
Kita mundur ke pembicaraan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
"Celine, ke mana bocah kekasihmu itu? Sudah beberapa bulan tidak kelihatan batang hidungnya," tegur Tuan Adipratama.
"Celine kan sudah bilang ke Papa .... Bang James baru saja kehilangan pekerjaan, Pa .... Jadi tabungannya terbatas. Biaya naik pesawat kan cukup mahal, " jawab Celine.
"Bukannya dia sudah mendapat pekerjaan baru?" tanya ayahnya penuh selidik.
"Iya, Pa .... Baru kira-kira sebulan Bang James bekerja di RSUD. Statusnya pun masih karyawan orientasi, " jawab Celine apa adanya. Percuma ia menutupi hal itu dari Sang Ayah, karena bisa saja sebenarnya ayahnya sudah menyelidikinya.
"Tetapi harusnya bocah itu tetap menghadap Papa, Celine. Janji pertunangan kalian itu ia buat di depan Papa. Sebagai laki-laki, harusnya ia berani bertanggung jawab untuk hal itu. Lagian, sampai ia harus menjadi pengangguran begitu lama, bukankah itu pilihannya sendiri? Mengapa ia tidak mau menerima bantuan kita dalam mencarikannya pekerjaan?" protes Tuan Adipratama.
"Untuk masalah menghadap Papa, Celine yang larang. Selain terbentur masalah biaya, Bang James masih butuh penyesuaian terhadap lingkungan kerja yang baru. Jadi Celine minta Bang James fokus dulu. Untuk masalah tidak menerima bantuan, itu karena Bang James ingin mandiri, Papa .... Ia tidak ingin memanfaatkan kekuasaan keluarga kita. Bukankah biasanya Papa suka orang yang seperti itu?" jelas Celine.
"Ya. Secara umum Papa suka. Tapi jadi orang harus fleksibel, Celine .... Kita tidak bisa menggantung hubungan seenaknya hanya karena harga diri!"
"Bang James ga gantung hubungan kami. Ia hanya minta waktu sampai masa orientasinya selesai dua bulan lagi." Celine membela kekasihnya.
"Kalau akhirnya ia diterima. Bagaimana kalau ternyata ia ditolak? Rencana pertunangan kalian mundur lagi?" Tuan Adipratama menyindir putrinya.
Celine terdiam sejenak. Ia tahu tidak ada yang dapat menjamin hal tersebut. Ia hanya mencoba mempercayai kekasihnya.
"Minta waktu, Papa .... Tolong kasih Bang James kesempatan sampai masa orientasinya selesai. Celine percaya Bang James pasti bisa diterima dan dilanjutkan kontraknya, " kata Celine dengan suara memelas.
Tuan Adipratama menghela napasnya. "Baiklah. Tiga bulan tepat dari masa orientasinya dimulai! Jika setelahnya bocah itu tidak memberi kabar ataupun tidak diterima, kamu harus mau ikut perjodohan!" Tuan Adipratama mengutarakan keputusannya.
"Celine ga mau dijodohkan, Papa! Celine akan menentukan pasangan Celine sendiri!" tolak Celine dengan segera.
"Bagaimana kamu bisa menentukan pasangan yang tepat untukmu, jika kamu hanya memandang bocah itu? Kamu tidak pernah memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk dibandingkan dengan dia. Ibarat kata, kamu seperti anak ayam yang baru menetas, dan akan mengikuti siapapun karena mengira itu induknya. Begitu pula dengan pengalamanmu dengan pria," sanggah Tuan Adipratama.
Celine terdiam. Alisnya bekernyit. Ia tidak menyukai pendapat ayahnya, namun di sisi lain ia juga tidak bisa menyangkalnya.
"Papa bukannya minta kamu memutuskan hubunganmu dengan bocah itu, Celine. Papa cuma minta kamu memperluas pergaulanmu, khususnya dengan lawan jenis. Bertemu saja dulu. Kalau jodoh, silakan dilanjutkan. Kalau tidak, ya sudah. Anggap saja bertemu dengan rekan bisnis. Karena Papa ga mau kamu menunggu dengan sia-sia tanpa sebuah kepastian. Mengerti maksud Papa, kan?" Tuan Adipratama berusaha membujuk Celine.
__ADS_1
Setelah tiga tahun tinggal bersama, Tuan Adipratama sudah mengenal watak Celine. Sedikit-banyak putrinya ini memiliki tingkat kekeraskepalaan yang sama dengan dirinya maupun kakaknya. Jadi akan lebih baik ia mencoba membujuknya baik-baik dengan penalaran yang sesuai, daripada memaksanya.
Celine menghela napas. "Baiklah. Celine setuju ikut perjodohan hanya kalau Bang James tidak ada kabar atau tidak diterima setelah masa orientasinya lewat. Dan kalaupun akhirnya Celine mengikuti perjodohan tersebut, Papa harus berjanji bahwa keputusan akhir tetap di tangan Celine. Celine yang menentukan pria itu cocok/tidak dengan Celine. Yang penting seperti yang Papa bilang, Celine sudah memberinya kesempatan. Begitu?"
"Setuju, " jawab Tuan Adipratama.
Demikianlah perjanjian itu dibuat, sampai tidak terasa waktu dua bulan sudah berlalu. Hari ini tepat tiga bulan James bekerja di RSUD.
Celine menunggu kabar dari James dengan tegang. Harusnya dalam waktu dekat, kabar itu pasti tiba. Celine tidak berani menanyakannya karena takut akan membuat James khawatir. Jadi ia memilih menunggu James memberi kabar lebih dulu.
Beberapa hari berlalu. Celine semakin gelisah. James tidak menyinggung masalah orientasinya sama sekali. Pembicaraannya dengan James masih seputar itu-itu saja. Bahkan saat ini mereka sedang membicarakan rencana kegiatan yang akan mereka lakukan bersama jika Celine datang mengunjunginya Sabtu nanti. Untunglah dari pihak ayahnya belum ada pergerakan sama sekali. Karena itu, Celine masih dapat menenangkan hatinya.
Hari Jumat tiba. Celine bekerja di kantor dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sampai waktu kira-kira menunjukkan pukul 13.00, ayahnya memasuki ruang kerjanya (noted: Celine dan papanya bekerja di ruangan yang sama, ruang direktur utama - eps 74 ). Sepertinya ayahnya baru kembali dari makan siang.
"Celine, ke meja Papa sebentar. Papa mau bicara."
Deg. Perasaan Celine tidak enak. Firasatnya mengatakan ayahnya akan membahas masalah perjodohan.
Setelah Celine duduk di kursi yang berhadapan dengan meja direktur utama, ayahnya berkata, "Waktu yang dijanjikan tiba. Kekasihmu tidak memberi kabar. Sekarang tepati janjimu. Papa sudah membuat janji temu dengan pria yang akan dijodohkan denganmu hari ini. Namanya Stanley Gunawan Tirta, anak dari pimpinan Perusahaan Gunawan Persada. Temui dia sekitar jam 6 nanti di restoran X, sekalian menikmati makan malam bersama."
"Papa akan menghormati keputusanmu, entah kamu akan menerima pria itu atau tidak. Hanya berjanjilah memberi penilaian dengan adil. Jangan persulit dia hanya karena penolakanmu terhadap perjodohan ini." Melihat reaksi Celine yang murung dan tidak bersemangat, ayahnya memberikan nasihatnya.
"Baik." Celine menurut. Ia juga harus menghargai pendapat ayahnya jika ingin pendapatnya juga dihargai Sang Ayah. Selama perjanjian ini cukup adil, ia akan melakukannya.
"Bagus! Pembicaraan ini akan kita lanjutkan di rumah setelah pertemuanmu dengannya. Papa ingin mengetahui penilaianmu tentang pria itu."
"Baik, Papa."
"Ya .... Kembalilah bekerja."
"Baik, Pa. Celine permisi, " pamit Celine.
Celine pun kembali ke mejanya dan berusaha fokus dengan pekerjaannya. Semangatnya menurun. Ia diliputi perasaan bersalah. Ia merasa seperti sedang berselingkuh dari James.
__ADS_1
Tidak. Aku tidak berselingkuh! Ini hanya perkenalan biasa. Anggap saja pertemuan dengan rekan bisnis. Yang penting hatiku tetap setia, kan ? Celine berusaha menenangkan hatinya sendiri.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Pak Darwis sedang memegangi perutnya yang sakit. Dari tadi ia sudah beberapa kali bolak-balik ke WC. Sepertinya ia ada salah makan saat memilih menu makan siang tadi.
Rrrrrrr .... Perutnya kembali bergemuruh, seolah membujuk pemiliknya untuk kembali ke WC terdekat. Namun ia tidak berani meninggalkan pos penjagaannya, karena sebentar lagi ia harus melaksanakan tugasnya mengantar Bu Celine ke tempat perjodohan. Perintah kali ini diturunkan langsung oleh Sang Direktur Utama. Sang Pimpinan sudah berpesan kalau ia tidak boleh terlambat.
Dalam penderitaannya menahan tuntutan hajat yang makin memaksa untuk segera dibuang, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang pernah ia antar ke rumahnya, sedang mengeluarkan mobil dinas dari area parkir. Dengan segera ia berlari menghampiri pemuda itu dan mengetuk jendela kaca di samping sopir.
"Tunggu! Kamu ... dari bagian apa dan mau ke mana?" tanya Pak Darwis setelah jendela di depannya dibukakan oleh Sang Pengemudi.
"Saya dari bagian makanan sehat. Saya mau mengambil sampel bahan baku yang diminta bagian produksi, Pak ..." jawab Joseph yang mengenali Pak Darwis sebagai sopir Celine.
"Kamu dekat dengan Bu Celine, kan? Tolong gantikan saya untuk mengantar beliau ke tempat perjodohan yah .... Perut saya sakit sekali, mau segera ke WC, " kata Pak Darwis dengan wajah memelas.
"Tapi, Pak .... Tugas saya bagaimana?" tanya Joseph bingung.
"Nanti bicarakanlah dengan Bu Celine. Beliau pasti akan mengaturnya. Tugas mengantar beliau ke perjodohan lebih penting, karena merupakan perintah dari ayah beliau langsung. Sudah yah .... Saya ga tahan lagi. Ini kunci mobilnya, " kata Pak Darwis sambil menyerahkan kunci mobil ke tangan Joseph.
Tanpa menunggu jawaban Joseph, Pak Darwis segera berlari menuju WC terdekat. Tinggal Joseph yang masih terpaku dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Tadi Pak Darwis bilang apa? Mengantar ke tempat perjodohan? Nona Malaikatnya mau dijodohkan ?
Joseph terdiam menyadari perbedaan situasi antara dirinya dengan Sang Nona. Dalam usia yang relatif cukup muda, nona Celine sudah dijodohkan oleh ayahnya. Bandingkan dengan dirinya yang sudah memasuki usia wajib menikah. Boro-boro ada yang mau dijodohkan dengannya, mencari sendiri saja ia tak dapat.
Perenungan singkat itu membuat Joseph tersenyum pahit. Dengan kondisinya sekarang, ia tidak berani mencari pasangan. Ia masih harus fokus dengan kesehatan ibunya dan biaya pendidikan adiknya. Berhubungan dengan seorang wanita pasti membutuhkan anggaran biaya tersendiri, yang kalau dihitung-hitung jumlahnya pasti tidak sedikit.
Joseph pun menghentikan pemikiran yang bisa membuatnya mengasihani diri sendiri. Ia lebih memilih fokus dengan apa yang ada di hadapannya.
Ia lalu melihat dua kunci mobil yang kini berada di tangannya. Yang satu kunci mobil dinas, dan yang satu lagi adalah kunci mobil pribadi nona Celine. Begitu ia menyadari satu fakta yang mau tak mau harus ia hadapi sebentar lagi, keringat dingin segera bermunculan di keningnya.
Tunggu sebentar .... Kalau mobil pribadi nona Celine, bukannya mobil BMW hitam? A- aku harus mengendarai mobil mahal itu??!! Mati aku, Mak!!! Apakah aku sanggup ??!! tanyanya pada dirinya sendiri, sambil melihat tangannya yang sudah gemetaran.
__ADS_1
...****************...