Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kisah Para Guru


__ADS_3

Keesokan paginya, James sengaja datang lebih pagi ke sekolah. Ia berniat untuk mengobrol dengan Pak Arif mengenai Geng Princess.


Setelah tiba di ruang guru, ternyata Pak Santo sudah datang dan sedang menunggunya. Ia sudah mendengar apa yang terjadi dengan James kemarin, baik tentang penampilannya setelah dari kelas XI IPA, maupun kejadian berikutnya di mana James berani memanggil Priscillia ke ruang BK.


"Selamat pagi, Pak James," sapanya ketika James sudah tiba di depan meja kerjanya.


"Selamat pagi, Pak Santo." James membalas sapaan tersebut.


"Maaf, Pak. Tidak bermaksud ikut campur, tapi apa benar Pak James sudah menjadi target gerombolan itu juga?" tanya Pak Santo memberanikan diri.


James terdiam. Sebenarnya ia tidak termasuk orang yang suka bercerita mengenai dirinya, apalagi kepada orang yang belum terlalu dekat. Tapi ia teringat perkataan Sang Dokter kemarin, bahwa Pak Santo adalah orang terakhir di sekolah ini yang menjadi target Geng Princess sebelum dirinya.


"Sepertinya iya, Pak." James akhirnya memilih untuk bicara apa adanya.


"Jadi, apa saja yang sudah Bapak alami?" tanyanya lagi.


"Menabrak ember pel, hampir tersandung tali, dan kemarin kejatuhan telur."


"Berarti hampir mirip dengan apa yang Saya alami juga, Pak."


"Berarti Pak Santo termasuk guru baru juga? " Gantian James yang bertanya.


"Iya. Saya dan beberapa guru baru masuk di awal semester ini. Salah satunya yang masuk bersamaan dengan saya adalah Miss Evi, guru Bahasa Inggris yang duduk di sebelah kanan Bapak. Jadi, umur kami mengajar di sini bahkan belum mencapai 6 bulan," jelas Pak Santo.


"Saya kaget sekali waktu mengalami apa yang Bapak alami sekarang, karena waktu itu yang mengalami hal-hal tersebut hanya Saya seorang. Beberapa guru-guru baru lain yang Saya tanyai, paling hanya disusahkan dengan sikap dan pertanyaan mereka di kelas. Tapi mereka tidak sampai disiram atau kejatuhan tepung seperti Saya.


Saya baru mengerti ketika mendapat penjelasan dari dokter Lusi di UKS, kalau yang mengalami penyerangan seperti itu hanyalah guru pria. Dan Saya satu-satunya guru baru pria yang masuk di semester ini." Pak Santo menceritakan kisahnya, sama persis dengan apa yang dikatakan Si Dokter kepada James kemarin.


Saat Pak Santo bercerita, Miss Evi datang dan menempati meja kerjanya. Tadinya ia tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan kedua lelaki di sampingnya. Tapi begitu mendengar istilah 'penyerangan', ia jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut terlibat dalam pembicaraan tersebut.


"Maaf jika Saya mendadak ikut serta dalam pembicaraan Bapak-Bapak sekalian, tapi 'penyerangan' yang Pak Santo maksud barusan, apakah yang berkaitan dengan Priscillia dan kawan-kawan?" tanya Miss Evi.


"Betul, Miss," jawab Pak Santo.


"Jadi benar berita yang Saya dengar, bahwa kemarin Pak James diserang dan akhirnya Bapak memanggil Priscillia ke ruang BK?" tanya Miss Evi lagi, kali ini kepada James.


"Benar, Miss." Gantian James yang menjawab.


"Maaf, Pak. Tapi apa Pak James tidak takut dipecat? Jujur, selama ini Saya juga sangat terganggu dengan sikap mereka di kelas. Tapi Saya coba menahan diri mengingat latar belakang keluarga mereka." Miss Evi menceritakan keluhannya.


"Itu juga yang tadi Saya ingin tanyakan ke Pak James. Asal Pak James dan Miss tahu, selama ini Priscillia tidak pernah mengikuti kegiatan praktek olahraga outdoor. Ada saja alasannya. Karena Saya tidak mau cari masalah, Saya hanya mendiamkannya saja. Tapi sebenarnya Saya jengkel dan merasa tidak dihargai sebagai guru." Pak Santo ikut-ikutan mencurahkan masalah yang dialaminya.


"Kalau ditanya, takut dipecat atau tidak, ya takut. Tapi Saya kan memanggil Priscillia untuk membicarakannya secara baik-baik. Kalau itupun dianggap sebuah kesalahan, mau bagaimana lagi? Pecatlah! Asal Saya tahu, kalau di sekolah ini sudah terjadi penyelewengan kekuasaan yang begitu parah. Dan Saya bersyukur, Saya tidak perlu berlama-lama bekerja di tempat yang seperti itu," jawab James tegas.

__ADS_1


Kedua guru itu terdiam mendengar perkataan James. Mereka mengakui kebenaran dalam perkataan guru muda di depannya, tapi mereka tidak berani menanggung resikonya.


"Saya tidak seberani Pak James. Ini saja Saya sudah berpikir untuk mengundurkan diri setelah semester 1 ini berakhir. Saya tidak tahan dengan kelakuan mereka," aku Miss Evi.


"Kalau boleh tahu, memangnya separah apa kelakuan mereka di kelas hingga membuat Miss merasa seperti ini?" tanya James.


"Mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang absurd, yang tidak ada hubungannya dengan materi. Walaupun memang mereka menanyakannya dalam Bahasa Inggris. Mereka juga tidak segan-segan mempermalukan Saya di kelas, jika Saya berbuat salah. Padahal Saya kan manusia juga.


Saya tahu kebanyakan dari mereka adalah anak-anak sultan yang sudah sering sekali ke luar negeri. Banyak dari mereka yang sudah fasih berbahasa Inggris. Bahkan Bahasa Inggris mereka ada yang lebih baik daripada Saya. Tapi seperti yang dikatakan Pak Santo, Saya juga butuh dihargai sebagai guru." Miss Evi mengeluarkan isi hatinya.


Setelah Miss Evi bercerita seperti itu, semua terdiam. Mereka sama-sama mengerti apa yang dirasakannya. Perasaan tidak berdaya yang dirasakan Si Miskin ketika berhadapan dengan Si Kaya. Perasaan tertekan akan pengaruh dari sebuah kekuasaan.


"Saya tidak bisa banyak berkomentar. Tentu Saya harap Miss Evi bisa memikirkan kembali keputusan Miss tersebut, karena mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah. Lagipula sedih kan kalau kita kehilangan seorang rekan kerja secantik Miss?" Pak Santo mencoba mencairkan suasana.


Mendengar itu Miss Evi tersipu-sipu malu. James yang mendengar dan melihat respons seperti itu jadi merasa jengah sendiri.


Dan akhirnya pembicaraan tersebut ditutup secara otomatis karena bel masuk sekolah berbunyi. Pak Santo dan Miss Evi undur diri karena mereka ada jadwal mengajar.


Tinggal James yang masih duduk di meja kerjanya. Ia berencana menghadap kepala sekolah untuk menyerahkan RPL yang sudah dibuatnya.


Sepertinya kunci jawaban kasus ini ada di pak Arif. Mungkin setelah berbicara dengan beliau kita bisa tau lebih jauh tentang mereka, baik pribadi mereka atau bahkan kriteria target mereka. Aku harus cari kesempatan secepatnya untuk bicara dengannya ! kata James dalam hati.


...****************...


"Maaf, Pak. Boleh minta waktu untuk berbincang-bincang sejenak?" tanya James.


"Oh ... Dengan senang hati. Mau bicara tentang apa, Pak James?" Lelaki tua itu balik bertanya.


"Saya tertarik dengan pendapat yang dikatakan Pak Arif tentang Priscillia dan kawan-kawan di pembicaraan kita sebelumnya, Pak. Boleh Saya tahu lebih jauh?"


"Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian yang Pak James alami kemarin?" Pak Arif bertanya dengan senyum bijak terukir di wajahnya.


"Ya, Pak. Rupanya Bapak juga sudah dengar kejadiannya."


"Tentu saja sudah dengar. Banyak guru yang terkejut melihat penampilan Pak James ketika itu. Dan seolah itu belum cukup membuat gempar, kejadian Pak James yang langsung memanggil Priscillia setelah itu pun langsung menjadi topik hangat," kata Pak Arif sambil terkekeh-kekeh.


James terdiam mendengar Pak Arif memaparkan efek dari kejadian yang ia alami kemarin. Semburat kemerahan mulai muncul di telinganya. Ia tidak menyangka kalau perbuatan spontannnya memanggil Priscillia kemarin bisa dibicarakan seheboh itu di kalangan guru.


Melihat James yang terdiam, Pak Arif langsung mengubah sikapnya, "Maaf, maaf, Jangan salah sangka. Saya bukan menertawakan Pak James. Saya justru terkejut dan kagum dengan sikap Pak James yang tegas seperti itu. Selama Saya mengajar di sini, belum ada guru BK yang berani memanggil Priscillia dan kawan-kawannya ke ruang BK."


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Bapak mengajar di sini?" tanya James.


"Belum lama. Saya baru masuk sekolah ini tahun lalu, bersamaan dengan Priscillia. Bedanya Saya mendaftar sebagai guru, dia mendaftar sebagai murid." Pak Arif terkekeh lagi.

__ADS_1


"Apakah waktu itu Bapak sudah diberitahu tentang Priscillia?"


"Tentu sudah. Sebelum tahun ajaran baru dimulai, para guru dikumpulkan terlebih dahulu oleh kepala sekolah. Kami diberitahukan kalau tahun ini sekolah diberi kepercayaan untuk mendidik anak-anak dari orang-orang berpengaruh di kota ini. Salah satunya adalah putri ketua yayasan sendiri. Maka dari itu kami diminta untuk lebih memperhatikan sikap dan profesionalitas kami dalam mengajar."


"Apakah Bapak tahu tentang perbuatan mereka terhadap guru-guru baru, yang terjadi beberapa bulan setelah mereka masuk?"


"Ya, Saya tahu. Ada beberapa guru pria yang mengalami peristiwa yang hampir serupa dengan yang dialami Pak James ketika itu. Jujur, waktu itu Saya juga cemas menunggu giliran Saya. Tapi untungnya giliran itu tak kunjung datang."


"Apakah Bapak tahu atau terpikirkan alasan tertentu, mengapa Bapak bisa tidak ditargetkan mereka?"


"Tidak. Saya tidak tahu," jawab Pak Arif pendek.


"Kalau begitu, bagaimana sikap kelompok mereka ketika pelajaran Bapak?" James mengubah arah pembicaraannya. Ia teringat dengan apa yang dialami Miss Evi. Sesuatu yang mungkin dapat dikategorikan sebagai perpeloncoan mental, merujuk dari cerita dokter Lusi sebelumnya.


"Seperti yang Saya katakan sebelumnya, mereka anak yang baik, pintar, dan kritis." Pak Arif menjawab sambil tersenyum.


"Mereka tidak melakukan sesuatu yang mungkin menyusahkan Bapak? Misalnya menanyakan hal aneh atau menyulitkan? Atau mungkin mempermalukan Pak Arif jika Bapak melakukan kesalahan?"


Pak Arif tertawa. "Ya ... Kadang mereka memang menanyakan hal yang aneh, sesuatu yang keluar dari materi yang sedang dipelajari. Tapi selama masih berhubungan dengan fisika, Saya tidak masalah. Karena memang itu bidang keilmuan Saya kan?


Tentu saja Saya juga pernah kesulitan menjawabnya. Di situlah Saya melihat kalau anak-anak ini kritis. Keingintahuan mereka tinggi. Tapi Saya tidak merasa hal itu adalah sesuatu yang menyusahkan. Justru Saya bangga karena berarti murid Saya itu berpikir. Dan itu berarti mereka pintar.


Mempermalukan Saya jika Saya salah? Hmm ... Saya rasa tidak yah. Saya memang pernah salah. Salah menghitung atau salah menuliskan rumus. Maklumlah, Saya sadar kalau Saya cukup berumur. Dan mereka mengingatkan Saya. Apakah itu termasuk mempermalukan? Saya sih tidak merasa demikian." Pak Arif mengakhiri jawabannya yang panjang.


Mendengar itu James tertegun. Perbedaan cara berpikir! Bisa jadi Pak Arif dan Miss Evi mengalami perlakuan yang serupa. Tapi cara mereka merespons bertolak belakang. Makanya efek yang ditimbulkan jadi berbeda pula. Pak Arif masih mengajar dengan senang hati. Miss Evi mengajar dengan penuh rasa tertekan dan berakhir dengan ingin mengundurkan diri.


Jadi belum tentu ada hubungannya dengan permainan kekuasaan yang mereka duga sebelumnya. Pak Arif juga sudah mengetahui latar belakang keluarga Priscillia dan kawan-kawan. Tapi ia tetap mengajar seperti biasanya. Itu karena Beliau memiliki sudut pandang yang berbeda.


James kagum dengan guru di depannya ini. Ia juga ingin belajar dari Pak Arif bagaimana menilai sesuatu tanpa prasangka. Menjadi seorang pendidik sejati. Mungkin ini yang dimaksudkan papa-mama di pembicaraan mereka kemarin malam.


"Terima kasih, Pak. Saya banyak belajar dari pembicaraan kita kali ini. Maaf kalau Saya banyak bertanya pada Bapak." James menutup pembicaraan.


"Tak apa. Saya senang sekali bisa membantu. Saya tahu Pak James juga sedang berusaha mengenali murid-muridnya dalam rangka menjadi guru BK yang baik. Tetap semangat ya, Pak.


Menjadi guru memang harus panjang sabar. Saya tahu, kadang mereka bisa berbuat nakal, bahkan agak keluar batas. Namanya juga anak muda. Masih banyak energinya. Tapi Saya berharap justru dengan bidang keilmuan Pak James, mereka bisa mendapat bimbingan dan pengarahan yang benar dalam bertindak." Pak Arif menyampaikan dukungan dan harapannya pada James.


"Iya, Pak. Terima kasih. Akan Saya ingat." Lalu James undur diri.


Banyak pola pikir baru yang James pelajari kali ini. Ia disadarkan kalau ia masih harus banyak belajar. Berikutnya, ia harus berbicara kembali dengan Priscillia. Tapi kali ini untuk lebih mengenali karakter Sang Putri. Bukan seperti kemarin, yang suasananya seperti sidang atau debat dengan seorang lawan bicara.


Tapi James tahu, ia harus menunggu waktu yang tepat, karena Priscillia baru ia panggil kemarin. Kalau ia panggil dalam waktu yang relatif dekat, nanti malah terjadi kesalahpahaman dan efek lain yang tidak diinginkan.


Jadi, James memilih bersabar. Ia sadar apa yang dikatakan mamanya kemarin benar adanya, kalau Priscillia juga merupakan salah satu tokoh kunci untuk menjelaskan atau bahkan mengakhiri kasus perpeloncoan guru ini. Yah ... Semoga saja ini bisa segera diakhiri, doa James dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2