Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Celine yang Baik Hati


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, Celine melakukan rutinitasnya dari pagi. Aktivitas di kantor menuntut perhatiannya sampai siang hari. Setelah makan siang, ia pun pulang ke rumah, membersihkan dirinya, berganti pakaian, lalu bersiap pergi ke bandara dengan sebuah koper berisi barang-barang pribadinya yang telah ia persiapkan sebelumnya untuk keperluan menginap.


Kemarin malam, ia sudah mendapat kabar dari kekasihnya kalau setibanya nanti mereka tidak berjalan-jalan sebentar, melainkan langsung pulang ke rumah karena ada yang menunggu untuk bertemu. Celine sendiri menyambut niat baik Priscillia, Rebecca dan Sharon yang datang untuk bersilaturahmi.


Seperti biasa selama di penerbangan, Celine banyak menghabiskan waktunya dengan melihat-lihat majalah atau membaca novel kesukaannya. Sampai akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat.


Begitu pesawat sudah berhenti sempurna, banyak penumpang yang sudah mulai bersiap-siap mengambil barangnya di bagasi kabin walaupun pintu pesawat belum dibuka. Celine yang tidak merasa terburu-buru, tetap duduk santai di kursinya karena enggan berdesak-desakan.


Dari tempat duduknya, tiba-tiba Celine menyadari ada sosok yang dikenalnya sedang berdiri dengan jarak beberapa kursi di depannya. Pria itu sedang menunggu pintu pesawat dibukakan dengan ransel bertengger di bahunya. Bukankah itu Darrell? Sedang apa dia di kota ini? Menemui siapa?


Namun Celine hanya dapat menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena kesempatan untuk mendekati Darrell dan bertanya padanya tidak ada. Pintu pesawat yang sudah dibukakan, membuat banyak penumpang berbondong-bondong menuju pintu keluar, termasuk Darrell. Dan Celine sendiri pun, masih harus mengambil tas kopernya dan bersiap keluar dari pesawat.


Di area kedatangan penumpang, seperti biasa papa Heru, mama Ratna, dan James sudah menantikan kedatangannya. Setelah acara penyambutan singkat seperti cipika-cipiki, mereka segera kembali ke kediaman Wijaya.


Tidak lama setelah mereka tiba di rumah, mobil sport Rebecca muncul di depan pagar. Tiga orang gadis cantik keluar dari dalamnya. Acara penyambutan singkat kembali terulang. Setelah menyuguhkan makanan ringan dan minuman serta mengobrol sebentar, Papa Heru dan Mama Ratna undur diri agar para anak muda tersebut bisa mengobrol dengan lebih leluasa.


"Gimana kabarmu, Lin? Baik-baik saja, kan?" tanya Priscillia sebagai pembuka.


"Baik kok. Kalian sendiri gimana? Sudah lulus?" Gantian Celine yang bertanya.


"Belum. Kami semua lagi ngurusin skripsi, " jawab Rebecca.


"Kalau kabar Cecilia gimana? Dia sekolah di Prancis, kan? Sepupuku juga lulusan universitas di Prancis soalnya. Dengar-dengar, untuk mencapai gelar S1 di sana cukup selama 3 tahun. Bagaimana dengan Cecilia?" tanya Celine lagi.


Mendengar nama Cecilia dan kata 'sepupu' dari Celine, membuat ketiga gadis itu terdiam. Mereka bertiga hanya bisa saling pandang, bingung harus menjawab apa. Suasana pun berubah menjadi muram.


Celine dan James yang peka, menyadari kejanggalan ini. "Ada apa? Apa aku salah bicara? Atau ... ada sesuatu yang terjadi dengan Cecilia?" tanya Celine hati-hati.


Akhirnya Sharon memberanikan diri menjawab. "Sepupumu itu ... bernama Darrell kan?"


"Iya. Kalian kenal?" tanya Celine sedikit terkejut mendengar kenyataan bahwa teman-temannya ternyata mengenal sepupunya.


Dengan perasaan tidak enak hati, akhirnya Priscillia menceritakan semuanya. Dimulai dari perjodohan Rebecca, hingga perdebatan mereka dengan Cecilia. Semuanya ia buka di depan Celine. Tidak ada yang ia tutup-tutupi. Celine dan James mendengarkan penuturan Priscillia dalam diam.


"Jadi begitulah, Lin .... Meskipun Cecilia sudah lulus dan sudah ada di kota ini, kali ini ia tidak bersama-sama dengan kami untuk menemuimu karena kemungkinan besar sedang bersama dengan Darrell, " ujar Priscillia mengakhiri ceritanya.


Wajah Priscillia tertunduk. Ia sedikit takut dengan respons Celine. Seterluka apakah gadis itu setelah mengetahui hal ini, di mana sepupu dan sahabatnya sedang bekerja sama untuk menjegal posisinya? Ia sendiri sebagai ketua Geng Princess sedikit malu mengungkapkan fakta di mana anggotanya memiliki kemungkinan berpartisipasi dalam pengkhianatan.

__ADS_1


Begitu juga yang dirasakan Sharon dan Rebecca. Mereka terdiam menunggu respons Celine. Sesekali Rebecca memberanikan diri untuk melirik Celine guna membaca ekspresi gadis itu. Sedangkan James, memilih diam karena tidak ingin ikut campur dengan kondisi internal keluarga kekasihnya.


Celine paham sekarang. Rupanya tujuan Darrell datang ke kota ini adalah untuk menemui Cecilia. Dan hal tersebut berhubungan dengan tujuannya untuk menguatkan posisinya guna merebut posisi pewaris perusahaan keluarga.


"Syukurlah kalau Darrell berpasangan dengan Cecilia. Cecilia anak baik. Semoga ia dapat membahagiakan Darrell, " ujar Celine sambil tersenyum manis. Priscillia, Sharon, dan Rebecca melongo. James sendiri hanya bisa tertegun melihat respons Celine.


"Lin .... Kemungkinan mereka akan bekerja sama untuk menggesermu dari posisi pewaris perusahaan! Apakah kamu tidak kecewa? Tidak merasa dikhianati?" tanya Rebecca yang tidak habis pikir dengan reaksi Celine.


"Kalau Darrell merasa lebih layak dan lebih yakin memajukan perusahaan daripada aku, aku bisa apa? Toh pada kenyataannya jelas, divisiku tidak bisa mengungguli keuntungan yang diraih divisinya dalam tiga kuartal ini. Yang penting bagiku, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Jika masih kalah juga, aku harus berbesar hati mengakui kelebihan orang itu, kan?


Mengenai ia yang jadian dengan Cecilia, bukankah itu kabar gembira? Darrell orang yang baik, walaupun ia pendiam dan kadang sulit untuk dimengerti. Cecilia juga anak baik. Dengan sifat cerianya ia pasti dapat menolong Darrell. Kalau mereka dapat saling membahagiakan, indah sekali bukan? Bukankah kita ikut senang jika orang yang kita sayangi berbahagia?" jelas Celine masih dengan senyumannya.


Rebecca langsung memeluk Celine. "Lin .... Kamu baik sekaliii ..." ujarnya.


Sedangkan Priscillia dan Sharon hanya tersenyum kagum bercampur lega. Mereka harus mengakui kebesaran hati Celine dan harus belajar darinya. Mereka diingatkan bahwa bukan bagian mereka untuk menghakimi tindakan dan pilihan orang lain. Yang mereka perlu lakukan hanyalah mendukung dan mendoakan kebahagiaan orang yang mereka sayangi.


Setelah itu, obrolan berlanjut membahas hal yang lebih ringan sampai waktu makan malam tiba. Ketiga gadis itu ditawari ikut makan malam bersama oleh Mama Ratna. Namun ketiganya menolak dengan alasan sudah ditunggu keluarga mereka masing-masing untuk santap malam bersama. Akhirnya mereka pun undur diri dan pamit pulang.


Setelah mengantar ketiga gadis itu dan melihat mobil Rebecca menjauh, James memeluk pinggang Celine dari samping dan mengecup kening gadis itu. Rasa sayang dan bangganya bertambah pada kekasihnya.


"Ada apa Bang James tiba-tiba?" tanya Celine.


"Apaan sih? Bang James aneh ..." katanya dengan nada protes sambil menusuk pinggang James. Padahal wajahnya sudah tersipu.


"Idih .... Orang bilang tambah sayang malah diserang!" James pura-pura balik protes.


"Wooiii .... Kalian berdua!! Jangan pacaran mulu di teras! Cepat masuk! Mau makan malam!!" terdengar seruan Mama Ratna yang menggelegar dari dalam rumah. James dan Celine pun tertawa bersama dan segera masuk ke dalam sebelum petir berikutnya datang.


****************


Dalam perjalanan pulang mengantar kedua sahabatnya, mobil Rebecca berhenti di sebuah lampu merah. Sambil menunggu lampu berubah menjadi hijau, tiba-tiba Rebecca memanggil Priscillia dan Sharon. "Guys ..." ujarnya.


"Ya?" jawab kedua gadis itu bersamaan.


"Besok pagi, apakah kalian ada waktu?" tanya Rebecca.


"Aku ada, " jawab Sharon.

__ADS_1


"Aku juga. Kenapa memangnya, Bec?" tanya Priscillia.


"Bisakah kalian menemaniku mengunjungi butik Cecilia? Mungkin saja ia kesepian karena merasa tersisihkan hari ini, " jawab Rebecca.


Sharon dan Priscillia tersenyum lebar mendengar usul Rebecca. Keduanya pun segera menyerang temannya itu dengan pelukan. Priscillia menyerang dari kiri, sedangkan Sharon menyerang dari belakang. "Tentu bisaaa, bestieee ..." jawab keduanya.


Ketiganya pun berpelukan bersama, sampai akhirnya mereka tertawa akibat mobil mereka sudah diklakson karena lampu sudah berubah menjadi hijau. Mereka buru-buru melepaskan pelukan mereka dan Rebecca kembali menjalankan mobilnya.


Setibanya di rumah Priscillia, gadis itu pun turun dari mobil dan melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatnya. Sampai mobil Rebecca meninggalkan kediaman Angkawibawa, barulah Priscillia memasuki rumah.


Ketika memasuki ruang keluarga, Priscillia melihat mamanya sudah menunggu kepulangannya. "Mama ... Priscil pulang .... Tepat waktu sebelum makan malam, kan?" sapa Priscillia sambil menghampiri Sang Ibunda untuk mengecup pipinya.


Mama Priscillia membiarkan Sang Putri mengecup pipinya seperti yang biasa dilakukannya. Namun kali ini tidak ada sambutan hangat terhadap kepulangan putrinya. Mukanya muram seperti sedang menyimpan keluhan.


"Dear .... Sejak kapan kamu menjadi seorang pembohong?" ujar Mama Priscillia setelah Priscillia melakukan ritualnya.


Alis Priscillia bekernyit. "Maksud Mama apa?" tanyanya tidak mengerti.


"Mama dengar dari Raymond, katanya kamu baru saja mengunjungi mantan guru SMU-mu itu. Padahal bukankah kamu bilang kamu bepergian dengan para sahabatmu? Mengapa kamu berbohong pada Mama, Dear ?" tanya Mama Priscillia dengan nada kecewa.


Alis Priscillia bekernyit makin dalam. Dari mana kak Raymond bisa tahu kunjungannya ke rumah pak James? Ia tidak memberi tahu apa-apa pada pria itu. Bertemu dan bertegur sapa saja tidak! Apakah pria itu menguntit aktivitasnya?


Priscillia menghela napasnya. "Ma .... Priscil ga bohong. Priscil pergi sama Rebecca dan Sharon. Apa Mama tadi ga liat kalo tadi Priscil baru aja diantar pulang oleh Rebecca?" jawab Priscillia.


"Tapi benar kamu baru mengunjungi rumah mantan guru SMU yang dipecat itu, kan?" Mama Priscillia kembali mengulangi pertanyaannya dengan nada penuh selidik.


"Iya. Priscil memang dari sana. Tetapi bukan untuk menemui pak James, melainkan kekasihnya, Celine. Rebecca tiba-tiba kangen dengan Celine dan mengajak kami untuk mengunjungi gadis itu, " aku Priscillia. Mama Priscillia hanya terdiam sambil memperhatikan raut muka putrinya, seolah mencari kebohongan di sana.


Priscillia pun melanjutkan kalimatnya. "Terserah Mama mau percaya siapa. Kalau Mama mau lebih mempercayai kak Raymond, Priscil bisa apa? Priscil minta Mama untuk bertanya pada Sharon dan Rebecca pun, Mama hanya akan mengira kami berkomplot, kan?"


Untuk sejenak Nyonya Angkawibawa masih mempertahankan sikap diamnya sambil terus menatap wajah putrinya. Namun setelah itu, ia menghela napas. "Mama akan mempercayaimu, Dear .... Jangan sia-siakan kepercayaan Mama ini yah ..." ujar Mamanya pada akhirnya.


Gantian Priscillia yang terdiam dan memutuskan mengakhiri perbincangan mereka. Ia lelah. Lagi-lagi kalimat pusaka penuh tekanan itu yang ia dengar. 'Harus begini .... Harus begitu .... Jangan kecewakan Mama .... Jangan buat Mama sedih ....'


Ia tahu, setiap orang tua pasti senang jika ucapannya dipatuhi oleh anaknya. Tetapi apakah ia harus menyenangkan hati mamanya dengan menunjukkan ketaatan sempurna? Seolah ia menjadi boneka atau robot yang dikendalikan untuk menuruti segala keinginan mamanya? Apakah jika ia mencoba mengikuti kehendak dan pilihan hidupnya sendiri, mamanya akan kecewa pada dirinya semudah itu?


Entahlah .... Priscillia terlalu lelah untuk memikirkannya. Baru saja persahabatannya membaik, sekarang sudah muncul masalah satu lagi.

__ADS_1


Satu hal yang pasti Priscillia simpulkan dari kejadian ini. Rasa tidak sukanya terhadap Raymond bertambah! Ia merasa pria itu sudah mengadu domba dirinya dengan mamanya!


...****************...


__ADS_2