Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Sesuatu yang Disimpan


__ADS_3

Tidak terasa sudah sebulan James bekerja di RSUD. Ia mulai menikmati pekerjaannya. Banyak hal yang ia pelajari dari pasien-pasiennya. Situasi dan kondisi yang harus ia hadapi juga sangat bervariasi sehingga membuatnya tertantang.


Awalnya ia memang agak kesulitan membiasakan diri dengan istilah-istilah medis. Tetapi makin lama ia mulai terbiasa, apalagi untuk istilah yang sering digunakan dalam keseharian di RS.


Antusiasme James pada pekerjaannya mempengaruhi topik pembicaraannya sehari-hari. Hal ini sangat dirasakan orang-orang terdekatnya, terutama Celine. Pembicaraan mereka, baik via telepon maupun ketika akhir pekan saat Celine berkunjung ke kediaman Wijaya, didominasi dengan pengalaman James di lingkungan barunya.


James menceritakan pengalamannya, keseruannya, dan pelajaran kehidupan yang ia dapatkan dari para pasiennya. Cerita tentang kakek Suroto, nenek Farida, dan tuan Herman yang mengalami kejadian serupa dengan ayah Celine.


Begitu pula yang terjadi saat ini. Hari ini hari Sabtu dan malam sudah agak larut. Papa Heru dan Mama Ratna sudah mendahului mereka untuk beristirahat di kamarnya. Sedangkan James dan Celine masih melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga. James masih dengan semangat menceritakan pengalaman terbarunya yang baru saja ia alami seminggu ini.


Salah satu pasien yang memberikan kesan lebih pada James datang dari seorang anak berumur 5 tahun dengan nama panggilan Leo. Ia datang ke RS karena demam tinggi disertai dengan mimisan. Keluhan ini sebenarnya sering dialami Leo sehingga ayahnya menduga kali ini pun merupakan penyakit infeksi biasa seperti yang sudah-sudah.


Sang Ayah membawa Leo ke RS karena demamnya yang tidak turun-turun sekaligus untuk melakukan pemeriksaan darah sesuai saran dokter yang praktek di dekat rumahnya. Betapa kagetnya Sang Ayah ketika dokter spesialis anak menyatakan kalau Leo dicurigai menderita penyakit leukemia (noted: leukemia adalah salah satu jenis kanker darah, di mana tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih).


Pendampingan dibutuhkan karena ayah Leo terlihat sangat terpukul dengan kabar yang menimpa anaknya. Hal ini tidak mengherankan karena Leo adalah satu-satunya harta yang ia miliki selepas kepergian ibu Leo akibat kecelakaan dua tahun yang lalu.


Sebagai persiapan pendampingan, James banyak mencari tahu tentang leukemia, baik dari google maupun berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis yang menangani Leo. Ternyata leukemia memiliki banyak jenis, dan tingkat kesembuhannya pun berbeda-beda tergantung jenisnya.


Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, dapat ditentukan bahwa jenis leukemia yang diderita Leo adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) yang merupakan jenis kanker yang sering terjadi pada anak-anak dan remaja. Penyebab pastinya belum diketahui, namun para ahli menemukan bahwa penyakit tersebut berhububgan dengan beberapa faktor risiko seperti genetik, imunologi, lingkungan, bahan toksik, dan paparan virus.


Untungnya, tingkat kesembuhan LLA cukup tinggi yaitu di atas 65%. Permasalahannya adalah tekanan mental yang dialami ayah Leo selama menemani anaknya dalam menjalani proses pemeriksaan dan terapi. Pasalnya kedua proses tersebut merupakan proses yang menyakitkan. Banyak keluhan, erangan, teriakan, dan tangisan yang dialami anak yang baru berumur 5 tahun ini.


Belum lagi komplikasi serius berupa kematian yang biasanya diakibatkan perdarahan dan infeksi. Perdarahan dapat terjadi karena rendahnya jumlah sel keping darah (trombositopenia) di dalam darah. Sedangkan infeksi terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, akibat kurangnya sel darah putih yang matang, ataupun karena efek samping pengobatan.


Ada percakapan ayah dan anak yang tidak terlupakan oleh James saat melakukan pendampingan. Pembicaraan diawali dari kunjungan James di suatu pagi.

__ADS_1


"Selamat pagi, Leo .... Gimana kabarnya hari ini?" tanya James saat itu.


"Sakit, Om .... Ga enak ..." kata Leo dengan nada agak lemas.


"Leo baru saja mendapat kemoterapi, Pak ..." tambah ayah Leo dengan senyum sedih yang terlihat jelas.


"Ya .... Emang ga enak. Tapi harus sabar yah .... Biar cepat sembuh, " hibur James.


"Iya, Om. Tadi pas disuntik, Leo ga nangis .... Leo cuma teriak dikit aja pas jarumnya masuk. Yang nangis malah Papa, Om. Lucu yah ..." kata Leo sambil tersenyum jenaka. Mendengar itu ayah Leo tersenyum.


"Papa sedih melihat Leo kesakitan. Itu karena Papa sayang banget sama Leo, " jawab James.


"Leo tau, Om. Saking sayangnya, Papa sering sambil nangis bilang ke Leo jangan tinggalin Papa kayak Mama. Papa kesepian. Gitu katanya .... Padahal kadang Leo juga kangen sama mama. Kalo mati, Leo bisa ketemu sama mama kan, Om?"


Sebuah pertanyaan yang menusuk sanubari dua orang laki-laki dewasa yang ada di sana. James trenyuh mendengarkan pertanyaan polos yang dilontarkan Leo. Ia juga bingung bagaimana harus menyikapinya. Di sisi lain, ayah Leo sudah menutup matanya dengan tangan untuk menyembunyikan air matanya yang sudah menggenang.


"Leo ga sedih liat Papa kesepian?" tanya James.


"Sedih. Makanya Leo berjuang agar bisa cepat sembuh. Leo berdoa minta mama di surga sabar dulu biar Leo bisa temenin Papa. Mama bisa ngerti kan, Om?" tanya Leo lagi.


Air mata haru ikut menggenangi pelupuk mata James. Ia tak menyangka posisi bisa terbalik. Umumnya anak yang sakit akan bersikap rewel, manja, dan menuntut perhatian dari orang tuanya. Tetapi Leo berbeda, dengan tegar ia memilih menghadapi penyakitnya dan berjuang demi Sang Ayah.


Mendengar jawaban Leo, air mata Sang Ayah tidak dapat ditahan lagi. Laki-laki itu pun buru-buru permisi dengan alasan ingin ke toilet.


Sepeninggal ayahnya, Leo berkata sambil nyengir. "Tau ga, Om .... Papa sebenernya nangis lagi tuh .... Padahal Papa sering bilang, laki-laki ga boleh cengeng. Tapi semenjak Leo sakit, Papa jadi cengeng, Om ...."

__ADS_1


"Betul kata Papa, laki-laki memang ga boleh cengeng. Tapi ada kalanya laki-laki juga bisa nangis kalo sedang ada masalah berat, kayak Papa Leo sekarang. Makanya, Leo harus dukung Papa yah .... Kasih Papa semangat! Mama Leo pasti bukan hanya ngerti, tapi juga bangga liat Leo jadi anak kuat dan hebat di sini. Ngomong-ngomong Leo tau ga, arti nama Leo itu apa?" tanya James.


"Ga tau. Emang apa, Om?"


"Leo itu artinya singa. Tau kan singa?" James balik bertanya.


"Tau dong, Om! Leo kan uda sekolah! Singa itu kuat, makanya disebut raja hutan, Om ..." jawab Leo dengan gaya sok tahu.


James tertawa sambil bertepuk tangan. "Betul! Cocok sama Leo, kan?"


"Iya dong ...." kata Leo sambil mengacungkan ibu jarinya yang kecil.


"Leo hebat kan, Lin?" tanya James menutup ceritanya.


"Iya ..." jawab Celine sambil tersenyum.


Mendengar jawaban pendek Celine untuk kesekian kalinya, membuat James tertegun. "Kok sepertinya Celine lesu? Apa Celine ada masalah? Atau ... bosen denger cerita Bang James?" tanya James dengan senyum kecut.


"Ga kok. Celine seneng liat Bang James semangat di lingkungan kerja yang baru. Celine juga seneng denger cerita pengalaman Bang James. Banyak yang bisa kita pelajari di situ," jawab Celine.


"Bener ga ada masalah?" tanya James dengan tatapan menyidik.


"Bener. Gapapa. Bang James fokus ama kerjaan Bang James aja, " kata Celine sambil kembali tersenyum.


Melihat itu, James ikut tersenyum lalu membelai pipi gadis itu. "Makasih yah, Celine mau ngertiin dan dukung Bang James. Bang James janji, kalo masa orientasi berakhir 2 bulan lagi dan Bang James resmi diterima di sana, nanti Bang James yang langsung gantian ngunjungin Celine dan papa Celine. Sabar dikit lagi yah ...."

__ADS_1


"Iya ..." kata Celine sambil memegang tangan James yang sedang membelai wajahnya, berharap mendapat kekuatan untuk menutupi sedikit kegalauan di hatinya.


...****************...


__ADS_2