Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kecelakaan atau Kesengajaan?


__ADS_3

Tiga hari sudah ia mengajar di sekolah yang baru. Semua kelas sudah ia masuki. Mulai hari ini, tidak ada lagi wali kelas yang mendampinginya. Ia harus berhadapan dengan para muridnya seorang diri.


Sebenarnya, ia tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Waktu menggantikan Bu Yeni di SMU sebelumnya, ia juga mengajar sendiri. Ia juga sudah mempersiapkan materi yang akan dibagikan kepada para siswi di tiap-tiap tingkatan dengan baik.


Hanya ada beberapa hal yang agak mengganggu pemikirannya. Pertama, ia menyadari kalau guru pria di sekolah ini hanya berjumlah 3 orang, termasuk dirinya. Guru pria yang lain adalah Pak Santo, guru olahraga. Satunya lagi adalah Pak Arif, guru Fisika. Tapi hal ini masih bisa ia abaikan, mengingat SMU ini adalah SMU khusus putri. Mungkin para guru pria lebih merasa nyaman jika bekerja di SMU umum, begitu pikirnya.


Keanehan kedua baru ia sadari ketika mempersiapkan materi. Sekarang ini semester 1 sudah hampir berakhir. Waktu yang tanggung untuk seorang guru mengakhiri masa kerjanya. Tetapi kenapa guru BK yang sebelumnya berhenti di masa seperti ini?


Guru BK yang sebelumnya bernama Rina. Hal tersebut ia ketahui dari lembaran RPL yang diberikan padanya. Namanya tercantum di bagian bawah kolom tanda tangan.


Menurut info dari beberapa guru, Bu Rina adalah seorang guru wanita yang masih muda. Ia tiba-tiba mengundurkan diri tanpa diketahui alasan pastinya. Padahal usia kerjanya di tempat ini baru sekitar 3 bulanan.


Yang terakhir, hal yang membuat James agak tegang adalah adanya anak perempuan dari ketua yayasan yang menjadi siswi di sini. Sekedar mengetahui hal itu tidak akan membuat James tegang. Ia cukup cuek untuk tidak memikirkan hal tersebut. Baginya, semua siswa sama aja. Ia tidak akan membedakan mereka dari latar belakang status mereka.


Masalahnya, pada saat pertama kali ia akan memasuki kelas XI IPA, wali kelas tersebut sudah memberikan alarm untuk memperingatinya. Ia diminta untuk berhati-hati dan lebih bersabar.


Saat itu memang tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan baik-baik saja seperti di kelas-kelas yang lain. Tapi ia yakin peringatan ini tidak bisa ia abaikan begitu saja.


Tadi, ia sudah mengajar sendiri di 3 kelas yang berbeda, pada pelajaran ketiga sampai dengan kelima. Pelajaran berlangsung dengan cukup baik.

__ADS_1


Namun ia menyadari adanya suasana yang berbeda jika dibandingkan ketika waktu pertama kali ia memasuki ketiga kelas tersebut bersama dengan wali kelas masing-masing. Kali ini ia kembali merasakan tatapan, bisik-bisik, dan senyum-senyum yang sama dengan ketika ia pertama kali datang ke tempat ini untuk diwawancara. Tetapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.


Dan sekarang, di pelajaran tatap muka terakhir yang harus ia berikan hari ini, kembali ia berdiri di depan pintu kelas XI IPA, kelas di mana Sang Putri Ketua Yayasan berada. Tapi kali ini untuk pertama kalinya ia harus memasuki kelas ini sendirian.


Tenang, James.. Tenang.. Tiga kelas sebelumnya sudah berhasil dihadapi seorang diri. Kelas ini pun juga akan demikian. Jadi.. Tenang.. Kamu pasti bisa !! katanya menyemangati dirinya sendiri.


James mengatur napasnya. Setelah tenang, dengan mantap ia membuka pintu kelas itu dan...


Blaassshh...!!!!


Rupanya tanpa sengaja ia menendang sebuah ember berisi air, ketika ia melangkahkan kakinya memasuki kelas. Ember itu sekarang tumpah, airnya berceceran di lantai, dan sebagian ujung celana serta sepatunya basah.


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


Setelah ia berdiri di depan meja guru, James bertanya lagi, "Siapa yang piket hari ini? "


Beberapa siswi dengan ragu-ragu mengangkat tangannya, sambil melihat-lihat teman sekelasnya.


"Siapa yang bertugas mengepel lantai? "

__ADS_1


Beberapa orang menurunkan tangannya, hingga tinggal 1 siswi yang masih mengangkat tangan dengan muka tertunduk agak ketakutan.


"Ma.. Maaf, Pak... Se.. Sepertinya Saya lupa memindahkan ember. La.. Lain kali, Saya akan lebih memperhatikannya" kata siswi tersebut terbata-bata, sambil sesekali melirik ke arah belakangnya.


"Ya sudah kalau begitu. Sekarang tolong kamu panggilkan petugas kebersihan untuk membersihkan genangan air ini, biar tidak ada yang terpeleset. "


"Ba.. Baik, Pak" jawab siswi tersebut dan segera bergegas keluar kelas.


James lalu kembali mengajar sesuai materi yang telah ia persiapkan. Ia tidak mau berpikir terlalu jauh. Tapi ia tahu ada yang aneh dari sikap dan perilaku siswi yang tadi mengaku sebagai petugas piket bagian mengepel. Belum lagi senyum-senyum beberapa siswi yang duduk di barisan belakang.


Pada akhirnya, pikiran-pikiran seperti itu ia coba singkirkan. Tidak baik untuk menyimpulkan sesuatu dengan cepat hanya berdasarkan prasangka. Jalani saja dulu pelan-pelan dan kenali lingkungannya dengan lebih baik. Syukuri saja jika hari ini pun bisa berlalu tanpa ada masalah yang berarti, begitu pikirnya.


...****************...


Author : Hayoo ... Kalau kalian di posisi James, menurut kalian, itu kecelakaan atau kesengajaan ?


Ditunggu komentarnya yah ... Jawabannya ada di episode-episode selanjutnya. Ikuti terus yah ... Sampai jumpa ... 😁


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2