
"Papa ..." seru Darrell begitu membuka pintu ruang kerja ayahnya.
Andreas tertegun melihat kemunculan putranya yang tiba-tiba, padahal baru saja anak itu ia kunjungi di ruangannya.
"Ada apa, Nak? Apa kau mau mengajak makan siang bersama?" tanya Andreas. Hanya itu yang ia bisa duga dari kedatangan anaknya ini.
"Bukan itu, Papa .... Aku datang ke sini untuk meminta Papa membatalkan presentasinya! Aku ga bisa!" Darrell memberanikan dirinya.
Andreas terdiam sejenak, tidak menyangka topik ini yang akan dibahas Sang Putra. "Kamu kenapa tiba-tiba begini? Kamu sakit?" tanya Andreas dengan nada khawatir.
"Tidak, Papa. Aku tidak sakit. Aku ... hanya ... merasa bersalah ..." jawab Darrell.
Andreas memicingkan matanya. "Merasa bersalah? Kenapa?"
"Aku merasa ... yang kita lakukan tidak benar, Papa. Ini seperti sebuah pengkhianatan. Celine gadis yang baik. Selama ini pun tidak ada yang salah dalam kepemimpinannya. Mengapa kita harus menggeser dia dari posisinya?" terang Darrell.
"Kamu ... baru bertemu Celine?" tanya Andreas.
Darrell tertegun. Tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya. "Ya. Di kantin, " jawab Darrell apa adanya.
"Apa gadis itu yang mempengaruhimu sehingga kamu jadi begini?" tuduh Andreas dengan nada sinis.
"Astaga, Papa .... Celine tidak melakukan apa-apa! Ini hasil penilaian dan pengamatanku pribadi! Kenapa Papa menuduhnya yang bukan-bukan?!"
"Karena kamu tiba-tiba begini! Sebelumnya padahal kamu baik-baik saja! Kok bisa-bisanya kamu mendadak berubah pikiran padahal sebentar lagi mimpi kita tercapai?! Kalau bukan kamu dipengaruhinya, alasan apa yang paling masuk akal?!" Nada Andreas mulai meninggi.
"Sebenarnya ini tidak mendadak, Papa. Sudah dari dulu sesungguhnya aku tidak nyaman. Namun aku mencoba membohongi diriku sendiri karena aku tidak ingin mengecewakan Papa. Namun kali ini ... sepertinya aku sudah tidak bisa lagi membohongi hati nuraniku, " jelas Darrell.
__ADS_1
"Membohongi hati nurani apanya?! Mengapa harus merasa bersalah?! Kamu berpikir terlalu jauh, Nak! Hal seperti ini biasa terjadi. Sama seperti orang yang memperebutkan piala dalam sebuah pertandingan. Kalah-menang adalah hal yang biasa. Justru Celine lah yang harus belajar berbesar hati mengakui keunggulanmu darinya!" sanggah Andreas.
"Masalahnya aku tidak pernah ingin bertanding dengan Celine, Papa .... Tidak juga dengan Dion. Aku tidak pernah peduli dengan menjadi nomor satu atau nomor dua. Aku hanya ingin hidup damai. Mengapa aku harus bertanding dengan keluargaku sendiri?!" balas Darrell dengan nada suara yang mulai naik. Ia tidak habis pikir mengapa Sang Ayah tidak juga mengerti perasaannya.
"Karena ini mimpi kita, Darrell! Mimpi kita! Biar kita tidak direndahkan karena kita selalu menjadi nomor dua!"
"Ini mimpi Papa!! Bukan mimpiku!! Tidakkah Papa mengerti?!!" teriak Darrell.
Mendengar itu, Andreas terdiam. Baru kali ini putranya meneriakinya. Darrell sendiri pun menyadari kalau ia sudah sempat kehilangan kendali diri. Dengan frustasi, ia menundukkan kepala dan mengelap wajahnya dengan tangannya.
"Maafkan aku, Papa .... Tapi tolong ... mengertilah .... Jangan jadikan aku orang yang tak tahu berterima kasih ...." Darrell menurunkan suaranya.
Darrell melirik ayahnya yang masih terdiam. Lalu ia pun melanjutkan kalimatnya untuk membujuk ayahnya.
"Tidak ada yang pernah merendahkan kita, Papa .... Tidak ada. Tidak Celine, tidak Om Adrian, atau siapapun. Apakah dalam kepemimpinannya selama ini Om Adrian atau Celine pernah bersikap sewenang-wenang dalam memperlakukan bawahannya, termasuk kita? Tidak pernah, kan?
Kalau Papa tidak enak hati membatalkan pertemuan ini pada para pemegang saham yang Papa kumpulkan, biar aku yang maju nanti. Aku yang akan minta pengertian mereka untuk membatalkan dukungannya padaku, karena ternyata aku belum siap.
Dengan demikian, biar aku yang menanggung malu. Bagaimanapun, aku yang harus bertanggung jawab. Ini semua kesalahanku karena aku tidak bisa jujur dari awal pada Papa, " sahut Darrell menutup kalimatnya.
Untuk sesaat, suasana masih tetap hening. Darrell menunggu respons ayahnya dengan harap-harap cemas.
Tidak berapa lama kemudian, Andreas bangkit dari tempat duduknya.
"Papa yang akan bicara dengan mereka, " sahutnya. Lalu ia keluar dari ruangannya dengan lesu dan meninggalkan Darrell sendirian di sana.
...****************...
__ADS_1
"Demikian yang saya bisa laporkan, Pak!" ujar seorang pria kepada Adrian.
"Terima kasih! Kamu boleh pergi!" sahut Adrian.
"Saya permisi, " jawab pria itu, lalu keluar dari ruang direktur utama.
Adrian baru saja mendapat laporan dari seorang mata-mata yang ia utus untuk mengawasi tingkah laku adiknya. Ia memang mengikuti perkataan Celine untuk mencoba belajar pasrah, namun bukan berarti ia tidak melakukan apa-apa. Setidaknya ia ingin memastikan bahwa Andreas tidak melakukan kecurangan kali ini. Jika kemenangan Darrell didapatkan dengan kelicikan, ia pun tidak akan segan-segan melakukan hal serupa.
Ia sudah mengetahui rencana pertemuan tersembunyi yang akan diadakan antara para pemegang saham dengan Darrell. Ia tahu keponakannya akan berusaha meyakinkan mereka untuk menggeser kedudukan putrinya. Namun karena sejauh ini ia tidak menemukan kecurangan, ia tidak berbuat apa-apa. Ia sudah siap belajar pasrah dan belajar berbesar hati mengakui kekalahannya.
Namun berita yang baru ia dengar, sungguh tidak terduga. Ia memang tidak mendapat laporan detail tentang apa saja pembicaraan ayah-anak tersebut di ruang kerja Andreas. Tetapi dari raut wajah Andreas yang lesu setelah keluar ruangan, dan bagaimana akhirnya pertemuan tersebut dibatalkan, dengan mudah dapat disimpulkan bahwa Darrell melakukan sesuatu sehingga keputusan adiknya berubah.
Adrian tersenyum. Matanya menerawang. Kembali ia mengakui kebenaran perkataan putrinya. Semua ada waktunya. Semua sudah ada yang mengatur. Bagian kita hanya menjalani kepercayaan yang diberikan dengan baik. Dengan demikian, hidup akan lebih tenang dan damai. Tidak ada permusuhan, perselisihan, dan saling menjegal. Tidak ada sakit hati, iri hati, dan dendam.
Dan rupanya mereka masih dikaruniai kepercayaan untuk menjadi orang nomor satu di perusahaan ini. Tidak ada yang tahu alasan Darrell membatalkan rencananya. Namun mungkin hubungan Celine dan Darrell lebih baik daripada hubungan dirinya dengan adiknya.
Adrian menghela napas panjang. Tiba-tiba ia merasa sudah tua. Ia mungkin sudah harus mempersiapkan diri untuk pensiun dan membiarkan generasinya digantikan dengan generasi Celine dan Darrell. Sepertinya mereka bisa membawa perusahaan ke arah yang lebih baik.
Laki-laki tua itu memejamkan matanya. Sebentar lagi .... Sebentar lagi saja .... Biarkan ia mengawal putrinya dulu. Memastikan jalan putrinya lancar menuju tampuk pimpinan.
Ia tahu masih ada orang-orang yang ingin menurunkan putrinya. Ia sendiri belum yakin adiknya dan Darrell benar-benar akan mendukung Celine menjadi direktur utama dan tidak akan lagi berkhianat. Ia ingin memastikan itu dulu, baru kemudian ia dapat pensiun dengan hati lapang.
Dengan mata terpejam, kembali sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Kalau benar Darrell mengundurkan niatnya karena ikatan tak terlihat antara diri pemuda itu dan Celine, alangkah baiknya.
Bisa jadi ia salah menduga tentang keponakannya. Mungkin sesungguhnya Darrell bukan seekor buaya yang dapat menancapkan giginya pada orang yang membesarkannya. Namun saat ini ia hanya bisa berharap. Biarlah waktu yang dapat membuktikannya.
...****************...
__ADS_1