
Keempat gadis itu kemudian melanjutkan petualangan mereka ke taman labirin. Pohon-pohon dan bunga-bunga di sana dibentuk sedemikian rupa menjadi tembok hijau nan tinggi, dengan desain yang dapat memusingkan pengunjungnya untuk mencari jalan keluar.
Ketika memasuki lorong masuk, Rebecca menyadari ternyata kali ini Darrell juga ikut mengekori mereka memasuki taman itu. Pasalnya Darrell cukup suka dengan wahana seperti ini. Boleh dong, kalau ia ingin ikut menikmati? Kan sudah bayar tiketnya .... Dari tadi belum ada wahana yang ia nikmati lho ....
Tetapi dasar Rebecca, belum cukup ikhlas untuk tidak mencari gara-gara dengan Darrell. Dengan gerakan cepat, ia menggiring teman-temannya untuk segera lari ke arah depan, dengan harapan Darrell tersesat sendiri di belakang.
Teman-temannya yang dapat membaca maksud terselubung Rebecca, secara spontan hanya bisa ikut mendukung rencana tersebut. Mereka pun berlari berbelok ke kiri, ke kanan, tanpa arah yang jelas, hanya sekedar mengikuti suasana hati. Tujuannya hanya satu, membiarkan Darrell mencari jalan sendirian. Rebecca berharap hal itu bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan Darrell, jika pria itu terlalu lama tidak muncul di pintu keluar.
Setelah dirasa jarak Darrell cukup jauh dengan mereka, keempat gadis itu memperlambat langkah dan mulai mencari pintu keluar bersama. Mereka berjalan sambil menikmati pemandangan dan permainan. Walau terkadang mereka tersesat dan menemui jalan buntu, mereka tinggal berbalik arah dan tertawa bersama.
Sampai akhirnya mereka menemukan pintu keluar. Ternyata ... sebuah pemandangan yang mengerikan (dalam pandangan Rebecca tentunya) sudah terpampang di sana. Sosok yang tadi mereka sangka sudah tertinggal jauh di belakang, berdiri dengan arogannya (sekali lagi, menurut pandangan Rebecca) sedang menanti mereka.
"Kalian lama sekali, padahal sudah dari tadi kutunggu. Kalian tersesat yah?" kata Darrell, entah sungguh-sungguh bertanya karena khawatir atau sekadar menyindir.
Keempat gadis itu hanya bisa terdiam, sedikit malu dengan niat jahat mereka tadi. Bukannya mereka yang akan meninggalkan Darrell dengan alasan kelamaan menunggu, malah Darrell yang masih setia menunggu kedatangan mereka.
Rebecca yang pertama kali bereaksi dengan ucapan Darrell. Dengan mulut yang maju karena manyun, ia segera menarik teman-temannya untuk menerobos tempat Darrell berdiri.
"Bacot!" katanya sambil melewati Darrell. Ketiga temannya hanya bisa mengikuti Rebecca mendahului Darrell dengan menundukkan kepala dan menebalkan muka. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan Rebecca yang agak tipis urat malunya.
Sedangkan Darrell, kali ini sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Gadis kucing ini karakternya benar-benar ... SESUATU! Ia sampai tidak bisa lagi menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan gadis itu (PS: Sama, author juga merasa begitu).
Berpijak dari kejadian sebelumnya, Rebecca yang ingin membalas dendam kepada Darrell, mengajak temannya ke wahana selanjutnya yaitu rumah hantu. Intuisinya mengatakan bahwa Darrell harusnya juga akan mengambil bagian dalam wahana ini. Kalau pria itu cukup cerdas menangani labirin, bagaimana jika ia berhadapan dengan hantu? Tidak sedikit juga laki-laki yang takut hantu, kan?
Awalnya Sharon tidak mau ikut masuk karena takut. Tetapi Rebecca membujuknya dan berkata bahwa Sharon akan dijaga di tengah barisan. Ditambah dengan bumbu "lakukanlah demi aku ..." membuat Sharon sulit menolak permintaan Rebecca.
Sebenarnya hal serupa juga terjadi dengan Cecilia. Namun karena ia juga mendengar bujukan Rebecca kepada Sharon, ia tahu ia pun akan mendapat jawaban serupa jika keluhannya ia katakan. Karena itu, ia lebih memilih memendam rasa takutnya dalam hati. Lagipula, masih tersisa rasa gengsi dirinya untuk dianggap lebih berani daripada Sharon.
Akhirnya keempat gadis itu mengantre di depan pintu masuk wahana rumah hantu. Sesuai dugaan Rebecca, Darrell ikut berbaris di belakang mereka.
Penjaga wahana mengatakan bahwa lorong sepanjang jalan di dalam wahana cukup sempit, sehingga hanya bisa dilalui dua orang untuk berjalan bersisian. Karena itu, mereka diminta mengatur urutan barisan sebelum memasuki wahana.
Tentu saja yang berada di barisan terdepan adalah Rebecca. Barisan berikutnya yang sudah dapat dipastikan adalah Sharon. Sesuai janji, Sharon berada di tengah agar dengan mudah dapat dilindungi. Darrell otomatis berada di barisan belakang. Sekarang tinggal menentukan pasangannya.
Dengan formasi seperti ini, pilihan Cecilia hanya terbatas antara berpasangan dengan Sharon atau dengan Rebecca. Dengan Darrell jelas tak mungkin, karena Rebecca ingin melihat pria itu ketakutan.
Sejujurnya Cecilia tentu ingin berpasangan dengan orang yang lebih berani darinya. Namun jika berpasangan dengan Rebecca, berarti ia harus rela berada di barisan depan. Nyalinya tidak cukup. Karena itu, ia memilih berpasangan dengan Sharon demi keamanan. Dengan demikian, otomatis Priscillia berpasangan dengan Rebecca.
Setelah mereka siap, pintu wahana pun dibuka dan suasana yang meremangkan bulu kuduk segera menyambut mereka. Di dalam, penerangan mereka hanyalah lampu temaram berwarna merah yang menempel di dinding kiri dan kanan sepanjang lorong dengan jarak tertentu.
Mereka berjalan perlahan. Makin ke dalam suara raungan, teriakan, tangisan bahkan cekikikan mulai terdengar. Pemandangan di kiri-kanan lorong mulai berubah. Yang tadinya hanya berupa dinding yang kadang dihiasi lukisan menyeramkan, sekarang berubah menjadi suasana seperti penjara dengan jeruji besi.
Dengan bantuan cahaya seadanya, mereka dapat melihat sosok-sosok di balik jeruji. Di sana terdapat berbagai macam makhluk. Ada yang menyerupai setengah binatang setengah manusia, seperti manusia berkepala kambing. Ada juga yang benar-benar seperti manusia namun dengan penampilan yang mengerikan, entah yang mukanya hancur atau yang sebagian badannya koyak.
__ADS_1
Sikap para makhluk itu pun beragam. Ada yang diam di sudut penjara sambil memelototi mereka, ada yang memanggil mereka sambil menyeringai, ada yang menangis, ada yang tertawa terbahak, namun ada juga yang sampai menjulurkan tangan mereka keluar dari jeruji seolah ingin menggapai rombongan pengunjung.
"Tolong .... Tolong saya .... Tolong keluarkan saya dari sini ...."
"Kemari kalian! Kemarilah! Biar kulahap! Huahahahaha!"
"Keluarkan aku!!! Keluarkan aku!!! Arggh!!!
Demikianlah suara-suara yang keluar dari bibir makhluk jadi-jadian itu. Ada rintihan, raungan, teriakan, dan ancaman. Ada yang mengemis meminta pertolongan, namun ada juga yang menghentak-hentakan jeruji besi, seolah berharap dapat keluar dari sana.
Melihat itu semua, Cecilia dan Sharon bergidik. Mereka sampai berjalan miring bak kepiting, demi menghindari uluran-uluran tangan yang menjulur dari jeruji di kiri-kanan mereka.
"Tenang saja .... Mereka cuma akting. Sudah tertulis di aturan wahana, kalau hantu tidak akan memegang pengunjung. Karena itu, kita pun juga dilarang memegang mereka. Kalau mereka berani memegang kita, siap-siap saja mereka merasakan tendanganku, " kata Rebecca mencoba menenangkan Cecilia dan Sharon.
Mendengar itu, Cecilia dan Sharon memang sedikit lebih tenang. Tetapi tetap saja mereka memilih berjalan miring sambil keduanya berpegangan tangan demi menguatkan satu sama lain.
"Kalau takut, bagaimana kalau kita tinggalkan area ini secepatnya dan menuju pintu di depan itu?" tanya Priscillia sambil menunjuk pintu merah yang berada kira-kira 10 meter di hadapan mereka.
Rombongan itu pun setuju dengan usul Priscillia. Jika mereka dapat lebih cepat menyelesaikan wahana ini, sepertinya lebih baik.
Namun baru sekitar 2 meter mereka melangkah lebih cepat, tiba-tiba mahluk seperti mumi keluar dari penjara dan mengikuti mereka di belakang.
"Tunggguuuu .... Tungguuuu saaayyaaa .... Sayaaa mauu ikuuttt ..." katanya sambil mengulurkan tangannya seolah ingin menangkap Darrell.
Walaupun tidak berkata-kata, Cecilia pun sebenarnya ikut takut dan menggenggam tangan Sharon makin erat.
"Tenang .... Seperti kata kitty-chan, mereka tidak boleh memegang kita. Mereka cuma berakting seolah mengejar kita agar kita takut. Coba lihat ini!" Begitu menyelesaikan kalimatnya, Darrell sengaja berhenti berjalan. Tubuh tegapnya menjadi pemisah antara Cecilia-Sharon dengan Si Mumi.
Cecilia dan Sharon dengan tegang memperhatikan apa yang akan terjadi. Terlihat Si Mumi seolah tetap berjalan mendekati Darrell dengan tangan yang masih terulur. Namun jika diperhatikan baik-baik, mumi itu hanya menyeret langkahnya di tempat dan menyisakan uluran tangannya sekian milimeter dari punggung Darrell.
Melihat itu, Cecilia dan Sharon merasa tenang. Mereka pun kembali fokus dengan pintu merah yang ada di depan mereka.
Rebecca membuka pintu demi meneruskan perjalanan. Suasana baru menyambut mereka. Ruangan berikutnya gelap. Hanya terdapat satu batang lilin yang menerangi ruangan itu. Letak lilin tersebut berada di ujung ruangan. Terlihat pintu berwarna hitam di sana, entahlah itu pintu keluar atau sekadar penyambung ke ruang berikutnya.
Mereka tidak begitu dapat melihat sekitar ruangan itu karena kegelapan yang melingkupi. Namun sepertinya mereka berada di sebuah ruangan yang didekorasi seperti dapur. Nampak meja seperti meja makan panjang tempat lilin itu diletakkan. Di pojok ruangan dekat pintu, nampak juga tanaman hias seperti pohon cemara setinggi hampir 1,5 meter.
Tidak seperti di ruangan sebelumnya, ruangan itu sunyi. Karena gelap, mereka pun berhati-hati melangkahkan kaki, karena tidak dapat melihat lorong yang menjadi tempat mereka berjalan.
Begitu Darrell genap melangkahkan kaki terakhirnya memasuki ruangan itu, tiba-tiba pintu merah di belakangnya tertutup.
BRAAK!!
Semua anggota rombongan sontak menolehkan kepala ke belakang. Mereka serasa dijebak dalam ruangan ini. Rasa-rasanya, mereka akan mendapat kejutan di sini. Dengan tegang dan penuh kewaspadaan, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka perlahan-lahan menuju pintu hitam.
__ADS_1
Darrell tersenyum melihat kreativitas yang disajikan wahana ini. Rupanya Si Mumi selain ditugaskan untuk menakuti, ia juga ditugaskan menutup pintu ruangan sebelumnya untuk mengagetkan pengunjung dan membuat suasana lebih mencekam. Ide yang cukup cerdas! pujinya dalam hati.
Rebecca yang sempat melirik ke belakang semenjak Sharon dan Cecilia ketakutan, sudah tahu rencananya untuk menakuti Darrell gagal. Pria ini tidak takut sama sekali. Sebaliknya, pria itu malah dapat menghibur Sharon dan Cecilia.
Walaupun sedikit kesal karena rencananya berantakan, fokusnya saat ini adalah keluar dari wahana ini secepatnya. Ia cukup kasihan melihat Cecilia dan Sharon yang agak menderita karena keegoisannya.
Rebecca pun sedikit mempercepat langkahnya untuk memimpin jalan. "Kalian ikuti saja aku!" katanya sambil menggandeng Priscillia.
Rombongan berjalan mengikuti arahan Rebecca. Sepertinya lorong tempat mereka berjalan dibuat agak berkelok karena dibatasi dengan perabotan rumah seperti sofa, lemari, ataupun meja panjang tempat lilin tadi.
Sampai mereka berada hanya sekitar 4 meter dari pintu hitam. Di sebelah mereka berjajar sofa-sofa seperti yang ada di ruang tamu. Di ujung sofa, ada pohon cemara yang tadi. Mereka merasa cukup lega, karena sebentar lagi mereka akan keluar dari ruangan gelap aneh nan sunyi ini, tanpa mengalami sesuatu apapun.
Namun ternyata mereka salah. Tiba-tiba saja di hadapan mereka ada lampu sorot yang menyala dari atas.
PYYAR!!
Bersamaan dengan sorot lampu, terlihat sosok yang muncul dari balik pohon cemara. Sosok tersebut mengambil rupa seperti kuntilanak dengan muka pucat, rambut panjang, dan pakaian putih. Suara cekikikan pun membahana di ruangan itu.
"KYYYAAAA!!!!" Sharon berteriak histeris. Dengan kalap ia pun melepaskan pegangannya dari tangan Cecilia dan berlari ke belakang menerjang Darrell.
Untung saja Darrell berhasil menangkap Sharon dan memegang gadis itu. "Bahaya kalau kamu asal lari di tengah kegelapan seperti ini. Kamu bisa jatuh karena menabrak perabot-perabot tadi!" ujar Darrell sambil memegangi bahu Sharon.
"Ta- takuttt .... Takuttt ..." kata Sharon nyaris terisak.
Darrell menghela napasnya. "Tutup mata dan telingamu. Aku yang akan menjaga dan menuntunmu hingga di samping Cecile lagi, " katanya.
Sharon pun mengikuti arahan Darrell. Ia cukup syok untuk melihat dan mengalami kembali kejutan seperti tadi. Dengan memejamkan mata dan kedua tangannya menutup telinga, ia memasrahkan diri dituntun oleh Darrell yang memegang kedua bahunya dari belakang.
Cecilia yang berjarak kurang lebih 2 meter dari Sharon dan Darrell, tampak berdiri mematung menunggu mereka dengan kedua tangannya terlipat di depan dada seperti sedang berdoa. Tangannya yang terlipat terlihat gemetaran.
Tiba-tiba ditinggal Sharon sendiri tanpa pegangan, membuat ia ketakutan. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan. Rebecca dan Priscillia yang berdiri tidak jauh di depannya, juga melihat Sharon dengan tatapan khawatir. Ketiganya menunggu Sharon dan Darrell datang mendekat.
Setelah berada di dekat Cecilia, Darrell berkata kepada Sharon, "Sudah sampai. Ini Cecile." Ia pun mengambil satu tangan Cecilia dan meletakkannya di pinggang Sharon seolah menyuruhnya menjaga Sharon dari samping.
Sedangkan tangan Cecilia satu lagi, digandengnya dari belakang. "Kamu sendiri juga takut yah, fille qui bave ..." (arti: Gadis ileran) katanya kepada Cecilia sambil tersenyum penuh pengertian.
Mendapat perhatian seperti itu, Cecilia tersipu dan menjadi tenang. Ia membiarkan tangan yang satunya terjulur ke belakang untuk digandeng Darrell.
Untuk mengalihkan perhatian teman-temannya dari tangannya yang terkait dengan Darrell, Cecilia berkata, " Ayo lanjutkan perjalanannya, biar cepat keluar dari sini!"
Rebecca pun mengikuti saran Cecilia dan kembali menghadap depan. Sambil melewati sosok tadi, ia berkata, "Uda yah, Mbak Kunti .... Jangan dikagetin lagi .... Kami cuma mau lewat ...."
Tidak ada yang menikmati sisa pemandangan dan kejutan di wahana rumah hantu itu. Mereka sudah ingin cepat-cepat keluar karena khawatir dengan Sharon yang menutup mata dan telinganya di sepanjang jalan. Untunglah tidak lama kemudian, mereka pun menemukan pintu keluar. Dengan demikian permainan ini akhirnya berakhir.
__ADS_1
...****************...