Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Priscillia


__ADS_3

Hari Selasa sudah tiba lagi. Hari di mana James harus kembali berhadapan dengan siswi XI IPA.


Seperti biasa, langkahnya terhenti di depan pintu kelas. Selalu ada ketegangan sendiri sebelum memasuki kelas ini. Entah karena ia mulai terpengaruh kata-kata dari Sang Wali Kelas, atau karena peristiwa ember pel yang masih menyisakan perasaan janggal baginya.


Kembali pikiran-pikiran tersebut ia coba abaikan. Ia hanya perlu fokus mengajar. Setelah memantapkan hati, ia membuka pintu kelas. Tapi kali ini tidak disertai langkahan kakinya.


Pintu kelas terbuka. Suasana kelas yang tadi agak gaduh menjadi diam seketika. Semua mata siswi menuju ke arahnya.


Aman. Tidak ada ember yang jatuh. Tidak terjadi apapun tepatnya.


James yang hanya berdiam diri di depan pintu jadi merasa malu sendiri. Ia pun melangkahkan kakinya.


Tapi kakinya ternyata tersangkut sesuatu yang membuatnya hampir jatuh terjerembab. Untunglah gerak refleksnya cukup bagus sehingga peristiwa naas tidak terjadi. Dengan segera kedua kakinya kembali stabil menapak lantai.


Otomatis kepalanya langsung menengok mencari penyebab kakinya tersangkut. Ternyata di pintu terbentang tali tipis setinggi pergelangan kaki dengan warna yang tidak mencolok.


Dengan geram James menarik paksa tali tersebut sehingga ikatannya pada pintu terputus. Lalu ia berjalan ke depan kelas sambil membawa tali tersebut dalam genggamannya.


"Kali ini apa alasannya? Ada yang lupa memindahkan tali ?" tanyanya dengan nada menyindir.


Seorang siswi mengangkat tangannya. Mukanya dibuat memelas yang terlihat sekali kepura-puraannya.


"Saya, Pak. Bukan lupa memindahkan. Lebih tepatnya lupa memutuskan. Tadi kelompok kami habis melakukan percobaan fisika tentang kesetimbangan benda tegar, Pak. Jadi tadi kami banyak membentangkan tali-tali. Eh ... rupanya ada satu yang ketinggalan diputus. Maaf yah, Pak ...."


James hanya menghela napas mendengar penjelasan seperti itu. Lalu ia melihat denah kelas untuk mencari nama siswi yang bicara barusan.


"Namamu ... Rebecca?" tanya James memastikan.


"Iya, Pak, " jawab siswi yang tadi dengan tegas.

__ADS_1


"Kelompokmu siapa saja? " Tampak 3 siswi lain ikut mengangkat tangan mereka.


"Hmm ... Priscillia, Sharon dan ... Cecilia? Benar?" James bertanya sambil menyesuaikan denah kelas dengan posisi siswi yang mengangkat tangan.


"Benar, Pak, " jawab ketiganya.


Kelompok tersebut duduk di barisan agak belakang dengan siswi bernama Priscillia sebagai pusatnya. Rebecca ada di sebelah kirinya, Sharon ada di belakangnya, dan Cecilia ada di sebelah kanannya. Dan yang duduk di depan Priscillia, tidak lain dan tidak bukan adalah siswi yang meninggalkan ember pel waktu itu. Kebetulan?


" Ya sudah. Turunkan tangan kalian. Kita akan masuk materi. " James lalu memulai pelajarannya.


Keempat siswi tersebut menurunkan tangan mereka sambil saling lihat-lihatan dan bertukar senyum. James menyadari hal itu.


Sabar ... Tidak selesai sampai di sini, anak-anak. Aku akan mengkonfirmasi jawaban kalian dengan pak Arif nanti. Awas kalau kalian terbukti berbohong ! kata James dalam hati.


...****************...


"Silakan, Pak. Mau tanya apa? " Guru Fisika itu balik bertanya.


"Apakah pas pelajaran Bapak tadi di kelas XI IPA mengadakan percobaan fisika? "


"Oh ... Lebih tepatnya Saya memberi tugas anak-anak untuk membagi kelompok dan melakukan percobaan fisika sesuai materi-materi yang sudah dipelajari. Terserah mereka memilih percobaan apa. Seperti tugas praktek, " jelas Pak Arif.


"Apakah memang ada materi tentang kesetimbangan benda tegar di kelas XI IPA? "


"Iya. Materi itu memang ada. Ada apa memangnya? "


"Tadi ada sekelompok anak yang mengangkat tema itu untuk percobaan fisika. Tema tersebut sempat menjadi pembicaraan di kelas BK. " Gantian James yang menjelaskan.


"Kelompok mana yang mengangkat tema tersebut? "

__ADS_1


" Kelompok Rebecca, Priscillia, Sharon, dan Cecilia. "


Lelaki tua berkacamata itu tersenyum. "Ya ... ya ... Mereka berempat memang sudah terkenal kompak. Ke mana-mana selalu bersama, termasuk jika ada tugas kelompok. Pada dasarnya mereka anak yang baik, pintar, dan kritis. Anak-anak berbakat yang tidak hanya mendompleng nama orang tuanya. "


"Memang siapa orang tua mereka, Pak? "


"Lo.. Saya kira Pak James sudah tahu. Orang tua mereka adalah para pengusaha besar di kota ini, Pak. Seperti perusahaan S yang bergerak di bidang real estat, itu punya orang tua Rebecca. Perusahan I yang bergerak di bahan pangan, itu punya orang tua Cecilia." Berikutnya Pak Arif masih menyebutkan sejumlah nama-nama perusahaan terkenal yang tentu saja James pernah dengar namanya, walaupun ia tidak tahu siapa pemiliknya.


"Terutama Priscillia. Dia kan putri ketua yayasan sekolah ini, Pak. Biasanya setiap guru baru pasti diberitahu. Apa mungkin wali kelasnya lupa memberitahu Bapak pas perkenalan? "


"Beliau hanya memberitahu putri ketua yayasan ada di kelasnya, Pak. Tapi tidak memberitahu yang mana orangnya," jawab James sambil tersenyum kecut.


"Hmm.. Mungkin Beliau tidak ingin ada pembedaan perlakuan, Pak. Kita tidak boleh membeda-bedakan murid berdasar latar belakang orang tuanya toh? " ujar Pak Arif bijak.


"Betul sekali, Pak. Prinsip Saya juga demikian. Terima kasih atas waktunya, Pak. Maaf mengambil waktu istirahat Bapak. " James mengakhiri pembicaraan.


"Oh ... Tak masalah. Saya senang kita bisa berbincang seperti ini. Kalau ada perlu apa, jangan sungkan untuk bertanya pada Saya, " sahut Pak Arif ramah.


James lalu mengangguk sebagai jawaban, lalu undur diri. Ia kembali ke tempat duduknya di ruang guru. Setelah duduk, otaknya mulai berputar cepat merangkai informasi yang ada.


Dua kali kejadian tidak mengenakkan yang menimpa dirinya terjadi di kelas putri ketua yayasan. Sikap dari siswi petugas piket yang seolah terintimidasi dengan sesuatu di belakangnya, dan ternyata di situlah tempat duduk Sang Putri. Sikap Rebecca yang dibuat-buat saat mengakui perbuatannya di mana Rebecca adalah anggota kelompok Sang Putri.


Kalau disimpulkan dengan cepat, semua data tersebut seolah menjurus ke arah kenakalan sekelompok anak berpengaruh, yang memanfaatkan status orang tua mereka untuk bertindak seenaknya di sekolah. Biasanya, itulah yang sering terjadi dan yang sering diceritakan di film-film.


Tapi kesimpulan itu bertolak belakang dengan kesan yang disampaikan pak Arif tentang mereka. Jadi, apakah itu semua merupakan sebuah kebetulan belaka? Apakah ia kebanyakan nonton film sehingga otaknya terpengaruh dengan alur cerita seperti itu?


Baiklah! Ayo kita berpikir positif! Mungkin semua itu kebetulan. Jangan semudah itu menghakimi orang hanya dengan 1-2 kejadian. James mencoba mempercayai perkataan pak Arif yang menyatakan keempat siswi tersebut anak baik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2