Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kisah Kasih di Sekolah (2)


__ADS_3

Terkadang, mau bagaimanapun kita sudah berusaha menghindari masalah, namun jika pihak lain yang malah mencari-carinya, tetap saja akhirnya masalah itu datang juga. Hal inilah yang sekarang dialami Priscillia.


Situasi yang dialaminya saat ini berbanding terbalik dengan apa yang ia alami saat bersama pak Santo. Saat itu, permasalahan izinnya untuk tidak mengikuti kegiatan olahraga outdoor, justru menjadi kartu As Priscillia untuk mencari-cari masalah dengan Sang Guru. Namun kali ini, kartu yang sama justru menjadi bumerang yang menyerang dirinya.


Awalnya, saat ia menyerahkan Surat Keterangan Dokter kepada pak Joseph, memang tidak terjadi apa-apa. Guru itu menyikapinya seperti biasa. Namun seiring waktu ketika hal itu sering dilakukan, guru olahraga itu sepertinya menyadari sebuah pola.


Dan setelah itu, setiap kali Priscillia menyerahkan surat dokter tersebut, guru itu akan bersikap dingin dan memberi pandangan yang seolah merendahkan dirinya. Kembali lagi bisa jadi hal itu hanya perasaan Priscillia saja. Namun tak dipungkiri sedikit-banyak sikap pak Joseph tersebut membuat nyalinya kecut.


Andaikan Priscillia bisa tidak meminta izin dan mengikuti kegiatan olahraga outdoor seperti layaknya siswi biasa, hal itu pasti sudah dilakukannya. Namun bagaimana lagi, kondisi tubuhnya tidak mengizinkan.


Mengatakan yang sebenarnya, ia tak berani. Trauma masa kecilnya ketika ia diejek karena penyakitnya, membuat ia merasa harus menutupi hal tersebut baik-baik. Ia lebih memilih menebalkan muka dan hatinya, dan bersikap santai seolah sikap pak Joseph tidak memberikan pengaruh apapun padanya.


Dugaan Priscillia terbukti benar ketika ia kembali dipanggil pak James. Guru BK itu menyampaikan pesan pak Joseph yang mempermasalahkan izinnya Priscillia setiap kali mengikuti olahraga outdoor. Pak James mencoba mencari tahu alasannya dan menasihatinya. Namun, ia bisa apa?


Sampai akhirnya peristiwa itu terjadi. Priscillia tidak menyangka pak Joseph dapat memberikannya alasan yang memaksanya untuk turun ke lapangan tanpa harus mengikuti praktik olahraga. Priscillia tidak dapat menghindar. Dengan hanya bermodalkan semangat dan pikiran positif, ia mencoba bertaruh dan memaksakan diri untuk ikut turun ke lapangan.


Alhasil, rencananya gagal total. Ia sukses tumbang di sana. Begitu ia sadar, ia sudah ada di atas ranjang UKS dan sedang mendapat perawatan dari dokter Lusi.


Kepanikan melandanya. Rahasia besarnya kemungkinan besar sudah terungkap di depan teman-teman sekelasnya. Perasaannya langsung tidak karuan. Topeng putri yang selama ini ia kenakan hancur berantakan. Ia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana menyikapi situasi ini.


Ia bersyukur di saat seperti itu ada orang-orang yang mengasihinya berada di sampingnya. Dimulai dari Sharon, pak James, lalu menyusul Cecilia dan Rebecca. Sekalipun mereka semua akhirnya tahu rahasia terbesarnya, ia tidak dihakimi. Hatinya dijaga dan kegundahannya ditata. Dengan bantuan mereka, ia kembali dapat berpikir jernih dan mulai menempatkan masalah pada tempatnya.


Baru saja ia menyelesaikan permasalahan dengan teman-temannya, permasalahan baru muncul. Ibunya yang murka datang ke sekolah karena mengkhawatirkan keadaan putrinya.


Setelah memastikan keadaan putrinya cukup aman, persidangan sementara langsung dibuka. Saat itu juga pak Joseph langsung ditanya-tanyai bak narapidana.


Saat itu, Priscillia kasihan pada pak Joseph. Ia tahu guru itu tidak sepenuhnya bersalah. Bahkan alasan yang dikemukakannya justru membuat rasa bersalah Priscillia bertambah. Guru itu hanya ingin Priscillia tetap belajar, meskipun tidak dapat mempraktikkannya langsung.


Dari pembicaraan itu juga, Priscillia baru sadar kalau yang membawanya ke UKS adalah pak Joseph. Dan caranya adalah dengan digendong ala bridal style. Pantas saja selain selimut, ia juga mendapati sebuah jaket olahraga berukuran besar menutupi tubuhnya.


Perasaannya kembali kacau. Jika pak Joseph yang membawanya ke UKS dan menutupi tubuhnya dengan jaket, berarti pak Joseph juga melihat dirinya yang sedang berwujud seperti monster ini?


Belum lagi ia sempat menata perasaannya, ia kembali dikejutkan dengan keputusan bahwa ia akan dibawa ke mobil ibunya dengan cara kembali digendong oleh pak Joseph. Awalnya ia keberatan. Namun akhirnya ia mengalah. Apa boleh buat, ia tidak menemukan cara lain. Lebih baik digendong daripada ia harus menampilkan sosoknya yang buruk rupa pada seluruh warga sekolah, kan?


Dengan menahan malu, Priscillia kemudian dibawa pak Joseph sampai ke parkiran sekolah. Baru kali ini ia berada sedekat itu dengan pria. Kepalanya begitu dekat dengan dada bidang pak Joseph, hingga ia dapat mendengarkan denyut jantung pria itu.


Dua hari ia meliburkan diri untuk memulihkan kondisinya. Hari Seninnya Priscillia kembali bersekolah setelah menata hatinya. Ia berencana untuk bersikap seperti biasa sambil memantau keadaan. Terkhusus pak Joseph, ia berencana untuk tidak menanyakan atau mengatakan apapun. Biarlah semuanya berlalu dengan sendirinya dan terlupakan begitu saja.

__ADS_1


Namun rencana tinggallah rencana. Rupanya pak Joseph memiliki agenda lain. Lewat pak James, pria itu meminta izin untuk berbicara pribadi dengannya. Menurut pak James, sepertinya pak Joseph ingin meminta maaf.


Priscillia tertegun. Jantungnya berdebar. Namun dengan keahliannya mengatur ekspresi dan sikap tubuh, ia berusaha terlihat tenang. Ia pun setuju untuk berhadapan dengan guru olahraganya itu.


Pembicaraan mereka mendatangkan babak baru dalam hubungan keduanya. Untuk pertama kalinya, Priscillia tidak lagi melihat tatapan amarah ataupun kebencian yang ditujukan kepadanya dari pria itu. Tatapan mengasihani juga tidak. Yang ada di sana adalah tatapan penuh penyesalan seperti orang yang terbeban dengan begitu banyak dosa.


Saat itu Priscillia sempat terpikir, bukankah pria ini sudah melihat wujud buruk rupanya? Apakah ia tidak merasa jijik? Mengapa pria ini terlihat biasa-biasa saja?


Namun tidak ada kalimat apapun dari pak Joseph yang menyinggung penampilan Priscillia saat itu. Karena itu, Priscillia pun akhirnya memilih untuk mendiamkannya saja. Ia tidak berani bertanya, karena merasa belum tentu siap dengan jawabannya.


Di pelajaran olahraga berikutnya, Priscillia kembali berjaga-jaga menyiapkan Surat Keterangan Dokter agar dapat tidak mengikuti praktik olahraga. Mau bagaimana lagi? Guru olahraganya kali ini suka sekali melakukan olahraga di luar ruangan.


Ternyata kali ini surat itu tidak berguna. Mereka akan melakukan kegiatan olahraga indoor. Sampai di sini, Priscillia masih membiarkannya saja. Toh sesekali pak Joseph memang melakukan kegiatan olahraga di dalam ruangan. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?


Namun berikutnya sikap guru itu benar-benar membuatnya jengah. Guru itu sering melihatnya dengan tatapan khawatir. Belum lagi sebentar-sebentar ia ditanya dengan pertanyaan seperti "Kamu tak apa-apa?" "Kamu kuat?" "Kalau ada rasa yang tidak enak di tubuhmu, kamu harus bilang! Jangan disembunyikan!" "Priscillia, kamu tidak perlu istirahat?"


Apa yang ada di benak guru itu? Memangnya di pikiran beliau dirinya selemah apa?


Karena tidak tahan, begitu pelajaran olahraga hari itu selesai, ia segera menghadap Sang Guru. Setelah mendapat izin untuk berbicara sebentar sebelum mereka berganti pakaian, tanpa basa-basi Priscillia langsung menyatakan keluhannya. "Apa maksud Bapak memperlakukan saya seperti itu?"


Pria itu tertegun. Sang Guru langsung menyadari kesalahannya yang telah bersikap berlebihan. "Ma- maafkan saya. Jujur saja .... Kejadian ketika dirimu tiba-tiba pingsan masih membekas di ingatan saya. Tanpa sadar, saya jadi bersikap seperti ini, " katanya dengan kepala tertunduk sambil mengelap wajahnya dengan tangan.


Priscillia pun menghela napasnya. "Bersikap seperti biasa saja lah, Pak .... Tenang .... Saya tidak selemah itu, " katanya sambil tersenyum.


Tanpa sadar, Priscillia ikut tersenyum mengingat kejadian itu. Sampai di sini ia menghentikan lamunannya, bangkit dari ranjangnya, dan menuju meja rias. Dibukanyalah salah satu laci kecil di sana. Di dalamnya terdapat sebuah kotak perhiasan. Kotak itu menyimpan semua barang-barang yang ia anggap berharga. Ia selalu membawa kotak itu kemanapun ia bepergian.


Di dalam kotak itu terdapat sebuah liontin emas dengan bentuk huruf P. Ia mengambil liontin itu dan menimang-nimangnya. Liontin itu merupakan hadiah dari pak Joseph saat ulang tahunnya yang ke-17.


Dalam diam di depan meja riasnya, Priscillia kembali duduk termenung. Pikirannya mengembara ke hari di mana ia menerima liontin itu.


...****************...


Beberapa hari setelah Priscillia mengajukan protes pada pak Joseph, undangan ulang tahun Priscillia beredar di kalangan murid-murid dan guru. Awalnya Priscillia tidak setuju dengan diadakannya pesta besar-besaran. Namun orang tuanya tidak setuju. Menurut mereka, ulang tahun ke-17 adalah umur yang spesial yang harus dirayakan karena di sanalah titik awal menuju kedewasaan.


Akhirnya setelah bernegosiasi, undangan dibatasi bukan untuk seantero sekolah. Undangan hanya diperuntukkan bagi semua teman sekelas Priscillia, para guru yang mengajar Priscillia, kepala sekolah, dan teman-teman lain yang tidak sekelas namun dianggap spesial oleh Priscillia.


Pesta perayaan diadakan di rumah Priscillia pada hari Minggu malam. Di sana terlampir pernyataan dresscode, yang meminta para tamu diharapkan datang dengan mengenakan pakaian formal.

__ADS_1


Pada malam di mana hari spesial itu diadakan, para tamu undangan sudah datang. Mobil-mobil mewah berjejer rapi di halaman dan depan rumah Priscillia yang luas. (noted: Saat itu James tidak menghadiri pesta Priscillia karena sedang mengantar Celine kembali ke kediaman Adipratama untuk merawat ayahnya yang baru saja terkena stroke).


Priscillia dan orang tuanya tampak sibuk menyapa tamu-tamu undangan yang datang sebelum acara dimulai. Saat itu, Raymond juga datang ke pesta Priscillia. Pemuda yang sedang menempuh kuliah di luar negeri ini, mengkhususkan diri pulang ke tanah air untuk dapat ikut serta merayakan ulang tahun tunangan sekaligus teman kecilnya. Hubungan keduanya kala itu masih baik-baik saja.


Ya. Priscillia ingat. Momen itu adalah saat di mana untuk pertama kalinya Raymond bertemu dengan pak Joseph.


Acara sudah akan dimulai. Langit malam saat itu ditutupi awan. Angin bertiup menderu melambangkan tanda-tanda hujan akan turun. Pintu teras pun ditutup agar hembusan angin tidak sampai ke dalam ruangan. Para tamu dikumpulkan di ruang tamu untuk bersiap mendengarkan kata sambutan yang akan disampaikan oleh tuan rumah.


Dalam keadaan yang cukup hening karena semua undangan sedang menanti ucapan dari Sang Tuan Rumah, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di teras. Sepertinya ada orang yang sedang berhadapan dengan satpam yang menjaga kediaman Angkawibawa. Suara orang berbantah-bantahan terutama dari Si Satpam, terdengar sampai ke ruang tamu.


Tuan rumah dan para tamu saling bertukar pandang. Sampai akhirnya Priscillia sebagai orang yang memiliki acara, berinisiatif untuk membuka pintu teras demi melihat apa yang terjadi. Orang tua Priscillia, Raymond, ketiga anggota Geng Princess dan beberapa tamu yang kepo ikut serta mengekor di belakang Priscillia.


Priscillia tertegun melihat siapa yang sedang berhadapan dengan Si Satpam. Orang itu sendiri, juga tertegun melihat Priscillia.


"Orang ini memaksa masuk, Nona .... Ia menyatakan dirinya sebagai tamu undangan, namun pakaiannya jelas tidak sesuai dengan para tamu yang lain. Karena mencurigakan, saya tidak mengizinkannya masuk." Suara Pak Satpam membuat kesadaran Priscillia kembali.


"Saya mengenal orang ini, Pak. Beliau benar tamu saya. Sampai di sini, biar saya yang menemaninya. Bapak boleh kembali, " jawab Priscillia yang membuat Si Satpam meninggalkan tempat perdebatan itu dan kembali ke posnya.


Priscillia melihat tamu yang baru datang ini, yang tidak lain dan tidak bukan adalah pak Joseph. Pria itu datang mengenakan kemeja yang biasa digunakannya untuk mengajar. Motor bututnya terlihat terparkir di antara mobil-mobil mewah yang berbaris rapi di luar pagar. Benar-benar suatu pemandangan yang sangat kontras.


Rupanya pak Joseph juga baru menyadari kesalahannya ketika melihat para tamu undangan lain yang ikut keluar dari belakang Priscillia. Semua wanita mengenakan gaun, sedangkan kaum prianya mengenakan tuksedo. Ia sekarang baru mengerti mengapa ia sampai dicegat oleh satpam.


"Lah .... Bapak .... Kok pake kemeja begitu? Ini mau pesta, Pak! Bukan mau belajar!" kata salah seorang tamu yang merupakan siswi di kelas Priscillia. Mendengar itu, beberapa tamu lain tertawa karena merasa kalimat itu lucu.


Pak Joseph hanya tersenyum kecut sambil berusaha menahan rasa malunya. Kepalanya tertunduk. "Maaf .... Saya kira ... kemeja sudah termasuk pakaian formal."


Priscillia tersenyum sedih. Ia baru menyadari gurunya ini mungkin memiliki kehidupan sosial yang jauh di bawahnya. "Bapak benar kok. Kemeja juga termasuk pakaian formal. Ayo masuk, Pak ..." sambutnya ramah.


"Tidak. Sepertinya hanya saya yang salah kostum di sini. Lebih baik saya kembali saja. Selamat ulang tahun Priscillia ...." Tanpa menunggu jawaban Priscillia, pria itu segera membalikkan badannya menuju pagar.


"Tunggu, Pak!" cegah Priscillia berusaha mengejar pak Joseph yang sudah melangkah pergi.


"Jangan dikejar, Dear ! Masakan kamu mau meninggalkan tamumu yang banyak ini hanya untuk mengejar satu orang?" tegur mamanya sambil memberi kode ke arah Raymond.


Priscillia mengerti maksud mamanya. Ia diminta untuk mengurungkan niatnya yang ingin mengejar pria lain di hadapan tunangannya. Namun hatinya tidak tega membiarkan pak Joseph pergi begitu saja.


"Hanya sebentar, Mama .... Tidak sopan kan, kalau tuan rumah tidak mengantarkan tamunya, " jawab Priscillia. Setelah berkata demikian, Priscillia segera membalikkan badannya.

__ADS_1


"Dear !!!" seru Sang Ibunda. Namun Priscillia tidak memedulikannya. Sambil mengangkat gaunnya, ia pun mempercepat langkahnya mengejar pak Joseph yang sudah nyaris berada di luar pagar.


...****************...


__ADS_2