Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Masa Lalu Joseph (2)


__ADS_3

Di zaman sekarang ini, mencari pekerjaan adalah sesuatu yang cukup sulit karena ketatnya persaingan. Tidak semudah itu bagi Joseph yang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba untuk segera mendapatkan pekerjaan pengganti. Apalagi kejadian itu terjadi beberapa bulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Setiap sekolah pasti sudah memiliki guru olahraganya masing-masing.


Stigma seorang guru yang dikeluarkan dari sekolah tanpa surat rekomendasi untuk melamar pekerjaan di tempat selanjutnya, mempersulit pencarian pekerjaannya. Apalagi Joseph belum memiliki pengalaman mengajar di manapun selain di sekolah itu.


Awalnya, Joseph masih berusaha untuk memilih-milih tempat ia mengajar selanjutnya. Ia jera untuk bekerja di sekolah unggulan, mengingat besarnya kemungkinan anak seorang pembesar turut bersekolah di sana. Ia tidak mau lagi berhadapan dengan mereka. Di benaknya, anak seperti mereka sudah memiliki nuansa negatif tersendiri.


Namun semakin lama waktu berlalu, semakin ia menyerah dengan keadaan. Ia sudah memasukkan berkas lamaran pekerjaan di setiap sekolah, namun tetap saja tidak ada panggilan.


Beberapa bulan ini sudah ia isi dengan bekerja serabutan. Dari ojek online sampai ke kuli panggul. Semuanya ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, pengobatan ibunya, dan pendidikan adiknya.


Ya. Semenjak ia lulus, Joseph memberanikan diri untuk meminta ibunya tidak lagi bekerja. Ia menyanggupi diri untuk menjadi tulang punggung keluarga. Sebenarnya, beban ini sudah separuh ia tanggung semenjak ia kuliah. Namun kali ini ia melakukannya secara total demi menjaga kesehatan ibunya yang terus menurun.


Sampai akhirnya panggilan yang ia tunggu tiba. Lowongan guru olahraga di sebuah SMU khusus putri tiba-tiba kosong. Tidak jelas apa yang sudah terjadi, namun sepertinya guru itu dikeluarkan dari sekolah.


Joseph sendiri tidak tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. Ia hanya perlu memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ia pun mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang terbaik saat wawancara nanti. Ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Hasil dari bekerja serabutan tidaklah terlalu mencukupi kebutuhan keluarga mereka.


Permasalahannya adalah sekolah itu termasuk sekolah elite. Sudah dapat dipastikan banyak anak-anak pembesar yang selama ini ingin ia jauhi bersekolah di tempat itu. Walaupun kali ini semua muridnya adalah perempuan, rumor bahwa di sana sering terjadi pergantian guru baru, sudah sampai di telinganya. Guru pria menjadi makhluk langka yang sulit dijumpai di sekolah tersebut.


Entah apa yang terjadi di sekolah itu, ia tidak tahu. Yang jelas ia tidak ingin menganggap remeh murid-murid di sana. Walaupun mereka perempuan, bukan berarti mereka tidak bisa bersikap seb*r*ngs*k murid pria. Kejadian banyaknya guru yang keluar-masuk, harus tetap ia waspadai. Dengan membulatkan tekadnya demi memenuhi kebutuhan hidup, Joseph pun berangkat ke SMU tersebut di waktu wawancara yang disepakati.


Joseph pergi ke sana dengan mengendarai motor bututnya. Tempat parkir yang luas dan gedung-gedung sekolah nan tinggi dan megah, membuat Joseph menelan ludahnya. Apalagi pada saat Joseph tiba, bel tanda usai sekolah baru saja berbunyi. Karena itu, tidaklah mengherankan banyak mobil mewah berlalu lalang untuk menjemput para nonanya.

__ADS_1


Setelah memarkirkan motornya, Joseph mendekati security penjaga gerbang sekolah untuk meminta izin masuk dan menanyakan letak ruang kepala sekolah. Setelah mengetahui keperluan Joseph, security itu pun menunjukkan arahnya.


Sepanjang ia menuju ruang kepala sekolah, Joseph menyadari pandangan dan kasak-kasuk para siswi yang heboh melihatnya. Namun semua itu tidak ia pedulikan. Ia memfokuskan diri dengan tujuannya. Sampai akhirnya sebuah pemandangan yang terjadi di pelataran sekolah menghentikan langkahnya.


Sebuah Mercedes Benz berwarna hitam sedang terparkir di sana. Seorang pria yang kemungkinan besar sopir mobil tersebut, sedang berdiri di samping pintu mobil bagian belakang. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan nonanya.


Beberapa meter di depannya, nampak seorang gadis cantik berambut hitam panjang sedang berjalan ke arah mobil itu. Ia memakai sebuah payung untuk melindungi dirinya dari terik matahari.


Setiap siswi yang melihat gadis itu nampak menyapanya dengan sikap segan atau kagum. Gadis itu pun membalas sapaan mereka dengan anggun.


Adegan itu begitu indah dan elegan. Seperti sebuah video yang diputar dengan lambat, kejadian itu berkesan di benak Joseph dan membuat jantungnya tiba-tiba berdebar.


Ya. Gadis itu begitu cantik dan anggun. Tak ubahnya seperti dewi yang baru turun dari kahyangan. Namun bukan itu kesan kuat yang terpatri di benak Joseph. Bukan ketertarikan akan sesuatu yang berbau romansa, melainkan kebalikannya. Hati kecilnya memperingatkan dirinya, INILAH SANG PENGUASA SEKOLAH !!


Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, firasat buruknya terjadi. Banyak kejadian tak menyenangkan terjadi pada dirinya ketika mengajar di kelas XI IPA, kelas di mana Sang Putri Ketua Yayasan berada.


Kejadian yang dapat dianggap sebagai perpeloncoan itu, dibungkus dengan rapi seperti sebuah kecelakaan ataupun sebatas kelalaian belaka. Pelakunya pun berputar, namun tetap tak lepas dari anggota kelas tersebut. Joseph tidak memedulikan siapa-siapa saja pelakunya. Di benaknya, mereka semua adalah pion yang dikendalikan Sang Putri.


Ketika Joseph menanyakan para 'pelaku' kelalaian itu, nampak mereka begitu menyesali kesalahan mereka yang entah disengaja atau tidak. Kadang dapat tersirat bahwa mereka seperti terpaksa melakukannya. Apakah itu sungguhan atau kehebatan mereka berakting, Joseph tidak tahu dan tidak mau memikirkannya.


Tidak hanya perpeloncoan fisik, perpeloncoan mental pun ia alami. Harus ia akui, siswi-siswi di kelas itu pintar-pintar dan kritis. Dengan ahlinya, mereka dapat melemparkan pertanyaan yang seolah berhubungan dengan pelajaran, namun sesungguhnya memiliki jebakan di baliknya.

__ADS_1


Sebagai contoh, saat ia sedang menerangkan teori pentingnya olahraga di kelas tersebut, ada seorang murid yang mengangkat tangannya untuk meminta izin mengajukan pertanyaan.


"Ya?" kata Joseph sambil menunjuk siswi tersebut dan mempersilakan dirinya bertanya.


"Mengapa orang tua saya lebih suka olahraga di malam hari daripada di pagi hari?" tanya siswi itu yang ternyata adalah Cecilia.


Sontak kelas menjadi heboh. Para siswi mulai cekikikan dan tersenyum penuh makna. Joseph tertegun dengan pertanyaan tersebut. Emosinya sedikit tersulut. Kelas ini sedang mempermainkannya. Memangnya ia tidak dapat menangkap maksud terselubung dari pertanyaan itu? Namun ia berusaha menutupi perasaannya dan bersikap tenang seolah pertanyaan tersebut adalah pertanyaan biasa.


"Beberapa kegunaan olahraga di malam hari adalah menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas tidur. Mungkin hal itu yang orang tuamu dapatkan. Namun tetap saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Tidak semua olahraga baik dilakukan di malam hari. Waktu olahraganya pun harus diperhatikan, " jelas Joseph tetap berusaha bersikap profesional.


"Apa contoh olahraga yang boleh dan tidak boleh dilakukan di malam hari? Dan kapan waktu yang tepat untuk melakukan olahraga tersebut?" tanya seorang siswi lain.


"Olahraga yang baik untuk dilakukan adalah olahraga untuk meregangkan tubuh seperti yoga, ataupun olahraga ringan seperti bersepeda atau jalan santai. Yang tidak boleh dilakukan adalah olahraga yang bersifat kompetitif ataupun olahraga dengan aktivitas dan intensitas tinggi, seperti sepakbola, tenis, dan angkat beban.


Olahraga malam sebaiknya dilakukan dari jam 6 sore hingga 8 malam. Hal ini berhubungan dengan kerja hormon dan suhu inti tubuh. Olahraga harus dihentikan 1-2 jam sebelum tidur agar tetap mendapatkan kualitas tidur yang baik." Joseph melanjutkan penjelasannya.


"Bagaimana dengan olahraga di ranjang, Pak?" sambung Rebecca sambil senyum-senyum. Murid-murid kembali heboh setelah mendengar pertanyaan itu.


Mata Joseph menyipit. Pertanyaan jebakan seperti ini mulai membuatnya muak. "Yoga dapat dilakukan di atas kasur. Ada pertanyaan yang lain?" jawabnya singkat dan sedikit ketus.


Joseph lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, seolah memberikan kesempatan bagi siswi lain untuk bertanya. Padahal alasan sebenarnya adalah ia malas meladeni Rebecca yang ia tahu merupakan salah satu anggota Geng Princess. Saat itu pandangan matanya bertemu dengan Priscillia. Gadis itu sedang menatapnya sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


Puas kau sekarang? Maaf saja, aku tidak akan termakan jebakanmu, kata Joseph dalam hati. Ia benar-benar membenci gadis itu.


...****************...


__ADS_2