
Author: Episode ini tidak menggunakan sudut pandang siapapun. Karena jika diteruskan sesuai alur menggunakan sudut pandang Sharon, perasaan dan pikiran tokoh lain tidak dapat tersampaikan. Demikian penjelasannya. Selamat membaca 😊
...----------------...
Beberapa jam sebelum waktu kejadian ....
Sepuluh menit lagi, bel tanda masuk sekolah akan berbunyi. Rebecca dan Cecilia mengumpulkan teman-teman yang piket hari ini.
Rebecca menjelaskan rencananya pada mereka, lalu berkata, "Kami minta tolong kepada kalian yah .... Jadi nanti kalau ditanya, bilang aja karena keburu bel, jadi yg 1 itu ketinggalan dibereskan. Oke?"
Para siswi petugas piket saling lihat-lihatan. Sejujurnya, mereka agak enggan untuk melakukannya. Tapi mereka takut bermasalah dengan Geng Princess.
"Tenang aja .... Kalau kalian sampai dihukum, kami akan turun tangan. Liat sendiri kan? Selama ini semuanya baik-baik aja. Yang penting kalian ikuti arahan kami dan jangan mengkhianati kami." Cecilia ikut angkat bicara melihat keraguan mereka.
Akhirnya mereka semua setuju mengikuti rencana Rebecca. Bersama-sama mereka mendorong meja guru yang berat itu ke arah pintu, sehingga jika ada yang mau masuk, pintu akan sulit dibuka. Setelah itu, semua kembali duduk di kursi masing-masing dan menunggu bel berbunyi.
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel sekolah tanda akan dimulainya pelajaran. Para siswi yang mengetahui rencana Rebecca berdebar menunggu apa yang akan terjadi, terutama Rebecca sendiri.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki di depan pintu. Lalu terlihat knop pintu diputar seseorang dari luar dan pintu didorong.
"Kok tumben agak seret?" Terdengar suara Pak Joseph.
Rebecca tersenyum-senyum mendengar kalimat itu. Ia membayangkan wajah Pak Joseph yang kebingungan dan putus asa karena pintu kelas yang sulit didorong.
Tetapi betapa terkejutnya ia, ketika melihat pintu terdorong dengan perlahan tapi pasti. Dan tak lama kemudian, terlihatlah Pak Joseph memasuki kelas tanpa sedikit pun terlihat lelah atau peluh di wajah.
Dasar kingkong ! sungut Rebecca dalam hati.
Priscillia yang mengetahui kedongkolan temannya yang satu ini, menahan tawanya dalam hati.
Pak Joseph yang sudah memasuki kelas, tertegun melihat meja guru yang sudah berpindah dan menjadi penghambat pintu.
"Kenapa ini bisa di sini?" tanyanya pada segenap siswi XI IPA, sambil tangannya menunjuk meja tersebut.
Seorang siswi mengangkat tangannya dengan agak takut-takut. Sesuai rencana yang tadi diutarakan Rebecca, ia siap menjalankan perannya.
"Ma-maaf, Pak. Izinkan saya berbicara mewakili petugas piket hari ini. Tadi sebelum kelas dimulai, kami menjalankan tugas menyapu kelas. Untuk mempermudah, kami menggeser semua meja dan kursi ke pojok ruangan. Tapi karena bel sudah hampir berbunyi, kami buru-buru mengembalikan semua meja dan kursi ke tempatnya semula. Tapi kami ketinggalan mengembalikan meja guru, Pak. Kami baru sadar ketika bel sudah berbunyi." Siswi itu menjelaskan panjang-lebar.
Pak Joseph mendengarkan dengan raut wajah acuh tak acuh. Dia sudah menduga hal-hal seperti ini akan terjadi dan ia malas memikirkan kebenarannya.
Lalu ia mendorong meja guru yang berat itu sendirian dan mengembalikan ke posisinya semula. Rebecca dan teman-teman yang melihat langsung peristiwa tersebut hanya bisa melongo. Ternyata titel Pak Joseph sebagai guru olahraga bukan main-main.
"Baiklah. Seperti yang sudah kita sepakati minggu lalu, hari ini kita akan bermain tenis. Semuanya sudah membawa raket?" tanya Pak Joseph mengawali pelajarannya.
"Sudahhhhh, Pakkkkk!!!!" jawab siswi XI IPA bersamaan.
Priscillia maju menghampiri Pak Joseph di depan kelas, lalu tangannya mengulurkan sesuatu, "Maaf, Pak, ini ...."
__ADS_1
"Surat izin lagi?" kata Pak Joseph memotong ucapan Priscillia. Diambilnya surat itu dari tangan Priscillia dengan malas-malasan.
Priscillia yang melihat sikap Sang Guru hanya bisa terdiam dan menunggu respons beliau selanjutnya.
Pak Joseph membuka surat itu dan membacanya dalam hati. Seperti biasa, surat itu hanya berisi keterangan dokter agar Priscillia diizinkan untuk tidak mengikuti praktik olahraga tanpa menyebutkan alasannya.
"Baiklah. Kamu boleh tidak ikut praktik. Tapi kamu tetap harus ikut turun ke lapangan. Minimal kamu bisa melihat bagaimana melakukan teknik servis yang baik dan benar dalam olahraga tenis. Kamu juga bisa mendukung teman-temanmu yang lain ketika mereka sedang berlatih. Tidak masalah dan tidak melanggar ketentuan doktermu kan?" ujar Pak Joseph sambil melihat Priscillia.
"I-iya, Pak," jawab Priscillia. Ia mati kutu sekarang, tidak bisa berkelit lagi.
"Bagus! Jadi kalian semua silakan bersiap-siap sekarang. Saya tunggu di lapangan tenis 15 menit lagi. Mengerti?" Pak Joseph kembali berbicara kepada segenap siswi di kelas.
"Mengertiiii, Pakkkk!!!" Lalu Pak Joseph segera keluar meninggalkan kelas.
Siswi-siswi yang lain segera bersiap-siap meninggalkan kelas untuk mengganti pakaian di ruang ganti. Geng Princess yang mendengar instruksi Pak Joseph tadi pada Priscillia, segera menghampiri Priscillia dengan cemas.
"Kamu gapapa ikut turun ke lapangan, Pris?" tanya mereka.
"Gapapa. Tenang aja. Ayo, kalian siap-siap ganti baju dengan seragam tenis! Jangan sampai kena tegur," jawab Priscillia memaksakan diri tersenyum.
Cecilia dan Rebecca melihat Priscillia dengan tatapan ragu. Ini pertama kalinya Priscillia turun ke lapangan outdoor. Tetapi akhirnya mereka memutuskan mempercayai perkataan Priscillia. Sebelum pergi mereka berkata, "Ya sudah, kami siap-siap dulu yah."
"Iya," jawab Priscillia pendek.
Rebecca dan Cecilia pun pergi meninggalkan kelas, tinggal Sharon yang masih berada di samping Priscillia.
"Sepertinya gapapa, toh masih pagi. Nanti akan kuusahakan berada di tempat yang tidak terkena sinar matahari," jawab Priscillia sambil tersenyum.
"Ya sudah. Hati-hati! Jangan memaksakan diri!" pesan Sharon.
"Iya," jawab Priscillia berusaha menenangkan temannya yang khawatir.
Lima belas kemudian, segenap siswi kelas XI IPA termasuk Priscillia, sudah berkumpul di lapangan tenis. Priscillia duduk di kursi stadion untuk memperhatikan Pak Joseph dan teman-temannya yang berada di tengah lapangan.
Pak Joseph melihat Priscillia duduk di sana. Dalam hati, ia bangga pada dirinya sendiri yang terpikirkan hal tersebut. Sang Putri akhirnya bisa turun ke lapangan. Selama ini, jika Priscillia tidak mengikuti praktik olahraga outdoor, Priscillia dibiarkan menunggu di kelas sampai jam pelajaran olahraga selesai.
Berlawanan dengan Sharon, ia melihat Priscillia duduk di sana dengan cemas. Karena walaupun masih pagi, kursi stadion tidak tertutup dari sinar matahari.
Pelajaran dimulai dengan Pak Joseph menerangkan dan memperagakan teknik servis dasar (flat serve). Setelah itu ia memberi kesempatan bagi para siswi untuk mempraktekkannya sendiri secara bergiliran. Pak Joseph akan mengarahkan atau menegur jika didapati adanya kesalahan pada posisi berdiri, posisi tangan saat memegang raket, ataupun postur tubuh saat memukul bola.
Ketika semua siswi sudah mencoba dan dirasa sudah cukup menguasai, Pak Joseph melanjutkan dengan mengajarkan teknik servis irisan (slice serve). Servis ini merupakan teknik servis yang sangat mematikan lawan, karena membuat lawan terkejut sehingga sulit mengembalikan pukulan.
Menit-menit berlalu. Matahari mulai meninggi. Hari ini cuaca sangat cerah sehingga tidak terlihat awan yang menutupi pancaran sinar matahari. Priscillia memperhatikan semua yang terjadi di lapangan sambil menggeser tubuhnya pelan-pelan menjauhi arah datangnya sinar matahari.
Sampai akhirnya sinar matahari cukup tinggi untuk menerangi seluruh bagian lapangan tenis, termasuk kursi stadion. Tidak ada lagi tempat bagi Priscillia untuk bersembunyi. Yang ia bisa lakukan hanya mengubah posisi tubuhnya membelakangi sinar matahari.
Ia melihat bintik-bintik merah mulai muncul di tangannya. Rasa gatal mulai menyerang kulitnya. Ia melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 08.45. Tinggal 15 menit lagi jam pelajaran olahraga akan berakhir. Bertahanlah .... Tinggal sebentar lagi ... katanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Menit-menit yang menyiksanya Priscillia lalui dengan harapan ini akan segera berakhir. Namun rasa gatal itu perlahan berubah menjadi rasa nyeri yang hebat. Seluruh otot di tubuhnya sakit luar biasa. Napasnya mulai tersengal, tubuhnya mulai lemas, dan pandangannya mulai kabur. Entah berapa lama ia sanggup bertahan, tapi akhirnya tubuhnya pun terkulai.
"PRISCILLIA!!!" pekik Sharon yang memang dari tadi terus memantau keadaan temannya dari tengah lapangan.
Mendengar pekikan Sharon, Pak Joseph langsung mengarahkan pandangannya ke arah kursi stadion. Ia melihat Priscillia sudah terkulai di kursi paling pojok yang berada di deretan teratas. Rupanya Priscillia sudah berpindah cukup jauh dari posisi duduknya di awal pelajaran.
Pak Joseph segera berlari kencang menghampiri Priscillia. Setelah berada di dekat Priscillia, ia segera memeriksa napas dan nadi Priscillia untuk menentukan kegawatan kondisinya. Ia melihat napas Priscillia memburu dan nadinya berdetak cepat.
Kemudian Pak Joseph membuka jaket olahraga yang dikenakannya, lalu menutupi tubuh Priscillia dengan jaket tersebut. Dengan sigap ia lalu menggendong Priscillia dengan gendongan ala bridal style dan segera menuju ke UKS.
Sebelum pergi, ia menyempatkan diri mendekati kerumunan siswinya dan berkata, "Pelajaran olahraga kita akhiri sampai di sini. Silakan kalian mengganti pakaian lalu kembali ke kelas. Saya akan mengantarkan Priscillia ke ruang UKS."
Pak Joseph lalu segera meninggalkan lapangan tanpa menunggu jawaban balik dari para murid-muridnya. Geng Princess yang lain segera mengikuti guru mereka seraya berkata, "Kami ikut, Pak!"
Tinggallah para siswi yang lain masih heboh dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka membicarakannya dan saling bertukar info tentang apa yang sempat mereka lihat. Sampai akhirnya satu per satu dari mereka meninggalkan lapangan dan pergi menuju ke ruang ganti.
Sesampainya di ruang UKS, Pak Joseph segera menemui dokter Lusi dan berkata, "Tolong, Dok! Ada anak yang pingsan di jam olahraga!"
Melihat yang pingsan adalah Priscillia, dokter Lusi segera meminta anggota Geng Princess yang lain meninggalkan ruangan. Sedangkan Pak Joseph tetap di tempat untuk dimintai keterangan. Sharon yang peka segera mengajak Rebecca dan Cecilia keluar ruangan.
Setelah Priscillia dibaringkan di ranjang pasien, dokter Lusi segera memeriksa tanda vital Priscillia. Sambil memeriksa, dokter Lusi bertanya, "Apakah Priscillia ikut praktik olahraga outdoor ? Tapi saya lihat Priscillia tidak mengenakan seragam olahraga."
"Priscillia memang tidak ikut praktik, Dok. Tapi saya menginstruksikannya untuk tetap ke lapangan tenis agar memperhatikan cara melakukan teknik servis yang dipelajari hari ini," jawab Pak Joseph.
Mendengar jawaban Pak Joseph, dokter Lusi hanya bisa menggelengkan kepala. Melihat itu, Pak Joseph bertanya dengan ragu, "A-apakah ada yang salah dengan itu, Dok?"
"Kita bahas nanti. Silakan Bapak keluar dulu sekarang, agar saya dapat lebih leluasa bergerak," ujar dokter Lusi. Mendengar perkataan Sang Dokter, Pak Joseph hanya bisa meninggalkan ruangan dengan perasaan bingung dan cemas.
Melihat Pak Joseph ikut keluar, anggota Geng Princess segera memburunya dengan pertanyaan yang sama, "Bagaimana keadaan Priscillia, Pak?"
"Saya tidak tahu. Saya juga disuruh keluar setelah menjawab beberapa pertanyaan dokter Lusi," jawab Pak Joseph lesu.
Rebecca yang dari tadi sudah menahan emosinya, segera membuka mulutnya untuk melabrak Pak Joseph, "Ini semua gara-gara Ba- "
"Bagaimana kalau kalian menemui Pak James? Kalian ceritakan kejadiannya dan ajak Pak James ke sini." Sharon memberi usul dengan memotong ucapan Rebecca. Bagaimanapun ia harus menghentikan Rebecca sebelum bertindak terlalu jauh. Ia sadar bahwa dirinya membutuhkan seseorang untuk mengontrol Rebecca yang sudah hampir menerkam Pak Joseph. Ia tahu masalah ini akan berbuntut panjang ke depannya.
Usul itu dipandang baik oleh Rebecca dan Cecilia. Tanpa berlama-lama, mereka segera pergi mencari Pak James di ruang guru.
Sekitar lima menit kemudian, dokter Lusi keluar dari ruang UKS.
"Priscillia sudah sadar. Saat ini, ia memanggilmu untuk menemaninya," kata dokter Lusi kepada Sharon. Tanpa banyak tanya, Sharon segera memasuki ruangan untuk menemui teman yang dikhawatirkannya dari tadi.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanya Pak Joseph.
"Saat ini keadaannya sudah lebih stabil. Tadi saya ...." Ucapan dokter Lusi terhenti ketika ia melihat Pak James datang bersama Cecilia dan Rebecca.
Ia tahu Pak James akan menanyakan hal yang sama dengan Pak Joseph. Karena itu, lebih baik ia menunda penjelasannya terlebih dahulu, agar ia tidak perlu mengulangi perkataan yang sama dua kali. Begitu pikir dokter Lusi.
__ADS_1
...****************...