
Pukul 08.30, James sudah berdiri di depan cermin memakai jas lengkap berwarna putih. Di sampingnya sudah berdiri ibunda tercintanya yang juga sudah dihias cantik dengan kebaya berwarna biru.
"Kamu tampan, Nak ..." puji Ibunya dengan tersenyum sedih, menyayangkan bahwa penampilan istimewa ini bukan dipersembahkan untuk kekasih hati Sang Putra.
"Karena Mamanya juga cantik." James membalas pujian Sang Ibu sambil mengecup ringan pipinya.
Tak lama kemudian, Papa Heru ikut memasuki kamar James. "Nak ..." sapanya.
"Ya, Pa?" sahut James berbalik menghadap ayahnya.
Sejenak Papa Heru hanya terdiam berdiri di depan James, seolah kata-kata yang ingin diucapkannya tadi tersumbat di tenggorokannya. James hanya bisa menunggu apa yang ingin ayahnya ucapkan dengan tegang.
Dengan sedikit tersendat, Papa Heru berusaha melanjutkan kalimatnya. "Asal kamu tau, Nak .... Papa ... hanya ingin kamu bahagia ..." katanya sambil menutup matanya dengan tangan kanannya.
Hati James pilu melihat adegan itu. Ayahnya menangis. Ayahnya yang selama ini dilihatnya sebagai sosok yang berwibawa dan tegas, kini terlihat rapuh.
Ia tahu ayahnya tidak tidur nyenyak semalam. Terlihat lingkaran hitam di bawah matanya. James menyadari betapa ayahnya memikirkan kejadian ini, baik dirinya, masa depannya, dan juga Celine. Dan semua itu seolah membuat ayahnya bertambah tua dengan cepat.
James langsung memeluk ayahnya dengan terharu, "James tau, Pa .... James tau .... Dan doa Papa-Mama pasti membuat James bahagia. James yakin."
Beberapa saat kemudian sebuah mobil parkir di depan rumah keluarga Wijaya. Alex dan keluarganya telah tiba.
Alex tampak mengenakan kemeja batik yang senada dengan kemeja Rico dan rok batik istrinya. Sedangkan Sherly mengenakan atasan kebaya biru muda. Mereka bersama-sama memasuki rumah.
Setelah mengucapkan salam kepada kedua orang tua mereka, Alex langsung menghampiri James. Dengan berbisik, ia menonjok ringan bahu James.
"Jujur aja, gua ga sreg dengan pilihan lo. Pengennya sih gua datengin tuh cewek, terus gua ajak ribut. Ga bijak sih .... Masalahnya gua sendiri ga tau yang terbaik itu mesti gimana. Gua cuma bisa berharap, pilihan yang lo ambil itu bener. Lo bisa berbahagia walaupun gua tau sekarang lo pasti ga bahagia!" ujar Alex.
James tersenyum lalu memeluk Abangnya sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Tolong doain gua, Bang!" katanya.
"Pasti, Tuyul!" balas Alex merangkul kepala Sang Adik ke bahunya.
Sepuluh menit kemudian, sopir yang membawa mobil pengantin tiba di rumah James.
"Tuh, mobil pengantin tiba. Kita siap-siap berangkat yuk!" ajak James.
Para anggota keluarga pun bergegas keluar dari rumah.
"Papa-Mama langsung ke gereja aja pake mobil Bang Alex yah .... James pake mobil pengantin mau jemput Cindy, " kata James lagi.
"Ya. Serahin Papa-Mama sama gua. Lo pergi dulu sono! Biar ga telat!" ujar Alex.
"Oke. Pergi dulu Pa, Ma, Bang, Kak Sherly, Rico .... Ketemu di gereja yah ..." pamit James.
James pun masuk ke mobil pengantin dan meminta pak sopir melanjutkan perjalanan ke rumah Cindy. Demikianlah dua mobil melaju pergi meninggalkan kediaman keluarga Wijaya menempuh rutenya masing-masing.
...****************...
Seperti halnya di kediaman keluarga Wijaya, dua mobil pun melaju meninggalkan kediaman keluarga Prawira menuju gereja. Mobil pengantin diisi oleh sopir dan sepasang calon mempelai. Sedangkan mobil yang lain berisi keluarga besar Cindy yang James sendiri tidak mengenalinya satu-persatu.
Sesampainya di sana, mereka diarahkan oleh petugas ibadah ke sebuah ruangan kecil untuk rapat, tempat James dan Tuan Prawira waktu itu membicarakan persiapan pernikahan dengan pendeta Lukas (eps. 99 - Persiapan Pernikahan). Saat ini waktu menunjukkan pukul 09.25.
"Tunggu di sini dulu yah ..." kata petugas tersebut, lalu meninggalkan mereka untuk mempersiapkan tugasnya.
Keluarga Prawira melihat keluarga Wijaya sudah terlebih dahulu di dalam karena mereka yang lebih dahulu tiba. Kebetulan saat itu Rico sudah rewel karena sudah bosan ada di ruangan itu dari tadi.
__ADS_1
"Aku keluar dulu temenin Rico ya, Pa, Ma .... Sepertinya dia bosan. Sekalian cari angin, " kata Alex sambil menggendong Rico. Sherly pun ikut keluar menemani suami dan anaknya.
"Papa juga deh." Papa Heru ikut bangkit berdiri.
"Mama ikut, Pa!" seru Mama Ratna.
Begitulah secara bersamaan keluarga Wijaya keluar dari ruang tunggu sementara itu, membiarkan keluarga Prawira menggantikan mereka.
"Cin, aku keluar menemani keluargaku dulu yah ..." pamit James.
"Iya, Pak, " jawab Cindy terpaksa setuju.
Dengan demikian genaplah sudah di ruangan itu sekarang hanya dihuni keluarga Prawira. Melihat itu, Nyonya Prawira ngedumel. "Lihat! Betapa tidak sopannya! Keluarga kita baru datang, mereka semua langsung menghindar seolah kita ini kuman! Mananya yang mau damai?!"
"Kan Mama juga yang kemarin maen sindir-sindir duluan! Siapa juga yang betah seruangan sama Mama yang kayak gitu! Emang mereka senang disindir begitu apa?!" balas Cindy yang mulai sebal dengan tingkah Mamanya.
"Eh, nih anak! Bukannya belain Mamanya, malah belain keluarga orang lain!" sahut Mamanya yang sebal dengan perkataan Cindy.
"Bukan keluarga orang lain! Tapi bakal jadi keluarga Cindy juga! Besan Mama! Sampai kapan Mama mau kayak gini ga move on?!" sanggah Cindy.
"Asal kamu tau ya, Mama belum ikhlas punya besan dari keluarga sederhana gitu! Harapan Mama tuh kamu bisa dapat pasangan dengan status yang lebih tinggi dari keluarga kita atau minimal sederajat! Makanya Mama-Papa rela-relain sekolahin kamu di SMU elite yang biayanya selangit itu! Eh, malah ada kejadian begini!" seru Nyonya Prawira menyesali nasib mereka.
"Ikhlas ga ikhlas, uda kejadian! Mau menyesal terus ga ada guna, Ma ..." bantah Cindy.
"Sudah! Sudah! Cukup! Ga usah bahas lagi! Bikin malu aja! Masing-masing coba intropeksi diri!" Tuan Prawira menghentikan adu mulut antara ibu-anak itu.
Nyonya Prawira kesal. "Mama juga keluar aja! Lama-lama di sini, Mama bisa darah tinggi!" imbuhnya.
Baru saja ia membuka pintu ruang tersebut, tiba-tiba di depannya tampak pemandangan yang membuat perasaannya langsung membaik.
"Katanya Cindy ada di sini, Tante? Boleh kami jumpa? Kami ingin melihat pengantin yang cantik dan mengucapkan selamat, " kata seseorang di luar sana.
"Tentu saja harus disempatkan, Tante! Ini kan hari besar adik kelas kami yang berharga. Selain kami, beberapa guru juga ikut hadir mewakili pihak sekolah. Mereka sudah duduk di ruang ibadah. Tetapi kami merasa kurang asyik kalau belum menemui Cindy duluan, Tante. Serasa ada yang kurang ..." sambung suara tersebut.
"Hohoho .... Silakan .... Silakan .... Papaaaa!!! Lihat siapa yang datang?! Ini ada putri ketua yayasan dan teman-temannya datang untuk memberi ucapan selamat!" seru Nyonya Prawira memasuki ruangan kembali diikuti ketiga orang gadis cantik.
Tuan Prawira langsung menunjukkan wajah ramahnya mendengar siapa yang mengunjungi mereka. Siapa yang tidak kenal dengan putri ketua yayasan dan teman-temannya yang merupakan anak-anak dari orang berpengaruh di kota ini?
Sedangkan Cindy, wajahnya menjadi tegang melihat siapa yang datang. Perasaannya yang tadi sempat berantakan karena ulah mamanya, kini makin tidak karuan.
"Terima kasih atas perhatiannya. Sudah menyempatkan diri untuk hadir di acara keluarga kami ..." sambut Tuan Prawira.
"Sama-sama, Om ..." balas ketiga gadis itu hampir bersamaan.
"Papa .... Yuk semua .... Kita tinggalkan dulu mereka di sini, biar mereka nyaman ngobrolnya sesama anak muda ...." Nyonya Prawira mengajak suami dan keluarga besarnya meninggalkan ruangan.
"Saya permisi dulu .... Silakan menikmati waktu bincang-bincangnya dengan Cindy. Tapi jangan terlalu lama yah .... Takutnya bentar lagi acara akan dimulai ..." pesan Tuan Prawira.
"Saya mengerti, Om .... Terima kasih atas waktu dan kesempatannya ..." jawab Priscillia sambil mengeluarkan senyum termanisnya.
Tuan Prawira dan Nyonya Prawira sangat terkesan dengan sikap manis Priscillia. Sedikit-banyak mereka terhibur dengan keberhasilan Cindy yang ini, yaitu bisa mendapat perhatian dari putri ketua yayasan dan teman-temannya. Tanpa membuang waktu, mereka segera mengajak keluarga besarnya yang lain meninggalkan ruangan itu.
Tinggal Cindy sekarang yang kembali berhadapan dengan ketiga kakak seniornya ini. Walaupun perasaannya tambah kacau, di sisi lain ia bersyukur dengan inisiatif mamanya untuk meninggalkan ia sendiri di sini dengan mereka.
Tadi ia sempat takut kebohongannya akan dibeberkan di depan kedua orang tua dan keluarga besarnya. Untunglah mereka sudah meninggalkan ruangan ini sebelum kakak kelasnya sempat mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Kalian mau apa datang kemari? Mau mengancamku lagi?" tanyanya dengan ketus.
"Wah ... wah .... Kok kasar sekali sikapmu pada kami, Dik? Kami datang dengan itikad baik lho ..." ujar Priscillia santai dengan senyuman khasnya.
"Itikad baik apanya?! Kalian datang untuk merusak acaraku!" tuding Cindy.
"Itikad baik untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar, Ular !" balas Rebecca.
Cindy langsung kicep mendengar balasan sengit dari Rebecca. Mendengar itu Priscillia makin mengulum senyumnya.
"Untuk mempersingkat waktu, kita tidak usah basa-basi lagi. Karena sepertinya kamu tetap akan melanjutkan pernikahan ini, kami akan memberimu dua pilihan. Kamu mau dengan kesadaranmu membatalkan sendiri acara ini, atau kami yang akan merusaknya dengan paksa dan mempermalukanmu di depan umum?" tanya Priscillia menekankan setiap kata-katanya.
"Kalian tidak akan bisa melakukannya!" desis Cindy menahan amarah.
"Kenapa tidak? Kamu akan kami kenakan Pasal 311 ayat (1) KUHP tentang melakukan pencemaran nama baik atau fitnah tanpa bukti. Kamu bisa dihukum penjara selama-lamanya empat tahun. Kalau kamu yakin tuduhanmu benar terhadap pak James, buktikanlah!" tantang Sharon.
Cindy terdiam. Mati kutu. Melihat kesempatan itu, Priscillia segera menutup pembicaraan singkat mereka sebelum kembali ke ruang ibadah, "Pikirkanlah baik-baik yah ...."
Ketiga gadis itu meninggalkan Cindy sendirian di ruang tunggu. Badan Cindy bergetar menahan perasaannya yang terguncang. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Ia terpojok.
Saat itulah Wendy masuk ke ruang tersebut. "Cin .... Apa yang terjadi? Aku tadi bertanya pada Tante agar bisa menemuimu sebelum acara. Ternyata aku melihat Geng Princess baru keluar dari sini. Apa urusanmu dengan mereka?" tanyanya khawatir.
Tetapi bukannya berterima kasih dengan perhatian Wendy, Cindy malah menyerang Wendy dengan ucapannya. "Kamu mau ngapain sampai mau menemuiku sebelum acara? Mau ikut mengancamku seperti mereka?" tanyanya dengan sinis.
Wendy terkejut. Bukan saja dengan sikap permusuhan Cindy yang terang-terangan ditujukan kepadanya, tetapi karena ia jadi tahu kalau Geng Princess sepertinya sudah mengetahui kebohongan Cindy.
"Aku tidak ingin mengancammu, Cin .... Aku hanya ingin membujukmu sekali lagi. Aku sebenarnya tidak ingin menemuimu lagi kalau tidak melihat apa yang terjadi pada pak James ..." terang Wendy.
"Memang apa yang terjadi dengan pak James?" tanya Cindy dengan nada curiga.
"Hari ini aku baru melihatnya lagi setelah kejadian di kamping itu. Tidakkah kamu lihat dia banyak berubah, Cin? Tidak ada lagi pak James yang murah senyum, yang ceria, dan bercanda dengan kita.
Matanya sayu seperti ikan mati. Ia terlihat lebih kurus hanya dalam waktu dua minggu. Tidakkah kamu kasihan padanya? Bukankah selama ini kamu yang begitu detail memperhatikan dan mengetahui seluk beluk tentang pak James? Apakah matamu dibutakan dengan obsesimu sampai tidak melihat itu semua?" cecar Wendy.
Cindy sudah ingin mengajukan pembelaannya, tetapi Wendy tidak memberinya kesempatan dan terus melanjutkan kalimatnya.
"Apalagi sekarang, setelah tahu kalau kamu berhadapan dengan Geng Princess. Aku mengkhawatirkanmu!! Menyerahlah, Cin .... Hentikan pernikahan ini! Lebih baik kamu dianggap berjiwa besar mengakui kesalahanmu daripada dihancurkan mereka!" bujuk Wendy.
"Permisiiii ...." Sebuah suara menghentikan percakapan mereka. Tampak seorang petugas ibadah memasuki ruangan tersebut.
"Ya, ada apa?" tanya Cindy.
"Mempelai wanita ditunggu di depan pintu ruang ibadah karena acara prosesi akan dimulai sepuluh menit lagi. Mempelai pria dan keluarga sudah ada di sana, " kata petugas tersebut.
"Baik. Saya akan segera ke sana. Terima kasih ..." jawab Cindy sambil tersenyum. Ia berusaha mengatur perasaannya agar tidak terbaca petugas itu.
"Sama-sama. Saya permisi dulu." Lalu Si Petugas Ibadah pun pergi meninggalkan Cindy dan Wendy.
"Pikirkan baik-baik saranku, Cin .... Demi kebaikanmu! Aku kembali duluan, " ujar Wendy. Lalu ia pun pergi meninggalkan Cindy kembali sendiri di ruang tunggu tersebut.
Setelah semuanya hening, Cindy tidak langsung beranjak. Ia termenung memikirkan keadaannya.
Mengapa? Mengapa? Mengapa tidak ada satu pun yang mengucapkan selamat berbahagia di hari istimewaku? Mengapa ??!!
Dalam hitungan detik ia mendapat jawabannya. Ia tertawa dalam keputusasaan menyadari kebenaran jawaban tersebut. Hati nuraninya sendiri ikut melawannya. Bagaimana mungkin kamu mengharapkan ucapan selamat yang tulus untuk kebahagiaanmu, ketika kamu sendiri memilih menghancurkan kebahagiaan banyak orang ?
__ADS_1
Lalu Cindy melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera bergabung dengan yang lain. Acara pemberkatan akan dimulai sebentar lagi.
...****************...