Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Cindy Menghilang


__ADS_3

Satu hari sudah berlalu. Hari sudah berganti. Bagi beberapa siswi yang kebanyakan memang berasal dari golongan elit ini, mungkin untuk pertama kalinya mereka menyambut hari dari balik tenda.


Mereka dibangunkan oleh sebuah sirene sebelum pukul enam pagi. Para siswi diwajibkan untuk ikut senam bersama. Pak Roy sudah berdiri dengan tegap di tengah-tengah area api unggun sambil berhalo-halo dengan menggunakan megafon.


Wajah-wajah ngantuk keluar dari tenda. Terlihat sekali keengganan mereka untuk mengikuti senam. Udara dingin pegunungan dan efek kurang tidur semalam, membuat mereka masih merindukan selimut mereka.


Tetapi acara tetap dilanjutkan tanpa peduli keluhan yang disampaikan para siswi. Guru-guru pengawas tanpa belas kasihan memaksa murid-muridnya untuk bergerak.


Berbeda halnya dengan Cindy. Dengan semangat tinggi ia keluar dari tenda dan siap melakukan acara demi acara. Dari senam pagi, mandi, memasak, sarapan, sampai mencari kayu bakar. Semuanya itu ia lakukan dengan satu tujuan, mencari gantungan kuncinya yang hilang.


Ia memang sudah tidak sabar menunggu terbitnya matahari. Ia berharap dengan keadaan yang sudah terang, akan lebih mudah baginya menemukan gantungan kunci itu. Matanya dari tadi mengamati setiap rumput dan tanah tempat ia berpijak.


Semalam ia sudah bertekad, akan mengumpulkan setiap kenangan yang terjadi antara dirinya dengan pak James selama kamping. Ia tidak mau lagi menahan perasaannya. Ia sudah terlalu lelah.


Ia memilih menikmati kebersamaannya dengan pak James sepuas-puasnya lewat acara ini. Toh kesempatan ini merupakan kesempatan terakhir ia bersama pak James, kan? Setelah ini pun, mau tak mau ia harus berpisah. Bukan begitu?


Karena itu lah, ia juga bersikeras menemukan gantungan kunci yang diberikan pak James padanya. Gantungan kunci itu akan menjadi satu-satunya peninggalan dari orang yang ia cintai begitu acara ini selesai.


Tetapi sayang, sampai di sini pun upayanya belum membuahkan hasil. Ia sudah menjelajahi area sekitaran tenda, api unggun, pemandian, sampai perbatasan hutan tempat ia mencari kayu bakar.


Namun Cindy belum menyerah. Mungkin karena sambil beraktivitas, ia kurang fokus mencarinya. Apalagi barang tersebut termasuk barang kecil. Karena itu lah, ia menunggu waktu bebas nanti untuk mencoba mencari lagi dengan lebih saksama.


Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul satu siang. Waktu bebas yang ditunggu Cindy pun tiba. Banyak dari antara siswi yang kembali ke tendanya untuk tidur atau sekedar bermalas-malasan.


Energi mereka sebagian mulai terkuras karena tidak terbiasa dengan acara dan kegiatan seperti ini. Banyak pula dari antara mereka yang kurang tidur semalam, karena tidak terbiasa tidur di tenda. Mereka sadar mereka perlu mengisi baterai mereka agar siap untuk acara berikutnya.


Begitu pula dengan Wendy. Dari tadi ia sudah menguap terus. Hal ini tidak luput dari perhatian Cindy. Begitu mereka tiba di tenda, Cindy mengatakan rencananya pada Wendy.


"Wen, aku keluar untuk cari gantungan kunciku yah. Sampai sekarang belum ketemu nih."


"Hmm .... Perlu kutemenin ga?" tanya Wendy dengan mata yang sudah tinggal 5 watt.


Cindy tersenyum dengan kebaikan hati sahabatnya. "Ga usah. Kamu tidur aja. Mata uda sayu gitu."


"Bener nih?" Wendy bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Iya. Thank you so much, my bestie ! Aku bisa sendiri kok. Doain aja biar cepet ketemu yah, " jawab Cindy.


"Iya. Good luck !" ujar Wendy sambil mengacungkan jempolnya.


Demikianlah Cindy keluar dari tenda untuk memulai pencariannya. Begitu tenda mereka ditutup, saat itu juga mata Wendy menutup.


...****************...

__ADS_1


Wendy terbangun. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.40. Dilihatnya di dalam tenda tidak ada siapa-siapa. Ia pun keluar tenda.


Di sekitar perkemahan sudah mulai ramai para siswi berlalu-lalang. Ada yang baru bangun seperti dirinya, ada yang membawa peralatan mandi menuju pemandian umum, ada juga yang sudah menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat untuk memasak makan malam.


Wendy tidak melihat Cindy di antara mereka. Hmm ... mungkin Cindy masih asyik mencari gantungan kuncinya atau jalan-jalan, pikir Wendy. Ia pun kembali ke tenda menyiapkan peralatan mandi dan menuju ke pemandian umum.


Sampai akhirnya Wendy selesai mandi dan mulai bergabung dengan teman kelompoknya menyiapkan makan malam. Ia kembali melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.20. Matahari sudah mulai terbenam dan langit mulai bernuansa jingga. Wendy mulai gelisah. Cindy belum kembali.


Ia pun bertanya kepada teman-teman sekelompoknya, apakah ada di antara mereka yang melihat Cindy.


Salah satu dari mereka menjawab, "Tadi siang waktu jam bebas, aku sempat liat dia berkeliaran di sekitar sini sih. Lagi meratiin tanah mulu, kayak lagi nyari barang jatoh. Tapi berhubung aku ngantuk berat, aku langsung masuk tenda. Ga kutanya-tanya lagi."


Sampai situ Wendy mengerti. Cindy pasti mencari gantungan kuncinya. Masalahnya tuh anak mencari sampai ke mana?


Tiba-tiba ia terpikir pak James. Mungkinkah guru itu tahu sesuatu? Bisa jadi Cindy menemui guru kesayangannya, kan?


Setelah pamit sebentar kepada teman sekelompoknya, Wendy pun mempercepat langkahnya mencari pak James di sepanjang area berkemah itu. Ternyata Pak James sedang membelah kayu bakar untuk bahan bakar api unggun.


"Selamat sore, Pak!" sapa Wendy begitu ia berada di dekat James.


"Sore, " balas James.


James tertegun menyadari sesuatu. Ia pun menghentikan pekerjaannya. "Tumben sendirian. Cindy mana? Biasanya kalian selalu bersama, " tanya James.


Akhirnya Wendy menceritakan kegelisahannya. Ia memberi tahu semua pembicaraannya dengan Cindy sebelumnya, termasuk tentang usaha Cindy untuk mencari gantungan kuncinya yang hilang.


James mendengarkan dengan saksama. Setelah Wendy selesai bercerita, ia bertanya pada Wendy, "Mungkinkah Cindy mencari sampai keluar area perkemahan?"


"Mungkin saja, Pak. Menurut saya, bisa jadi Cindy akan kembali menjelajahi sampai area air terjun, karena sampai ke sana lah kami berjalan-jalan sebelum Cindy menyadari gantungan kunci di tas pinggangnya hilang, " jawab Wendy.


"Kalau begitu, mungkin Cindy keasyikan mencari sampai lupa waktu?" terka James.


"Rasanya tidak mungkin, Pak. Dia memang keras kepala dan besar kemungkinan akan mencarinya sampai dapat. Tapi Cindy itu takut gelap, Pak. Dia ga mungkin memaksa mencari sampai magrib begini, " ujar Wendy.


James mengangguk tanda mengerti. "Kalau begitu, ada baiknya kalau kita bertanya pada guru pengawas kelompokmu dulu. Kalau Cindy mencarinya sampai ke air terjun, ia pasti harus meminta izin lebih dulu, kan? Lagipula, para siswi tidak boleh meninggalkan area perkemahan sendirian. Jadi, kita juga bisa tahu dengan siapa Cindy pergi, " usul James.


"Tapi, Pak. Kalau Cindy jadi dihukum karena telat kembali bagaimana? Nanti saya yang disalahkan karena dikira mengadukan dia!" Wendy menyatakan keberatannya.


"Memang ia pantas dihukum karena telat kembali, kan? Itu lebih baik. Daripada kita diamkan, tapi ternyata terjadi apa-apa dengannya, bagaimana? Kalau ia sampai marah padamu, kamu boleh libatkan saya. Saya akan memberinya pengertian," jelas James.


Akhirnya Wendy setuju dengan usul gurunya itu. Mereka pun bersama-sama menghadap guru pengawas kelompok.


Setelah berhadapan dengan guru pengawasnya, Wendy pun menanyakan tentang Cindy pada Sang Guru.

__ADS_1


"Tadi sekitar jam 3-an, Cindy memang menghadap saya, ia izin untuk pergi ke air terjun bersama teman-temannya kelompok anak IPA. Rupanya anak itu belum kembali?" tanya guru pengawas mereka.


"Belum, Bu. Ngomong-ngomong, Ibu tahu siapa saja anak IPA yang pergi bersama Cindy?" tanya Wendy lagi.


"Ibu tidak tahu. Cindy tidak menyebutkan nama teman-temannya. Ia hanya meminta izin. Ibu malah tadi pikir kamu juga ikut, " kata guru tersebut pada Wendy.


"Kalau begitu, Bu, saya dan Wendy akan mencoba mencari anak IPA yang pergi bersama dengan Cindy. Sedangkan Ibu, bisakah bersiap menghubungi bagian pengawas area pegunungan dan perkemahan ini? Minimal mencari nomor kontak yang bisa dihubungi untuk meminta bantuan pencarian? Saya khawatir ada anak-anak yang tersesat di pegunungan. Apalagi hari sudah mulai gelap, " usul James.


"Baik, Pak James, " jawab guru tersebut.


"Kami pergi dulu, Bu. Saya akan kembali lagi untuk memberi kabar pada Ibu, " ujar James.


Guru itu mengangguk tanda setuju. Dan tanpa membuang waktu, Wendy dan James segera pergi ke area tenda anak IPA dan menemui guru pengawas kelompok-kelompok di sana.


Salah seorang guru pengawas menjawab pertanyaan James. "Beberapa murid saya tadi memang meminta izin untuk pergi ke air terjun saat jam bebas. Tapi saya tidak tahu mereka pergi bersama dengan anak IPS atau tidak. Coba kita tanyakan. Tolong panggilkan kelompok Riana!" katanya kepada salah seorang siswi yang kebetulan lagi lewat di sekitar situ.


Siswi yang tadi diminta tolong segera pergi. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan lima orang siswi lainnya.


Begitu mereka tiba di dekat Sang Guru Pengawas, guru itu langsung bertanya pada mereka, "Apakah tadi kalian pergi ke air terjun bersama dengan seorang anak IPS yang bernama Cindy?"


Salah seorang dari siswi itu menjawab, "Oh .... Ternyata anak itu bernama Cindy. Iya, Bu. Tadi pas kami mau pergi, ada seorang anak IPS yang menanyakan tujuan kami. Begitu kami bilang ingin ke air terjun, ia minta diizinkan untuk ikut. Kami pun dimintanya menunggu sebentar karena ia ingin meminta izin terlebih dahulu kepada guru pengawasnya."


"Tapi anak itu aneh. Sudah minta diajak, tak ada keinginannya untuk bergabung dan bergaul dengan kami. Ia asyik sendiri menjelajah. Waktu pergi saja, entah sudah berapa kali ia nyaris tertinggal, " sambung siswi yang lain.


"Lalu di mana anak itu sekarang?" tanya James.


"Kami tidak tahu. Terakhir kali kami melihatnya ketika masih di sekitar air terjun. Seperti sebelumnya, ia tidak terlihat ingin menikmati suasana air terjun. Ia asyik memisahkan diri melakukan kesibukannya yang entah apa. Begitu kami berniat kembali, ia sudah tidak ada. Kami pikir ia sudah kembali lebih dulu, " kata siswi yang pertama.


Jantung James dan Wendy berdegup semakin kencang. Sekarang mereka hampir yakin memang terjadi sesuatu dengan Cindy.


Setelah mengucapkan terima kasih dan izin pamit, James dan Wendy kembali menemui guru pengawas kelompok mereka. Dengan singkat dan padat, keduanya melaporkan hasil pembicaraan tadi kepada Sang Guru.


Dengan temuan terbaru seperti ini, sirene gawat darurat segera dinyalakan. Pembagian tugas pun dilakukan. Setengah dari mereka tetap diminta mengurus persiapan makan malam. Mereka diminta memasak dua kali porsi sebelumnya, sebagai ganti mereka yang bertugas membantu pencarian.


Setengahnya lagi dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang mencari di sekitar perkemahan bersama dengan guru pengawas wanita. Dua kelompok lagi mencari di area hutan bersama pak James dan pak Roy.


Seorang guru sudah melapor ke bagian pengawas area pegunungan dan perkemahan. Tetapi karena hari sudah mulai gelap, mereka menolak melakukan pencarian saat ini, karena hal tersebut dinilai berisiko tinggi. Mereka baru mulai akan mencari esok harinya ketika matahari sudah terang.


Mendengar hal itu, James dan pak Roy sepakat tetap melakukan pencarian dengan memanfaatkan sinar matahari yang tinggal seadanya. Mereka berjanji, jika matahari sudah terbenam sempurna dan hari sudah gelap, mereka akan menghentikan pencarian demi keamanan. Batas waktu pencarian sampai pukul 18.30.


Demikianlah pencarian Cindy dilakukan. Wendy menggabungkan diri ke tim pak James. Ia merasa guru ini lebih bisa diajak bekerja sama dibandingkan guru yang lain. Ia sungguh berharap Cindy bisa segera ditemukan.


Semoga kamu tidak apa-apa, Cin ... doa Wendy dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2