Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Cindy termenung di kamarnya. Ia hanya terdiam di atas ranjangnya semenjak kepulangan Wendy.


Ia terus memikirkan perkataan Wendy. Ia tahu ia salah. Ia tahu yang dilakukannya adalah sebuah keegoisan. Tetapi, ia juga tidak tahu harus bagaimana lagi?


Mencoba merelakan pak James, sudah dilakukannya berulang kali. Semuanya gagal. Dan sekarang setelah keadaan menjadi begini, apa ia harus mengakui kebohongannya? Ia bisa dibantai papa-mamanya. Entah ditempeleng Sang Ayah, ditampar Ibunda, diusir dari rumah, dicoret dari KK, atau entah apalagi hukuman yang akan diterimanya ia sudah tidak sanggup lagi membayangkannya.


Bola sudah dilempar, semuanya sedang berjalan ke arah yang ia inginkan, perlukah ia menghancurkan semuanya dengan sebuah pengakuan? Bagaimana nanti kalo pak James malah membencinya? Tidak! Ia tidak bisa menerimanya!


Ketika Cindy sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Cin .... Kamu ga tidur kan, Nak? Coba lihat siapa yang datang!" Terdengar suara mamanya berbarengan dengan ketukan pintu.


Cindy membukakan pintu dengan alis bekernyit. Entah siapa yang mencarinya sehingga membuat mamanya antusias seperti ini. Sejujurnya ia sedang malas menerima kunjungan, apalagi setelah apa yang tadi terjadi dengan Wendy.


Begitu pintu terbuka, ia melihat wajah ibundanya yang berseri-seri penuh kebanggaan.


"Lihat! Putri dari ketua yayasan dan teman-temannya datang menjengukmu! Mereka mendengar kejadian yang menimpamu dan mewakili yayasan untuk menyampaikan kepedulian mereka. Apalagi katanya kamu adik kelas yang cukup dekat dengan mereka walaupun hanya berjumpa selama setahun, " kata Sang Ibu.


Cindy terkejut melihat Geng Princess berada di belakang ibunya. Jantungnya mulai berdebar. Firasatnya mengatakan ada yang aneh dan kejadian yang tidak mengenakkan akan terjadi. Pasalnya mereka tidak sedekat itu. Mengapa tiba-tiba mereka bisa datang mengunjunginya? Apakah karena kasus ini menyangkut pak James?


Tetapi kecurigaannya harus ditahannya melihat raut muka Sang Ibunda. Ia tidak sampai hati menepis harapan dan kebanggaan yang tersirat jelas pada wajah itu.


Salah satu alasan orang tuanya menyekolahkan dirinya di sekolah elite memang bertujuan agar dirinya bisa bergaul dengan kaum kalangan atas. Dengan demikian hal tersebut diharapkan sedikit-banyak bisa mendongkrak perusahaan ayahnya di kemudian hari.


Dan sekarang, melihat dirinya dikunjungi putri ketua yayasan beserta teman-temannya yang merupakan anak dari para penguasa besar dan orang berpengaruh di kota ini, tentu membuat Sang Ibu bangga pada pergaulannya.


Belum lagi ia melihat wajah-wajah ramah penuh senyum dari Kak Priscillia, Kak Sharon, dan Kak Rebecca. Walaupun ia merasa senyum Kak Rebecca agak sedikit aneh dan mengkhawatirkan, ia tidak punya alasan untuk menolak itikad baik mereka.


Ia sempat tertegun karena sepengetahuannya Geng Princess terdiri dari 4 orang. Ke mana Kak Cecilia? Tetapi pertanyaan itu segera dihalaunya karena hal itu tidak penting baginya sekarang. Ia harus fokus menghadapi senior yang tiba-tiba datang dengan dalih menjenguknya ini.


Melihat anaknya yang hanya termangu di depan pintu, membuat mama Cindy jadi tidak enak pada Priscillia dkk.


"Aduh ... anak ini .... Kakak kelasnya datang bukannya langsung dipersilakan masuk, kok malah diam aja? Maaf yah .... Mungkin ia tidak menyangka mendapat perhatian dari kalian, " kata Ibunya kepada Priscillia dkk.


"Gapapa, Tante. Kaminya juga datang mendadak. Maklum, karena tempat kuliah kami berbeda semua. Jadi, agak susah bagi kami mencari waktu untuk melakukan kunjungan bersama, " jawab Priscillia.


"Ayo, ayo .... Masuk dulu! Ayo, Cindy! Persilakan Kakak kelasmu masuk dong!" tegur Mamanya mulai sewot dengan sikap Cindy yang menurutnya kurang sopan.


Cindy yang tidak punya pilihan lain, hanya bisa mengikuti arahan mamanya. "Ayo, Kak. Silakan masuk. Maaf kalau kamarnya sempit dan berantakan, " katanya basa-basi.


"Gapapa .... Santai aja, " jawab Priscillia sambil tersenyum manis.


"Permisi yah, Cin ..." ujar Sharon dan Rebecca.


Lalu ketiganya pun memasuki kamar Cindy mengikuti mama Cindy yang bergerak paling depan.


Mereka semua duduk menyebar di dalam kamar Cindy yang berukuran cukup besar. Ada yang di ranjang, di sofa, dan di kursi belajar. Mama Cindy ikut duduk menemani mereka.


"Begini loh, Cin .... Tadi Mama niat memanggilmu supaya kamu yang turun ke ruang tamu. Tapi kakak-kakak kelasmu malah minta izin agar diperbolehkan mengobrol di kamarmu aja, biar suasana bisa lebih santai. Mereka takut kamu tidak nyaman kalo ngobrol di ruang tamu yang terbuka." Mamanya menjelaskan alasan mengapa dirinya mengajak Priscillia dkk ke tempat ini.

__ADS_1


Sekali lagi, perkataan ibunya mendatangkan kecurigaan di hatinya. Tetapi kembali ia hanya bisa menahannya.


"Tadi kalian mengatakan kalau kalian kuliah di tempat yang berbeda. Memang sekarang kalian kuliah di mana dan ambil jurusan apa?" Tanya Mama Cindy kepada Priscillia dkk.


"Saya kuliah di Universitas G jurusan Pendidikan Dokter, Tante ..." jawab Priscillia.


"Saya di Universitas T jurusan hukum, Tante ..." jawab Sharon.


Kalau saya di Universitas A jurusan Manajemen Bisnis, Tante ..." sambung Rebecca.


Mama Cindy berdecak penuh kekaguman mendengar pilihan universitas dan jurusan mereka. Pasalnya, semuanya melanjutkan studi di universitas terkemuka dan bidang yang mereka pilih bukan sembarang bidang.


"Cindy belum menentukan kampus dan bidang yang ingin dimasukinya. Coba kalian sharing dan arahkan dia yah .... Mungkin setelah mengobrol dengan kalian, dia jadi terinspirasi, " ujar Mama Cindy.


Tak lama kemudian, datang seorang pelayan membawakan minuman dan makanan ringan ke kamar Cindy. "Silakan dicicipi .... Maaf seadanya. Tante permisi dulu, biar kalian bisa mengobrol dengan nyaman sebagai sesama anak muda, " ujar Mama Cindy sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Baik, Tante .... Terima kasih ..." ujar Priscillia dkk.


Dengan demikian, pergi lah mama Cindy meninggalkan keempat anak muda ini di kamar anaknya. Kepergian Sang Mama membuat Cindy semakin tegang. Ia sekarang sendirian menghadapi kakak-kakak seniornya yang ia yakin ada tujuan lain menjenguknya.


"Hai .... Kami sudah mendengar peristiwa yang menimpamu. Seperti yang mamamu katakan, kami datang mewakili yayasan untuk menunjukkan kepedulian atas peristiwa ini. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Priscillia membuka pembicaraan.


"Baik. Terima kasih, " jawab Cindy pendek tanpa bisa menyembunyikan kecurigaannya.


Priscillia tersenyum. Ia sudah bisa menangkap kekhawatiran gadis itu. Namun ia masih mencoba bersikap santai, agar tujuan aslinya tidak cepat terbongkar.


"Syukurlah kalau begitu. Jujur saja, kami juga syok mendengar kejadian seperti itu bisa terjadi. Apalagi kejadiannya di acara sekolah dan pelakunya adalah pak James. Walaupun kita cuma bersama di sekolah selama setahun, saya rasa kamu pasti sudah tahu kalau geng kami cukup dekat dengan beliau, kan?" sambung Priscillia.


"Maka dari itu, sungguh tak disangka yah, pak James yang seperti itu bisa melakukan hal tersebut padamu!" celetuk Rebecca yang terdengar seperti sindiran di telinga Cindy.


Mendengar ucapan Rebecca, Cindy diam saja. Ia meningkatkan kewaspadaannya. Dan hal itu terlihat oleh Priscillia dan Sharon.


"Memang mengerikan sekali rupanya efek alkohol .... Bisa mengubah tingkah laku seseorang." Sharon mencoba menetralisir keadaan.


"Ya. Memang mengerikan, " jawab Cindy tetap waspada.


"Jadi, apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?" timpal Priscillia.


"Tidak. Saya baik-baik saja."


"Kamu jangan sungkan. Seperti yang tadi saya katakan di depan mamamu, gini-gini saya mahasiswa kedokteran. Mungkin ada yang bisa saya bantu. Atau kalau tidak, ada Rumah Sakit yang bernaung di bawah yayasan kami. Kamu bisa mendapat pengobatan atau pemeriksaan gratis di sana, sebagai wujud kepedulian yayasan atas kejadian yang menimpamu, " tawar Priscillia.


"Tidak perlu. Saya baik-baik aja kok, " tolak Cindy.


"Benar kamu gapapa? Tidak terluka sedikit pun? Katakan saja. Bagaimanapun, kamu adalah adik kelas kami. Priscillia pasti akan membantumu, " tanya Sharon dengan wajah penuh kepedulian.


"Benar. Saya tidak apa-apa, " jawab Cindy.


"Bukankah aneh kalau kamu baik-baik saja tanpa ada luka sedikit pun? Bukankah kalau diperk*sa itu harusnya sedikit-banyak ada perlawanan. Masa kamu pasrah begitu saja dilecehkan pak James?" sindir Rebecca.

__ADS_1


Mendengar itu, Cindy terkesiap. Sudah jelaslah mengapa mereka mendatanginya. Para seniornya ini mencurigainya.


"Sebenarnya apa sih maksud kalian datang ke sini?! Jelas kalau kalian datang bukan mengkhawatirkanku!" seru Cindy mulai kehilangan kesabarannya.


"Baguslah kalau kamu tau. Kami memang mencurigaimu. Kami sangat ragu kalau pak James bisa melakukan hal sekotor itu. Kami cukup dekat dan cukup mengenalnya. Jadi sekarang akui saja, apa yang sebenarnya terjadi saat itu?!" tembak Rebecca yang sudah malas melanjutkan basa-basi seperti tadi.


Dari awal Rebecca memang sudah kesulitan bersikap manis terhadap adik kelas yang terlihat seperti ular di matanya. Hanya karena ia sudah diwanti-wanti agar mengikuti skenario yang dibuat Priscillia sebelumnya, ia jadi terpaksa melakukannya. Tetapi tadi ia sudah tidak bisa menahan amarahnya begitu mendengar kejanggalan pada jawaban Cindy.


"Saya sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada pihak sekolah. Kalau kalian mau tau lebih detail, silakan tanya pada mereka. Kalau kalian tidak percaya, terserah! Yang jelas, keraguan kalian tidak ada hubungannya sama saya!" tukas Cindy.


"Tentu ada hubungannya, Adikku yang manis. Nama baik sekolah dipertaruhkan. Sekolah juga kehilangan salah satu guru terbaiknya. Tentu saja kita harus memperjelas kejadian ini. Kalau kejadian yang terjadi sesuai dengan ceritamu, bagaimana kamu menjawab pertanyaan Rebecca tadi?" tantang Priscillia sambil tersenyum miring.


"Saya tidak punya kewajiban menjawab pertanyaan kalian! Memangnya kalian siapa? Polisi?" Cindy mencoba berkelit.


"Ga usah dijawab juga gapapa. Kamu tinggal ikut dengan kami untuk melakukan pemeriksaan di dokter kandungan. Kita bisa periksa selaput keper*w*nanmu memang robek atau tidak. Kalau ada robek, robeknya seperti apa. Itu akan menjadi bukti yang tak terbantahkan. Kalau ceritamu benar, pak James bisa dituntut lebih tinggi. Apa kamu tidak ingin menuntut pelaku yang sudah menodai dan merampas masa depanmu seberat-beratnya?" tawar Priscillia.


"Tidak perlu. Kami sudah menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Pak James pun melakukannya di luar kesadarannya. Saya sudah memaafkannya, " ujar Cindy.


"Memaafkannya? Atau memanfaatkan kebaikannya?" sindir Rebecca gemas.


"Baiklah kalau dari pihakmu sudah merasa adil dengan itu. Tapi bagaimana dengan pihak pak James dan keluarganya? Apakah sudah cukup adil untuk mereka menerima tuduhanmu begitu saja tanpa bukti yang jelas? Kalau kamu yakin benar, kenapa kamu takut melakukan pemeriksaan itu?" Priscillia kembali menantang Cindy.


Cindy terdiam. Wajahnya pucat. Ia tidak bisa berkelit lagi.


"Keluar kalian! Keluar dari kamarku! Itu urusanku dan pak James! Itu hidupku dan masa depan kami! Ga ada hubungannya dengan kalian! Jangan ikut campur! Keluaaarrrr!!!!" Cindy berteriak histeris.


"Tak usah bersikap seperti itu. Ga kasihan pada mamamu apa? Kamu ingin mamamu ikut mencurigaimu?" sindir Sharon.


"Kami akan segera keluar kok. Tak perlu kamu usir. Asal kamu tau aja, sikapmu itu malah makin meyakinkan kami bahwa kamu telah berbohong. Tentu kamu juga tau kami ini siapa, kan? Hati-hati bila berurusan dengan kami yah .... Semoga kamu bisa memikirkan tindakanmu selanjutnya baik-baik ...." Priscillia mengancam Cindy dengan halus.


Setelah Priscillia berkata seperti itu, mereka bertiga segera meninggalkan kamar Cindy yang masih terdiam dengan muka memerah menahan amarah. Ketika menuruni tangga, mereka kembali bertemu mama Cindy di ruang tamu.


"Loh .... Sudah mau pulang? Buru-buru sekali ..." katanya.


"Iya, Tante. Masih ada acara lain sehabis ini," jawab Priscillia.


"Tadi kalian mengobrol apa? Kok sepertinya heboh sekali. Suara Cindy sampai terdengar ke bawah," tanya Mama Cindy yang memang sempat mendengar suara Cindy, walaupun tidak terdengar jelas apa yang ia katakan.


"Kami membahas kejadian itu, Tante. Tetapi mungkin kami salah. Cindy sepertinya memiliki trauma. Kami jadi seperti mengungkit lukanya dan ia marah. Maaf yah, Tante ..." ujar Priscillia dengan muka memelas.


"Aduh .... Ga usah minta maaf. Kalian ga salah. Memang itu kejadian yang tidak mengenakkan. Kalian yang datang mewakili yayasan sangat wajar untuk mencari tahu tentang kejadiannya," ujar Mama Cindy berusaha memperbaiki situasi.


"Terima kasih atas pengertian Tante. Sekali lagi kami minta maaf sudah membuat suasana jadi tidak nyaman. Kami pamit dulu, Tante ..." ujar Priscillia sambil menganggukkan kepala diikuti oleh Rebecca dan Sharon.


"Oh ya .... Silakan .... Hati-hati yah .... Terima kasih sudah mengunjungi Cindy ..." ujar Mama Cindy.


"Sama-sama, Tante ..." ujar ketiganya.


Kemudian, mereka pun segera keluar dari rumah Cindy menuju mobil Rebecca yang terparkir di depan rumah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2