
Hari Kamis tiba. Waktunya James bertemu dengan kelas XI IPA kembali. Setiap kelas memang mendapat pelajaran BK dua kali dalam seminggu. Dan untuk kelas XI IPA, jadwalnya ada di tiap hari Selasa dan Kamis.
Seperti yang sudah-sudah, kembali James terdiam di depan pintu kelas sebelum ia mengajar. Ia sedang berusaha mencuci otaknya sendiri.
Pikirkan hal yang positif! Pikiran yang positif akan membawa aura yang positif juga! Jangan bermain dengan prasangka! Ingat kata pak Arif, mereka anak baik! Ayo, James ! Coba percaya pada muridmu sendiri !
Lalu dengan mantap, James pun membuka pintu kelas. Dan ...
Prak ! Prak !
Dua butir telur pecah menimpa kepala James. Cairan putih dan kuning lengket mulai menetes ke wajah dan kemejanya. James hanya terdiam. Semua kata-kata cuci otak yang tadi dipikirkannya, lenyap seketika.
Dengan perasaan geram yang luar biasa, ia kembali berdiri di depan kelas dengan muka merah menahan amarah. Tidak diperdulikannya lagi penampilannya yang sekarang.
"Kali ini apa? Percobaan memasak?" tanyanya dengan nada agak tinggi pada segenap siswi.
Semua penghuni kelas diam seribu bahasa. Mereka tahu pak guru mereka sudah sangat marah.
"Siapa yang menaruh telur di atas pintu? JAWAB!" Kali ini nada suara James sudah berubah menjadi bentakan.
Setelah beberapa saat, ada satu tangan yang diangkat.
"Saya, Pak," aku siswi yang mengangkat tangan.
Melihat sosok yang mengangkat tangan dan mengaku sebagai Si Pelaku, James hanya tersenyum mengejek. Ia sudah menduganya. Kali ini Sang Ketua Geng yang turun tangan langsung. Siapa lagi kalau bukan Priscillia.
"Pulang sekolah nanti, kamu temui Saya di ruang BK. Pelajaran hari ini ditiadakan. Mungkin memang ini yang kalian harapkan, bukan? Dengan mempermainkan seorang guru?"
"Ta- Tapi, Pak... "
"Pak, bukan begitu, Pak! Dengar penjelasan kami dulu!"
Kelas mulai gaduh. Beberapa siswi, terutama anggota kelompok dari Sang Putri, mencoba memberi penjelasan kepada James.
Tiba-tiba Priscillia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan telapak tangan dikepal. Sebuah kode agar kelas tenang. Dan hebatnya, hanya dalam beberapa saat setelah ia melakukan hal tersebut, kelas hening kembali.
James kembali tersenyum mengejek. Luar biasa ... Inilah yang dinamakan penggunaan kekuasaan, huh? Satu kelas tunduk hanya dengan kode komando. Tak perlu teriak. Tak perlu mengeluarkan perintah. Benar-benar hebat pengaruh Sang Putri ! pikirnya.
"Baik, Pak," jawab Priscillia menanggapi perintah James dengan tenang. Tidak ada ekspresi ketakutan di sana. Tidak ada juga ekspresi merasa bersalah.
"Tapi, Pris ...." Rebecca mencoba menyanggah keputusan Priscillia.
Kembali Priscillia mengayunkan kepalan tangannya, tapi kali ini ke arah Rebecca. Sebuah isyarat agar Rebecca diam. Rebecca yang melihat isyarat tersebut hanya bisa mengatupkan mulutnya dengan muka yang belum sepenuhnya menerima.
__ADS_1
"Bagus! Saya tunggu! " ujar James.
Setelah itu James keluar dari kelas. Kelas kembali menjadi heboh di belakangnya. Entah apa yang mereka ributkan, James sudah tidak peduli.
...****************...
James kembali ke ruang guru. Disana ada beberapa guru yang tidak bertugas mengajar. Maklum, sekarang sudah pelajaran keenam dan sebentar lagi kegiatan belajar mengajar akan usai.
"Maaf, ada yang bisa bantu Saya? Di mana Saya dapat mencari handuk atau kain untuk membersihkan diri Saya? " tanya James dari depan pintu ruang guru.
Sontak semua mata memandang James. Mereka semua terkejut melihat penampilan James yang tergolong menyedihkan.
Lalu James diarahkan ke ruang UKS. Dan tanpa menunda-nunda, James langsung melesat ke sana.
Sempat terdengar kasak-kusuk antar guru di belakangnya.
"Pak James habis masuk kelas mana? "
"Menurut jadwal, Beliau dari XI IPA. "
"Terjadi lagi? "
Sampai di situ yang bisa James dengar. Tapi ia sudah tidak terlalu berminat untuk mendengarkan lebih lanjut. Ia ingin segera membebaskan diri dari cairan lengket ini.
"Maaf, Dok ... Saya - " Belum habis kalimat yang diucapkan James, dokter itu sudah memberikan sebuah handuk kecil berwarna putih padanya.
"Bapak bisa membersihkan diri di kamar mandi guru yang ada di depan sana. Setelah itu, Bapak boleh kembali lagi ke sini. Saya akan mencari baju ganti untuk Bapak, " kata dokter tersebut.
"Ah ... Ya ... Terima kasih, Dokter. " James pun lalu segera pergi ke arah yang tadi ditunjukkan Sang Dokter.
Setelah membersihkan kepalanya dan kemejanya, James kembali ke ruang UKS dengan mengenakan kemeja yang sudah hampir sepenuhnya basah. Di sana dokter yang tadi sudah menunggunya dan memberikannya jas lab.
"Saat ini cuma ada ini. Saya meminjamnya dari lab kimia. Silakan Bapak ganti baju di sini," katanya sambil menuntun James ke arah pojok ruangan. Di sana terdapat ranjang pasien dengan tirai yang bisa ditarik untuk menyekat ranjang tersebut dari seluruh ruangan.
Setelah James berada di sisi ranjang, tirai itu ditarik Sang Dokter, sehingga mereka berdua terpisah. Lalu James segera mengganti kemejanya dengan jas lab tersebut. Sebenarnya James kurang nyaman mengenakan jas lab. Tapi apa boleh buat, daripada mengenakan kemeja basah.
Setelah selesai, James menarik kembali tirai penyekat tersebut ke posisinya semula. Lalu ia menemui Sang Dokter yang sedang duduk santai di depan meja kerjanya.
"Terima kasih, Dokter, " katanya.
"Sama-sama, Pak. Silakan duduk, " ujar Dokter tersebut mempersilakan James duduk di kursi yang ada di depannya.
"Sekarang rupanya Bapak yang terpilih menjadi target Geng Princess yah? " Dokter wanita tersebut melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Target ... Geng Princess?"
"Iya. Priscillia dan kawan-kawannya kan yang membuat Bapak jadi seperti tadi? Nama Geng Princess dipilih karena mengandung huruf awal para anggotanya. P, R, C, S dari Priscillia, Rebecca, Cecilia, dan Sharon. "
"Ah ... Jadi mereka memang sudah sering melakukan hal ini? " sahut James yang baru paham. Ia sendiri sedikit terkejut kalau istilah 'Geng' yang tadi ia pakai untuk mengejek, ternyata betulan ada.
"Ya. Yang saya lihat, hampir seluruh guru baru laki-laki, pasti mengalami apa yang Bapak alami sekarang. Sebelumnya Pak Santo, guru olahraga. Bapak sudah kenal? "
"Ya. Kami sudah kenalan. Di ruang guru, beliau duduk di sebelah Saya. "
"Yah ... Bapak boleh berbagi pengalaman nanti dengan Pak Santo. Yang jelas, masa-masa penyerangan fisik seperti ini tak lama kok, Pak. Yang lama nanti penyerangan mental. Bapak siap-siap saja yah. " Sang Dokter memperingatkan James.
"Jadi menurut Dokter, ini termasuk perpeloncoan guru baru? " tanya James.
"Hmm ... Ya, mungkin lebih pas disebut 'perpeloncoan' daripada istilah 'penyerangan' yang tadi Saya gunakan. Hampir semua guru baru, tanpa membedakan jenis kelaminnya, pasti mengalami perpeloncoan mental. Sedangkan perpeloncoan fisik seperti yang Bapak alami barusan, hanya dialami guru laki-laki. Ada juga sih beberapa guru laki-laki baru yang tidak mengalami perpeloncoan fisik. Salah satunya pak Arif, guru fisika." Dokter itu menjelaskan panjang-lebar.
"Kenapa bisa begitu? Apa yang membedakannya?"
"Saya tak tahu. Tidak ada yang tahu. Mungkin ini tugas Pak James untuk mencari tahu selaku guru BK. "
"Bu Dokter juga pernah mengalami perpeloncoan seperti ini? " tanya James lagi.
Dokter wanita itu tertawa. "Untungnya tidak, Pak. Perpeloncoan itu baru dimulai beberapa bulan setelah angkatan Priscillia dan kawan-kawan memasuki kelas X IPA. Jadi tradisi ini baru berjalan setahun lebih. Sedangkan Saya sudah memasuki tahun ketiga Saya di sini. Otomatis Saya tidak termasuk kriteria target mereka. "
"Apakah masalah ini sudah diketahui Kepala Sekolah? "
"Jelas sudah, Pak. Beberapa guru baru itu ada yang memberanikan diri melapor langsung ke kepala sekolah atau membicarakannya di rapat guru. Tapi kepsek tidak bisa melakukan apapun. Bapak mungkin sudah mengalami sendiri kepintaran mereka berdalih? "
James terdiam. Ia teringat dengan kedua peristiwa yang ia alami sebelumnya. Saat itu saja ia masih dibingungkan kalau yang terjadi padanya bisa saja murni sebuah kebetulan.
Bel sekolah berbunyi tepat pada pk. 14.00. Beberapa murid tetap tinggal di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Sedangkan para guru, baru boleh meninggalkan sekolah setelah jam 3 nanti, kecuali guru yang menjadi pembina ekskul. Mereka hanya boleh meninggalkan sekolah setelah kegiatan ekskul berakhir.
"Baiklah. Terima kasih atas bincang-bincang dan bantuannya, Dokter. Saya pamit dulu, karena harus bertemu Priscillia di ruang BK. Saya tadi memanggilnya untuk meminta penjelasan. Saya pinjam dulu jas lab dan handuknya yah," kata James.
"Iya, Pak. Silakan, " kata Dokter itu sambil tersenyum.
James pun meninggalkan ruang UKS mengenakan jas lab dan handuk kecil yang masih melingkari lehernya. Kemeja basahnya ia tenteng di tangan.
Dokter wanita itu masih memperhatikan punggung James yang menjauh. Senyuman masih terukir di bibirnya.
"Memanggil Priscillia? Ternyata guru baru ini punya nyali juga. Biasanya guru baru memilih diam daripada mengambil resiko berhadapan dengan ketua yayasan. Karena tidak tahan, akhirnya banyak juga yang memilih mengundurkan diri sekalipun baru sebentar mengajar di sini. Jadi, sampai kapan guru yang ini dapat mempertahankan sikapnya? Menarik untuk kita perhatikan, " gumamnya.
...****************...
__ADS_1