
"Bang James?"
Sebuah suara yang sangat ia kenal, terdengar memanggil namanya. James menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
Dengan termangu ia melihat sosok Celine yang ia rindukan berdiri dengan bugar di sana. Apakah ia berhalusinasi saking rindu dan khawatirnya?
"Bang James kenapa bisa ada di sini? Ada teman Bang James yang dirawat di sini?" tanya sosok itu lagi.
Dengan keraguan James mendekati Celine. Kedua tangannya yang bergetar, diarahkannya untuk memegang bahu Celine. Ia takut kalau Celine akan menghilang begitu ia sentuh, layaknya fatamorgana.
Ketika tangannya dapat menyentuh Celine, James baru menyadari ini kenyataan. Ini bukan mimpi atau khayalan ataupun halusinasinya. Celine benar-benar berdiri di depannya dan sedang memandangnya dengan tatapan bingung.
James juga baru menyadari bahwa dari tadi di samping Celine berdiri pria paruh baya berpakaian formal, yang melihatnya dengan tatapan curiga. Pria tersebut terlihat tidak nyaman melihat kedua tangan James yang berada di bahu Celine. Namun pria tersebut tidak dapat melakukan apapun, karena Celine tidak terlihat keberatan.
"Celine ... gapapa?" Hanya itu yang akhirnya berhasil keluar dari mulut James di tengah kebingungannya. Otaknya kosong. Ia belum bisa merangkai segenap keanehan ini.
"Memang Celine kenapa?" Celine balik bertanya dengan nada bingung.
"Kata Mbok Yani, Celine tabrakan, " jawab James.
"Oh .... Iya, ada kecelakaan kecil tadi. Tapi semua uda oke kok, " jawab Celine.
Mendengar Celine mengakui ada kecelakaan, darah James kembali berdesir. Walaupun ia melihat Celine baik-baik saja, masih ada sedikit perasaan cemas yang menuntut untuk diberi kepastian.
"Jadi Celine sudah diperiksa dokter? Sudah dipastikan kalo semua baik-baik aja? Sudah di rontgen? Ada luka di mana? Ga ada sampe patah tulang, kan?" James mencecar Celine dengan pertanyaan yang dari tadi sudah berseliweran di bayangannya.
Mendengar rentetan pertanyaan James, Celine tertegun. Ada ketidaksinambungan di sini. Entah mengapa Bang James-nya bisa berpikir sejauh itu. Sebenarnya kabar seperti apa yang ia dapat?
"Celine baik-baik aja kok. Ga ada luka sedikitpun. Cuma mobil aja yang penyok sedikit dan sekarang lagi dibawa ke bengkel sama pak Darwis.
Celine ke RS bukan untuk memeriksakan diri, tapi untuk mengantar pemuda yang jatuh dari motor gara-gara kecelakaan itu. Selain untuk ikut bertanggungjawab dalam biaya pengobatan, kami juga ingin memastikan kalo kejadian ini dapat diselesaikan dengan baik dan tidak akan berbuntut panjang di kemudian hari. Makanya Celine ditemani pengacara keluarga Celine, Pak Johan Setiawan." Celine berkata sambil memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya.
Pria yang bernama Johan itu menganggukkan kepalanya ke arah James sebagai ganti salam begitu namanya disebut. Setelah itu, ia memanfaatkan momen tersebut untuk memotong pembicaraan Celine dan James. "Nona, apakah kehadiran saya masih diperlukan di sini? Karena kalau tidak, saya izin undur diri karena masih ada hal yang harus saya kerjakan, " katanya.
__ADS_1
"Oh .... Tidak ada, Pak. Silakan lanjutkan kesibukan Bapak. Dan Terima kasih sudah menemani saya, " jawab Celine.
"Sudah menjadi tugas saya, Nona. Kalau begitu, saya permisi ..." kata pria itu lagi.
"Silakan, Pak."
Setelah menganggukkan kepala kepada Celine dan James, pria itu pun pergi meninggalkan James dan Celine yang masih ada di lobby RS.
"Jadi semuanya sudah beres?" tanya James lagi setelah pak Johan pergi.
"Sudah. Kami sepakat menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan dan pihak keluarganya menyatakan tidak akan memperpanjang masalah ini di kemudian hari. Lagipula, kalau mau dirunut dari kejadiannya, yang bersalah adalah pemuda itu. Dia yang main nyelonong begitu aja dengan kecepatan cukup tinggi, tanpa memperhatikan pak Darwis sedang memundurkan mobil di area parkir," terang Celine memaparkan kejadiannya.
"Jadi ... Celine benar-benar ... baik-baik aja, kan?" tanya James sekali lagi dengan kening bekernyit.
Celine tertawa mendengar pertanyaan yang sama yang sudah dilontarkan James kesekian kalinya. "Celine sudah bilang baik-baik aja. Bang James liatnya sendiri gimana?" katanya sambil merentangkan tangan layaknya seseorang yang siap digeledah oleh polisi.
James memperhatikan Celine dari atas sampai bawah dengan saksama. Sekarang ia sudah lebih yakin kalau gadis ini memang baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang kelewat baik untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Kalau begitu... kenapa sikap Mbok Yani begitu?" tanyanya seperti bergumam.
"Mengabarkan kalau mobil Celine tabrakan sambil terisak-isak, " jawab James.
Alis Celine ikut bekernyit. "Yang dikatakan Mbok sih ga salah, tapi Mbok tau kok kalo Celine gapapa. Kan Celine sendiri yang tadi ngabarin Mbok, sekalian ngabarin kalo Pak Joseph bakal ke rumah buat ambil mobil yang lain biar bisa jemput Celine di sini. Ga mungkin kan, Mbok terisak hanya karena mobil yang penyok dikit?"
Mendengar nama Joseph disebut Celine, membuat James terdiam. Masih berbekas di ingatannya bagaimana ia sempat berpikir kalau Celine telah berpindah hati pada pria itu.
"Jadi Bang James kemari karena mengkhawatirkan Celine?" tanya Celine sambil tersenyum simpul.
Pertanyaan Celine mengembalikan James ke alam nyata. Kupingnya memerah. Ia cukup gengsi mengakui kenyataan itu dengan mulutnya sendiri. "Jadi, Pak Josephnya uda datang belum?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Uda nunggu dari tadi di parkiran, " jawab Celine masih tersenyum, menyadari James sedang menghindari pertanyaannya.
"Ya sudah. Ayo cepet ke sana. Kasian dia uda nunggu lama, " kata James.
__ADS_1
Celine pun memutuskan untuk sedikit mengalah dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Keduanya berjalan menuju ke area parkir bersama.
...****************...
Di area parkir, melihat dua orang yang dikenalnya berjalan bersisian dari jauh, membuat Joseph mengulum senyum. Rencananya berhasil. Tak sia-sia ia membujuk Mbok Yani untuk bekerja sama dengannya.
Sesungguhnya ia sangat kepikiran dan penasaran dengan nasib sepasang kekasih ini semenjak kejadian itu. Ia sungguh merasa bersalah dan ingin memastikan kalau keduanya sudah berbaikan kembali. Tetapi untuk menanyakannya langsung ia tidak berani, karena sudah memasuki ranah pribadi.
Karena itulah kesempatan hari ini tidak ia sia-siakan. Begitu ia mendapat permintaan dari Celine (walau lebih cocok dibilang perintah) untuk mengambil mobil pengganti di kediaman Adipratama dan bertemu dengan Mbok Yani di sana, ia memberanikan diri untuk mencari tahu lewat wanita itu.
"Maaf, Mbok .... Numpang tanya .... Apakah beberapa minggu ini ada pertemuan antara nona Celine dengan pak James?" tanyanya hati-hati.
Tentu saja mendengar pertanyaan seperti ini malah membuat Mbok Yani menatap pemuda di depannya dengan tatapan curiga. Apalagi sebelumnya mereka berdua hanya bertemu sekali, yaitu saat pemuda ini mengantar nonanya pulang dari perjodohan waktu itu. Jadi ... berani-beraninya pemuda ini mengorek keterangan pribadi tentang nona kesayangannya dari mulutnya? Beuhg .... Cari masalah, Bang?
Joseph yang menyadari kecurigaan Mbok Yani segera memberikan penjelasan. "Saya sudah kenal mereka berdua ketika saya masih berada di kota B, Mbok. Dulu saya adalah rekan kerja sesama guru bersama pak James."
Joseph juga menceritakan tentang kejadian di hari perjodohan, di mana ia membuat sepasang kekasih ini bertengkar akibat mulut lancangnya. "Makanya saya penasaran apakah saat ini mereka sudah berbaikan? Karena sejujurnya saya merasa sangat bersalah, " kata Joseph menutup ceritanya.
Mbok Yani memang sudah menaruh curiga kalau nonanya sedang bermasalah dengan kekasihnya. Nona Celine menjalani kesehariannya dengan kelesuan. Ditambah lagi dengan fakta di mana dua minggu ini nonanya tidak lagi mengunjungi keluarga Wijaya. Padahal sebelumnya, hal itu selalu menjadi prioritas Sang Nona, kecuali kalau memang ada hal-hal yang tidak bisa dihindari.
Tetapi berhubung Nona Celine tidak menceritakan apapun padanya, hal ini hanya menjadi dugaan semata. Baru hari inilah ia mengerti betul duduk perkaranya.
Melihat sikap dan mendengar cerita pemuda ini, membuat Mbok Yani mencoba mempercayainya sedikit. "Tidak ada. Semenjak hari perjodohan itu nona dan Nak James tidak bertemu, " jawabnya.
Muka pemuda ini menjadi muram. Sepertinya omongannya yang merasa dirinya bersalah adalah sebuah kenyataan. Namun itu tidak berlangsung lama. Dengan segera mata pemuda ini berbinar dan mengatakan sebuah kalimat yang lebih mencurigakan. "Mbok, mau membantu saya untuk membuat mereka berbaikan?" tanyanya.
Belum sempat Mbok Yani menyatakan persetujuannya, pemuda ini sudah mengeluarkan idenya untuk memanfaatkan kecelakaan ini sebagai bahan sandiwara. Ia dibujuk untuk mengabarkan kejadian ini pada James dan membuat James khawatir.
Harapannya, jika James benar mencintai Celine, James akan mengutamakan keselamatan Celine dibandingkan amarahnya. Di sisi lain, Celine yang melihat James mengkhawatirkan dirinya pasti akan melunak. Dengan demikian kedua insan itu pasti akan menyadari kalau mereka saling mencintai dan akan segera berbaikan kembali.
Tentu saja pada awalnya Mbok Yani menolak ide tersebut. Ia merasa keberatan jika harus berbohong dan mempermainkan perasaan orang lain. Namun setelah dibujuk-bujuk bahwa itu semua demi kebahagiaan nonanya, Mbok Yani pun luluh. Demikianlah akhirnya sandiwara itu dimulai, yang mengantar pak James kembali ke kota ini.
Dan sekarang, melihat keduanya bersisian, berbincang dan tertawa bersama di belakang kemudi yang ia kendarai, membuat Pak Joseph merasa sangat lega sekaligus bahagia. Nona malaikatnya yang bermuka muram belakangan ini, bisa kembali ceria.
__ADS_1
...****************...