Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Menunaikan Tugas Keluarga


__ADS_3

Hari ini Priscillia pergi ke RS. A yang terletak di kota J. Ia membawa surat permohonan yang diberikan ayahnya untuk diberikan ke teman papanya yang merupakan direktur RS di sana. Isinya berisi permintaan untuk memberikan bimbingan selama kurang lebih dua minggu kepada Priscillia yang rencananya akan melanjutkan studi ke jurusan Magister Administrasi RS.


Rencananya, setelah sampai di kota J dan mengetahui lokasi RS. A, Priscillia akan mencari hotel terdekat dan menginap di sana selama masa tugasnya. Barulah setelah ia menyewa kamar dan menaruh barang, ia akan pergi ke RS. untuk menemui teman papanya itu.


Awalnya, ketika ia membaca surat yang dititipkan padanya, perasaannya sedikit campur aduk. Ia senang karena ia ditugaskan ke kota J. Priscillia ingat, kota J adalah tempat Celine. Mungkin ia akan menyempatkan diri menghubungi Celine dan mengunjunginya di sana.


Di sisi lain, ketika ia melihat nama direktur RS. A, ia juga terkejut dan sedih. Direktur RS. A yang bernama lengkap dr. Sofyan Effendi, MARS ini, merupakan orang yang sering ia panggil dengan nama 'Om Sofyan'. Ia sudah kenal semenjak ia masih kecil karena beberapa kali beliau pernah bermain ke rumahnya untuk berbincang dengan Sang Ayah.


Ia kembali diingatkan, bahwa misi kedatangannya sesungguhnya adalah untuk menyelidiki secara diam-diam adanya kemungkinan penggelapan dana yayasan di RS. tersebut. Dengan kata lain, Om Sofyan bisa jadi termasuk jajaran orang-orang yang patut dicurigai.


Mengingat sikap Om Sofyan yang selama ini begitu lembut dan ramah, rasanya sulit dibayangkan jika beliau melakukan hal keji tersebut. Apalagi beliau merupakan salah satu teman baik ayahnya. Jika benar beliau adalah pelakunya, hal ini dapat dikategorikan sebagai pengkhianatan terhadap pertemanan mereka.


Namun berdasarkan pengalamannya, Priscillia juga diingatkan untuk tidak terlalu naif dalam menilai seseorang. Sebagai contoh, kasus Pak Santo yang terjadi saat ia duduk di bangku SMU misalnya (liat eps 50 - Kasus Pak Santo 2 ). Siapa yang menyangka guru yang terlihat baik, ramah, dan penuh perhatian dapat melakukan hal asusila seperti itu.


Priscillia menghela napasnya. Apapun yang terjadi, ia harus bersikap netral dan profesional. Hadapi saja dulu dan pelajari situasinya. Baru kemudian menentukan langkah selanjutnya. Dengan tekad demikian, Priscillia meninggalkan kotanya seorang diri.


Setelah menempuh penerbangan selama kira-kira satu setengah jam, Priscillia tiba di kota J. Ia bertindak persis seperti rencana yang sudah ia susun sebelumnya. Begitu ia menemukan hotel yang sesuai dengan kriterianya, ia pun segera menaruh barangnya dan melanjutkan perjalanan ke RS. A.


Tanpa kesulitan yang berarti, dengan mudah ia dapat menemui direktur RS yang merupakan teman dekat papanya itu. Status putri ketua yayasan yang juga menaungi RS ini, membuatnya mendapat perlakuan lebih bak tamu terhormat terutama bagi mereka yang berada di struktur organisasi RS.

__ADS_1


Dan sekarang, Sang Direktur yang sudah ia kenal dengan panggilan 'Om Sofyan' tersebut, sudah ada di hadapannya dan menyambutnya dengan senyum ramah.


"Priscillia .... Apa kabar? Sudah besar rupanya sekarang yah .... Padahal terakhir kali Om melihatmu, kamu masih kanak-kanak. Tak disangka Papamu mendadak menghubungi Om agar bisa membimbingmu lebih awal sebelum kamu bisa menduduki kursi seperti ini, " katanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk kursi kekuasaannya dengan ibu jarinya.


Priscillia tersenyum. "Kabar Priscil baik, Om .... Mohon bantuan Om untuk dua minggu ini. Ini surat permohonan resmi dari papa, " katanya sambil menyerahkan surat titipan ayahnya.


Sofyan mengambil surat dari tangan Priscillia, namun tidak langsung dibuka dan dibacanya. Surat itu hanya ia letakkan di atas meja kerjanya. "Tidak usah terlalu formal begini .... Papamu dan Om kan teman baik. Toh papamu sudah menghubungi Om secara pribadi beberapa hari lalu, " katanya dengan sedikit nada protes.


Priscillia nyengir melihat sikap santai Om Sofyan. Ternyata Om-nya itu belum berubah. "Kan memang harus formal dong, Om .... Masalahnya Priscil di sini kan tidak hanya merepotkan Om saja, tetapi juga orang lain yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit. Tujuannya juga untuk belajar serius, bukan main-main, " sanggah Priscillia.


"Yah .... Terserah papamu dan kamu lah .... Yang penting kamu nyaman dan tujuanmu tercapai di sini. Sudah ada tempat tinggal?" Sofyan lanjut bertanya.


Om Sofyan menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa juga harus buang-buang uang untuk sewa kamar hotel sampai dua minggu? Nginap di rumah Om kan bisa. Ada tante dan anak Om yang pasti senang dengan kunjunganmu."


"Priscil pasti mengunjungi tante dan Emilia (noted: Emilia adalah putri dari Sofyan). Tapi seperti yang Priscil bilang tadi, Om .... Priscil mau serius belajar. Priscil ga mau terlalu repotin Om. Lagian, kalo Priscil nginep di rumah Om, pasti Priscil dimanjain deh ..." jawab Priscillia sambil tertawa.


Sofyan menghela napasnya. "Untuk bagian ini, kamu sama kakunya dengan papamu. Yah sudah kalau maumu gitu. Om akan mendidikmu dengan keras. Ayo, ikuti Om! Jangan buang waktu mengobrol lama-lama di sini! Om akan mengenalkanmu dengan orang-orang yang mungkin akan terlibat dengan pembelajaranmu!" katanya sambil berbalik ke arah pintu.


"Baik, Dok!" jawab Priscillia mengikuti Sofyan meninggalkan ruang Direktur RS.

__ADS_1


Sofyan melirik gadis yang sedang mengekor padanya. Ia tersenyum dengan kepintaran gadis itu dalam menilai situasi dan menempatkan diri. Priscillia cukup peka untuk mengganti panggilannya dengan 'Dokter' di depan umum. Gadis ini tidak ingin diperlakukan istimewa dengan memamerkan kedekatannya dengan Sang Direktur.


Sebaliknya, Priscillia sendiri sedang bersemangat dengan tugas baru yang menunggunya. Selama mengobrol dengan Om Sofyan dari tadi, ia merasa Om-nya bukan tipe orang yang dapat mengkhianati temannya sendiri. Sayang rasanya jika orang sebaik ini dicurigai sebagai koruptor.


Mungkin ada masalah pada manajemen keuangan sehingga papanya mencurigai RS ini. Apapun itu ia akan menemukannya, yang penting bukan perihal penggelapan dana. Dengan demikian, ia dapat membersihkan nama Om Sofyan dari tuduhan. Dengan tekad seperti itu, Priscillia pun memulai kesibukan barunya.


...****************...


Isu penggelapan dana yang menimpa keluarga Angkawibawa rupanya juga sudah diketahui oleh orang-orang yang menaruh perhatian lebih pada keluarga tersebut. Salah satunya adalah Nyonya Raditya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah mamanya Sharon.


Setelah mengetahui kabar tersebut, ia segera membicarakan hal itu dengan putrinya. "Untunglah keluarga Angkawibawa belum mengajukan lamaran padamu sampai sekarang. Kalau saja kita sudah menerima lamaranmu menjadi calon istri Jeremiah, entah apa yang harus kita lakukan. Bisa-bisa kita akan dianggap terlibat isu penggelapan dana tersebut, yang membuat nama perusahaan kita tercoreng."


Sharon hanya terdiam mendengarkan perkataan mamanya. Ia tahu ucapan mamanya belum selesai.


"Kamu mulailah jaga jarak dengan Priscillia dan keluarganya. Namun jangan terlalu mencolok. Minimal kamu masih dapat mencari tahu keadaan keluarga itu dan langkah mereka dalam menyikapi isu ini. Jika kamu menilai keluarga itu tidak bisa meredakan isu dan keadaannya makin memburuk, segera putuskan hubunganmu dengan keluarga itu! Kamu paham, Sharon?" tanya mamanya.


Sharon hanya dapat menundukkan kepalanya. Lidahnya kelu. Namun dengan berat hati, ia memaksakan dirinya untuk berkata, "Paham, Ma ...."


Mau bagaimana lagi .... Sampai sekarang ia belum punya kekuatan dan keberanian untuk menentang kehendak Sang Ibunda.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2