswi baru, diadakan di auditorium. Masalahnya, di mana letak auditorium tersebut?


James yang baru datang setelah kembali menutup gerbang sekolah, tertegun melihat siswi yang tadi ternyata masih belum sampai ke kelasnya.


"Kok masih mematung di sini?" tanya James.

__ADS_1


"Auditoriumnya ke arah mana, Pak?" tanya siswi tersebut dengan muka kebingungan.


James langsung menangkap arah siswi tersebut. "Kamu siswi kelas X yang baru masuk yah? Waktu mendaftar, belum liat-liat sekolah?"


Cindy menjawab, "Iya, Pak. Saya baru masuk dan belum sempat lihat-lihat sekolah. Mama papa yang kemarin-kemarin langsung daftarin ke sini."


"Ya sudah, ayo ikut saya, " ajak James.


Muka Cindy kembali ceria. Dengan tersenyum ia segera mengekor James di belakangnya.


Ternyata tidak sampai di situ kebaikan James yang Cindy rasakan. Begitu memasuki auditorium yang sudah penuh dan kata sambutan sedang dibacakan, James segera memberi kode kepadanya untuk mengikutinya diam-diam di belakang punggungnya agar tidak menarik perhatian.


"Tas kamu taruh di sini dulu, " kata James sambil berbisik.


Cindy yang melihat semua siswi di sana sudah berbaris rapi tanpa ada yang memegang tas, segera menyadari maksud James. Ia mengikuti arahan James dan kembali menempel di belakang punggung James setelah meletakkan tasnya.


Dengan natural, James berjalan mendekati barisan siswi yang terdekat dengannya. Lalu ia berdiri di belakang siswi yang berdiri di paling belakang. Lalu dengan cepat, ia segera memberi kode ke Cindy untuk bertukar posisi dengannya. Voila ! Begitulah caranya Cindy bisa masuk ke barisan tanpa menarik perhatian orang.


Saat itu Cindy belum sempat berterima kasih pada guru yang menolongnya tersebut. Ia harus terlihat fokus mengikuti upacara penyambutan seperti layaknya siswi-siswi baru lainnya, walaupun pikirannya tertuju pada guru yang berdiri di belakangnya.


Ketika upacara berakhir, guru tersebut sudah tidak ada di belakangnya. Dan ia sudah harus kembali fokus mencari teman sekelasnya untuk menanyakan di mana kelasnya berada.


Itulah kesan pertama Cindy pada James. Ia langsung jatuh cinta sejak saat itu. Betapa bahagia dirinya ketika ia kembali melihat James masuk ke kelasnya untuk mengajar BK. Apalagi ketika ia tahu kalau guru tersayangnya itu ternyata belum menikah. Kebahagiaannya langsung melonjak dua kali lipat.


Tetapi perasaan tersebut harus dipendamnya ketika ia tahu guru yang ia sukai dekat dengan Geng Princess, kelompok senior yang berkuasa di sekolah. Ia takut ia akan bermasalah dengan salah satu dari anggota geng tersebut yang mungkin saja menyukai Pak James juga.


Satu tahun pun berlalu dan seluruh anggota Geng Princess sudah lulus. Setelah ia yakin kalau kecurigaannya selama ini ternyata salah dan ternyata Pak James tidak berhubungan asmara dengan siapapun di Geng Princess, ia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Sang Guru.


Hasilnya, seperti yang kita ketahui, Sang Guru menolaknya. Alasannya karena ia sudah memiliki orang yang ia cintai.


Saat itu, walaupun merasa sedih dan kecewa karena patah hati, Cindy tetap kagum dengan Pak James. Guru tersebut menolaknya dengan sangat gentle. Terlihat ia menganggap serius pernyataan cintanya, bukan menganggap remeh perasaannya dengan menganggapnya seperti cinta monyet anak-anak.


Pak James juga memilih kata-kata dengan sangat hati-hati agar tidak terlalu menyakiti perasaannya. Dan yang paling penting, dari raut wajahnya Cindy dapat menilai kalau alasan yang dikemukakan gurunya itu benar adanya. Bukan alasan yang dibuat-buat hanya untuk membuat dirinya menyerah.


Karena itulah, dengan penuh kesadaran, Cindy mundur teratur. Ia mencoba menghargai perasaan Pak James dan hubungannya dengan orang yang dicintainya itu. Ia mencoba melupakan Sang Guru dan menemukan cinta yang baru.


Selama satu tahun ia mencoba melakukannya. Ia bahkan berusaha mencari tahu tentang Pak James dan kekasihnya itu untuk memaksa dirinya menyerah. Tetapi hasilnya malah sebaliknya. Ia mendapati Pak James tidak memiliki kekasih. Saat itulah perasaan cintanya bangkit lagi.


Mungkin Pak James masih mencintai mantannya. Atau mungkin orang yang dicintainya sudah tiada. Entahlah. Yang jelas, kenyataan tersebut membuat Cindy ingin mencoba lagi peruntungan cintanya. Ia berharap, siapa tahu suatu saat Pak James akan luluh dan mau membuka hatinya untuk menerima cinta yang baru.


Karena itulah di tahun terakhirnya ini, Cindy memutuskan memperjuangkan perasaannya. Dipakai lah segala cara untuk mendekati guru pujaan hatinya itu, walaupun pada kenyataannya sampai saat ini hal tersebut belum membuahkan hasil.


"Woiiii !!! Ditanya malah bengong! Bukannya jawab!" Seruan Wendy mengembalikan Cindy ke alamnya.


"Eh? Emang kamu tadi tanya apa, Wen?" tanya Cindy dengan wajah tak berdosa.


Wendy hanya bisa memutar bola matanya mendengar respons Cindy. "Malas ah! Pasti tadi pikiranmu melayang ke Pak James lagi, kan?"


Mendengar tebakan sahabatnya, Cindy hanya bisa nyengir.


"Dasar bucin akut! Udahlah! Ayo kita pulang aja!" seru Wendy menutup pembicaraan mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2