
Darrell tiba di rumahnya ketika malam sudah cukup larut. Penghuni rumah sudah pada tidur. Karena itu pun ia juga segera membersihkan diri dan langsung beristirahat setelahnya.
Esok paginya, Andreas menemui Darrell di ruang kerjanya. Ia dari kemarin sudah tidak sabar menanti kepulangan Sang Putra untuk menanyakan hasil pertemuan tersebut.
"Bagaimana dengan pertemuan kalian? Apakah kamu merasa cocok dengannya?" tanya Andreas tanpa basa-basi.
Darrell menghentikan pekerjaannya ketika melihat ayahnya sudah di hadapannya. Pertanyaan ayahnya membuatnya tanpa sadar mengulum senyum karena teringat betapa ganasnya calon pasangannya itu.
Memang, Darrell mengakui kalau ia lah yang lebih dahulu memancing gadis itu. Tujuannya hanya satu, ia ingin tahu seberapa dekat hubungan calon pasangannya dengan sepupunya.
Namun yang ia tak duga adalah respons dari Si Gadis. Rupanya gadis itu adalah pendukung garis keras Celine. Tanpa basa-basi dan tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan, ia main disiram dan ditinggal begitu saja. Luar biasa memang ....
Melihat Darrell yang tidak menjawab pertanyaannya, melainkan senyum-senyum seperti orang tolol, membuat harapan Andreas berkembang. "Pertemuan kalian sepertinya sangat berkesan untukmu. Kamu tertarik dengannya yah?" goda ayahnya sambil berharap tebakannya benar.
Senyum Darrell semakin melebar. "Iya, Papa. Gadis putri teman Papa itu memang sangat menarik, " jawabnya.
Jawaban Darrell tentu saja membuat Andreas ikut tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Apakah gadis itu juga tertarik padamu?" tanyanya.
"Yang itu aku ga tau. Kami kan baru ketemu sekali," jawab Darrell menutupi kejadian penyiraman itu.
Andreas mengangguk-angguk tanda mengerti. "Kalau begitu, kapan kalian akan bertemu lagi?" Andreas bertanya lagi.
"Jangan terlalu terburu-buru, Pa .... Kan kesannya ga baik kalo aku dikira cowok agresif. Biarkan pengenalan kami mengalir secara alami aja, " terang Darrell.
"Betul.Tapi kamu juga harus punya rencana kalo kamu memang tertarik dengannya. Jangan sampai dia keburu digaet cowok lain, " sanggah Andreas.
"Kalau gadis itu tidak menghubungiku dalam dua minggu ini, aku yang akan menghubunginya. Pokoknya Papa tenang aja. Anak Papa ini bukannya tidak berpengalaman soal wanita, " jawab Darrell mencoba menenangkan papanya.
"Baiklah. Papa serahkan padamu. Kamu atur sendiri gimana baiknya."
__ADS_1
"Tentu, Pa .... Percaya aja sama aku, " sahut Darrell dengan senyum yang makin melebar.
Tentu saja .... Mana mungkin aku diam saja diperlakukan seperti itu. Siap-siap lah kau, gadis kucing! Akan kutunjukkan siapa aku sebenarnya! Kau salah memilih lawan, ucap Darrell dalam hati.
****************
Seekor serigala tetaplah seekor serigala di manapun ia berada. Entahlah ia bergabung dalam kelompoknya ataupun jika ia menjadi serigala penyendiri. Pada dasarnya ia binatang buas dengan naluri berburu. Seekor serigala tidak akan diam saja jika ia diganggu. Apalagi jika yang mengganggu adalah sosok yang dinilai tidak lebih kuat darinya.
Inilah yang terjadi antara Darrell dan Rebecca. Sosok Rebecca yang ganas, dilihat Darrell seperti seekor kucing yang mencoba menyerang serigala.
Rebecca jelas bukan sosok kucing rumah yang jinak dan manja. Rebecca lebih mirip sosok Gyra atau yang lebih dikenal dengan nama resmi Felis Nigripes.
Gyra adalah kucing terkecil di Afrika. Ukuran tubuhnya lebih kecil dari kucing domestik di Indonesia. Ia memiliki kaki hitam, tubuh berwarna coklat muda dan wajah bulat menggemaskan. Namun, jangan tertipu dengan penampilannya yang mungil. Gyra adalah pembunuh yang ganas. Ia bisa menangkap lebih banyak mangsa dalam satu malam, dibandingkan yang dilakukan macan tutul dalam satu bulan.
Tetapi sebaiknya kita kesampingkan saja pembahasan tentang Gyra. Karena buat Darrell yang tidak begitu tertarik dengan dunia perhewanan, tentu saja tidak tahu apa itu Gyra. Pengetahuannya tentang kucing terganas hanya sebatas kucing garong.
Tidak etis kan, jika ia menyamakan Rebecca dengan kucing garong? Kalau Papanya tahu, dirinya bisa habis. Jadi lebih aman Darrell menilai Rebecca sebagai kucing liar saja.
Tepat dua minggu kemudian, Darrell kembali mencoba menghubungi Rebecca. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang menanyakan kabar gadis itu. Tidak ada kalimat yang menyinggung kejadian penyiraman. Tidak juga tersirat bahwa ia mempermasalahkan hal tersebut. Semuanya seperti biasa saja. Kalimat basa-basi pada umumnya.
Dua hari Darrell menunggu balasan dari Rebecca, namun balasan yang ditunggu tak kunjung tiba. Pesan itu jelas sudah dibuka dan dibaca oleh yang bersangkutan, terlihat dari tanda dua centang biru yang tertera di aplikasi.
Darrell gemas. Bisa-bisanya gadis kucing itu mengabaikannya. Bukannya harusnya gadis itu yang minta maaf dan baik-baik padanya? Kok bolehnya dia malah yang jual mahal?
Didorong rasa penasaran, Darrell mengirimkan pesan singkat lagi. Ditahannya perasaan dongkolnya dan ia memilih kalimat yang bernuansa netral. 'Masih marah dengan kejadian waktu itu?'
Kali ini, ia biarkan layar HP-nya berada di aplikasi chatting yang memuat pesan singkat yang ia kirim. Ia ingin tahu kapan tepatnya tanda abu-abu itu berubah menjadi biru.
Kesabarannya berbalas. Dalam waktu kurang dari 30 menit, tanda dua centang biru kembali tertera. Terlihat di statusnya bahwa gadis itu sedang online. Senyum Darrell mulai merekah. Gadis itu tertangkap basah sedang membaca pesannya sekarang.
__ADS_1
Tetapi betapa kagetnya Darrell begitu melihat status online gadis itu hilang begitu saja. Itu tandanya Rebecca hanya membaca pesan dan langsung keluar dari aplikasi.
Tanpa pikir panjang, Darrell langsung menekan tombol call. Ia memutuskan menghadapi gadis itu dengan berbicara langsung padanya.
Nada dering yang menandakan panggilan sudah tersambung pun terdengar. Darrell menunggu dengan kesabaran yang menipis. Harusnya gadis itu sudah mendengar nada dering di HP-nya karena jarak waktu yang sangat pendek dari terakhir kali gadis itu terlihat online. Gadis itu pasti belum menjauh dari HP-nya, kan?
Namun kembali Darrell dikejutkan dengan kenyataan pahit yang harus ditelannya. Rebecca menolak menerima panggilan tersebut. Hal itu terlihat jelas ketika ia mendapatkan kalimat 'call declined ' di layar HP-nya.
Amarah Darrell memuncak. Kalau gadis itu tidak bisa diajak bicara baik-baik, ia akan sikat sekalian. Masa bodo dengan pertemanan papanya. Ia yakin masih bisa menyenangkan Sang Ayah dengan menemukan gadis lain yang memiliki status keluarga yang kuat, namun dengan kepribadian yang lebih baik.
Ia pun kembali mengirimkan pesan singkat yang berbau ancaman. 'Nona, aku ga tau kamu sedang sibuk atau apa. Kutunggu balasanmu dalam 24 jam. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku langsung menghubungi ayahmu.'
Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, balasan dari Rebecca datang. 'Coba saja kalau berani! Papa pasti akan lebih membelaku daripada kamu! Memangnya kamu siapa? Ngaca dulu, bro !'
Entah Darrell harus tertawa atau marah melihat balasan itu. Tertawa karena senang akhirnya gadis kucing itu membalas pesannya, bahkan ia tidak butuh menunggu terlalu lama dari rentang waktu yang ia berikan. Satu jam berlalu saja belum. Namun ia juga gemas dan dongkol membaca pesan penuh kalimat provokatif seperti itu.
'Mau dicoba? Aku yakin ayahmu akan mendengarkanku. Ia bahkan akan menilaiku sebagai calon menantu idaman. Kapan lagi ia akan menemukan laki-laki baik, mapan, dan penuh pengertian sepertiku yang masih mau menerima tingkah laku putrinya yang liar?' balas Darrell.
Pesan tidak langsung berbalas. Darrell harus menunggu sekian menit, barulah ia mendapat balasannya. Balasan yang sangat singkat, yang hanya terdiri dari satu kata, 'B*r*ngs*k!!!'
Darrell terbahak membaca balasan itu. Ia tahu gadis itu mulai putus asa menghadapinya. Namun serangannya belum selesai, ia melanjutkan mengetik pesannya.
'Dengar baik cat woman ! Aku melakukan hal ini bukan karena tertarik padamu, melainkan untuk memenuhi keinginan papaku yang berharap aku mendapat pasangan yang memiliki latar belakang keluarga yang kuat untuk mendukung karirku. Aku rasa sebagai anak pengusaha besar, kamu juga seharusnya mengerti peraturan tak tertulis itu. Bersikap dewasalah dan hadapi pertemuan kita baik-baik!
Akhir minggu ini, aku akan kembali ke kotamu untuk mengunjungimu. Kabari tempat dan waktunya, nanti akan kusesuaikan jadwalku. Kalau H-2 belum ada kabar darimu, jangan salahkan aku kalau yang kukunjungi nanti adalah kantor papamu. Paham maksudku kan, kitty ?'
Kali ini giliran Darrell yang langsung keluar dari aplikasi tanpa menunggu datangnya jawaban dari Rebecca. Lagipula ia yakin gadis kucing itu pasti sekarang sedang marah-marah dan tak akan membalas pesannya. Kalaupun ada balasan, pasti hanyalah makian remeh seperti tadi.
Darrell tersenyum lebar. Ia cukup puas dengan kejadian tadi. Hari ini pembalasannya sampai di sini dulu. Sabar-sabar yah, cat woman. Aku akan menunggu langkah yang kau ambil, sebelum menentukan langkah selanjutnya ....
__ADS_1
...****************...