
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Beberapa karyawan kantor sudah mulai bersiap-siap meninggalkan gedung tinggi tempat mereka bekerja, kecuali mereka yang lembur. Sama halnya dengan Celine. Saat ini ia juga sedang berjalan ke arah pelataran gedung, karena sopirnya sudah menunggu di sana.
Hari ini Celine merasa santai, sesuatu yang jarang ia rasakan. Tidak ada pekerjaan yang memaksa untuk ia selesaikan secepatnya. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke rumah sesuai dengan jam pulang kantor.
Ketika ia sudah hampir melewati pintu keluar, terdengar suara yang memanggilnya, "Nona! Eh salah .... Bu! Bu Celine!"
Celine pun menengok ke arah kiri, di mana panggilan tersebut berasal. Tampak Pak Joseph sedang berlari menghampirinya.
"Ya? Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Celine ramah begitu Pak Joseph sudah berdiri di sampingnya.
"Tidak ada, Nona. Eh, Bu Celine maksud saya, " jawab Pak Joseph yang salah tingkah akibat belum terbiasa memanggil Celine dengan sebutan 'Ibu' seperti halnya karyawan yang lain.
Jujur saja, sangat sulit buat Joseph menghilangkan kesan pertamanya pada Celine. Ingatannya di mana Celine masih tampak lugu, polos, gugup dan pemalu melekat kuat di benaknya. Di tambah lagi dengan umur dan penampilan Celine yang jelas terlihat lebih muda darinya. Lagipula mereka amat jarang bertemu di kantor, sehingga ia tidak punya cukup kesempatan untuk membiasakan diri.
Celine tersenyum melihat Pak Joseph yang salah tingkah. "Jadi? Apa yang membuat Bapak sampai berlari menghampiri saya begini?" tanyanya.
"Ngg ... begini .... Sejujurnya, saya khawatir dengan Pak James setelah Ibu bertanya pada saya waktu itu. Saya ingin tahu kelanjutannya. Tapi ... saya tidak berani menghampiri Ibu di ruang direktur. Berhubung hari ini akhirnya kebetulan bisa bertemu ... saya memilih menghampiri Ibu untuk menanyakannya, " terang Pak Joseph.
Celine memang sempat memanggil Pak Joseph ke ruang kerjanya begitu ia mendapat kabar dari detektif perihal kejadian yang menimpa James. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi perilaku James saat mabuk. Bagaimanapun, Pak Joseph termasuk salah seorang yang pernah menghadapi situasi tersebut.
"Agak risih kalau diceritakan, karena kami sama-sama laki-laki. Pak James waktu itu memeluk saya dengan erat seolah saya kekasihnya. Sulit bagi saya untuk melepaskan diri. Bahkan sekalipun ia sudah terbaring di lantai kafe, ia masih saja memeluk erat kaki saya ..." cerita Pak Joseph sambil tertawa kecut mengingat kejadian yang dialaminya.
Celine yang mendengar jawaban Pak Joseph hanya mengangguk-anggukkan kepala. Kejadian yang hampir serupa dengan apa yang ia sendiri pernah alami.
Saat itu bang James juga hanya memeluknya erat, tidak lebih. Tidak ada perlakuan yang tidak sopan ataupun yang tidak senonoh. Hal ini lah yang menambah keyakinan Celine kalau apa yang terjadi pada bang James hanyalah jebakan dari perempuan yang bernama Cindy.
Melihat raut muka Celine yang serius, membuat Pak Joseph tergelitik untuk bertanya lebih lanjut. "Memangnya apa yang terjadi, Nona? Tumben Nona menanyakan hal yang sudah lama terjadi."
Celine terpaksa menceritakan garis besar yang menimpa Bang James. Bagaimana ia dituduh melakukan tindakan tidak senonoh saat ia sedang mabuk.
"Itulah sebabnya saya bertanya pada Bapak, selaku orang yang pernah menghadapi bang James ketika mabuk. Saya ingin mengkonfirmasi kebiasaan apa saja yang bisa dilakukan bang James saat ia tidak sadar, " jelas Celine.
Raut wajah Pak Joseph berubah menjadi serius. Ia prihatin dengan kejadian yang dialami mantan rekan kerjanya.
"Hanya ini yang bisa saya ceritakan, Nona .... Saya sendiri tidak yakin Pak James dapat melakukan hal itu. Tetapi, karena saya sendiri baru sekali itu menghadapi Pak James yang sedang mabuk, mungkin tidak cukup dijadikan acuan untuk menggambarkan kebiasaannya, " jawab Pak Joseph dengan wajah murung.
Celine tersenyum. "Tidak apa, Pak. Keterangan Bapak sudah cukup membantu. Terima kasih atas bantuan dan kepercayaan Bapak. Doakan saja semoga kami bisa membuktikan bahwa bang James tidak bersalah, " kata Celine menutup pembicaraan mereka saat itu.
Dan di sinilah Pak Joseph sekarang. Memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang mengganjal perasaannya pada atasan yang baru ditemuinya sebanyak 3 kali di kantor ini.
Memang, meskipun mereka bekerja di kantor yang sama, ruang kerja mereka terpisah jauh. Status Pak Joseph juga tidak memungkinkan untuk langsung berhadapan dengan Celine.
Pak Joseph hanyalah salah satu karyawan yang ditempatkan di bagian produksi makanan sehat oleh bagian HRD. Ia bertanggungjawab langsung pada atasannya yang merupakan Kepala Bagian (Kabag). Di atas Kabag sendiri masih ada kepala divisi dan manajer. Jabatan manajer inilah yang baru bisa berhubungan dengan Celine sebagai direktur, itu pun hanya ketika ada rapat.
Celine tersenyum melihat kepedulian Pak Joseph terhadap kekasihnya. "Puji Tuhan Bang James baik-baik saja, Pak. Pelakunya akhirnya mengakui perbuatannya sendiri. Mungkin ia tidak tahan dengan rasa bersalah yang menghantuinya, " jawab Celine.
"Syukurlah kalau begitu. Saya jadi lega. Terima kasih atas infonya Nona, eh Bu. Kalau begitu, saya pamit dulu, " kata Pak Joseph sambil melihat jam tangannya.
"Bapak sepertinya terburu-buru sekali. Mau ke mana?" tanya Celine.
"Saya ingin menjemput ibu saya yang habis cuci darah di RS. Biasanya adik saya yang mengantar jemput beliau. Tetapi barusan ia mendadak menghubungi saya untuk menggantikannya karena ada kuliah pengganti, " jawab Pak Joseph.
__ADS_1
"Apakah Ibu Bapak masih berobat di RS. A? Karena RS itulah yang bernaung di bawah yayasan yang sama tempat Bapak mengajar bersama bang James dulu, " tanya Celine lagi.
"Ya, betul. Masih di RS. A." Pak Joseph tertegun karena Celine masih mengingat ceritanya.
"Kalau begitu, saya antar saja. Masih sejalan kok dengan arah pulang saya, " tawar Celine.
"Tidak perlu, Nona. Saya naik angkutan umum saja!" tolak Pak Joseph dengan segera, sehingga ia tidak sadar kalau ia sudah kembali ke kebiasaan lamanya saat memanggil Celine.
"Kalau Bapak naik angkutan umum, kasihan ibunya nanti menunggu lama. Ini jam pulang kantor. Pasti macet. Bapak ikut saja. Tak usah sungkan, " putus Celine.
Tanpa menunggu persetujuan Pak Joseph, Celine pun melanjutkan langkahnya ke pintu keluar. Mobil Celine berupa BMW hitam sudah berada di depan pelataran gedung. Pak Darwis, sopir Celine yang melihat Celine menuruni tangga pelataran, langsung sigap membukakan pintu belakang mobil.
Pak Joseph terpaksa mengikuti Celine dari belakang. Matanya melihat sekeliling memperhatikan beberapa karyawan lain yang dari tadi melihatnya. Perasaannya sungguh tidak nyaman. Ia takut hal ini dapat menjadi gosip miring yang memperburuk citra Celine.
Tetapi untuk menolak ajakan Celine lagi, ia tidak berani. Dengan terpaksa ia membuka pintu mobil di samping pengemudi dan duduk di sebelah sopir.
"Pak Darwis, kita mampir ke RS. A dulu yah ..." kata Celine setelah mereka semua duduk.
"Baik, Bu, " jawab Pak Darwis pendek. Walaupun ia cukup aneh dengan kehadiran pria asing yang duduk di sampingnya, Pak Darwis tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia pun hanya bisa menjalankan kendaraannya sesuai perintah majikannya.
...****************...
Ibu Pak Joseph sedang menunggu di lobi RS. Badannya lemas. Tadi untuk berjalan dari ruang hemodialisa sampai di sini saja, ia harus dituntun seorang perawat.
Ia ingin segera pulang. Tetapi apa daya ia harus menunggu kedatangan anaknya. Ia takut ia akan kenapa-kenapa jika memaksakan diri melangkah sendirian. Jadi yang bisa ia lakukan hanya berdoa dan berkali-kali melihat ke arah pintu masuk RS, berharap Sang Anak segera tiba.
Sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya memasuki pintu. Namun, siapa gadis cantik yang ada di samping anaknya itu?
"Bu .... Maaf, Joseph terlambat. Tadi jalanan macet, maklum jam pulang kantor, " kata Pak Joseph setelah berada di depan Sang Ibunda.
"Ah .... Ini atasan Joseph di kantor, Bu. Namanya Bu Celine. Tadi Beliau berbaik hati mengantarkan Joseph ke sini, " jawab Joseph memperkenalkan Celine kepada ibunya.
"Salam kenal, Bu .... Maaf, membuat Ibu menunggu lama, " sapa Celine sopan.
"Ah ... tidak mengapa, Nak .... Justru Ibu yang minta maaf karena sudah merepotkan, " jawab Ibu Pak Joseph.
"Tidak merepotkan kok, Bu .... Kan sekalian. Jadi, habis ini, Ibu mau ke mana? Mau langsung pulang atau mau ke suatu tempat dulu?" tanya Celine lagi.
Pak Joseph terkejut. "Jangan begitu, Bu! Eh, Nona! Eh benar Ibu! Saya tidak berani merepotkan Bu Celine lagi!" sahut Joseph belepotan.
Celine menahan senyum melihat tingkah Pak Joseph yang gelagapan. "Menolong orang tuh jangan tanggung-tanggung, Pak! Tuh lihat! Muka ibunya sudah pucat lho .... Saya antar saja yah .... Maaf yah, Bu ... saya agak memaksa ..." kata Celine dengan senyum simpul di wajah manisnya.
Melihat kebaikan Celine, Ibu Pak Joseph hanya bisa menghela napas sambil tersenyum. Ia terpaksa mengalah melihat gadis di depannya sampai bersikeras untuk mengantarnya seperti itu. Bagaimanapun ia harus mengakui ia butuh pertolongan Celine. Badannya sudah lemas sekali. Tak terbayang kalau mereka masih harus menunggu angkutan umum lewat di depan RS.
"Maaf yah, Ibu harus merepotkanmu lagi, Nak ..." ujarnya.
"Tidak mengapa, Bu .... Tidak repot juga. Mari, Bu ... saya antar ..." sahut Celine sambil membantu memapah Ibu Pak Joseph.
Pak Joseph yang melihat kebaikan Celine hanya bisa terharu. Ia tidak menyangka bisa mendapat perlakuan seperti ini dari seseorang yang notabene adalah atasannya. "Sini, Bu .... Pegangan sama Joseph aja, " sahutnya sambil berusaha menggantikan peran Celine.
"Bapak itu rupanya punya kebiasaan merampas anugerah orang yah ..." kata Celine masih dengan senyum simpulnya.
__ADS_1
"Eh?" Pak Joseph hanya bisa tertegun, tidak mengerti arah pembicaraan Celine.
"Menolong orang itu adalah sebuah anugerah kan, di mana kita diberikan kesempatan kepada Sang Khalik untuk menjadi berkat buat sesama? Jadi, jangan diambil kesempatan saya, Pak!" jelas Celine sambil menahan tawanya.
Muka Pak Joseph memerah mendengarkan jawaban Celine. Ia tidak menyangka akan mendapatkan sanggahan seperti itu.
Ibu Pak Joseph tersenyum melihat kepintaran gadis di hadapannya. "Sekali lagi, terima kasih yah, Nak ..." lanjutnya lagi kepada Celine.
"Sama-sama, Bu ..." jawab Celine sambil tersenyum.
Di mobil, Ibu Pak Joseph duduk di belakang bersama Celine. Wanita itu hanya bisa termangu melihat mobil mewah yang dinaikinya. Sekalipun ia tidak berani berharap bisa menaiki mobil seperti ini.
"Pak .... Tolong sebutkan alamat rumah Bapak pada Pak Darwis, " pinta Celine pada Pak Joseph yang segera dipatuhi olehnya.
Setelah mobil mulai berjalan, Celine berkata lagi, "Pak Darwis ... Nanti kalau melewati restoran, mampirkan dulu yah. Saya mau bungkus makanan."
"Baik, Bu, " jawab Pak Darwis patuh.
"Gapapa yah, Pak, Bu .... Saya singgah di restoran sebentar ..." ujar Celine meminta izin pada Pak Joseph dan ibunya.
"Tentu saja tak mengapa, " jawab Pak Joseph dan ibunya hampir bersamaan.
Mereka pun melaju dalam diam. Tidak ada satupun yang berani membuka suara karena Celine sedang asyik bermain dengan gadgetnya. Sampai akhirnya mereka tiba di restoran dan Celine permisi untuk keluar. Waktu saat itu menunjukkan pukul 17.12.
Hampir sekitar setengah jam kemudian, Celine kembali dengan membawa bungkusan di tangan. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Joseph.
Sesampainya di sana, adik laki-laki Pak Joseph melongo melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Ia sendiri baru saja tiba dari kampus dan hampir menghubungi Sang Kakak untuk menanyakan kabar mengapa sampai sekarang belum sampai di rumah.
Matanya makin melotot ketika ia melihat kakak dan ibunya keluar dari mobil tersebut dengan seorang wanita cantik sedang memapah ibunya. Ia pun segera keluar untuk menghampiri mereka.
"Bu .... Bang ..." sapanya.
"Bu, kenalkan ini adik saya. Namanya Jordan. Jor ... ini atasan Abang, namanya Bu Celine, " kata Pak Joseph memperkenalkan mereka.
"Celine, " kata Celine sambil mengulurkan tangannya.
"Jor- Jordan, " sahut adik Pak Joseph terbata-bata karena terpukau dengan kecantikan Celine.
"Ayo, Nak .... Singgah dulu di rumah kami, " undang Ibunya Pak Joseph pada Celine.
"Maaf, Bu .... Kapan-kapan saja yah .... Saya juga sedang ditunggu ayah saya untuk makan malam bersama di rumah, " tolak Celine dengan halus.
"Oh ya .... Ini sedikit untuk Ibu. Maaf, saya tadi tidak sempat membeli buah tangan. Jadi saya agak terburu-buru mencari tahu makanan apa yang baik dimakan untuk pasien cuci darah. Semoga cocok dengan selera Ibu dan keluarga yah ..." kata Celine sambil menyerahkan bingkisan makanan yang tadi dibungkusnya.
Ibu Pak Joseph hanya bisa termangu menerima kebaikan yang sekali lagi diberikan Celine. Entah mimpi apa ia semalam sehingga bisa bertemu dengan gadis ini.
"Saya pulang dulu yah, Bu ... Pak ... Jordan ..." pamit Celine.
"Iya, Bu. Silakan. Sekali lagi, terima kasih banyak, " kata Pak Joseph mewakili keluarganya sambil membungkukkan badannya. Sedangkan ibu dan adiknya masih termangu memandangi Celine.
Celine hanya tersenyum dan ikut sedikit membungkukkan badannya sebelum ia kembali menaiki mobil. Tidak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Tinggallah ketiga orang itu masih memandangi mobil yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka alami hari ini. Mungkinkah seorang malaikat sedang turun dan membantu mereka? Malam ini Celine menjadi topik hangat di keluarga Pak Joseph.
...****************...