
Dalam beberapa hari ke depan, James kembali mengulang aktivitasnya untuk mencari pekerjaan. Ia kembali membuat surat lamaran pekerjaan dan menyiapkan berkas-berkas untuk dikirimkan ke sekolah-sekolah setara SMP dan SMU di kotanya.
Ia juga mendapat kabar dari Wendy bahwa Cindy akan dikuliahkan orang tuanya ke luar negeri. Masalah luar negerinya di mana atau mengambil jurusan apa, ia tidak diberitahu. Yang jelas, alasan orang tuanya mengirim Cindy ke luar negeri adalah untuk meredakan rumor di kalangan kerabat dan kenalannya akibat ulah Cindy.
Berhubungan dengan masalah rumor, entah masih ada hubungannya dengan kejadian kamping atau tidak, sampai sekarang James belum mendapat panggilan kerja atapun wawancara. Padahal satu bulan sudah berlalu semenjak surat-surat lamaran pekerjaan tersebut ia kirimkan ke sekolah-sekolah yang ditargetkannya. Mungkinkah sekolah-sekolah yang lain sudah mendengar peristiwa yang menghancurkan nama baiknya itu?
James mulai gelisah. Namun ia masih berusaha berpikir positif dengan menganggapnya sebagai sebuah koinsidensi belaka. Ia memilih berasumsi bahwa sekolah-sekolah tersebut mungkin memang belum membuka lowongan untuk mencari seorang guru BK.
Kondisi James yang tidak berpenghasilan ini, juga mempengaruhi janji kunjungannya ke rumah Celine yang sebelumnya dicanangkan 1-2 bulan sekali. Ia sampai meminta permakluman Celine untuk menangguhkan janji kunjungan tersebut sampai kondisi keuangannya stabil kembali. Maklumlah, biayanya cukup besar karena jarak yang lumayan jauh.
Untuk meminta dukungan dana dari orang tuanya, jelas ia tidak mau. Ia malu dengan umurnya yang harusnya sudah mandiri dan tidak lagi menjadi tanggungan orang tua.
Untunglah Celine mengerti kesulitan yang dialaminya. Celine juga berjanji untuk pasang badan ke tuan Adipratama, Jika kondisi James yang tidak berkunjung tersebut sampai dipermasalahkan oleh Sang Ayah. James sangat bersyukur atas pengertian dan dukungan kekasihnya ini.
Waktu berlalu dengan cepat. Dua bulan sudah James menjadi pengangguran sejati.
"Kamu tidak mau mencari pekerjaan selain guru, James?" tanya ibunya di suatu Minggu sore.
"Belum kepikiran ganti profesi sih, Ma ..." jawab James.
"Kalo ga, apa Bang James mau coba cari pekerjaan guru di kota Celine? Nanti Celine bantu cari lowongan di sana. Hitung-hitung, siapa tau itu juga bisa jadi jawaban masalah kita tentang domisili setelah nikah nanti, kan?" usul Celine yang seperti biasa sedang berkunjung ke kediaman Wijaya setiap akhir pekan.
James tertegun mendengar perkataan Celine.
"Bener juga sih, James. Mau coba cari peruntungan di kota lain?" sambung Mama Ratna.
"Mama ga masalah kalo James jauh dari Mama-Papa? Kan sudah aturan adat kalo anak lelaki terakhir yang harus jagain orang tuanya?" James balik bertanya.
Mama Ratna tersenyum mengetahui perhatian dan salah satu pertimbangan anaknya adalah dirinya dan suaminya. "Memang aturannya gitu, tapi masa depanmu juga penting, kan? Doakan saja agar Mama-Papa selalu sehat. Toh kalo kamu sudah sukses di sana, kapanpun kamu bisa mengunjungi kami. Lagipula di sini kan juga ada abangmu. Jadi kami pasti baik-baik saja!" ujarnya.
__ADS_1
Mata Celine berbinar mengetahui Mama Ratna ikut mendukung sarannya. Sekarang ia tinggal berharap pada jawaban James. Dan James mengetahui hal itu.
"Nanti coba James pikirkan lagi, " katanya dengan nada dingin, yang lansung meredupkan semangat Celine.
Mama Ratna dan Celine hanya bisa saling bertukar pandang dan menghela napas. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa. Semua usul yang terpikirkan sudah diutarakan saat ini. Keputusan berada di tangan James. Mereka hanya bisa menunggu dengan sedikit kekhawatiran.
Berkebalikan dengan hal yang diharapkan Celine, James justru tersinggung dengan usul yang diutarakan Celine. Ia merasa Celine memanfaatkan situasi yang dialaminya untuk memenuhi kepentingannya sendiri tanpa memikirkan dari sudut pandang James.
Selain itu, menurutnya Celine sengaja mengutarakan usulannya tersebut di depan mama Ratna agar mendapat dukungan dari ibunya. Ia merasa cara Celine itu licik. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, James merasa kesal pada Celine.
Karena itulah di hari-hari berikutnya, ia membuat strategi lain untuk masa depannya. Ia memilih beralih profesi, yang penting masih bekerja di kota ini. Dengan demikian, yang Celine harapkan juga tidak terjadi. Enak aja suruh orang pindah-pindah kota domisili dan ninggalin ortu serta melawan adat ! begitu pikirnya.
Sebagai langkah awal, James mulai mencari tahu Rumah Sakit - Rumah Sakit yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi di kotanya. Rumah Sakit - Rumah Sakit tersebut ternyata tergolong RS besar yang memiliki kelas A dan B dalam klasifikasinya.
Tadinya ia ingin memulai kariernya di RS yang lebih kecil seperti RS kelas C atau kelas D, karena ia belum memiliki pengalaman di lingkungan baru ini. Masalahnya kelas RS terkecil yang memiliki pelayanan rehabilitasi untuk seorang konselor adalah kelas B. Karena ia tidak berani langsung melamar ke RS besar seperti kelas A, jadilah ia mengerucutkan lamaran kerjanya hanya di RS kelas B.
Setelah surat-surat lamaran pekerjaan yang baru selesai dipersiapkan, James pun berniat pergi mengunjungi RS-RS yang ia targetkan untuk memasukkan lamarannya.
"Ke Rumah Sakit, " jawab James pendek.
Ibunya terkejut. "Kamu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Ga. Mau masukkin lamaran kerja, " jawab James santai.
Mama Ratna tertegun. Baru beberapa hari yang lalu anaknya ini bilang belum terpikir untuk berganti profesi. Malah yang ia katakan akan dipikirkan adalah perihal mencoba peruntungan di kota lain. Kok tiba-tiba jadi berubah begini?
"Kok tiba-tiba berubah pikiran untuk ganti profesi, James? Ga lebih baik menerima tawaran Celine aja?" pancing mamanya.
"Justru itu yang pengen James hindari, Ma .... Dengan status dan kekuasaan Celine, mungkin dengan mudah Celine bisa mendapatkan pekerjaan buat James. James ga mau! James ingin mendapatkannya dengan usaha James sendiri!
__ADS_1
Lagian ... setelah James cari tahu tentang deskripsi pekerjaannya, konselor di RS ga jauh beda dengan guru BK kok. Yang beda cuma klien yang dihadapi dan jenis masalahnya aja. Ga ada salahnya juga kan, untuk mencoba sesuatu yang baru?" terang James berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya.
Mama Ratna menghela napas. "Ya sudah kalo kamu pikir begitu .... Semoga berhasil ya, Nak ...." Tak lama kemudian, James pun sudah berlalu dengan motornya.
...****************...
Hari-hari dan minggu-minggu pun berlalu. Setiap hari James menunggu adanya balasan atau kabar dari RS-RS yang dikiriminya lamaran kerja dengan harap-harap cemas. Namun yang ditunggu tidak kunjung tiba. Mungkin karena James belum pernah memiliki pengalaman kerja di RS, yang membuatnya kalah bersaing dengan calon konselor lain.
Celine sudah diberitahu tentang keputusan James yang lebih memilih berganti profesi daripada berganti kota. Walaupun sedikit kecewa, ia tetap mendukung keputusan kekasihnya itu.
Hampir tiga bulan genap James menganggur. Satu janji lagi yang terkait dengan rencana masa depannya dengan Celine, kembali harus ia tangguhkan. Janji pertunangan.
Janji yang rencananya akan direalisasikan dalam enam bulan, tiga bulannya sudah berlalu begitu saja tanpa suatu kemajuan yang berarti. Apanya yang harus dipersiapkan, kalau dananya saja tidak ada?
Kalau semua pembiayaan diserahkan pada pihak Celine, jelas ia keberatan. Masakan ia tinggal bawa badan saja? Apa bedanya dengan jual diri? Harga dirinya tidak akan mengizinkan hal itu.
Karena itu, sekali lagi James meminta pengertian Celine untuk menangguhkan pertunangan mereka. Dan kembali dengan penuh pengertian, Celine memaklumi keputusan James tanpa banyak perdebatan.
Tadinya James sendiri yang ingin menghadap ayah Celine berkenaan dengan penangguhan pertunangan ini. Ia ingin dengan jantan meminta pengertian tuan Adipratama, karena bagaimanapun janji ini adalah janji yang ia buat untuk membuktikan keseriusannya pada Celine.
Tetapi Celine mencegahnya. Celine berkata bahwa ia sendiri nanti yang akan memberikan pengertian pada Sang Ayah. Alasan Celine sederhana, ia tidak ingin James membuang-buang uang hanya untuk biaya transportasi ke kotanya demi urusan yang masih bisa ia atasi. Ia memilih James untuk fokus pada mencari pekerjaan saja.
Celine mengetahui tabungan James sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan ia juga cukup mengenali watak kekasihnya itu. Mana mungkin James mau menerima bantuannya untuk biaya transportasi ke kotanya, atau meminta uang dari orang tuanya. Kekasihnya akan lebih memilih menjual ginjalnya daripada melakukan hal tersebut.
Pengertian dan dukungan Celine atas keadaannya ini membuat James malu. Betapa sebenarnya Sang Kekasih sangat mengenal dirinya bahkan ikut membantunya untuk tetap menjaga harga dirinya.
Ia menyesal telah berpikiran picik pada Celine. Mungkin Tuhan tidak berkenan ia mengawali karier barunya dengan motivasi yang salah.
Karena itu, James berjanji dalam hatinya. Jika sampai bulan ini berakhir ia belum mendapatkan panggilan kerja, ia akan mengalah. Ia akan mengikuti saran Celine dan mengadu nasib di kota yang baru.
__ADS_1
...****************...