
Sebelum pukul 5 sore, siswi-siswi yang pergi ke air terjun menepati janjinya dengan kembali ke area perkemahan tepat waktu. Begitu pula halnya dengan Cindy dan Wendy. Mereka kembali ke tenda mereka dan bersiap untuk mandi di pemandian umum yang ada di sekitar area perkemahan.
Ketika melepaskan tas pinggangnya, Cindy menyadari gantungan kuncinya menghilang. Ia pun mencari di dalam tenda dengan menggunakan senter. Hal itu menarik perhatian Wendy.
"Cari apa, Cin?" tanyanya.
"Gantungan kunciku hilang, Wen. Tadi masih nyantel di tas pinggang. Sekarang uda ga ada. Jatuh di mana yah?" jawab Cindy.
"Bentuknya kayak mana?" tanya Wendy sambil ikut mencari.
"Kayak logo gitu. Logo game entah apa. Warnanya biru silver."
Wendy melongo. "Lah .... Yang punya aja bisa ga jelas gitu deskripsinya. Dapet dari mana tuh emang gantungan kunci?"
"Dari pak James."
"Ha ha ha ... baeqlah!" sindir Wendy.
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat mencari di dalam tenda, Wendy pun berkata, "Kayaknya ga ada di tenda, Cin. Nanti-nanti aja deh carinya. Siapa tau jatuh di luar. Kita mandi dulu aja. Masih harus masak juga lho. Kan ga enak sama teman kelompok kita yang lain kalo kita telat. Nanti sambil jalan/aktivitas, kita sambil liat-liat. Siapa tau nemu."
"Iya deh." Dengan terpaksa, Cindy mengikuti usul sahabatnya.
Mereka pun mandi, masak, dan akhirnya makan malam bersama. Sepanjang kegiatan, mata Cindy memperhatikan rerumputan tempat ia berpijak dan hilir-mudik. Ia berharap barangkali gantungan kuncinya bisa ditemukan di sana. Namun sayang usahanya sia-sia.
Gelap pun datang. Matahari sudah tergantikan dengan bulan dan bintang. Api unggun di tengah area perkemahan sudah dinyalakan, membuat suasana yang sangat berbeda dengan siang harinya.
Saat ini, kembali para siswi dikumpulkan untuk persiapan acara uji nyali. Mereka diberi pengarahan tentang alur pelaksanaan acara dan peraturannya.
__ADS_1
Isi pengarahannya adalah mereka akan berjalan berdua-berdua menyusuri jalan setapak di tengah perbatasan hutan yang sudah diatur rutenya oleh para guru. Jalan tersebut memiliki lebar kurang lebih 1,5 meter dan sudah dibatasi dengan tali di kedua sisinya.
Ketika menyusuri rute, sepasang siswi tersebut hanya dibekali oleh sebuah senter. Dan demi keamanan, mereka dilarang keras keluar dari batas tali. Hal ini penting agar mereka tidak tersesat di tengah hutan yang sudah gelap. Belum lagi karena ini area pegunungan, ada beberapa tebing yang tertutup oleh semak.
Saat mereka melewati garis start, waktu akan dicatat. Di antara jalan setapak tersebut, akan terdapat pos-pos berisi tantangan dari para guru penjaga pos. Mereka yang bisa menyelesaikan setiap tantangan di pos dan sampai di garis finish dengan waktu tercepat akan menjadi pemenangnya. Pihak sekolah sudah menyiapkan hadiah bagi 3 pasang siswi yang berhasil memenangkan permainan ini.
Hal ini disambut baik oleh para siswi. Mereka bersemangat untuk mengikuti permainan dan tertantang untuk menjadi pemenangnya, walaupun ada di antara mereka yang agak ragu karena takut dengan acaranya yang diadakan di perbatasan hutan dalam kegelapan.
Mereka dibebaskan untuk memilih pasangannya masing-masing. Tentu saja sebagai sahabat karib, Cindy dan Wendy menjadi pasangan yang tidak terpisahkan.
Acara pun dimulai. Peserta sepasang demi sepasang mulai melewati garis start. Kadang terdengar teriakan dari balik pepohonan di tengah hutan yang menambah ketegangan suasana. Beberapa peserta yang menunggu jadi mulai gelisah bercampur seru dan penasaran dengan apa yang terjadi dengan teman-teman mereka.
Begitulah yang dirasakan Cindy sepanjang ia berada di barisan penunggu giliran. Ia memang agak takut dengan hal-hal begini. Ia tidak akan mau kalau diajak nonton film horor oleh teman-temannya. Dan permainan seperti ini, menjadi salah satu yang paling dihindarinya.
Berbeda dengan Wendy yang dari tadi tampak bersemangat dan tidak sabar menanti gilirannya tiba. Hanya karena diwajibkan ikut dan berpasangan dengan Wendy lah, maka Cindy bersedia berpartisipasi. Pikir-pikir, mungkin saja ini menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir yang berkesan dalam menutup kehidupan SMU-nya.
Akhirnya giliran mereka tiba. Setelah mencatatkan waktu, mereka pun mulai menyusuri jalan tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan pos pertama. Pos pertama dijaga oleh guru bahasa. Di sana mereka boleh memilih tantangan yang akan diujikan. Pilihannya adalah membuat pantun, berdeklamasi dalam Bahasa Inggris, atau menjawab kuis. Karena mereka anak IPS, mereka lebih memilih menjawab kuis.
Untunglah soal kuisnya tidak terlalu sulit bagi pecinta drakor seperti Cindy. Pertanyaannya adalah menyebutkan 'halo', 'terima kasih', dan 'maaf' dalam Bahasa Korea. Tanpa berpikir panjang, Cindy langsung memberikan jawabannya secepat kilat. (author: ada yang tahu jawabannya? Jawab di kolom komentar yah ....)
Setelah mendapatkan bintang sebagai bukti lulus, mereka melanjutkan perjalanan mereka mengarungi jalan setapak di antara pepohonan. Angin malam yang berhembus, membuat Cindy merinding. Entah dia kedinginan atau ketakutan, ia sendiri sudah tidak bisa membedakannya.
Rohnya seakan terpisah dari tubuhnya begitu ia melihat sosok putih panjang berbentuk guling tiba-tiba melompat muncul dari balik pohon di depannya. Sontak ia berteriak keras dan tanpa sadar memukuli mahluk seperti pocong tersebut dengan kalapnya.
"Stop! Stop! Aduh duh! Sakit, Cin! Stop!" Pocong jadi-jadian itu memohon agar Cindy menghentikan aksinya.
__ADS_1
Cindy pun terdiam mendengar suara yang sangat dikenalnya. Sedangkan Wendy sudah terbahak-bahak melihat nasib pak James yang dipukuli sahabatnya tanpa bisa menahan serangan tersebut. Bagaimana mau menahan kalau tangannya dibedong kain putih?
Ya. Pak James diberi tugas menyamar jadi pocong untuk menakuti para siswi. Mukanya dibedaki dengan tebal agar tampak pucat. Di sekitar matanya pun diberi warna kehitaman untuk memberi kesan seram. Tetapi bagi Cindy, walaupun saat ini wujud pak James cukup menakutkan, anehnya ia tidak takut. Sebaliknya, ia malah berdebar begitu melihat pria itu.
Sekarang mereka baru mengerti, rupanya teriakan-teriakan seperti ini lah yang mereka dengar di barisan penunggu giliran tadi. Jika saat ini mereka menemui pak James sebagai hantu, besar kemungkinan mereka juga akan melihat guru-guru lain dalam peran serupa.
James pun melepaskan bedongannya. Ia kapok dengan kejadian dipukuli siswi yang kalap dengan hantu, seperti Cindy. James memilih menjadi pocong tanpa dibedong saja. Yang penting menyembunyikan tangan dan jalan melompat, kan? Setidaknya kalau terjadi apa-apa, tangannya bisa bebas digunakan.
Cindy yang habis memukuli James tanpa sadar, jadi sungkan melihat gurunya itu. Ia diserang perasaan bersalah.
"Maaf ya, Pak. Saya sudah memukuli Bapak, " katanya dengan wajah tertunduk.
James tersenyum melihat sikap Cindy. Ia pun menepuk kepala gadis itu dan berusaha menenangkan dirinya.
"Justru Bapak yang harus minta maaf. Kamu tadi ketakutan sekali yah? Mohon pengertiannya yah .... Bapak hanya melaksanakan tugas, " ujarnya sambil nyengir.
Kembali hati Cindy menjadi hangat dengan perlakuan guru pujaannya itu. Bukannya ia dimarahi karena sudah memukuli Sang Guru, sebaliknya malah guru ini yang meminta maaf padanya.
"Berarti Bapak sudah sukses menjalankan peran Bapak, Pak .... Sampai bisa membuat Cindy kalap kayak gini, " sambung Wendy di tengah derai tawanya. James yang mendengar komentar itu kembali nyengir dan memberi huruf v dengan kedua jarinya.
Untuk sesaat, mereka tertawa dan mengobrol bersama sampai James mengingatkan mereka untuk melanjutkan perjalanan, karena waktu mereka tetap dicatat. Sebenarnya Cindy tidak terlalu terobsesi menjadi pemenang. Kalau boleh memilih, ia lebih suka berada di samping pak James daripada meneruskan permainan.
Tetapi peraturan tetap peraturan. Wendy tidak akan membiarkannya berhenti di sana. Dengan terpaksa ia harus meninggalkan pak James yang masih bertugas menakuti siswi di tempat itu sendirian. Dengan berat hati, ia pun melanjutkan langkahnya.
Di tengah perjalanan, mereka masih melewati dua pos lagi, yaitu pos IPS dan pos IPA. Rupanya agar cukup adil untuk setiap siswi di angkatan tersebut, para guru menyediakan tantangan yang berhubungan dengan setiap jurusan yang ada. Mereka juga masih menjumpai guru wanita yang menyamar menjadi kuntilanak dan pak Roy yang berubah menjadi mumi.
Sampai garis finish, semua dilewati Cindy begitu saja tanpa kesan yang mendalam. Sisa perjalanan dapat ia lalui tanpa terlalu merasa ketakutan seperti sebelumnya. Pertemuan singkatnya tadi dengan pak James memberikan perubahan tersendiri dalam menjalani sisa rute. Entah ia menjadi lebih berani atau mungkin ia menjadi tidak terlalu peduli.
__ADS_1
Mungkin juga karena setengah hatinya masih tertinggal bersama pak James di bawah pohon itu. Sepanjang perjalanan, ia masih terbayang dengan adegan dan perasaan hangat ketika pak James menepuk kepalanya. Untuk sesaat Cindy lupa, kalau ia masih dalam proses merelakan pak James. Wendy yang menyadari hal itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
...****************...