Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Persahabatan yang Dipulihkan


__ADS_3

Tiga minggu sudah berlalu dari hari pertunangan. Tidak ada apapun yang berubah. Darrell bersikap seperti biasa dan tetap mengunjungi Cecilia setiap akhir pekan.


Namun seperti menunggu bom yang tidak diketahui kapan meledaknya, begitulah Cecilia dihantui perasaan gelisah. Ia penasaran dengan rapat pemegang saham yang sempat tercetus oleh Sonic di pesta pertunangannya.


Apakah rapat itu sudah digelar? Kalau sudah, bagaimana hasilnya? Apakah Darrell tidak berubah walaupun ia sudah berhasil mengalahkan Celine? Atau Darrell belum berubah karena masih membutuhkan dirinya untuk mencapai apa yang ia dan ayahnya inginkan?


Seribu pertanyaan masih bermain di benak Cecilia. Namun ia tidak berani mencari jawabannya. Ia hanya mencoba memastikannya lewat sikap Darrell. Ini juga lah yang sedang ia lakukan sekarang.


Ia memperhatikan dengan detail setiap gerak-gerik pria itu. Apakah ada yang berubah? Gayanya? Perhatiannya? Tutur katanya? Setidaknya kalau benar Darrell berubah sikap karena sudah tidak membutuhkannya, ia harap dirinya tidak terlalu hancur karena sudah mempersiapkan hatinya lebih dulu.


"Cecile ..." panggil pria itu tiba-tiba.


"Eh? Ya?" sahut Cecilia sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanya Darrell.


"Ada apa apanya?" Cecilia balik bertanya karena tidak mengerti arah pertanyaan Darrell.


"Mengapa kamu melihatku dengan intens begitu? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Bak kucing tertangkap basah, Cecilia menjadi gugup. "Eh? Tidak. Tidak ada apa-apa."


Alis Darrell bekernyit, sedikit aneh dengan sikap Cecilia. Ia tahu ada yang gadis ini tutupi. Pasalnya, bukan sekali dua kali ia melihat Cecilia bersikap begini.


Tak lama kemudian, Darrell menghela napasnya. Ia mengingatkan dirinya untuk menyikapi sikap Cecilia dengan santai. Siapa tahu dengan begitu, ia dapat menggali sesuatu dari gadis itu. "Apakah dirimu sedang mengagumi ketampananku?" katanya dengan nada menggoda.


Cecilia tertegun. Namun sedetik kemudian ia tersenyum manis dan mengelus pipi kiri Darrell dengan tangan kanannya. "Iya. Kekasihku tampan sekali. Aku terpesona berkali-kali, " jawabnya jujur dengan sedikit tersipu.


Gantian Darrell yang tertegun. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah menjadi sendu.

__ADS_1


Cecilia bingung. Tidak biasanya Darrell bersikap seperti ini. Biasanya pasti Darrell akan balik menggodanya dan mengajaknya bercanda.


"Kenapa wajahmu tiba-tiba murung? Apakah aku salah bicara?" tanya Cecilia sedikit panik.


Darrell terdiam menatap Cecilia, membuat jantung gadis itu semakin terpacu. Senyum sendu menghiasi wajahnya. Gantian tangannya yang membelai pipi Cecilia. "Tidak .... Dirimu tidak salah bicara. Hanya saja ...."


Belum sempat Darrell menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memasuki butik. "Permisiiii ...."


Tampak Rebecca diikuti Priscillia dan Sharon di belakangnya. Cecilia tertegun melihat ketiga temannya yang datang tanpa pemberitahuan. Pasalnya setelah pesta pertunangan, belum ada pembicaraan lagi di antara mereka.


"Tuh .... Bener kan, Pris .... Pasti Si Darrell ada di sini. Aku ga salah pilih waktu dan tempat, kan?" ujar Rebecca dengan bangga.


Priscillia hanya menanggapi ucapan Rebecca dengan senyum kikuk. Temannya ini memang agak lain. Bukannya memberi salam lebih dahulu kepada Yang Empunya Toko, ini malah memamerkan kelebihannya dalam menebak.


"A- ada apa? Tumben kalian kemari tanpa kabar," tanya Cecilia tanpa bisa menutupi kegugupannya. Pasalnya ia sudah terlanjur berprasangka sesuatu yang buruk akan terjadi jika temannya tiba-tiba datang di saat Darrell juga sedang bersamanya.


"Aku yang memiliki keperluan denganmu. Priscillia dan Sharon hanya menemaniku. Untungnya lagi, Darrell memang ada di sini sesuai dugaanku, " jawab Rebecca lugas.


"Aku ...." Omongan Rebecca tersendat. Raut wajahnya berubah, seolah yang ingin dikatakannya adalah sesuatu yang berat. Dari belakang, tampak Priscillia dan Sharon mendukung Rebecca untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Aku ... minta maaf karena sudah berprasangka buruk pada kalian berdua!" ucap Rebecca dengan tegas, setelah mengumpulkan keberaniannya. Wajahnya sedikit kemerahan menunjukkan bahwa ia menahan rasa malunya demi mengucapkan kalimat itu. Cecilia dan Darrell hanya dapat termangu melihat adegan yang tidak disangka itu.


"Kemarin kami baru mengunjungi pak James. Di sana kami bertemu dengan Celine. Aku menanyakan tentang perkembangan pergerakan Darrell untuk merebut posisi pewaris. Sudah tiga minggu berlalu, dan aku merasa yakin tidak mungkin pria serigala ini tidak melakukan apapun dalam rentang waktu tersebut.


Namun Celine malah mengatakan sesuatu yang tak terduga. Pergerakan memang sudah terjadi. Siasat sudah dijalankan. Namun di saat penentuan, sepertinya Darrell malah mundur dan menolak menggeser Celine. Begitukah yang terjadi?" Rebecca balik bertanya.


Dengan wajah tak percaya, Cecilia refleks mengalihkan pandangannya ke Darrell seolah menuntut jawaban. Darrell jadi salah tingkah dan menundukkan kepala sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Yah .... Begitulah ..." jawab pria itu dengan canggung.

__ADS_1


"Yah .... Aku tidak mau tau penjelasanmu. Itu tidak penting bagiku. Yang jelas, aku berhutang maaf. Aku juga mau mengucapkan terima kasih atas kebesaran hatimu untuk mengundurkan diri. Tapi ini ucapanku pribadi ... bukan Celine.


Asal kamu tau aja, Celine sebenarnya juga ingin mengucapkan terima kasih padamu. Tetapi ayahnya melarangnya. Begitu pula aku! Ia tidak pantas merendahkan dirinya mengucapkan terima kasih padamu, toh pada dasarnya posisi itu memang miliknya! Kau yang tidak tau malu ingin merebutnya!" ketus Rebecca.


Mendengar itu, Darrell tertegun. Ini adalah ucapan permintaan maaf dan terima kasih teraneh yang ia pernah terima. Bisa-bisanya dalam ucapan penuh kebaikan tersebut, masih terselip kata-kata ketus berbau sindiran khas Rebecca. Entah ia harus senang atau marah mendengarnya.


Rasa canggung Darrell hilang. Senyum miring mulai muncul di wajahnya. Ingin rasanya ia membalas ucapan Gyra galak yang kadang lupa kodrat ini.


"Jadi ... pandanganmu terhadapku berubah, kitty ?" tanya Darrell.


"Yah .... Begitulah. Harus kuakui penilaianku salah padamu, " ujar Rebecca jujur.


"Tapi maaf, kitty-chan .... Walaupun akhirnya kamu menyesali keputusanmu memutuskan perjodohan kita, aku tidak akan berpaling. Aku sudah milik Cecile sekarang, " balas Darrell yang membuat Cecilia tersipu.


Sebaliknya, Rebecca mendelik mendengar ucapan tidak tahu malu itu. "Wooii, werewolf gila! Jangan kepedean! Siapa juga yang masih mau sama kamu?! Belum pernah kelilipan batako??!! Tolong tuh mulut dikondisikan yah!!" ancam Rebecca. Sontak Darrell langsung terbahak mendengar ancaman maut Gyra murka.


Cecilia tersenyum kecut. Kembali ia teringat dengan kenyataan bahwa Darrell tertawa lepas hanya ketika berhadapan dengan Rebecca. Sedikit-banyak ia cemburu. Ia juga ingin Darrell bersikap lepas padanya.


Namun saat ini, rasa itu ditepisnya. Ia tidak ingin merusak keadaan yang sedang membaik. "Bagaimana sekarang kalau kita keluar bersama? Toh sekarang sudah hampir waktunya makan malam ..." ajak Cecilia.


Rebecca, Priscillia, dan Sharon berpandang-pandangan. Priscillia dan Sharon mengangkat bahu, seolah memberikan wewenang kepada Rebecca untuk memutuskan.


Rebecca kembali menghadap sepasang kekasih itu. "Terima kasih atas tawarannya. Tapi kami pilih kembali aja. Jangan salah paham! Bukan kami ingin mengasingkanmu, Cil. Kami hanya tidak ingin jadi obat nyamuk, " ujarnya sambil tersenyum.


Cecilia tersenyum menahan kekecewaan. Mungkin memang terlalu berlebihan jika ia berharap sahabat dan kekasihnya bisa berjalan bersama-sama dengannya. Ia ingin sesekali menikmati kebersamaan seperti di taman ria ataupun di mal seperti waktu itu. Namun tentu dengan suasana yang berbeda, bukan situasi penuh muslihat dan strategi permusuhan untuk mengabaikan satu sama lain.


Priscillia tersenyum menyadari kekecewaan temannya. Ia pun menepuk ringan pipi Cecilia dan berkata, "Santai saja .... Kita akan cari waktu lain untuk mewujudkan keinginanmu itu. Namun tidak sekarang. Kurasa, masih banyak juga yang harus kamu bicarakan dengan Darrell, kan?"


Cecilia tersenyum. Ya .... Masih banyak waktu. Jangan berpikir negatif dulu. Teman-temannya hanya memikirkan yang terbaik untuknya. Dan pada kenyataannya, yang dikatakan Priscillia memang benar. Masih banyak hal yang harus ia bicarakan dengan Darrell.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, ketiga temannya pamit pulang. Cecilia mengantarkan mereka keluar dari butiknya dengan perasaan hangat. Persahabatannya sudah mulai dipulihkan. Sekarang tinggal ia memperbaiki hubungan asmaranya.


...****************...


__ADS_2